"Gara-gara ini yah," ucap David sambil menunjuk angka-angka di dinding tersebut. Rolan penasaran dan bertanya apakah David telah melakukan sesuatu yang menyebabkan angka-angka itu bertambah.
"Bukannya ada, kasus yang sekarang kita tanganin," jawab David dengan serius.
Rolan hanya tertawa sebagai respons atas penjelasan temannya. "Bukannya kamu takut yah? Udah berani sekarang?" goda Rolan sambil mencoba menggoda David yang tampak macho.
"Yah, selama orang, gue gak takut sih," jawab David dengan percaya diri.
Namun, Rolan ingin sedikit menantang temannya, "Gimana kalau bukan orang?" Dia mencoba menakut-nakuti David yang dia tahu sebenarnya takut dengan hal-hal yang berbau supranatural.
David merespons dengan kesal, "Besok lu aja deh yang pergi ke tuh rumah susun. Gue sama Anton aja."
"Gak mau, kamu aja sama tuh tiga orang. Katanya tadi berani," balas Rolan dengan senyum nakal.
David yang agak kesal menjawab, "Kan lu yang nakut-nakutin gue bangke."
"Iya iya, gak lagi deh," sahut Rolan mencoba meredakan kekesalan temannya.
"Jadi main gak, ni?" tanya Rolan menanyakan apakah mereka jadi bermain PS.
"Jadilah, masa kagak." jawab David
Mereka berdua pun menghabiskan waktu mereka bermain PS. Sampai mereka tidak menghiraukan teriakan Henry dari bangunan sebelah, sepertinya Henry telah melihat dapur rumah yang berantakan. Namun mereka berdua tetap melanjutkan permainan mereka. Mereka berhenti ketika rasa lapar mulai menghampiri mereka
"Lu laper gak? Keluar yuk cari makan," ajak David sambil tetap asyik memainkan konsolnya.
"Laper sih, tapi mager," jawab Rolan sambil merebahkan dirinya di sofa.
"Mager apa jompo?" balas David sambil tersenyum.
"Dua-duanya, punggungku sakit gara-gara kelamaan duduk," jawab Rolan dengan nada santai.
"Alasan. Delivery aja deh," usul David dengan ceria.
Mereka pun sepakat untuk memesan makanan secara online. Tidak berapa lama kemudian, pesanan mereka tiba. Seorang pria mengantar makanan pesanan mereka. Saat akan memberikan uang kembalian dari dompetnya, Rolan melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Kak, bisakah uang seratusnya ditukar?" kata Rolan sambil mengeluarkan uang seratus dari dompetnya dan bersiap menukarnya dengan uang seratus pengantar itu.
"Uang ini kak?" tanya pengantar itu sambil memeriksa uang seratus yang ditunjukkan oleh Rolan.
"Iya, saya lagi mencari uang baru, kebetulan saya lihat kakak punya. Kalau mau, saya tambahkan lima puluh," jelas Rolan sambil mengeluarkan uang lima puluh dari dompetnya.
Dengan perasaan bingung, pengantar makanan itu pun pergi dari rumah itu. David pun kembali duduk di sofa, mencoba memahami apa yang terjadi. Tampaknya ada sesuatu yang aneh dengan uang seratus yang dilihat oleh Rolan. Namun, tanpa memikirkan lebih jauh, mereka berdua melanjutkan makan malam mereka yang nikmat.
Setelah menyelesaikan makanan mereka, karens sangat penasaran ia pun bertanya pada Rolan. Tidak biasa bagi seseorang untuk menukar uang baru dengan nominal yang lebih besar pasti ada sesuatu yang amat sangat menarik perhatiannya. Namun,
"Lu gila yah? Masa demi uang baru lu tuker sama seratus lima puluh?" tanya David agak kaget dengan kelakuan temannya ini.
"Lu liat yah." Rolan menunjukkan uang itu pada David, dan tampak nomor seri dengan kode terakhir 666.
"Dan kalo tebakanku benar, uang ini adalah uang yang dimaksud oleh Hana," kata Rolan dengan yakin.
David pun mengambil uang itu dan melihatnya dengan seksama. Awalnya dia berpikir itu mungkin uang palsu, namun ternyata itu adalah uang asli.
"Aneh. Ini kan uang baru tapi kok kotor banget yah?" kata David mencoba mencari penjelasan.
"Makanya menurutku itu aneh. Walaupun udah sekitar satu tahun beredar, uang itu masih sedikit dan langka di kota ini. Orang biasanya memperlakukan uang baru dengan sangat hati-hati," terang Rolan menjelaskan kepada David.
"Noda-noda berwarna coklat ini... Jika ini uang yang dikatakan Hana, kira-kira noda coklat ini apa?" Tanya David menyuarakan kecurigaannya.
"Yah, untuk tahu hal itu kita perlu memeriksanya," balas Rolan dengan tekadnya.
Mereka lalu pergi ke ruang lab sederhana di kamar Rolan, tempat mereka akan melakukan analisis lebih mendalam terhadap uang tersebut.
Dengan penuh cermat, mereka memeriksa setiap noda pada uang seratus lima puluh tersebut. Rolan dengan hati-hati menggunakan lup untuk melihat noda-noda tersebut dengan lebih jelas. Awalnya mereka berpikir noda coklat tersebut adalah noda lumpur, namun ternyata bukan. Mereka pun mencoba melakukan uji darah pada beberapa noda tersebut dengan alat sederhana yang mereka miliki.
Hasilnya mengagetkan mereka. Beberapa noda tersebut memang mengandung darah manusia. Hal ini membuat detektif amatir ini semakin yakin bahwa uang itu benar-benar terlibat dalam kasus bunuh diri dan kecelakaan yang misterius.
"Wah, sepertinya kita menemukan sesuatu yang besar," kata David dengan penuh semangat.
"Benar, sepertinya uang ini adalah petunjuk penting dalam kasus-kasus tersebut," tambah Rolan dengan tatapan tajamnya.
Dengan semangat dan semakin banyak petunjuk yang telah mereka kumpulkan, klub detektif ini bersiap untuk menyusun rencana selanjutnya. Dalam petualangan menyelidiki kasus-kasus bunuh diri dan kecelakaan ini, mereka harus berjuang melawan waktu dan menghadapi berbagai rintangan yang menghadang.
****************
Hari itu, sinar matahari pagi yang hangat menyapa kota ketika David bersiap untuk melaksanakan misi penyelidikan bersama teman-temannya. Kegelapan yang mengitari kasus bunuh diri di rumah susun itu telah menarik perhatian mereka untuk mencari kebenaran yang tersembunyi di balik dinding beton tinggi.
Rolan, teman dekat David, telah pergi lebih awal untuk menyelidiki bersama Anton. Sementara itu, David sibuk memanaskan mesin mobilnya, memeriksa kendaraan dengan cermat sebelum akhirnya melaju dengan mantap.
Tiba di lokasi, David melihat tiga sosok temannya sudah menunggu di dekat parkiran rumah susun. Sebelum adanya kesempatan untuk menyelidiki lebih lanjut, Hana tiba di tempat itu. Gadis dengan rambut pendek bergelombang itu menatap mereka dengan tatapan penuh harap dan rasa terima kasih.
Setelah pertemuan singkat itu, mereka memutuskan untuk mulai menyelidiki rumah susun itu dari awal. Meski ada rasa ketegangan dan cemas yang menghantui langkah mereka, namun semangat untuk membongkar kebenaran semakin membara di dalam hati mereka.
Dengan tekad yang bulat, David, Arin, Riri, Viona, dan Hana pun memasuki rumah susun itu. Hujan mulai mengejutkan mereka dengan tetes-tetesnya yang lembut, menciptakan suasana yang lebih misterius dan menegangkan. Namun, semangat penyelidikan mereka tak tergoyahkan. Bersama-sama, mereka berjalan menuju kegelapan dengan harapan untuk menemukan jawaban yang mereka cari.
Gadis bernama Hana itu memimpin mereka melalui lorong-lorong sempit yang terjalin erat di dalam rumah susun. Langkahnya pasti, dan pandangannya tajam menghindari sudut-sudut gelap yang mencekam. Sementara itu, teman-temannya mengikutinya dengan hati-hati, merasa sedikit tertekan oleh suasana yang menyelimuti gedung ini.
Rumah susun itu terlihat cukup padat dengan aktivitas sehari-hari penduduknya. Suara langkah kaki, bisik-bisik, dan tawa anak-anak kecil mengisi udara. Mereka mencari lift untuk naik ke lantai tujuh, tempat yang menjadi pusat kasus misterius ini. Namun, sebelum bisa masuk ke dalam lift, mereka harus menghadapi antrian yang cukup panjang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Riezki Arifinsyah
keren Thor
2025-02-06
0