CHAPTER 18

Dalam sekejap, ruangan stan bazar David menjadi gelap gulita. David dengan cepat menutup pintu masuk, sementara teman-temannya segera menarik tirai jendela, menghalangi sinar matahari yang sebelumnya masuk menerangi ruangan. Atmosfer ruangan berubah, dari yang semula riuh menjadi hening dan gelap.

Tom, orang berambut merah yang sedang menjadi target interogasi, merasa terancam. Matanya bergerak kesana-kemari, mencoba melihat wajah-wajah di sekelilingnya, namun kesuraman ruangan membuatnya tidak dapat melihat dengan jelas. Dia merasa seperti tikus yang terjebak dalam perangkap, tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sesaat kemudian sesorang menekan saklar lampu, orang berambut merah itu kini hanya melihat wajah yang ditutupi masker, hanya wajah pria yang cekcok dengannya yang tidak tertutup masker.

"Dimana uangnya?" Tanya orang berambut merah itu dengan nada tajam, suaranya memecah keheningan ruangan.

David menatap orang itu dengan tatapan serius, mata mereka bertemu dalam satu momen penuh ketegangan. Udara di ruangan terasa tegang, dan teman-teman David dari klub detektif mengawasi situasi dengan penuh perhatian.

"Duduk dulu," jawab David dengan tenang, suaranya mengalir pelan namun penuh dengan tekad. Dia menunjuk pada kursi di dekatnya, mengisyaratkan agar orang berambut merah itu duduk.

Orang berambut merah itu agak terkejut dengan respons David yang tenang. Setelah sesaat ragu, dia akhirnya menuruti perintah itu dan duduk di kursi yang ditunjuk. Dia tetap memandang David dengan pandangan tajam, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.

Anak-anak dari klub detektif, mengikuti langkah David, bergerak dengan hati-hati. Mereka menutup pintu ruangan itu perlahan, mengurungkan suara di dalam dan suara dari luar. Tirai jendela ditarik dan ruangan menjadi redup, hanya cahaya temaram yang menerangi adegan di dalamnya.

Dengan penuh perhatian, mereka menutupi wajah mereka, melindungi identitas mereka dari pandangan orang berambut merah. David adalah satu-satunya yang tidak perlu melakukan hal itu. Wajahnya sudah dikenal oleh lawan mereka sejak awal.

"Berikan uangnya, aku akan mengantinya dengan uang seratus juga, bahkan ambil saja kembaliannya," tegas orang berambut merah bernama Tom. Dia mencoba menawar agar uang yang sebelumnya dia berikan dapat ditukar dengan uang seratus ribu.

"Tunggu dulu, sebelum itu, jawab setiap pertanyaan yang kami tanyakan. Kalo lu diem aja, uangnya bakal gue robek, siapa nama lo?," ancam David dengan tegas, menegaskan bahwa dia serius dalam mendapatkan informasi.

Orang berambut merah itu akhirnya memutuskan untuk menjawab. "Nama gue Tom, Tom Verner," kata dia dengan nada terburu-buru, seakan takut ada konsekuensi lebih buruk jika dia enggan berbicara.

"Gimana caranya lu bisa dapat uang ini?" tanya Arin, mencari tahu sumber uang seratus ribu yang dia berikan pada David.

Tom menjelaskan bahwa dia mendapatkan uang tersebut dari sebuah stan permainan lempar tepung di festival. Dia tampak gugup, seolah-olah dia takut jika informasi yang dia berikan tidak memuaskan para anggota klub detektif.

"Terus kenapa lo takut uang ini kita ambil?" tanya Rolan, mencurigai ada alasan lebih dalam di balik ketakutan Tom.

Namun, suasana di ruangan tetap hening tanpa jawaban. Tom tampak enggan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Kecemasan tampak mencuat di wajahnya, tapi dia tetap bungkam.

"Jangan coba berbohong," ujar David dengan nada datar, seolah-olah akan segera menerapkan ancamannya jika Tom tidak kooperatif.

Tom tersentak, menatap David dengan pandangan gelisah. Dia tampak terjebak dalam situasi yang rumit, dihadapkan pada kenyataan bahwa dia tidak bisa menyembunyikan kebenaran lebih lama lagi.

"Lihat, semakin lama lo diem, semakin menarik perhatian kita. Lebih baik lo ceritain semuanya sekarang," tambah Arsen dengan nada penuh tekanan, mengingatkan Tom untuk segera berbicara.

Tom merenung sejenak, tampak terpikirkan untuk membuka diri dan memberikan semua informasi yang diminta. Akhirnya, dengan rasa enggan, dia memutuskan untuk mengungkapkan alasan di balik ketakutannya.

"Tenang aja, kita gak bakal ngapa-ngapain lu kok." Kata Sella.

Tanggapan dari Sella membuat Tom merasa sedikit lega, namun tetap saja ketegangan terasa di udara. Dia mencoba menjelaskan lebih lanjut, mengungkap fakta yang terkait dengan uang yang memiliki angka 666.

"Kami di suruh mengumpulkan uang dengan angka 666," ulang Tom, mencoba menyampaikan informasi dengan jelas.

Teman-teman klub detektif semakin penasaran dengan cerita yang dia sampaikan. Mereka ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang peristiwa misterius di balik uang tersebut.

"Di suruh oleh siapa? Jangan cerita sepotong-potong, ceritakan semua yang lu tau yang ada kaitannya dengan uang ini," tanya Rolan, ingin mendapatkan informasi lebih lengkap.

Tom mulai bercerita tentang sebuah SMA bernama Redmoon dan geng-geng yang ada di dalamnya. Dia menyebut seorang pria bernama Ryan Howard sebagai tokoh di balik semua ini. Menurut ceritanya, beberapa bulan lalu, Ryan memerintahkan anak buahnya untuk mencari uang dengan angka 666.

Namun, rincian lebih lanjut tentang alasan di balik permintaan ini masih kabur bagi Tom. Dia tidak tahu mengapa uang dengan angka 666 harus dikumpulkan, dan dia mengakui bahwa hanya para penanggung jawab yang mungkin memiliki jawaban atas pertanyaan ini.

"Untuk lebih jelasnya gue gak tau. Mungkin kalian bisa dapat informasi jika bertanya pada para penanggung jawab, gue juga gak tau apa para penanggung jawab tau alasannya," jelas Tom dengan sungguh-sungguh.

Dia menambahkan, "Tapi untuk alasan yang pasti, kalian bisa langsung bertanya pada pemimpin SMA Redmoon."

Para anggota klub detektif terdiam sejenak, mencerna informasi yang baru saja mereka dengar. Semakin banyak fakta yang terungkap, semakin jelas pula gambaran tentang misteri di balik uang dengan angka 666 tersebut.

Mendengar penjelasan Tom, Arsen langsung menanyakan tentang kemungkinan kedatangan pemimpin SMA Redmoon atau orang yang mengetahui alasan di balik uang dengan angka 666 tersebut.

"Apa pemimpin SMA kalian datang ke sini? Atau orang yang tahu?" tanya Arsen dengan penuh harap.

Tom menggelengkan kepala, "Setahu gue dia gak datang."

Riri mengambil giliran untuk bertanya, "Lalu penanggung jawab itu?"

Tom berpikir sejenak, "Mungkin akan datang karena kami janjian. Aku akan memberikannya uang itu."

Rencana pertemuan dengan penanggung jawab membuat para anggota klub detektif semakin tertarik untuk datang ketempat mereka bertem.

"Dimana kalian akan bertemu?" tanya Arsen dengan penuh antusiasme.

Tom menjawab dengan cepat, "Di kafe dekat perempatan."

Tanpa pikir panjang, David dengan tegas berkata, "Bakal gue balikin asal lu bawa kita ke sana."

Tom mengangguk, "Oke, deal. Tapi ingat, kalian harus tetap berpura-pura tidak mengenalku di depan mereka. Jangan sampai mereka curiga bahwa aku yang membawa kalian."

"Kita akan berlaku seperti biasa, tenang saja," jawab Rolan dengan yakin.

Kini, klub detektif sudah memiliki rencana selanjutnya. Mereka akan bertemu dengan penanggung jawab dari SMA Redmoon dan mencari tahu lebih lanjut tentang motif di balik uang-uang dengan angka 666 itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!