CHAPTER 13

Setelah itu, perhatian mereka beralih kepada Arin. Dia mengambil napas dalam-dalam sebelum memulai penjelasan tentang hasil penyelidikannya di kamar korban.

"Ketika kami menyelidiki kamar korban sebelumnya, kami menemukan beberapa hal yang menarik," ucap Arin. "Tidak ada petunjuk atau barang yang mencurigakan di sana, tetapi kami menemukan bahwa kamar tersebut sangat bersih dan teratur. Semua barang-barang yang ada di sana tampak rapi dan terawat."

"Apakah ada bukti atau petunjuk mengenai motif atau alasan mengapa dia bunuh diri?" tanya Sella, yang tampak tertarik dengan penjelasan Arin.

Arin menggelengkan kepala, "Sayangnya tidak ada petunjuk yang jelas mengenai alasan dia bunuh diri. Semuanya tampak normal dan tidak ada tanda-tanda kecemasan atau depresi. Namun ada beberapa kejanggalan."

Para anggota klub detektif saling bertatap, menyadari bahwa mereka masih memiliki banyak pertanyaan yang perlu dijawab. Mereka tahu bahwa petunjuk-petunjuk yang mereka kumpulkan harus dihubungkan dengan hati-hati untuk mengungkap kebenaran di balik kasus rumah susun yang misterius ini.

"Korban bernama Dea Spencer. Ini kami temukan saat menemukan sebuah tiket di bawah lemari korban." Kata Arin sambil meletakkan sebuah tiket kereta di depannya. Mereka pun melihatnya bergantian.

Setiap anggota klub detektif mendengarkan dengan seksama penjelasan Arin tentang hasil temuan mereka di kamar korban Dea Spencer. Tiket kereta dengan tanggal yang sama dengan kematian korban, uang dengan karakteristik yang disebutkan oleh Hana, serta keadaan lemari pakaian dan lemari piring yang terlihat acak-acakan menjadi fakta-fakta yang menggelitik rasa penasaran mereka.

"Sangat tidak mungkin seseorang yang bunuh diri membeli tiket di hari kematiannya," ulang Arin, memastikan bahwa fakta tersebut mengindikasikan keberadaan orang lain yang terlibat dalam kematian Dea.

"Kalian pasti heran bagaimana bisa ada tiket dengan tanggal yang sama dengan kematian korban. Itu pasti sangat aneh, tidak mungkin seseorang yang bunuh diri membeli tiket di hari kematiannya. Jadi jelas orang itu tidak bunuh diri tetapi dibunuh." Jelas Arin, sambil menunjukkan tanggal di tiket itu, tanggal 23 Januari, hari yang sama dengan kematian korban.

"Tentu saja, sangat aneh jika seseorang yang ingin bunuh diri harus membeli tiket kereta," sela Rolan, mengaminkan perkataan Arin.

"Jadi kemungkinannya sangat besar jika dia dibunuh." tambah Sella, berusaha menghubungkan informasi yang telah mereka temukan.

"Selain itu kami juga menemukan sebuah uang dengan karakteristik yang sama dengan yang di sebutkan Hana. Uang seratus dengan nomor seri 666 dan memiliki noda coklat." Kata Arin sambil menujukkan uang kertas yang mereka temukan.

"Uang itu di temukan terselip di bawah tempat tidur, jika dugaan ku benar itu berarti ada orang yang terburu-buru membersihkannya hingga uang itu tercecer." Kata David menambahkan.

"Uang dengan nomor seri 666 dengan noda coklat, sepertinya menjadi petunjuk yang kuat. Tapi apa hubungannya uang itu dengan pembunuhnya?" tanya Viona, berusaha untuk menggali lebih dalam.

"Kemungkinan besar pembunuh ingin mengambil uang dari Dea karena dia tau tengang uang itu? tapi dia terburu-buru hingga uang tersebut tercecer," jawab Arin, berusaha menjelaskan dugaannya.

Mereka semua berpikir keras, mencoba menghubungkan setiap potongan informasi yang mereka temukan. Kamar korban Dea menjadi semakin misterius, dan petunjuk-petunjuk yang mereka peroleh semakin rumit untuk dipecahkan.

"Yang pasti, ini bukan bunuh diri," tegas Anton, mencoba untuk merangkum kesimpulan sementara dari hasil penyelidikan mereka.

"Tapi ada juga yang aneh dengan lemari korban, hanya ada beberapa lembar pakaian di lemarinya dan itu acak-acakan padahal lemari tempat dia menyimpan selimut terlihat sangat rapi." Tambah Riri.

"Benar juga lemari piringnya juga sangat rapi." Tambah Viona.

"Sepertinya Dea ingin pergi dari sana itu sebabnya dia mengambil pakaiannya. Namun tiketnya malah tercecer. Dan pembunuhnya datang mengambil uang itu." Kata David mengeluarkan pendapatnya terkait hal itu.

"Bicara soal uang, Rolan juga menemukan uang dengan ciri-ciri yang sama." Tambah David

"Iya, kami mendapatkannya dari kurir pesan antar makanan." Kata Rolan sambil mengeluarkan uang yang di maksud dari dompetnya.

Mereka pun membandingkan ke dua uang itu ternyata jika di lihat memang mirip. Mereka lalu memutuskan untuk menguji kedua noda coklat di uang itu, mereka penasaran apa keduanya adalah darah. Seperti uang yang telah diuji Rolan sebelumnya.

Saat semua anggota klub detektif membandingkan uang yang ditemukan oleh David dan uang yang dimiliki oleh Rolan, mereka memang cukup mirip. Kedua uang itu memiliki karakteristik yang sama, yaitu nomor seri 666 dan noda coklat.

"Mungkin kita perlu menguji noda coklat ini untuk memastikan apakah itu benar-benar keduanya adalah darah, atau hanya uang yang ditemukan Rolan," usul Sella, ingin memastikan keabsahan temuan mereka.

"Benar, kita harus mencari cara untuk menguji keaslian darah tersebut," setuju Anton.

"Apakah ada di antara kita yang memiliki akses ke fasilitas laboratorium atau teman ahli yang bisa membantu kita melakukan uji darah?" tanya Viona, mencoba mencari solusi.

Namun, mereka semua merasa kesulitan karena tidak ada di antara mereka yang memiliki akses atau kenalan yang bisa membantu melakukan pengujian tersebut.

"Rolan kan bisa," ucap David tiba-tiba, "Dia punya laboratorium kecil dirumahnya."

Setelah pembahasan noda darah tersebut mereka pun melanjutkan diskusi mereka.

"Korban tinggal di lantai teratas yaitu langai tujuh, dengan nomor kamar 140, setiap lantai punya 20 kamar, rumah susun itu sangat padat. Bangunannya berbentuk seperti huruf U di masing-masing sudut, di sebelah kiri terdapat lift dan di sebalah kanan terdapat tangga. Di dalam kamar itu terdapat kamar tidur dan wc. Di dalam kamarnya hanya terdapat satu kasur ukurang queen size dan sebuah lemari pakaian. Walaupun sepertinya dia orang yang bersih, dia tidak membersihkan tempat-tempat yang tidak terlihat." Jelas Arin memaparkan hasil penyelidikan kelompok mereka.

"Dari hasil diskusi dengan Hana kami menemukan pada malam saat kejadian dia katanya mendengarkan bunyi aneh, awalnya dia kira itu decitan pintu saat masuk bersama kami dia menyadari itu bukan decitan pintu, selain itu ia tidak mendengar apa-apa lagi karena malam saat kejadian terjadi hujan yang cukup lebat." Tambah Viona

"Sistem keamanan di rumah susun itu juga luar biasa setiap kamar memiliki kunci yang sama dengan kamar yang lainnya, kata Hana bisa di ganti namun sebagian besar orang disana tidak mengantinya." Tambah Arin

Meskipun waktu mereka sempit, namun semangat kolaborasi dan kerja tim yang ada di antara mereka membuat diskusi berjalan dengan lancar. Masing-masing anggota klub saling memberi masukan, menambahkan dan mengurai informasi, mencoba menghubungkan titik-titik penting, dan berpikir keras untuk menemukan jawaban dari setiap pertanyaan yang menghantui mereka.

Meski pembahasan mereka mungkin belum mencakup seluruh detil bukti yang mereka temukan, namun kebersamaan dan kerja sama yang terbangun di antara mereka telah menjadi modal berharga dalam perjalanan mereka mengungkap misteri di balik kasus rumah susun itu. Semua berjanji untuk terus berupaya sekeras mungkin dan tidak menyerah sampai akhirnya mereka menemukan jawaban yang mereka cari.

Kelompok yang dikirim untuk menyelidiki rumah susun itu selesai menjelaskan hal-hal aneh yang mereka dapatkan. Tidak ada komentar semuanya tampak berpikir keras. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, sekarang jam sudah menujukkan pukul lima jika mereka tidak segera meninggalkan ruang klub kemungkinan mereka akan terkunci lagi. Mereka pun menutup diskusi mereka untuk hari ini dan akan melanjutkannya lagi besok.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!