Sean duduk di meja makan dengan seragam polisinya yang rapi, siap untuk memulai hari kerjanya. Selaian sandwich dan secangkir kopi, ada juga beberapa berkas dan peralatan polisi yang tertata rapi di meja. Dia berusaha menikmati sarapannya dengan tenang meskipun kegaduhan di sekitarnya cukup mengganggu. Teriakan dari ibunya membangunkan adik-adiknya membuat suasana pagi di rumah itu cukup ramai.
Namun, sesuatu yang menarik perhatiannya adalah adik bungsunya, Arsen. Kali ini, Arsen tampak berbeda dari biasanya. Ia sudah bangun lebih awal dari biasanya dan terlihat sangat rapi. Sean heran melihat Arsen yang biasanya malas-malasan saat pagi hari, namun kali ini sudah siap sebelum orangtuanya sempat membangunkannya. Sean merasa heran dan ada yang tidak beres, tapi dia tidak ingin bertanya lebih lanjut.
Setelah selesai sarapan, Sean bersiap untuk pergi bekerja. Dia mengambil berkas-berkasnya dan mengecek perlengkapan polisi yang sudah disiapkan sebelumnya. Ia ingin memastikan semuanya berjalan lancar dan siap untuk operasi hari ini. Namun Arsen mengekorinya dibelakang.
"Kau mau kemana?" Tanya Sean melihat adiknya.
"Ikut dengan kakak." Balasnya yakin dengan apa yang ia ucapkan.
"Tidak boleh, pasti kau bakal bikin repot aja." Balas Sean tidak setujuh.
"Tapi kan ada tugas sekolah, aku sudah izin sama mama, terlebih lagi ada temanku yang akan datang." Kata Arsen menjelaskan situasinya.
"Tapi kan itu urusanmu, bukan urusanku," tegas Sean, mencegah adiknya untuk tidak ikut.
"Tapi aku sudah janjian dengan temanku, Sella, untuk bertemu di kantormu. Kami harus mengerjakan tugas sekolah bersama, Aku akan mengadu pada Mama kalo tidak diizinkan ikut" jawab Arsen dengan penuh semangat.
Sean menggelengkan kepala, agak kesal dengan desakan adiknya. "Dasar tukang ngadu, ya sudah ikut saja kalau begitu," Sean mengalah pada akhirnya.
Arsen tersenyum senang dan berterima kasih pada kakaknya. "Terima kasih, Kak! Aku tahu kakak pasti akan mau membantuku."
Sean memandangi adiknya yang duduk di kursi penumpang mobilnya. "Emang tugasmu itu disuruh ngapain?" tanya Sean ingin tahu lebih lanjut.
Arsen menjelaskan, "Kakak tahu kan rumah susun dekat sekolahku? Nah, tugas kami adalah membuat karya tulis ilmiah tentang kasus bunuh diri, dan kasus dirumah susun itu yang sedang marak."
Arsen menjelaskan lebih lanjut pada kakaknya, Sean, bahwa tugas sekolahnya adalah merangkum kasus bunuh diri yang terjadi di rumah susun dekat sekolahnya. Mereka harus mencari tahu penyebabnya, apakah ada kaitannya dengan masalah kesehatan mental. Hal tersebut merupakan tema dari karya ilmiah yang harus mereka kerjakan. Sean mendengarkan penjelasan Arsen dengan seksama dan mengangguk mengerti.
Sean mengangguk mengerti. "Baiklah, kalian bekerja di ruang kerjaku, tetap jaga kedisiplinan dan fokus saat mengerjakan tugas sekolah. Jangan bikin keributan di sana," pesannya pada adiknya.
Setelah perjalanan selama sekitar 15 menit, mereka akhirnya tiba di kantor Sean. Di parkiran, mereka bertemu dengan Sella yang telah menunggu sejak lama. Bersama-sama, mereka masuk ke dalam gedung.
Sean merupakan seorang kepala tim di unit 8 divisi investigasi, meskipun usianya masih muda. Banyak orang yang menyapanya dengan hormat. Sean langsung membawa Arsen dan Sella ke ruangannya dan mempersilahkan mereka duduk. Namun, sebelum Arsen bisa memulai bertanya, Sean tiba-tiba menerima telepon darurat. Terdengar bahwa telah terjadi pembunuhan di pinggir kota dan Sean harus segera menuju ke lokasi kejadian.
Dengan enggan, Sean meninggalkan Arsen dan Sella di ruangannya. Arsen bertanya bagaimana dengan tugasnya, karena file yang dibutuhkan tidak ada di rumahnya. Sean menjelaskan bahwa memang file tersebut tidak ada di rumah dan karena itu mereka perlu di dampingi oleh salah satu rekannya yang tidak ikut ke lokasi. Rekannya itu akan membantu mereka dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka terkait kasus di rumah susun tersebut.
Meskipun Sean harus pergi karena tugasnya sebagai polisi, ia tetap memastikan agar Arsen dan Sella bisa mendapatkan bantuan dan informasi yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan tugas sekolahnya. Keberadaan rekannya di sana akan menjadi dukungan bagi Arsen dan Sella dalam mengumpulkan data dan informasi mengenai kasus tersebut.
Setelah Sean pergi, Febri, salah satu rekan Sean, masuk ke ruangan. Arsen mengenal Febri karena beberapa kali dia telah datang ke rumahnya. Febri duduk di kursi di depan Arsen dan Sella, siap membantu mereka dengan tugas karya ilmiah mereka.
Febri dengan ramah menawarkan bantuan dan mengatakan bahwa dia siap memberi tahu mereka apa pun yang tidak dirahasiakan. Arsen dan Sella pun menceritakan bahwa mereka ingin mengetahui lebih banyak tentang kasus rumah susun yang terjadi di dekat sekolah mereka, khususnya kasus bunuh diri yang menjadi tema karya ilmiah mereka.
Sella, dengan suara lembutnya, menjelaskan maksud mereka, namun Febri yang melihat Sella untuk pertama kali seakan terpesona oleh pesonanya. Sella memang memiliki pesona yang menawan, kecuali bagi teman-temannya di klub detektif yang sangat mengenalnya dan tahu tabiatnya.
Febri menyambut dengan senang kenalan baru dan memberikan tangannya untuk berjabat tangan. Mereka saling menyebutkan nama dan dengan cepat memulai percakapan.
Dengan penuh perhatian, Febri menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Mereka mulai menanyakan nama-nama korban, pekerjaan korban, dan hubungan antara korban satu dengan yang lain. Mereka juga menanyakan tentang tempat tinggal korban di rumah susun tersebut. Febri dengan ramah dan detail menjawab semua pertanyaan mereka, seperti terpesona oleh kecerdasan dan pesona Sella yang seolah menyihirnya.
Namun, ketika Arsen dan Sella bertanya tentang korban pertama dalam kasus rumah susun, Febri menolak memberikan informasi tersebut dengan alasan tidak mengetahuinya. Meskipun terpesona dan ingin menyenangkan Sella, ia tampaknya masih berpegang pada akal sehatnya. Namun, tak lama kemudian, Febri tanpa sadar memberikan petunjuk tak terduga. Ia menyebutkan bahwa berkas-berkas terkait kasus itu ada di dalam lemari di belakangnya.
Tiba-tiba, Sella berpura-pura batuk dengan sangat keras dan meminta Febri untuk mengambilkan air. Kekhawatiran muncul di wajah Febri melihat Sella yang terlihat begitu tidak enak badan. Tanpa ragu, Febri pergi mengambilkan air untuk Sella dan meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan. Sayangnya, itu hanyalah akal bulus Sella. Gadis manis dan cantik itu memang memiliki penampilan sempurna, namun sebenarnya dia memiliki sifat berbahaya.
Setelah ditinggal berdua, Arsen segera melanjutkan rencananya. Dia membuka lemari arsip yang disebutkan oleh Febri dan mulai mencari kasus dari dua tahun yang lalu. Terdapat begitu banyak kasus di tahun tersebut, dan akhirnya, Arsen berhasil menemukan file yang diinginkannya. Tepat saat dia menemukannya, Sella memberinya tanda bahwa Febri akan segera kembali. Dengan cepat, Arsen menghentikan aksinya dan menutup lemari arsip tersebut.
Arsen pun memutuskan untuk menyimpan file yang dia temukan di bawah meja kerja kakaknya yang berada di belakang sofa. Dia berharap bahwa tindakan cerdasnya ini dapat menghindarkan mereka dari kecurigaan Febri. Sella kembali berpura-pura baik-baik saja saat Febri masuk kembali ke ruangan. Mereka berdua kembali menyamar sebagai anak SMA yang tengah menyelesaikan tugas karya ilmiah mereka, seolah tak ada yang terjadi di balik semua itu.
Setelah Febri kembali dengan membawa teh hangat, mereka berdua kembali berpura-pura seolah tidak ada yang terjadi dan melanjutkan perannya sebagai siswa yang tengah menyelesaikan tugas karya ilmiah. Sambil bermain-main dengan handphone, mereka mulai bertanya lagi mengenai kasus bunuh diri di rumah susun, menggunakan pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya oleh Rolan, dan beberapa pertanyaan tambahan yang mereka buat sendiri.
Terkadang, pertanyaan mereka tentang tanggal kejadian kasus tersebut memunculkan pertanyaan lebih lanjut di benak Arsen. Apakah kasus bunuh diri ini memiliki pola tertentu? Hal tersebut membuatnya semakin penasaran dan ingin menemukan jawabannya.
Setelah kehabisan pertanyaan, Sella kembali berakting dan meminta diantar ke toilet. Febri dengan senang hati menunjukkan jalannya ke toilet, meninggalkan Arsen di ruangan. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Arsen untuk melanjutkan aksinya. Dia membuka file yang dia sembunyikan sebelumnya dan dengan cepat memotret semua isinya. Setelah selesai, dia meletakkan file tersebut kembali di tempat semula, seolah tak terjadi apa-apa.
Setelah beberapa menit, Sella kembali dari toilet dan memberi kode pada Arsen bahwa semuanya sudah beres. Mereka pun berpamitan dan menyatakan bahwa pertanyaan mereka telah selesai. Kemudian, mereka berdua berpamitan untuk pulang. Awalnya, Arsen berencana untuk menunggu kakaknya di kantor dan diantarkan pulang, namun ternyata kakaknya memiliki banyak tugas yang harus diurus. Sebagai akhir petualangan mereka, Arsen akhirnya memutuskan untuk ikut naik mobil Sella pulang.
Perjalanan pulang diisi dengan perasaan lega, namun juga campur aduk. Mereka berhasil mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Mereka hanya berharap bahwa semua usaha mereka dapat membantu mengungkap misteri di balik kasus bunuh diri di rumah susun tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments