CHAPTER 15

Matahari terik menyinari jalan-jalan perkotaan, menciptakan bayangan-bayangan panjang di sepanjang trotoar. Hari itu adalah hari ketiga berturut-turut para anggota klub detektif harus terputus dari rapat mereka. Para anggota klub detektif terlihat bersemangat karena kelas mereka kosong. Rapat guru membuat kelas menjadi sepi, dan mereka memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan ini dengan mengadakan rapat klub lebih awal dari biasanya.

Di ruangan klub detektif, seorang pria berkacamata yang menjadi pemimpin rapat sedang menyiapkan segala sesuatunya. Ia menurunkan papan catatan dari tembok ruangan dan menata beberapa foto yang berhasil diperolehnya sebelumnya. Foto-foto itu berisi petunjuk-petunjuk yang mungkin akan membantu mereka dalam penyelidikan kasus rumah susun.

Tak berapa lama kemudian, suara langkah kaki mulai terdengar mendekat, dan satu per satu anggota klub detektif datang. Rolan, sebagai ketua klub, hadir dengan wajah serius, mempersiapkan diri untuk memimpin rapat ini. Anton, yang selalu menggunakan hoodie, duduk dengan santai di kursi, tapi wajahnya penuh perhatian terhadap apa yang akan dijelaskan. Arsen, dengan wajah yang penuh semangat, mengecek berkas-berkas yang ia bawa. Viona, yang selalu berpenampilan stylish, duduk dengan anggun sambil mengamati setiap detail di ruangan. Riri, yang energik, duduk dengan penuh semangat. Arin, yang ceria, terlihat sangat bersemangat untuk menyumbangkan ide-idenya. Dan akhirnya, Sella dan David datang bersama-sama, setelah sebelumnya tidak bisa hadir karena kesibukan mereka masing-masing.

Di waktu senggang, mereka tetap berkomunikasi melalui grup chat mereka. Mereka saling bertukar informasi dan pandangan tentang kasus tersebut. Walau tidak bisa bertemu langsung, semangat mereka tidak surut untuk terus mengungkap kebenaran.

Saat mereka berkumpul kembali, suasana tegang dan semangat bersemayam di ruangan klub. Mereka memulai diskusi lagi dengan penuh dedikasi. Setiap anggota klub menyampaikan perkembangan terakhir dari investigasi masing-masing, saling memberi dukungan dan masukan untuk mencari titik terang.

"Wah, hiasannya gak main-main," ujar David dengan kagum begitu ia memasuki ruangan klub detektif dan melihat gambar yang baru saja dipasang oleh Rolan.

Ruang klub detektif terlihat lebih hidup dengan hiasan-hiasan yang menarik dan berbagai foto yang dipajang di tembok. Rolan, sebagai pemimpin rapat, dengan sigap menyiapkan segala sesuatunya agar rapat bisa dimulai dengan lancar.

"Mari kita mulai rapat kita," kata Rolan dengan tegas, "Kita harus mempercepat langkah kita dalam mengungkap misteri rumah susun ini."

Semua anggota klub detektif menyimak dengan serius. Pria berkacamata itu mulai membagikan foto-foto yang telah ia persiapkan. Mereka mengamati setiap detail dalam foto tersebut, mencari petunjuk yang bisa membawa mereka lebih dekat pada kebenaran.

"Karena kita semua sudah ada di sini, sebaiknya segera kita mulai saja, dari pada kita diusir lagi seperti kemarin," usul Rolan dengan nada penuh semangat.

Rapat pun dimulai, dan David langsung menanyakan apakah ada yang bisa merangkum hasil rapat sebelumnya. Riri segera mengangkat tangannya dan Rolan menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.

"Baik, aku akan mencoba merangkumnya," ucap Riri, sambil mengambil secarik kertas dan pulpen untuk mencatat poin-poin penting dari rapat sebelumnya.

"Kemarin, Arsen menjelaskan hasil penyelidikannya bersama Sella. Mereka menemukan 6 korban dari kasus rumah susun itu. Korban-korbannya bisa kalian lihat di tembok itu," kata Riri sambil menunjuk ke tembok yang telah dihiasi dengan foto-foto para korban oleh Rolan. David pun memandangi dengan serius, mencermati identitas para korban yang terpampang di tembok itu.

Dengan serius, Riri melanjutkan penjelasannya, "Dari semua kasus, hanya kasus pertama yang memiliki karakteristik yang berbeda. Sesudahnya adalah pembunuhan yang dilakukan setelah rumah susun itu diresmikan. Pembunuhan itu memiliki pola lantai, lantai 5, 7, 6. Dia membunuh orang di rumah susun itu mengikuti pola itu."

David tertarik dengan informasi tersebut dan bertanya, "Apa cuma itu yang berhasil kalian temukan?"

Riri menggaruk kepalanya, berusaha mengingat, "Hmm, maaf aku lupa lagi."

Rolan kemudian mengambil alih untuk memberikan penjelasan lebih lanjut, "Target umur pembunuh itu berkisar antara 25-32 tahun, dia bisa membunuh pria dan wanita. Dari pekerjaannya, kita bisa tahu para korban adalah orang-orang yang membutuhkan uang. Mereka menjadi mangsa yang empuk untuk dijanjikan uang. Dan kemungkinan besar, pembunuh ini menggunakan uang untuk menarik korban ke dalam perangkapnya. Setelah peresmian, pembunuhan di rumah susun itu terjadi setiap bulan. Dari data kepolisian, orang-orang yang meninggal tidak memiliki kaitan satu sama lain. Sepertinya pembunuh ini suka hujan, setiap pembunuhan terjadi di hari hujan."

"Jika hujan, sulit menemukan bukti. Pembunuhnya cukup cerdik, tapi hujan itu kan tidak pasti, perkiraan cuaca saja kadang salah, mungkinkah pembunuhnya juga tinggal di sana?" Tanya David, mengemukakan pendapatnya.

"Oh, bisa juga, karena hujan tidak menentu, jadi dia harus berada di lokasi kejadian menunggu sampai ada hujan," kata Arin, membenarkan pendapat David.

Rolan berpikir sejenak dan kemudian berkata, "Jika begini, kita bisa mempersempit penyelidikan kita. Hanya orang-orang yang ada di rumah susun itu yang menjadi tersangka potensial."

"Oh iya, hampir lupa," sergah Rolan, "masalah uang yang kita temukan itu, sudah gue cek di lab, ternyata yang ada di atas uang itu benar-benar darah, dan lebih parahnya lagi itu darah manusia. Tapi kita tidak bisa tahu itu darah siapa, kecuali memberikannya ke kepolisian untuk pelacakan DNA."

"Untuk menentukan kapan pembunuh itu akan beraksi lagi, kita harus menemukan petunjuk baru. Kali ini kalian bisa memilih ke mana kalian ingin pergi," ujar Rolan dengan tegas.

"Memangnya kita akan ke mana saja?" tanya Riri, dengan wajah penuh ketertarikan.

"Hanya ada dua tempat yang menjadi tujuan kita. Pertama, ke tempat orang yang mengenal korban pertama, dan kedua, ke rumah susun tempat kejadian pembunuhan. Ada beberapa hal yang harus kita lakukan di rumah susun itu, jadi yang pergi ke sana akan cukup banyak," jelaskan Rolan.

Lalu, Anton penasaran bertanya, "Apa yang harus kita lakukan di rumah susun?"

Rolan memberi penjelasan lebih lanjut, "Kita harus mencari petunjuk baru, mencatat kondisi sekitar, dan mencari saksi-saksi potensial. Karena berdasarkan data yang kita peroleh, korban pertama dan kejadian pembunuhan selanjutnya terjadi di distrik yang sama, yaitu distrik selatan. Jadi, dua orang dari kita harus pergi ke sana. Yang lainnya bisa menuju rumah susun."

Arin dan Anton bersamaan mengangkat tangan mereka, menunjukkan keinginan mereka untuk pergi ke distrik utara.

"Kalo begitu, aku saja yang pergi. Mau jalan-jalan sekalian," ujar Arin, mencoba menyemangati dirinya sendiri dan menghadapi tugas yang menantang.

"Jadi sudah diputuskan, kalian berdua akan pergi ke distrik selatan," kata Rolan, memberikan keputusan akhir.

Setelah rapat singkat, tim detektif pun menyiapkan rencana masing-masing. Arin dan Anton akan menuju distrik utara untuk mencari petunjuk dari orang yang mengenal korban pertama, sementara teman-teman lainnya akan bersiap-siap mengunjungi rumah susun untuk memulai penyelidikan mereka.

"Lalu kita yang pergi ke rumah susun itu, apa yang akan kita lakukan di sana?" tanya Sella, ingin memastikan tugas-tugas mereka.

"Di sana kita akan dibagi lagi. Ada yang harus pergi memeriksa kamar para korban. Tapi aku yakin kamar-kamar itu sudah ditempati orang lain, jadi sebisa mungkin kalian harus melakukan sesuatu agar diizinkan masuk. Kemudian, bertemu dengan Hana dan menjelaskan situasinya. Terakhir, kita akan berbicara dengan pihak pengelola rumah susun untuk mendapatkan data mengenai orang-orang yang tinggal di sana," jelas Rolan dengan tegas.

David dengan cepat menyatakan, "Aku akan bersama Rolan."

Namun, reaksi Sella tidak menyenangkan. "David, kamu seharusnya bersamaku! Aku ingin berdua denganmu!"

"Enggak mau, lebih baik kamu bersama Vio atau Riri," balas David, menghindari tatapan Sella.

"Ga mau! Aku sama Riri aja," ucap Viona, menolak berpasangan dengan Arsen.

"Baiklah, sudah ditentukan. Aku bersama David, Viona dengan Riri, dan Arsen dengan Sella," putuskan Rolan sebelum perdebatan semakin memanas.

"Huff, kenapa aku harus bersama Arsen lagi?" protes Sella kesal.

"Terima nasib saja, kita semua akan pergi ke rumah susun. Untungnya kamu tidak harus ke distrik selatan," canda David, mencoba meredakan suasana.

"Sella dan Anton akan pergi ke pihak pengelola. Riri dan Viona akan menjelaskan semuanya kepada Hana. Sementara aku dan David akan menyelidiki kamar bekas para korban," bagikan tugas Rolan kepada teman-temannya.

Meskipun mereka bersemangat untuk memecahkan misteri, jadwal padat sebagai pelajar dan berbagai kegiatan di sekolah membuat mereka hanya bisa bergerak saat hari Sabtu atau Minggu. Dan di antara kesibukan mereka, ada festival sekolah yang segera diadakan. Akibatnya, penyelidikan mereka pun tertunda.

Terpopuler

Comments

Riezki Arifinsyah

Riezki Arifinsyah

kaya baca TRIO DETEKTIF

2025-02-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!