CHAPTER 09

Mereka mengamati lift yang berada di pojok kanan gedung, terlihat kuno namun masih berfungsi dengan baik. Sementara itu, di pojok sebelah kiri, terdapat tangga sebagai alternatif. Namun mereka tetap ingin menggunakan lift, walaupun melihat keadaan lift yang cukup ramai, mereka memilih untuk bersabar dan menunggu giliran.

Setelah dua kali lift itu naik dan turun dengan muatan penuh, akhirnya mereka mendapatkan kesempatan untuk masuk. Hana dengan sigap menekan tombol lantai tujuh, dan lift mulai bergerak dengan perlahan meninggalkan lantai dasar.

Seiring dengan perjalanan lift yang naik, satu per satu orang yang bersama mereka berhenti di lantai tujuan masing-masing. Hingga akhirnya, hanya mereka berlima yang tetap berada di dalam lift saat pintu terbuka di lantai tujuh.

Seketika, ketegangan di udara semakin terasa. Mereka berlima melangkah keluar dari lift dengan langkah hati-hati, siap menghadapi apa pun yang mungkin menanti mereka di lantai tujuh ini. Semangat penyelidikan mereka semakin kuat, karena mereka tahu bahwa inilah saatnya untuk mengungkap misteri yang telah menghantuinya selama ini.

Hana memimpin mereka melewati lorong-lorong sempit rumah susun, menuju kamar paling ujung di lantai atas. Gadis berambut bergelombang itu menjelaskan dengan penuh semangat, "ruangannya berada di atas ruanganku, di ujung kiri. Aku gak tau nama lengkapnya tapi biasanya aku memanggilnya kak Dea."

Setibanya di depan pintu kamar, Hana mengambil kunci dari saku celananya dan membuka pintu dengan cekatan. Orang-orang yang bersamanya menganggukkan kepala sambil memperhatikan sekeliling.

"Ini dia kamarnya," ucap gadis berambut bergelombang itu, membuka pintu dengan penuh kehati-hatian.

"Kamu kok punya kuncinya?" tanya Arin heran, melihat Hana dengan kecurigaan. Bagaimana mungkin Hana punya kunci kamar orang yang sudah meninggal.

"Kunci di kamar semua rumah susun ini sama. Jadi walaupun aku menggunakannya di lantai bawah, pasti bisa," jelaskan Hana dengan percaya diri.

"Keamanannya luar biasa," kata David dengan nada mengejek.

"Wah, siapa saja bisa masuk dong kalo gitu. Asalkan punya kunci," tambah Arin, terheran-heran dengan sistem keamanan rumah susun itu.

"Sebenarnya boleh-boleh aja ganti kunci kamar, tapi orang-orang di sini berpikir itu tidak perlu. Buat apa? Toh disini tidak ada barang berharga. Jadi mereka berpikir mengganti kuncinya hanya membuang-buang uang," jelas Hana pada mereka.

"Jadi siapa aja yang punya kunci bisa jadi tersangka dong," kata Viona dengan pandangan tajam.

Mereka masuk ke dalam kamar 140 dengan hati-hati, menutup pintu rapat-rapat agar tak ada yang melihat mereka, terutama jika bunuh diri tersebut, ternyata memang bukan bunuh diri. Kamar ini berada di lantai teratas rumah susun, di antara 20 kamar lainnya. Bangunan itu berbentuk huruf U, dengan setiap terasnya dibatasi oleh tembok setinggi pinggang orang dewasa.

Ketika mereka berada di dalam kamar, pintu utama berdecit saat dibuka. Di depan mereka, terdapat kursi panjang yang tersandar pada tembok dekat jendela, serta sebuah meja kayu yang juga menyandar pada tembok yang membatasi kamar dengan ruang tamu yang terlihat dari tampilannya.

Ruang tamu ini tanpa dinding, membentuk huruf L yang dibatasi oleh lemari besar yang berfungsi untuk memisahkan ruang tamu dengan area di depannya. Di sana, tampak televisi dan kipas angin, sepertinya tempat Dea untuk bersantai. Setelah ruang TV tersebut, ruangannya menyempit menjadi sekitar 1 meter yang dijadikan dapur. Di dapur itu, ada kompor, tempat cuci piring, kulkas, dan lemari yang berisi piring dan gelas. Di ujung ruangan yang seperti lorong itu, terdapat toilet.

Setelah memperhatikan dengan seksama, mereka pun membagi tugas untuk memeriksa.

Viona memutuskan untuk memeriksa kamar tidur. Saat memasuki kamar itu, dia hanya menemukan sebuah kasur dan lemari pakaian yang diletakkan dekat pintu. Kamar ini tidak memiliki jendela, dan terlihat berantakan. Ketika dia membuka lemari pakaian, dia melihat bahwa lemari itu dalam keadaan berantakan. Hanya ada beberapa pasang baju, 3 pasang baju tidur, 8 baju atasan, 5 celana, dan 3 rok. Namun, yang menarik perhatiannya adalah ketiadaan pakaian dalam. Sesuatu yang agak aneh untuk sebuah kamar.

Setelah cukup memeriksa lemari, Viona beralih ke tempat tidur. Kasur berukuran queen dengan seprei berwarna coklat yang berantakan, terdapat dua bantal dan satu bantal guling, namun tidak ada apa-apa di kasur itu. Dia mencoba mencari di samping ranjang yang kosong, namun juga tidak menemukan apa pun. Tanpa menyerah, dia mencoba mencari di bawah ranjang, dan ketika ia menyenter di bawah ranjang, dia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.

Uang. Tepat di samping kiri ranjang, berdempetan dengan tembok, terletak selembar uang. Viona mencoba menggapai uang itu, namun uang itu berada di posisi yang sulit dijangkau. Dengan tekun, dia berusaha mengambilnya dan akhirnya berhasil. Uang itu adalah uang yang sama seperti yang diceritakan Hana, dengan nomor seri yang mencolok - 666.

Sementara itu, David memeriksa dapur dengan seksama. Tidak ada hal yang aneh yang ia temukan di sana. Lemari dapur terisi rapi dengan beberapa gelas dan piring. Kulkas tampaknya sudah dikosongkan dan tempat sampahnya juga terlihat kosong. Semuanya terlihat seperti biasa, tanpa ada yang mencurigakan.

Riri, yang memeriksa ruang tamu, juga tidak menemukan apapun yang mencurigakan. Dia memeriksa laci meja yang berada di ruang tamu, namun hanya menemukan beberapa buku resep yang mungkin digunakan oleh Dea. Tidak ada petunjuk yang dapat membantu mereka dalam penyelidikan ini.

Sementara itu, Arin sibuk memeriksa ruang TV. Dia mencoba membuka laci meja yang berisi beberapa kaset film, namun tidak ada yang menarik perhatiannya di sana. Kemudian, dia beralih ke lemari yang menjadi pembatas ruangan. Di dalam lemari itu hanya terdapat selimut dan karpet yang tersusun rapi. Di atas lemari, terdapat debu yang menandakan bahwa lemari ini jarang digunakan. Dia juga memeriksa di bawah lemari, menggunakan senter karena cahaya yang redup. Di sudut bawah lemari hampir tidak terlihat, Arin menemukan sebuah tiket kereta yang tersembunyi.

Setelah melakukan pemeriksaan di rumah Dea, mereka turun ke rumah Hana yang tepat berada di bawah kamar korban. Menggunakan tangga di sebelah kanan kamar itu, mereka turun satu lantai. Saat di rumah Hana, satu per satu mereka memperlihatkan apa yang mereka temukan dalam penyelidikan mereka.

Viona dengan bangga menunjukkan selembar uang pecahan seratus yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan yang disebutkan Hana. Dia menunjukkan uang itu kepada Hana, dan gadis itu mengiyakan bahwa uang itu mirip dengan yang ia lihat sebelumnya. David dan Riri, yang memeriksa dapur dan ruang tamu, tidak menemukan petunjuk apa pun yang mencurigakan. Begitu juga dengan Arin, kecuali dia berhasil menemukan sebuah tiket kereta yang memiliki tanggal yang sama dengan malam kematian korban. Mereka menyadari bahwa mungkin polisi sebelumnya tidak menemukan tiket ini karena telah menganggap kasus ini sebagai bunuh diri.

Kemudian, mereka mengumpulkan semua bukti yang mereka temukan dalam plastik bening dan memberikannya pada Viona untuk di simpan. Mereka merasa takut bahwa uang itu dapat terkutuk, tetapi Viona adalah satu-satunya yang berani untuk menyimpannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!