CHAPTER 17

Kelas XI IPS yang dipimpin oleh Anton telah menyiapkan stan rumah hantu dengan antusiasme yang tinggi. Meskipun Anton sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan konsep rumah hantu, dia dengan senang hati menerima tugas sebagai penjaga pintu masuk dan mengatur tiket untuk para pengunjung.

Stan rumah hantu mereka terletak di sudut terpencil, dikelilingi oleh dekorasi yang menyeramkan dan gelap. Anton berdiri tegap di pintu masuk, mengenakan seragam sekolah dengan topi dan lencana yang menyatakan dirinya sebagai penjaga stan. Dia menyambut pengunjung dengan ramah, memberikan tiket masuk, dan memberikan informasi singkat tentang apa yang akan mereka temui di dalam rumah hantu tersebut.

Sementara itu, teman-teman Anton telah siap berperan sebagai hantu-hantu menyeramkan di dalam stan. Mereka mengenakan kostum yang menyeramkan dan dandanan yang sesuai dengan karakter hantu yang akan mereka perankan. Wajah mereka dilukis dengan makeup yang menciptakan kesan seram dan menakutkan.

Setelah stan rumah hantu mereka dibuka untuk para pengunjung. Antrian panjang segera terbentuk, karena banyak siswa dan siswi Bluestars yang penasaran untuk mengalami sensasi seram di dalam rumah hantu tersebut.

Anton dengan hati-hati mengatur kelancaran antrean dan memastikan bahwa setiap pengunjung memiliki tiket masuk. Dia dengan bersemangat menyambut dan memberikan petunjuk kepada mereka sebelum memasuki stan. Meskipun dia tidak menjadi bagian dari penampilan di dalam, tetapi Anton merasa puas bisa berkontribusi dalam menghadirkan pengalaman yang menyenangkan bagi pengunjung.

Di dalam stan, teman-teman Anton dengan penuh semangat berperan sebagai hantu-hantu menyeramkan. Mereka bergerak dengan lincah dan mengeluarkan suara-suara mengerikan yang berhasil membuat para pengunjung merasa tegang dan terhibur sekaligus.

Lampu redup dan musik horor menciptakan atmosfer yang lebih menyeramkan. Di setiap sudut stan, terdapat berbagai adegan seram yang telah mereka susun dengan cermat. Para pengunjung berjalan dengan hati-hati, merasa seperti tengah berada dalam sebuah film horor.

Anton melihat bagaimana teman-temannya dengan semangat bermain peran sebagai hantu-hantu menyeramkan, dan meskipun dia tidak berada di dalam untuk merasakan sensasi horor, dia merasa bangga dan senang bisa menjadi bagian dari tim yang menyajikan pengalaman unik ini.

Berjam-jam berlalu, dan antrian tak kunjung reda. Rumah hantu mereka menjadi salah satu daya tarik utama di festival. Banyak yang kembali untuk mengalami pengalaman seru di dalam stan, bahkan ada yang mencoba berkali-kali untuk merasakan ketegangan dan keseramannya.

Suasana festival yang seharusnya penuh dengan keceriaan dan tawa tiba-tiba terganggu oleh kejadian yang tak terduga. Di stan makanan David, suasana mulai tegang ketika seorang pelanggan dari SMA Redmoon menolak untuk membayar pesanan yang telah ia makan. Wajahnya yang marah dan penuh kemarahan menunjukkan niatnya yang buruk.

David, yang seharusnya senang bertugas di stan makanan, sekarang merasa kesal dan cemas dengan situasi yang tak terkendali. Pelanggan tersebut semakin memanas dan mulai mengancam teman-teman David yang berada di sekitarnya. Siswa-siswa Bluestars yang lain yang berusaha menenangkan situasi tampak terkejut dan bingung menghadapi tingkah laku anak dari SMA Redmoon yang begitu agresif.

SMA Redmoon memang terkenal dengan reputasi buruknya. Lokasinya di distrik utara, dan menjadi salah satu SMA khusus laki-laki yang penuh dengan siswa yang suka membuat onar dan tawuran. Banyak orang yang merasa waspada ketika melihat siswa-siswa dari SMA Redmoon berada di acara festival di sekolah lain.

David merasa perlu mengambil tindakan cepat untuk menyelesaikan situasi yang semakin tegang. Perkelahian antara David dan pelanggan dari SMA Redmoon memecah suasana festival yang semula ceria dan riang menjadi tegang dan cemas. Siswa-siswa dari SMA Bluestars yang berada di sekitar langsung berkerumun, mengeluarkan teriakan dan sorakan campur aduk, ada yang berusaha melerai, ada juga yang mendukung David.

Pelanggan yang awalnya begitu marah dan agresif sekarang tampak terpukul dan terkejut. Dia tak menyangka bahwa David memiliki kekuatan fisik yang begitu kuat. Pukulan satu kali dari David telah membuatnya meminta ampun dan menunjukkan sikap penyesalan atas perbuatannya.

Ketika pelanggan dari SMA Redmoon meminta ampun dan berjanji akan membayar, suasana kembali menjadi tegang. David masih memendam rasa kesal terhadap perilaku kasar pelanggan tersebut. Meskipun pelanggan tersebut tampak bersedia membayar, alasan yang dia berikan untuk menunda pembayaran menimbulkan keraguan di benak David.

"Gue minta maaf, bakal gue bayar. Tapi gue harus ngehubungin teman gue dulu," ucap pelanggan dengan suara bergetar, mencoba meyakinkan David agar memberinya kesempatan.

Namun, mata tajam David dan raut wajahnya yang masih terlihat marah mengindikasikan bahwa dia tidak begitu percaya pada alasan pelanggan itu. Baginya, alasan untuk menghubungi teman hanya terdengar seperti dalih untuk menghindari kewajiban membayar, dan David merasa pelanggan itu hanya akan memanggil teman-temannya untuk mengeroyoknya.

"Sekarang." Kata David sambil memelintir tangan pelanggan itu.

Siswa dari SMA Redmoon itu mengeluarkan uang pecahan 100 ribu dari dompetnya dengan wajah cemas. Dia tahu bahwa dia telah berbuat kesalahan dan sadar bahwa dia harus membayar untuk makanan yang telah dia konsumsi. Meskipun dia merasa tertekan dan terancam, dia berusaha untuk tetap tenang.

"Gue tau gue salah, tapi gue gak bohong, cuman ini di dompet gue, ini duit temen gue" ucapnya dengan nada rendah.

David menatap uang itu dengan ekspresi ragu. Dia menyadari bahwa uang tersbut mirip dengan uang yang klub mereka sedang selidiki, belum sempat ia bertanya, orang itu lebih dulu melanjutkan ucapanya.

"Tunggu gue di sini. Gue bakal nyari temen gue dulu buat minjem duit yang lain, jadi tolong simpan baik-baik uangnya kalo gak gue bisa mati." Ucap pria berambut merah itu. Lalu berlari pergi sepertinya mencari teman-temannya. David menjadi heran dan sangat penasaran. Tanpa pikir panjang David langsung menghubungi teman-temannya di klub detektif.

Dia mengabari teman-temannya dia menemukan uang dengan ciri-ciri yang sama dengan uang yang berhubungan dengan kasus yang mereka selidiki. Yang lebih mencurigakan lagi, pemilik uang itu berkata dia bisa mati jika uang itu tidak ada. Teman-temannya yang melihat hal itu segera menuju ke tempat stan David setelah menerima pesan itu. Riri yang baru saja istirahat setelah bertugas menjaga stan pun kembali ke sana.

"Siapa?" Tanya Arin

"Di mana orangnya?" Tanya Rolan

"Kok bisa?" Kata Sella

Begitu banyak pertanyaan yang di lontarkan kepada David tentang siapa pemilik uang itu. Dan dimana orang itu sekarang.

"Nanti juga datang sendiri." Balas David.

"Dari seragamnya dia anak SMA Redmoon, dia punya rambut berwarna merah, namanya? gue gak tau. Tapi yang pasti dia akan datang ke sini lagi, untuk mengambil uang ini." Kata David sambil memperlihatkan uang yang dia dapatkan dari orang tadi.

Sebelumnya saat terjadi perkelahian siswa dan siswi kelas XI IPA 2, semuanya berlari keluar, karena tidak ingin terlibat perkelahian, dan siswa yang tadi di tolong David pun, sudah dia suruh ke UKS, jadi stannya sekarang benar-benar kosong, hanya dia dan anggota klub detektif.

Untuk menenagkan teman sekelasnya yang panik karena memikirkan bagaimana nasib stan meraka, David sudah mengabari mereka agar tidak khawatir, dia akan bertugas bersama Riri. Semua teman sekelas mereka tau bagaimana hebatnya Riri. Jadi mereka tidak cemas lagi. David juga mengatakan untuk sementara dia saja dan Riri yang bertugas karena pengacau itu mengancam akan datang lagi. Tanpa di suruh dua kali teman-temannya menuruti kata-kata David.

Mereka sudah menunggu hampir 20 menit. Namun orang yang memiliki ciri-ciri seperti yang di sebutkan David tidak juga tampak. Mereka semua sudah tertahan di stan itu. Bahkan membantu stan David, ternyata stan makanan berat memiliki banyak pengunjung. Rolan bahkan tidak terima harus membantu stan milik kelas David sepeeti itu.

Setelah mereka kelelahan dan putus asa karena orang yang dimaksud David juga belum datang. Mereka memutuskan untuk kembali ke stan masing-masing. Baru saja mereka ingin keluar, seorang pria berambut merah datang. Sendirian. Kata David dia akan memanggil temannya, tapi tidak ada siapa pun. Hanya dia seorang. Mereka yang masih berdiri di pintu dan tadi ingin keluar, langsung menutup pintu itu, dan tulisan open yang tergantung di pintu mereka ubah menjadi close.

Anak SMA Redmoon yang tidak tahu apa-apa sudah terjebak di dalam perangkap mereka. Orang berambut merah itu terus berjalan ke arah David. Sesampainya di sana lalu berkata

"Ini uang makan gue tadi, tolong tuker dengan uang seratus ribu tadi." Ucapnya memohon.

"Uangnya bakal gue balikin, bahkan lu gak usah bayar." Kata David sambip menyuruhnya duduk di kursi yang dia tarik dari meja disampingnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!