Alvaro mengajak mommynya ke basement tempat mobil daddy nya terparkir dengan rapi dan menawan. “Mommy, kita naik mobil yuk” ajaknya. “Tidak usah, Alvo. Kan rumah kita dengan rumah Rere bersebrangan jadi biar kamu sehat, kita jalan kaki saja ya,” ajak mommynya langsung menggendong putranya yang minta naik mobil. “Mommy, fine, fine. Kita jalan kaki saja. So, mommy bisa turunkan aku,” ronta Alvaro yang akhirnya mengalah daripada dirinya digendong oleh mommy sendiri akan gawat jika Rere melihatnya.
Sementara mommynya yang mendengar jika putranya mengalah lantas tersenyum dan langsung menurunkan putranya dari gendonggannya. Tidak lupa dia menggengam tangan mungil putranya untuk menuntun putranya berjalan. Dengan sedikit enggan namun tidak menolak namun Alvaro mau digenggam oleh mommynya dan berjalan keluar dari mansion keluarga Jayaputra. Mereka berdua menuju mansion kediaman keluarga Candra.
Sesampainya di mansion keluarga Candra mereka disambut oleh petugas keamanan keluarga Candra. Tanpa ditanyakan mereka dipersilakan untuk masuk ke dalam kediaman keluarga Candra karena sangat mengetahui keluarga Jayaputra yang merupakan sahabat sejak kedua keluarga adijaya ini berdiri makmur. Sehingga membuat tuan kecil dan nyonya muda dari keluarga Jayaputra bisa masuk dengan mudah.
Mereka melangkah masuk hingga ruangan utama dan mencari kepala keluarga dari keluarga Candra. Namun sebelum bertemu dengan kepala keluarga tersebut yang sekaligus sahabat dari suaminya, tiba-tiba saja kepala pelayan keluarga tersebut muncul mendatangi nyonya muda keluarga Jayaputra dengan sedikit tergesa-gesa.
“Nyonya muda Jayaputra. Syukurlah Anda kemari,” ucapnya dengan sedikit pucat. Melihat kepala pelayan yang sudah melayani kepala keluarga dari keluarga Candra sejak usia kecil yang sedikit pucat membuat mommy Alvaro terheran dan segera bertanya apa yang sedang terjadi.
“Apa yang sedang terjadi?” tanyanya dengan sedikit rasa keingin tahuan.
“Nona kecil sepertinya sangat membutuhkan tuan kecil Jayaputra. Mari saya antar Nyonya dan tuan kecil ke kamar nona kecil,” ucap kepala pelayan tersebut sambil segera berjalan membawa nyonya dan tuan kecil keluarga Jayaputra ke kamar nona kecilnya yang sepertinya sangat membutuhkan tuan kecil Jayaputra.
Sesampainya di kamar nona kecilnya yang pintu kamarnya terbuka sedikit. Kepala pelayan langsung membukakan pintu kamar nona kecilnya dan mempersilahkan untuk tuan muda kecil dan nyonya muda keluarga Jayaputra. Pada mereka berdua memasuki ambang pintu kamar Rere dilihatnya tuan dan nyonya muda keluarga Candra berada di kamar tersebut dengan cemas.
Nyonya muda keluarga Jayaputra lantas menghampiri dan mendekati sahabatnya yaitu mama Rere. Dilihatnya muka Rere yang pucat namun sampai saat ini pewaris imut keluarga Candra belum berani membuka matanya karena traumanya yang mendalam dari peristiwa tersebut. Rere saaat ini seperti orang yang hampir mentalnya terganggu. Papa dan mamanya hampir seharian menemaninya semenjak peristiwa tersebut bahkan sering tidur bersama demi menenangkan putri satu-satunya.
”Papa...Mama…aku takut. Hiksss…hikkss… jangan tinggalkan aku,” ucapnya lirih dan ketakutan namun dengan mata yang masih terpenjam karena dirinya sudah terkena ommetaphobia menurut pemeriksaan dokter yang didatangkan oleh papa Rere untuk putri kecilnya yang manis.
“Mama dan Papa kamu di sini sayang. Rere jangan takut,” ucap sang mama dengan lembut menenangkan anaknya yang sudah menggigil ketakutan. Mendengar nama ‘Rere’ gadis kecil itu sedikit menolak dipanggilnya dengan sebutan itu.
“Namaku bukan Rere! Kumohon jangan memanggilku nama itu!” ucapnya yang masih tidak mendengarkan suara lembut mamanya. Gadis mungil itu masih menganggap jika mamanya yang berbicara bukanlah mamanya. Sementara papa dan mamanya yang mendengarkan putri kecilnya menangis ketakutan cukup terkejut akan perkataannya namun dikalahkan dengan perasaan hati mereka yang pilu karena anaknya yang mengalami peristiwa yang mengerikan hingga menjadi trauma berat.
Sementara Alvaro yang masih berada di ambang pintu kamar Rere yang awalnya tidak terlalu memercayai pendengarannya mengenai nada suara dan intonasi dari gadis yang dia cintai yang saat ini terbaring lemah tidak berdaya yang merupakan ulah dari Alvaro yang tidak bisa menjaganya dengan baik dan benar hingga gadis tersebut mengalami penculikan. Dihampirinya gadis tersebut yang masih terbaring lemah di ranjang miliknya yang empuk untuk memastikan kondisi gadis tersebut. Setelah dirinya sampai di ranjang gadis tersebut dan melihat wajah gadis tersebut betapa terkejutnya Alvaro jika gadis yang di depan matanya bukanlah Rere. Dia langsung melongos pergi meninggalkan kamar Rere yang sekarang ditempati oleh gadis yang wajahnya serupa dan mirip dengan tunangannya yang amat dia cintai. Mommy Alvaro yang melihat sikap anaknya yang saat itu menjadi tidak acuh kepada sahabat kecilnya langsung saja terkejut kaget melihatnya karena menurutnya Alvaro sangatlah sayang bahkan memiliki perasaan yang mendalam terhadap Rere.
Alvaro yang sudah keluar dari kamar Rere dan berlari dengan kecepatan yang tinggi dengan perasaannya yang tidak menentu. Ditambah lagi dirinya sudah menampilkan muka bersalahnya yang secara dalam namun ditahannya olehnya agar tidak keliatan oleh para pelayan yang bekerja di rumah Rere. Langkah kakinya terdengar sangat
terburu-buru dan hampir saja membuat dirinya kehilangan keseimbangan sehingga pelayan yang tepat berada di hadapannya terkejut akan sikapnya namun tidak dia hiraukan. Hingga dia sampai di kamar yang selalu dia masuki karena merupakan kamar keduanya jika dia sering menginap di rumah Rere dan langsung membuka pintu dengan kasar serta menutupnya dengan dibanting membuat mansion yang sepi langsung terdengar suara bantingan pintu
yang keras dan kasar membuat gadis kecil tersebut langsung ketakutan dan menangis begitu mendengar suara dentuman yang keras akibat peredam suara di kamarnya kebetulan dalam pembetulan.
“Dia bukan Rere. Lalu siapa dia? Dan di mana Rere? Re, maafkan aku. Aku sungguh minta maaf. Kakak tidak bisa menjagamu dengan baik dan kakak tidak pantas untuk menjagamu,” ucapnya dengan menangis tersedu-sedu. Dia sungguh menyesal karena Rere tidak kembali ke sisinya dan malah gadis lain yang muncul di kediaman Candra.
“Tidak! Aku harus bilang ke Daddy dan Mommy untuk bilang ke Om dan Tante jika anak itu bukan Rere, anak Tante dan Om,” ucapnya dengan lirih dengan penuh harap kedua orang tuanya akan memercayai
perkataannya. “Rere, tunggulah aku. Aku akan membawamu pulang kembali ke sisiku,” ucapnya dengan penuh tekad dan keyakinan untuk menemukan Rere dan membawanya pulang kembali. Namun air matanya belum mau berhenti hingga membuatnya menutupnya dengan membenamkan wajahnya dengan sedikit kesal karena air matanya yang tidak mau berhenti mengalir bahkan deras mengalir.
Sementara di kamar Rere, gadis tersebut sudah mulai tenang dan bisa tertidur dengan pulas membuat
kedua orang tuanya dan mommy Alvaro menganggap kedatangan Alvaro membuat putrinya bisa tenang kembali. Namun mama Rere sempat melihat gelagat aneh dari Alvaro dan segera bertanya kepada mommy Alvaro mengenai sikap aneh Alvaro. “Jeng, tadi aku lihat Alva hari aneh. Apa kamu tahu mengapa dia begitu sikapnya?” tanya
mama Rere kepada mommy Alva membuat mommy Alva yang memang tidak mengerti dengan sikap aneh sang anak hanya bisa menggeleng pasrah sambil berkata kepada mama Rere mengenai sikap aneh putranya yang baru pertama kalinya ketika bertemu dengan Rere, gadis kesayangannya
““Aku juga tidak tahu dengan sikapnya tadi, Jeng. Padahal pagi di mansion dia semangat sangat untuk bertemu dengan Rere bahkan membawa makanan kesukaan Rere saat bermain di mansion kami,” ucapnya sambil menyerahkan bungkusan yang berisi bekal yang merupakan permintaan Alvaro yang rencananya akan dia kasih sendiri kepada Rere namun pada saat dia melihat Rere langsung saja dia menyerahkan bekal tersebut kepada mommynya dan berlari pergi meninggalkan gadis kecil tersebut tanpa adanya kasih sayang dan kelembutan. Mendengar perkataan mommy Alvaro yang tidak menahu mengenai perubahan sikap pewaris satu-satunya keluarga Jayaputra membuat mama Rere tidak bisa berkomentar apalagi. Dia hanya berharap jika Alvaro bersikap hanya hari ini saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Apa yang dilihat oleh Alvaro hingga dia pergi meninggalkan kamar Rere? Apa yang terjadi ya?
Jangan lupa selalu mampir karya Author dan dukung selalu bagi Authornya ya. Sangkyuu. ❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments