Tidak lupa dia mengunjungi salah satu perusahaan milik tunangannya. Dia pergi dengan membawa kendaraan mewah miliknya sendiri. Dia rencananya membawakan bekal makan siang beserta memberikan oleh-oleh yang dia bawa dari Paris. Dia keluar dari kediaman keluarganya dan langsung menjalankan mobilnya menuju jalan raya yang sudah dipadati oleh kendaraan lainnya.
Beberapa lama kemudian dia sampai ke tempat perusahaan milik tunangannya. Dia segera masuk ke parkiran dan lahan parkir yang kosong untuk mobilnya. Setelah mendapatkan lahan parkir yang kosong dia memarkirkan mobilnya. Setelah memarkirkan mobilnya, Violin turun dari mobilnya.
Dia mengunci mobilnya dengan remote otomatis untuk mengunci mobilnya dari jarak jauh. Violin lalu berjalan masuk menuju lobby perusahaan dengan langkah yang anggun. Dia disambut oleh resepsionis yang tersenyum ramah kepadanya dan menanyakan mengenai keperluan apa dirinya berada di perusahaan mereka.
“Selamat siang nona, nona apakah ada urusan dengan divisi kami?” tanya resepsionis. Sementara Violin bingung karena sampai saat ini dia belum mendapat balasan dari Alvaro. Sementara resepsionis kembali bertanya kepada Violin, “Apa nona ingin bertemu dengan siapa? Biar bisa nona sebutkan nama dan divisinya biar saya bisa menelepon memanggilnya.”
Mau tidak mau Violin berkata bahwa dia bertemu dengan Alvaro dan mengatakan kepada resepsionis tersebut. “Saya ada keperluan dengan CEO perusahaan anda dan saya adalah tunangannya,” ucap Violin sedikit malu karena membuka jati dirinya. Walaupun dia dilarang oleh Alvaro mengenai identitasnya karena Alvaro tidak pernah
mengakui dirinya tunangan Alvaro. Sementara resepsionis sedikit terkejut ketika di gadis di depannya adalah tunangan bos nya. Dia telah mengetahui ciri-ciri tunangan bosnya akibat bos besarnya yang menyebar foto dan identitas tunangan bosnya.
“Apakah nona adalah nona Violin? Apakah nona benar nona muda yang satu-satunya pewaris keluarga Candra?” tanya resepsionis untuk memastikan identitas gadis tersebut. Violin mendengarkan langsung mengangguk dan menjawab pertanyaan mengenai identitasnya. “Iya benar. Aku adalah nona muda keluarga Candra.”
Mendengar hal tersebut dan sudah memastikan kevalidan mengenai tunangan tuan muda mereka, sang resepsionis kemudian menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti. “Maaf nona namun tuan muda sudah terbang kemarin malam pergi ke perusahaan cabang. Untuk kembalinya kita tidak tahu karena biasanya tuan muda sendiri yang menentukannya.” Violin yang mendengarnya terkejut karena Alvaro pergi ke perusahaan yang berada di luar kota.
Dia juga tidak bisa mendapatkan informasi karena pesannya belum dibalas oleh Alvaro. Dia juga bertanya kepada Cle namun sepertinya Cle sibuk sampai saat ini karena Cle juga belum menjawab sama sekali pesannya. Mau tidak mau dengan senyum manisnya dia mengucapkan terima kasih kepada resepsionis yang sudah membantu memberikan informasi mengenai keberadaan tunangannya itu.
“Nona, terima kasih sudah membantu saya menanyakan kabar tunangan saya,” ucap Violin dengan senyum tulus dan nada lembut dan sopan. Membuat resepsionis hanya bisa tersenyum sopan kepada tunangan atasannya tersebut. “Iya sama-sama nona dan maafkan saya yang tidak bisa membantu nona muda Candra,” ucapnya. “Tidak
apa-apa. Saya yang minta maaf sudah merepotkan Anda sebelumnya,” ucapnya dengan sopan lalu membalikan badannya.
Setelah pergi meninggalkan gedung perusahaan milik tunangannya. Dua resepsionis hanya bisa menatap kepergian tunangan atasannya dengan perasaan kasian dan juga beberapa orang yang bekerja di perusahaan tersebut.
“Mengapa sih bos pergi tanpa memberikan kabar? Padahal tunangan bos sangat lembut,” ungkap rekan resepsionis yang membantu menelepon sekretaris Gerry karena telepon ruangan pribadi atasannya tidak diangkat oleh Alvaro sendiri.
“Iya mana lagi tunangannya sangat lembut, cantik dan anggun. Harusnya bos merasa pria paling beruntung dapat gadis cantik begitu,” ungkap resepsionis yang berbicara dengan Violin.
“Ini gak malah bos anggurin,” komentar pegawai lain yang numpang lewat daerah meja resepsionis.
“Kabarnya tunangannya yang ini bukan tunangan asli bos dan membuat bos sering menghindarinya,” ungkap pegawai yang tiba-tiba nongol di meja resepsionis yang membuat dua resepsionis beserta satu pegawai terkejut.
“Bukannya tunangannya itu berasal dari keluarga Candra. Mereka kan sama-sama pewaris tunggal keluarga konglomerat. Apalagi kau tahu bagaimana sikap keluarga Candra? Mana berani ada orang yang mengaku-mengaku sebagai tunangan tuan muda?” tanya resepsionis yang sangat minim informasi.
Begitu banyak pegawai yang bergosip mengenai tingkah laku bos mereka yang sangat keliatan enggan, dingin dan acuh tidak acuh kepada tunangannya. Padahal di mata mereka tunangan bos mereka adalah sesosok wanita idaman bagi para pria.
......****************......
Sementara itu Claire yang sedang menikmati istirahatnya dengan santapan makan siang yang sudah disediakan oleh kantin perusahaan.
Saat dia sedang makan dia mencoba mencari nomor telepon restoran yang sudah dia janjikan dengan Violin. Ketika menemukan restoran tersebut dia langsung saja menelepon dan langsung diangkat oleh bagian kasir dengan nada sopan.
“Halo selamat siang. Ada yang bisa kami bantu?” tanya pihak kasir restoran tersebut.
“Boleh saya bertanya apakah restoran kalian menyediakan layanan seperti reservasi?” tanya Claire memastikan. Karena dia mendapatkan informasi tersebut dari rekan-rekan kerjanya yang baru ke restoran tersebut.
“Ya kami bisa melayani reservasi,” ucap kasir tersebut dengan nada ramahnya yang masih ada di setiap nada pembicaraan mereka. “Apakah nona berniat untuk melakukan reservasi?” lanjutnya.
“Ya aku mau melakukan reservasi” jelas Claire di balik panggilannya.
”Baiklah nona mau reservasi untuk meja apa? Di restoran kami terbagi lima jenis yaitu, untuk keluarga, pasangan, individu, bisnis atau untuk teman,” jelas kasir dengan ramah kepada Claire.
”Saya mau reservasi meja untuk teman. Jadi cari meja yang menyediakan dua kursi di dekat taman restoran” jelas Claire panjang lebar mengenai keinginan memesan meja untuk pertemuan mereka yang ketiga kalinya.
”Baiklah nona. Untuk menu restorannya apakah ikut reservasi atau memesan pada saat nona tiba di restoran kami?” ”Tidak untuk makanannya tidak perlu ikut reservasi karena saya tidak tahu menu makanan dan minumannya,” ucapnya dengan jujur. ”Baiklah nona. Kalau begitu atas nama siapa reservasi mejanya?” ucap kasir yang menerima telepon Claire dan hendak memasukkan ke dalam komputer.
“Katakan jika ada teman saya yang bernama Violin datang dan mengatakan pesanan meja atas nama Claire,” jelas Claire di balik telepon genggamnya.
”Baiklah nona Claire. Kami akan melakukan sesuai permintaan nona dan nona akan mendapatkan meja nomor 30 yang khusus untuk teman. Nona bisa memberi tahu nona Violin.”
“Baiklah dan terima kasih banyak,”ucap Claire setelah berhasil melakukan reservasi. “Sama-sama nona. Kepuasan anda adalah kesenangan kami,” ucap kasir tersebut sambil mengatakan motto restoran tempat dirinya bekerja. Setelah selesai dengan sopan Claire memutuskan panggilan sepihak dan memberi pesan kepada sahabat mayanya.
Vio, nanti kamu masuk ke restoran yang bernama The Restaurant dan kalau sudah tiba bilang saja atas namaku lalu kamu akan mendapatkan meja nomor 30 yang dikhususkan untuk teman.
Setelah mengirimkan pesan tersebut, Claire melanjutkan makan siangnya di kantin kantornya.
......****************......
Violin yang mengendarai mobil pada saat bersamaan teleponnya berbunyi yang menandakan ada pesan masuk.
Ketika ingin dibaca bertepatan lampu merah menyala. Dengan gerakan cepat dia membaca dan membalas pesan kepada Claire.
Oke, aku akan ke sana. Jangan lupa janji kita.
Balasnya dengan singkat. Setelah lampu hijau menyala, Violin menancapkan gasnya dengan kecepatan sedang melaju ke restoran yang sudah dipesan oleh sahabatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sorry Author gantung ya.
Jangan lupa selalu mampir karya Author dan dukung selalu bagi Authornya ya dengan cara like, share, vote, gif,
rate, dan comment. Sangkyuu.❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments