Alvaro yang sedikit melamun dengan memandang foto gadis kecil yang cantik dengan bermuka menggemaskan dengan sedikit betah. Dia juga memandang figura yang satunya yang berisi foto dirinya tersenyum riang dan tertawa bersama dengan gadis yang amat dia cintai.
Mendengar asistennya mengetuk pintu ruangan pribadinya membuat dia menyimpan dua figura yang sempat dia keluarkan dari laci meja kerjanya. Dia segera mengembalikan ke lacinya supaya kelemahannya tidak diketahui kecuali oleh asistennya.
“Silahkan masuk!” ucapnya dengan sedikit memerintah agar asistennya segera masuk dan memberi tahu apa yang akan dia kerjakan selanjutnya.
Mendengar jika bosnya sudah mengijinkan dirinya masuk, dia membuka pintu ruangan dan segera menutupnya. Lalu menghadap meja tempat bosnya duduk di tahta kebesarannya. “Tuan muda, saya akan melaporkan jika setengah jam lagi tuan muda akan ada rapat dengan beberapa petinggi eksekutif mengenai rapat bulanan. Rapat akan diadakan di aula rapat ruangan C di lantai 30,” ucap sang asisten mengatakan sambil membaca agenda yang dia susun di tablet miliknya yang untuk tugas asisten presiden.
Alvaro yang mendengar lalu menjawabnya, “Sudah? Apa hanya itu saja?!” Asistennya langsung mengangguk
kepalanya menandakan jika dia sudah selesai membaca agenda tuan mudanya yang sebentar lagi harus mendatangi rapat bulanan yang dilakukan oleh petinggi eksekutif mengenai kinerja kerja Alvaro sebagai seorang CEO sekaligus pewaris kerajaan bisnis Jayaputra.
Sementara Alvaro yang mendengarkan asistennya hanya membacakan agenda yang akan dirinya jalankan jika
ada hal yang mengharuskan dirinya hadir. Dia langsung saja menggebrak mejanya karena asistennya tidak mengerti keinginannya. Dia heran kenapa asistennya yang satu ini tidak sigap seperti asisten andalannya yang merupakan pilihannya sendiri.
Dengan sedikit membentak asistennya dan berkata, “Kau ini kerja tidak becus! Aku tidak meminta itu saja!” bentaknya kepada asistennya. Mendengar hal tersebut membuat asistennya terbingung mendengar bosnya marah dan dia tidak mengerti maksud tuan muda sekaligus atasannya meminta hal lainnya. Dia segera bertanya kepada bosnya karena dia memang tidak memahami keinginan tuan mudanya.
“Tuan muda, Anda meminta apa? Bukannya tugas saya sudah selesai?” tanya asistennya dengan raut wajah bingung mendengar atasannya marah dan berkata jika dirinya tidak becus bekerja. Mendengar pertanyaannya atasannya membuat Alvaro naik pitam. Sementara dia hendak memarahi asistennya handphonenya yang khusus nomor pribadi terdengar notif pesan masuk.
Kling…kling…
Notif terdengar dan berdering di kantong celananya. Dia merogoh untuk melihat siapa pengirim pesan. Dan langsung membaca dari layar kunci tanpa membuka aplikasi pesan tersebut tanpa ingin mengetahui siapa yang mengirimi pesan tersebut.
Kak ini nomor Vio. Tolong di save ya nomorku, Kak Alvaro. Kak Alvaro, apakah aku boleh mampir ke kantor kakak? Aku mau ke kantor kakak. Ucap pengirim pesan yang merupakan Violin mengirim ke nomor pribadinya. Alvaro yang membaca pesan tersebut lantas mengernyit wajahnya membuat asistennya semakin bingung dengan sikap bosnya.
Sementara Alvaro hanya bergumam sebelum membiarkan pesan yang menurutnya tidak penting sama sekali
baginya. Selamanya aku tidak pernah mengijinkan kamu menginjakkan kaki di kantor dan ruanganku.
Setelah membaca dirinya segera memberikan handphone pribadinya kepada sang asisten dan tidak lupa
memberikan perintah kepada bawahannya yang merupakan asisten pilihan dari sang ayah. “Hei Cle. Kamu jangan lupa membelikan handphone dan kartu baru dan ini handphone aku kasih kamu. Kamu yang pegang seperti
handphone ku yang aku suruh kamu pegang karena ini sudah tercemar dengan nomor yang tidak aku harapkan,” ucap Alvaro sambil melempar handphone yang mencapai harga ratusan juta kepada sang asisten.
Membuat asistennya dengan sigap menangkap handphone milik bos yang mahal harganya sambil mengelus
dadanya tanpa sepengetahuan atasannya. Gini amat punya atasan yang menganggap handphone seperti kertas. Dia bertanya mengapa dirinya harus memegang handphone milik tuan mudanya. “Tuan muda Alvaro, bolehkah saya bertanya?” tanyanya dengan sopan.
Mendengar sang asisten bertanya dengan santai Alvaro menjawab, “Hmm, tanyakan saja.” “Kenapa tuan muda
memberikan handphone milik tuan muda dan menyuruh untuk saya membeli handphone dan kartu yang baru?” tanyanya dengan sopan agar tuan mudanya tidak mudah marah. Mendengar hal remeh yang dipertanyakan oleh asisten membuat Alvaro hanya mendengus tidak senang namun tetap dia membalas pertanyaan san asisten yang
sudah setia bersamanya selama delapan tahun sejak dia dipercaya menjadi pengganti sang ayah.
“Di handphoneku sudah terkontaminasi nomor wanita yang aku tidak harapkan dia kembali. Pasti mommy yang memberikan nomorku kepadanya. Karena handphone dan nomor itu hanya ada nomor kamu, nomor daddy, nomor mommy, nomor kepala pelayan, nomor bawahanku untuk mencari gadisku, nomor om dan tante Candra,” ucapnya dengan santai sambil sibuk membaca berkas-berkasnya yang diberikan oleh asisten eksekutif pilihannya.
Sementara asisten pilihan daddy-nya tidak setanggap mengenai informasi seperti asisten andalannya. “Memang kalau boleh tahu nomor wanita siapa ya tuan?” tanyanya dengan nada polos membuat Alvaro antara kesal atau
harus bersabar dengan asistennya yang merupakan pilihan daddy-nya.
“Kamu bisa tanyakan dengan Gerry, asistenku yang satunya. Itu tugasmu dan segera kamu lakukan perintahku!” ucapnya dengan nada memerintah membuat sang asisten yang pilihan daddy-nya hanya bisa mengangguk kepalanya sebagai tanda mengerti dan dia segera membungkuk sopan dan keluar dari ruangan sang bos agar bosnya tidak marah kepadanya lagi. Sementara dia keluar dari ruangan atasannya yang sering sekali marah dan dia berpapasan dengan Gerry. Gerry yang melihatnya lantas bertanya.
“Ada apa dengan dirimu, Cle?” tanya Gerry penasaran karena melihat wajah sahabatnya ditekuk ketika keluar dari atasannya yang sudah mereka layani selama delapan tahun.
“Kalau kamu tahu tanyakan saja bosmu. Dasar kau ini disayang oleh bos,” ucapnya membuat Gerry yang mendengarkan hanya bisa tersenyum dan membalasnya, “Yang sabar Cle. Bos memang mudah marah sejak dia kehilangan dengan gadis yang dia cintai.”
Mendengar hal yang membuat tidak mengerti membuat asisten yang akrab dipanggil Cle itu bertanya, “Bukannya bos kita sangat mencintai nona muda dari keluarga Candra ya? Siapa namanya? Aku dengar tunangan tuan muda sangat cantik, anggun dan manis,” ucap Cle sambil membayangkan sosok tunangan tuan mudanya yang membuat Gerry hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari asisten tuan mudanya yan satu ini. Pantas saja tuan muda marah. Dia tidak bisa mencari informasi mengenai yang satu ini.
Melihat Gerry yang sepertinya ingin masuk ke ruangan sang atasan membuat Cle bertanya kepadanya. “Kau ingin apa ke ruangan bos?” tanyanya kepada sahabat sekaligus rekan kerjanya yang melihat langkah kaki Gerry yang hendak memasuki ruang bos mereka.
“Aku mau ke ruangan bos ada yang perlu aku yang aku bicarakan,” ungkap Gerry tersenyum. Lalu dia bertanya dengan Cle, “Sementara kamu mau melakukan hal apa?” Cleo hanya bisa menghela nafasnya lalu berkata, “Aku mau ke mall sebentar karena tuan muda menyuruh membelikan handphone dan kartu baru. Aku tidak mengerti wanita mana yang berani menghubungi tuan muda? Aku bertanya malah tuan muda memarahiku,” ungkapnya melampiaskan kekesalannya kepada Gerry yang merupakan sahabat yang senasib karena mereka berdua terkadang mendapatkan omelan dari bos mereka, namun lebih sering dirinya ketimbang Gerry.
Gerry yang mendengarkan penuturan dari sahabatnya sempat bergumam namun sedikit terdengar ole Cle.
“Karena nona Violin menghubunginya” gumamnya dan didengar oleh Cle adalah ‘Nona Violin’ membuat dia bertanya karena penasaran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hayo asisten tampan Cle kepo nih. Kayak Authornya kepo. Kenapa Gerry bisa keceplosan ya?
Sorry Author gantung ya.
Jangan lupa selalu mampir karya Author dan dukung selalu bagi Authornya ya. Sangkyuu.❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments