Bab 15 Sakit

Di perjalanan Zahra terus tertawa mendengar kata kata manis Alby untuk Alesa dia tidak menyangka adek nya yang pemarah bisa bersikap manis.

Karena sudah tidak tahan melihat kakak nya terus tertawa Alby menghentikan mobil nya. "Kakak udah aku malu."

Zahra berhenti tertawa dia ingin berbicara serius dengan Alby. "Kakak mau tanya, apa kamu cinta sama Alesa."

Mendengar pertanyaan kakak nya Alby bingung menjawab apa.

"Alesa itu mandiri dia terbiasa melakukan semua nya sendiri, biasa nya orang seperti dia butuh sesuatu yang bisa bikin dia yakin kalau kamu memang pantas untuk dia."

"Maksud kakak?"

"Ya kamu tau sendiri Alesa pekerja keras, semua nya bisa dia lakukan sendiri, sedangkan kamu?"

Alby berfikir benar apa yang di katakan kakak nya, dia selalu mengandalkan orang lain saat mengenal Alesa dia baru mau berubah menjadi lebih baik.

"Dek mending kamu mulai belajar ngurus Bisnis keluarga kita, gk harus dari yang besar dulu tapi mulai aja dari yang paling kecil."

Menurut Alby apa yang di katakan Zahra ada benar nya, kakak nya saja yang sibuk bekerja mau membantu Bisnis keluarga nya sedangkan dia tidak ada kegiatan lain selain kuliah tapi tidak mau membantu. Pak Diki sudah menyuruh Alby untuk mulai belajar menjalankan Bisnis tapi Alby tidak mau dengan alasan belum siap, tapi setelah mengenal Alesa dia sadar dia bukan nya belum siap tapi dia malas.

Pagi hari karena Alby libur kuliah dia memutuskan untuk pergi ke restoran milik keluarga nya dia ingin mulai belajar Bisnis.

Zahra melihat Alby berpakaian rapi membuat dia heran. "Kamu mau kemana dek?"

"Aku mau ke restoran kak, tadi malam aku udah telfon papa kalau aku mau belajar Bisnis dan aku mau mulai dari restoran kita."

"Bukan nya ada latihan basket." Ucap Zahra.

"Pertandingan basket kan bulan depan jadi aku mau libur latihan dulu."

Zahra senang karena Alby mau belajar. "Ya sudah ayok kita berangkat."

Alesa menatap pesanan yang menumpuk dia mulai kewalahan, pengunjung cafe semakin hari semakin banyak memesan kopi bahkan sudah beberapa kali dia lembur. Entah kenapa Alesa merasa pusing dari tadi dia berusaha untuk menahan nya karena sudah jam makan siang cafe semakin ramai.

Airin menghampiri Alesa dia melihat wajah Alesa pucat. "Kamu lagi sakit ya, wajah kamu pucat."

Alesa tidak menjawab dia merasa semakin pusing sampai akhir nya dia pingsan Airin yang berada di sebelah nya panik. Alesa di bawa ke rumah sakit hanya ada Airin yang menunggu nya, perlahan Alesa mulai sadar dia merasa pusing dan saat menyadari ada Airin dia bingung ada dimana?"

"Kamu udah sadar." Ucap Airin.

"Aku dimana?"

"Kamu ada di rumah sakit tadi kamu pingsan kata Dokter kamu sakit tipes dan harus di rawat beberapa hari."

"Terus kerjaan aku gimana?"

"Udah gk usah fikirin kerjaan itu udah urusan Bos kita."

Airin harus kembali ke cafe walaupun sebenar nya dia tidak tega meninggalkan Alesa di rumah sakit sendirian. "Aku harus ke cafe, kamu sendirian gk pa pa?"

Alesa tersenyum dia tau Airin khawatir jika dia sendirian. "Iya gk pa pa jangan khawatir, makasih ya."

"Iya sama sama."

Setelah Airin pergi Alesa sendirian, di ruang rawat Alesa ada tiga pasien termasuk Alesa dan hanya Alesa tidak ada yang menjaga nya, hal seperti ini sudah biasa bagi Alesa merantau sendirian mengajarkan Alesa untuk mandiri dalam hal apa pun.

Sore hari Dokter datang untuk memeriksa Alesa. "Sudah berapa lama sakit tipes?"

Alesa bingung selama ini jika dia sakit dia hanya menahan nya tidak dia rasakan. "Kurang tau Dokter tapi saya demam dari kemarin."

Dokter mengangguk setelah menyuntikkan obat Dokter bingung kenapa Alesa sendiri sedangkan pasien lain di jaga keluarga mereka. "Maaf apa tidak ada yang menjaga kamu?"

"Karena saya merantau jadi saya sendirian Dokter mungkin nanti ada teman saya yang datang." Ucap Alesa.

"Baiklah saya permisi dulu, banyak istirahat ya." Ucap Dokter.

Zahra baru keluar dari ruangan nya dia pergi ke cafetaria untuk membeli makan, saat memilih makanan dia bertemu Dokter Bagas akhir nya mereka berdua makan bersama sekalian mengobrol.

"Sudah lama kita tidak mengobrol ya Dokter Zahra." Walaupun bekerja di rumah sakit yang sama, mereka berdua jarang bertemu karena sibuk dengan urusan masing masing.

"Iya Dokter benar."

"Tadi sebelum saya ke sini ada pasien perempuan sakit tipes, karena dia merantau tidak ada yang menjaga nya." Ucap Dokter Bagas.

Mendengar cerita Dokter Bagas membuat Zahra teringat Alesa. "Kalau boleh tau siapa nama nya Dokter."

"Kalau tidak salah nama nya Alesa sakit nya sudah parah bahkan tadi deman nya tinggi."

Zahra kaget saat tau Alesa sakit. "Terus bagaimana keadaan nya?"

"Alhamdulillah kondisi nya sudah mulai membaik demam nya sudah turun."

"Dia teman adek saya Dokter dan saya mengenal nya." Ucap Zahra.

"Serius kalau Dokter sedang tidak sibuk apa Dokter bisa melihat dia saya tidak tega melihat dia sendirian, karena jika ada yang menjenguk setidak nya dia bisa terhibur." Ucap Dokter Bagas."

Zahra mengangguk dia faham maksud Dokter Bagas mereka kembali melanjutkan makan tapi handphone Zahra berdering ternya Alby yang menelfon.

"Hallo Assalamualaikum."

"Wa'alaikumsallam kakak masih kerja." Tanya Alby.

"Iya kenapa?"

"Kak aku capek ternyata belajar Bisnis gk mudah sekarang aja aku demam."

"Baru belajar udah demam, kamu ke rumah sakit sekarang." Ucap Zahra.

"Iya kak, Assalamualaikum."

"Wa'alaikumsallam."

Zahra menatap Dokter Bagas yang memperhatikan nya. "Siapa yang demam." Tanya Dokter Bagas.

"Adek saya." Ucap Zahra.

Setelah selesai makan Zahra sebenar nya ingin melihat Alesa tapi karena Alby sakit jadi dia menunggu Alby. Saat Alby datang dia langsung masuk ugd dan di rawat dia berada di ruangan VVIP.

Zahra menghampiri Dokter Bagas untuk menanyakan kondisi adek nya. "Bagaimana Dokter keadaan adek saya."

"Tidak pa pa pasien hanya kelelahan sampai demam."

"Terimakasih Dokter."

Zahra duduk di samping Alby melihat adek nya sakit karena belajar bekerja membuat Zahra tertawa. "Baru belajar kerja udah sakit, gimana nyari uang gk mudah kan."

"Kakak aku lagi sakit."

"Iya iya, kakak mau siap siap nanti ada operasi." Ucap Zahra.

Zahra lupa memberi tau Alby kalau Alesa sakit dia juga lupa untuk melihat Alesa. Setelah kakak nya keluar Alby sadar ternyata bekerja tidak mudah dia bersyukur, saat ingin sesuatu bisa langsung membeli sedangkan di luar sana banyak yang menginginkan sesuatu tapi harus berusaha lebih dulu.

Episodes
1 Bab 1 Alesa Almeira
2 Bab 2 Aku baik baik saja
3 Bab 3
4 Bab 4 Hujan dan Baikan
5 Bab 5 Tersenyum Untuk Menutupi Rasa Sakit
6 Bab 6 Pertandingan Basket
7 Bab 7 Walaupun Lelah Aku Tetap Kuat
8 Bab 8 Kalau Suka Bilang Suka
9 Episode 9 Makan Sambil Menangis
10 Bab 10 Alby
11 Bab 11 Kakak Adek Berantem
12 Bab 12 Abang Penjual Bakso
13 Bab 13 Yang Tidak Merasakan Mana Paham
14 Bab 14 Coklat Untuk Alesa
15 Bab 15 Sakit
16 Bab 16 Mengeluh Itu Wajar
17 Bab 17 Aku Hanya Ingin Tenang
18 Bab 18 Alby Kefikiran Alesa
19 Bab 19 Di Rendahkan
20 Bab 20 Membuktikan Ke Orang Yang Merendahkan
21 Bab 20 Jangan Dengarkan Kata Mereka
22 Bab 22 Insecure
23 Bab 23 Sakit Perut
24 Bab 24 Khawatir
25 Bab 25 Sia Sia?
26 Bab 26 Tidak Ada Yang Sia Sia
27 Episode 27 Momen
28 Bab 28 Barista Baru
29 Bab 29 Gado Gado
30 Bab 30 Alesa Di Tabrak Mobil
31 Bab 31 Alesa Kesakitan
32 Bab 32
33 Bab 33 Pulang Ke Kos
34 Bab 34
35 Bab 35 Melankolia
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38 Setiap Orang Mempunyai Kelebihan Dan Kekurangan
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41 Tomboy
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44 Wisata Masa Lalu
45 Bab 45 Sampai Aku Lelah
46 Bab 46 Aneh
47 Bab 47 Usaha Alby
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51 Alby Cemburu
52 Bab 52 Alesa dan Andri
53 Bab 53 Hamdan
54 Episode 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60 Insecure Lagi
61 Bab 61
62 Bab 62 Bingung
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65 Insecure Karena perbedaan
66 Bab 66 Tidak Pernah Melihat Ke Arahku
67 Bab 67
68 Bab 68 Haikal Dan Karin
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77 Ingin Yang Terbaik
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80 Bahagia
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1 Alesa Almeira
2
Bab 2 Aku baik baik saja
3
Bab 3
4
Bab 4 Hujan dan Baikan
5
Bab 5 Tersenyum Untuk Menutupi Rasa Sakit
6
Bab 6 Pertandingan Basket
7
Bab 7 Walaupun Lelah Aku Tetap Kuat
8
Bab 8 Kalau Suka Bilang Suka
9
Episode 9 Makan Sambil Menangis
10
Bab 10 Alby
11
Bab 11 Kakak Adek Berantem
12
Bab 12 Abang Penjual Bakso
13
Bab 13 Yang Tidak Merasakan Mana Paham
14
Bab 14 Coklat Untuk Alesa
15
Bab 15 Sakit
16
Bab 16 Mengeluh Itu Wajar
17
Bab 17 Aku Hanya Ingin Tenang
18
Bab 18 Alby Kefikiran Alesa
19
Bab 19 Di Rendahkan
20
Bab 20 Membuktikan Ke Orang Yang Merendahkan
21
Bab 20 Jangan Dengarkan Kata Mereka
22
Bab 22 Insecure
23
Bab 23 Sakit Perut
24
Bab 24 Khawatir
25
Bab 25 Sia Sia?
26
Bab 26 Tidak Ada Yang Sia Sia
27
Episode 27 Momen
28
Bab 28 Barista Baru
29
Bab 29 Gado Gado
30
Bab 30 Alesa Di Tabrak Mobil
31
Bab 31 Alesa Kesakitan
32
Bab 32
33
Bab 33 Pulang Ke Kos
34
Bab 34
35
Bab 35 Melankolia
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38 Setiap Orang Mempunyai Kelebihan Dan Kekurangan
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41 Tomboy
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44 Wisata Masa Lalu
45
Bab 45 Sampai Aku Lelah
46
Bab 46 Aneh
47
Bab 47 Usaha Alby
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51 Alby Cemburu
52
Bab 52 Alesa dan Andri
53
Bab 53 Hamdan
54
Episode 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60 Insecure Lagi
61
Bab 61
62
Bab 62 Bingung
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65 Insecure Karena perbedaan
66
Bab 66 Tidak Pernah Melihat Ke Arahku
67
Bab 67
68
Bab 68 Haikal Dan Karin
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77 Ingin Yang Terbaik
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80 Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!