Di perjalanan Zahra terus tertawa mendengar kata kata manis Alby untuk Alesa dia tidak menyangka adek nya yang pemarah bisa bersikap manis.
Karena sudah tidak tahan melihat kakak nya terus tertawa Alby menghentikan mobil nya. "Kakak udah aku malu."
Zahra berhenti tertawa dia ingin berbicara serius dengan Alby. "Kakak mau tanya, apa kamu cinta sama Alesa."
Mendengar pertanyaan kakak nya Alby bingung menjawab apa.
"Alesa itu mandiri dia terbiasa melakukan semua nya sendiri, biasa nya orang seperti dia butuh sesuatu yang bisa bikin dia yakin kalau kamu memang pantas untuk dia."
"Maksud kakak?"
"Ya kamu tau sendiri Alesa pekerja keras, semua nya bisa dia lakukan sendiri, sedangkan kamu?"
Alby berfikir benar apa yang di katakan kakak nya, dia selalu mengandalkan orang lain saat mengenal Alesa dia baru mau berubah menjadi lebih baik.
"Dek mending kamu mulai belajar ngurus Bisnis keluarga kita, gk harus dari yang besar dulu tapi mulai aja dari yang paling kecil."
Menurut Alby apa yang di katakan Zahra ada benar nya, kakak nya saja yang sibuk bekerja mau membantu Bisnis keluarga nya sedangkan dia tidak ada kegiatan lain selain kuliah tapi tidak mau membantu. Pak Diki sudah menyuruh Alby untuk mulai belajar menjalankan Bisnis tapi Alby tidak mau dengan alasan belum siap, tapi setelah mengenal Alesa dia sadar dia bukan nya belum siap tapi dia malas.
Pagi hari karena Alby libur kuliah dia memutuskan untuk pergi ke restoran milik keluarga nya dia ingin mulai belajar Bisnis.
Zahra melihat Alby berpakaian rapi membuat dia heran. "Kamu mau kemana dek?"
"Aku mau ke restoran kak, tadi malam aku udah telfon papa kalau aku mau belajar Bisnis dan aku mau mulai dari restoran kita."
"Bukan nya ada latihan basket." Ucap Zahra.
"Pertandingan basket kan bulan depan jadi aku mau libur latihan dulu."
Zahra senang karena Alby mau belajar. "Ya sudah ayok kita berangkat."
Alesa menatap pesanan yang menumpuk dia mulai kewalahan, pengunjung cafe semakin hari semakin banyak memesan kopi bahkan sudah beberapa kali dia lembur. Entah kenapa Alesa merasa pusing dari tadi dia berusaha untuk menahan nya karena sudah jam makan siang cafe semakin ramai.
Airin menghampiri Alesa dia melihat wajah Alesa pucat. "Kamu lagi sakit ya, wajah kamu pucat."
Alesa tidak menjawab dia merasa semakin pusing sampai akhir nya dia pingsan Airin yang berada di sebelah nya panik. Alesa di bawa ke rumah sakit hanya ada Airin yang menunggu nya, perlahan Alesa mulai sadar dia merasa pusing dan saat menyadari ada Airin dia bingung ada dimana?"
"Kamu udah sadar." Ucap Airin.
"Aku dimana?"
"Kamu ada di rumah sakit tadi kamu pingsan kata Dokter kamu sakit tipes dan harus di rawat beberapa hari."
"Terus kerjaan aku gimana?"
"Udah gk usah fikirin kerjaan itu udah urusan Bos kita."
Airin harus kembali ke cafe walaupun sebenar nya dia tidak tega meninggalkan Alesa di rumah sakit sendirian. "Aku harus ke cafe, kamu sendirian gk pa pa?"
Alesa tersenyum dia tau Airin khawatir jika dia sendirian. "Iya gk pa pa jangan khawatir, makasih ya."
"Iya sama sama."
Setelah Airin pergi Alesa sendirian, di ruang rawat Alesa ada tiga pasien termasuk Alesa dan hanya Alesa tidak ada yang menjaga nya, hal seperti ini sudah biasa bagi Alesa merantau sendirian mengajarkan Alesa untuk mandiri dalam hal apa pun.
Sore hari Dokter datang untuk memeriksa Alesa. "Sudah berapa lama sakit tipes?"
Alesa bingung selama ini jika dia sakit dia hanya menahan nya tidak dia rasakan. "Kurang tau Dokter tapi saya demam dari kemarin."
Dokter mengangguk setelah menyuntikkan obat Dokter bingung kenapa Alesa sendiri sedangkan pasien lain di jaga keluarga mereka. "Maaf apa tidak ada yang menjaga kamu?"
"Karena saya merantau jadi saya sendirian Dokter mungkin nanti ada teman saya yang datang." Ucap Alesa.
"Baiklah saya permisi dulu, banyak istirahat ya." Ucap Dokter.
Zahra baru keluar dari ruangan nya dia pergi ke cafetaria untuk membeli makan, saat memilih makanan dia bertemu Dokter Bagas akhir nya mereka berdua makan bersama sekalian mengobrol.
"Sudah lama kita tidak mengobrol ya Dokter Zahra." Walaupun bekerja di rumah sakit yang sama, mereka berdua jarang bertemu karena sibuk dengan urusan masing masing.
"Iya Dokter benar."
"Tadi sebelum saya ke sini ada pasien perempuan sakit tipes, karena dia merantau tidak ada yang menjaga nya." Ucap Dokter Bagas.
Mendengar cerita Dokter Bagas membuat Zahra teringat Alesa. "Kalau boleh tau siapa nama nya Dokter."
"Kalau tidak salah nama nya Alesa sakit nya sudah parah bahkan tadi deman nya tinggi."
Zahra kaget saat tau Alesa sakit. "Terus bagaimana keadaan nya?"
"Alhamdulillah kondisi nya sudah mulai membaik demam nya sudah turun."
"Dia teman adek saya Dokter dan saya mengenal nya." Ucap Zahra.
"Serius kalau Dokter sedang tidak sibuk apa Dokter bisa melihat dia saya tidak tega melihat dia sendirian, karena jika ada yang menjenguk setidak nya dia bisa terhibur." Ucap Dokter Bagas."
Zahra mengangguk dia faham maksud Dokter Bagas mereka kembali melanjutkan makan tapi handphone Zahra berdering ternya Alby yang menelfon.
"Hallo Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsallam kakak masih kerja." Tanya Alby.
"Iya kenapa?"
"Kak aku capek ternyata belajar Bisnis gk mudah sekarang aja aku demam."
"Baru belajar udah demam, kamu ke rumah sakit sekarang." Ucap Zahra.
"Iya kak, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsallam."
Zahra menatap Dokter Bagas yang memperhatikan nya. "Siapa yang demam." Tanya Dokter Bagas.
"Adek saya." Ucap Zahra.
Setelah selesai makan Zahra sebenar nya ingin melihat Alesa tapi karena Alby sakit jadi dia menunggu Alby. Saat Alby datang dia langsung masuk ugd dan di rawat dia berada di ruangan VVIP.
Zahra menghampiri Dokter Bagas untuk menanyakan kondisi adek nya. "Bagaimana Dokter keadaan adek saya."
"Tidak pa pa pasien hanya kelelahan sampai demam."
"Terimakasih Dokter."
Zahra duduk di samping Alby melihat adek nya sakit karena belajar bekerja membuat Zahra tertawa. "Baru belajar kerja udah sakit, gimana nyari uang gk mudah kan."
"Kakak aku lagi sakit."
"Iya iya, kakak mau siap siap nanti ada operasi." Ucap Zahra.
Zahra lupa memberi tau Alby kalau Alesa sakit dia juga lupa untuk melihat Alesa. Setelah kakak nya keluar Alby sadar ternyata bekerja tidak mudah dia bersyukur, saat ingin sesuatu bisa langsung membeli sedangkan di luar sana banyak yang menginginkan sesuatu tapi harus berusaha lebih dulu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments