BAB 17
Hal itu membuat Agnes terheran – heran, namun secara naluriah ia ikut merasa sedih walaupun belum tahu apa penyebabnya. Air mata Agnes mulai berlinang, menggenangi kedua matanya yang berbulu lentik itu.
“Ada Apa, Ma..? Apa yang terjadi..? Mengapa Mama sampai sore ini baru pulang.?” Tanya Agnes.
“Mama.. Mama terima pesan dari Kalimantan. Dari kantor Papa mu..” jawab Tante Mirah.
Agnes mulai gemetar. Pasti ada hubungannya dengan penjelasan Theresia tadi. Agnes buru – buru mendesak Mama nya, “Lantas bagaimana, Ma..? apakah Papa akan ke sini..? mengapa Mama menangis ..? Apa isi pesan itu, Ma..?”
“Papa mu, Nes.. Papamu sudah…. Sudah di makamkan sebulan yang lalu..” jawab Tante Mirah.
“Hah…? Papa…?!” Agnes terpekik. Dan menangislah ibu dan anak itu saling bersahutan.
Suasana haru mencekam dan makin mengembang di kamar Pandu. Dhamayanti keluar dari kamarnya begitu mendengar suara tangis Agnes dan Mama nya. Pandu menjelaskan dengan wajah sendu, Dhamayanti menggumam lirih, “Sebulan yang lalu..?”
Dugaan buruk mereka tentang papa nya Agnes menjadi hilang seketika. Yang ada hanya bayangan – bayangan mengharukan. Ada rasa sesal di hati Dhamayanti yang tadi juga ikut mencurigai Papa nya Agnes sebagai pemilik ilmu hitam itu.
Jika benar Papa nya Agnes sudah di makamkan sebulan yang lalu, berarti Papa nya Agnes sudah meninggal lebih dulu sebelum Agnes mengalami nasib semalang itu.
Cukup lama Pandu mencoba menenangkan guncangan jiwa Tante Mirah dan Agnes. Ayahnya Pandu pun ikut menghibur mereka, demikian juga Dhamayanti dan Istrinya Om Harman yang segera datang ke rumah Pandu begitu mendengar raung tangis Agnes dan Mama nya.
Pukul sembilan lewat dua puluh tiga menit, masih ada sisa tangis yang menyesakkan pernapasan Tante Mirah. Agnes sendiri masih sesekali mencucurkan air mata, walaupun ia sudah bisa tenang.
“Jelas, berarti bukan Papa orangnya..!” gumam Agnes dalam kesempatan hening.
Mama nya memandang keheranan. Ayahnya Pandu yang duduk di samping Mama nya Agnes, ikut memandang kea rah Agnes. Hanya Dhamayanti dan Pandu yang masih menunduk, membiarkan Agnes yang bicara kepada Mama nya.
“Apa maksud kata – kata mu itu, Nes..?” Tanya Tante Mirah
Kemudian, Agnes menceritakan kedatangan Theresia. Juga sepintas Agnes menceritakan pula, siapa itu Theresia.
“Theresia mengatakan, bahwa Mama lah yang mengetahu orang berilmu hitam itu. Dia punya ambisi yang cukup besar, mudah tersinggung. Mama pasti mengenal laki – laki yang berkarakter begitu.” Kata Agnes.
Tante Mirah menghela napas. Untuk sementara ia melupakan masa duka di atas berita kematian mantan suami nya itu. Ia berkata dengan ekspresi datar,
“Banyak laki – laki yang berkarakter seperti itu, yang Mama kenal. Tapi yang mana..? siapa yang di maksud Theresia..?”
“Dia ada di kota ini, Ma.” Kata Agnes
Mama nya jadi berkerut dahi semakin tajam. Pada waktu itu, Ayahnya Pandu ikut angkat bicara setelah mendengar penjelasan dari Agnes.
“Maaf, Nyonya Mirah.. kalau boleh saya sarankan agar Nyonya Mirah mengingat – ingat siapa saja orang yang pernah cekcok dengan Nyonya Mirah. Mungkin di kantor, di sekitar tetangga kit aini, atau di mana saja. Dari situ pasti Nyonya Mirah bisa mempunyai beberapa kesimpulan, siapa orang yang di maksud Theresia itu.
Sebab menurut pendapat saya, Nyonya,, orang itu pasti pernah di kecewakan oleh Nyonya Mirah dalam berbagai hal. Kalau dia tidak kecewa, untuk apa dia menyerang. Logikanya kan begitu, Nyonya..?”
“Ya.. memang. Tapi, mungkin terlalu banyak laki – laki yang pernah saya kecewakan, Pak Salim. Terutama… mereka yang bermaksud untuk menikahi saya, tapi saya tolak.”
“Nah, sekarang dari hal itu saja kita inventarisir siapa – siapa saja yang pernah Nyonya tolak, tapi orangnya masih tinggal di kota ini.” Kata Pak Salim, Ayahnya Pandu.
Pandu dan Dhamayanti tidak turut bicara. Pandu seakan memberi keleluasaan ayahnya untuk ikut memikirkan hal itu. Sedangkan Agnes sengaja bungkam untuk memberi kesempatan Mama nya memusatkan daya ingat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments