BAB 9

BAB 9

“Awas lu berani pakai lipstick gue lagi! Gue rebus kepala lu!” Ancam Dhamayanti

Pleetaakk….! Dhamayanti memukul kepala Agnes pakai lipstick itu. Sakit. Tapi, Agnes hanya bisa menahan rasa sakit itu dengan hati yang meratap. Dhamayanti keluar pergi dari kamar Pandu, keluar dari kamar Pandu dengan wajah cemberut dan mengomel-ngomel tak jelas. Pada waktu itu, Pandu baru selesai mandi dan sedang menuju kamarnya.

“Ngapain lu, Yan ?” tanya Pandu dengan curiga.

“Eh, lu kalau mau setia dengan sebutir kepala itu pakai modal dong ! Jangan asal pakai lipstick orang seenaknya gitu! Jijik aku jadinya. Sayang saja lipstick ini mahal. Kalau ini cuma lipstick murah seperti yang ada banyak di pasaran, pasti sudah ku lemparkan ke kepalanya sampai pecah.” Jawab Dhamayanti dengan wajah sinisnya.

Setelah bicara panjang lebar begitu, Dhamayanti masuk ke kamarnya. Braaakkk…! Pintu kamar di bantingnya dengan keras.

Pandu hanya menghela napas. Menahan kemarahan yang menggebu-gebu di dalam dadanya. Ia selalu berusaha untuk tidak gampang marah, terlebih kepada keluarganya sendiri.

“Yanti ngamuk-ngamuk, ya??” tanya Pandu kepada Agnes.

“Ya, gara-gara kita pakai lipsticknya tidak bilang-bilang sama dia dulu.” Jawab Agnes.

“Dasar anak pelit!” umpat Pandu cemberut. “Terus kamu diapain sama dia??”

Agnes diam saja. Bahkan memejamkan matanya sesaat, lalu membuka mata lagi.

“Diapain sama dia?’ desak Pandu.

“Nggak di apa-apain. Dia cuma ngomel-ngomel di depanku.” Jawab Agnes.

Pandu sedikit lega, tapi masih cemberut karena menahan kejengkelannya. Itulah tekanan batin yang di rasakan oleh Agnes. Berada di samping Pandu memang menyenangkan, tapi sikap Dhamayanti terdahap Agnes cukup menyakitkan hati.

Kalau saja Agnes tak pandai-pandai merahasiakan sikap Dhamayanti, Pandu bisa saja menghajar adik perempuannya itu seperti yang dulu pernah dilakukan oleh Pandu. Pada saat pertama Agnes ke rumah Pandu itu.

Agnes tak mau memancing keributan. Ia tak mau mengadu domba antara Pandu dan Adiknya Dhamayanti. Dalam pikirannya ia hanya berharap agar tubuhnya cepat kembali seperti sedia kala, dan ia bisa cepat mengambil langkah sendiri untuk mengatasi sikap kasar Dhamayanti kepadanya. Jika ia belum mempereleh tubuhnya kembali seperti semula, ia tidak bisa berbuat apa-apa di depan Dhamayanti.

Persoalan memperoleh tubuhnya kembali bukan persoalan kecil dan ringan. Usaha itu sudah memakan satu korban yang berusaha untuk membantunya, yaitu Eyang Gani.

Apakah seitap usaha yang dilakukan untuk memperoleh tubuhnya kembali dibutuhkan sebuah korban? Apakah tumbuhnya bagian leher itu adalah akibat adanya korban, Eyang Gani?.

Itulah sebabnya Agnes merasa ragu-ragu untuk mencari bantuan kepada orang pintar yang bisa mengembalikan tubuhnya. Tetapi, ia tidak tahu bahwa Mamanya dan istrinya Om Harman telah menghubungi Mang Sugi hari itu juga.

Tepat pukul tujuh malam lewat sembilan menit, Mang Sugi datang bersama Mamanya Agnes dan istri Om Harman. Kehadiran mereka membuat Agnes terperanjat. Mulai timbul rasa cemas dan dongkol serta kesal karena Mamanya yang tidak menghiraukan larangannya itu.

“Sudahlah, kau tenang saja. Mama ingin kau cepat pulih seperti sediakala.” Kata Tante Mirah mamanya Agnes.

“Tapi haruskah orang lain yang menjadi koban lagi seperti Eyang Gani, Ma..?” kata Agnes yang semakil kesal.

“Jangan berpikiran begitu, Agnes. Mang Sugi ini berbeda ilmunya dengan Eyang Gani. Tadi Mama sudah bicara panjang lebar dengan beliau mengenai keadaanu kamu, dan Mama yakin beliau tidak akan mengalami nasib seperti Eyang Gani. “jawab Mamanya Agnes.

“Aaahh.. Mama sama sekali tidak menghiraukan laranganku..” gerutu Agnes. Akhirnya ia membiarkan Mang Sugi masuk kemar Pandu.

Seperti tempo hari, mereka menggelar tikar di lantai kamar itu. Duduk di tikar secara berkeliling membentu seperti lingkaran. Istrinya Om Harman bersebelahan dengan Mamanya Agnes. Di samping Mamanya Agnes adalah ayahnya Pandu, kemudian baru Pandu. Sedangkan Agnes sendiri di letakkan di atas bantal yang ada di hadapan mereka. Posisinya menghadap ke arah Mang Sugi.

Di situ juga ada Dhamayanti. Tetapi ia tidak turut duduk di tikar seperti yang lainnya. Ia berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya ke dada. Pundaknya bersandar. Matanya memandang dengan kesan sinis.

Terpopuler

Comments

Angela M.

Angela M.

Bingung mau ngapain setelah baca cerita ini, bener-bener seru!

2023-07-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!