BAB 11
Setelah semuanya dalam keadaan sepi, hening, barulah Mang Sugi segera merapatkan kedua telapak tangganya pelan-pelan. kedua tangan itu di angkatnya sampai menyentuh kening, seperti orang sedang menyembah, lalu ia berkata tanpa membuka mata.
“Ku mohon engkau hadir. Ku mohon engkau hadir, mengapa engkau mencuri raga Agnes, anakku? Ucap Mang Sugi.
Kedua tangan yang merapat itu bergerak turun, lalu terpisah. Kedua tangan itu ada di samping kanan kiri lutut yang bersila. Mang Sugi masih dalam keadaan mata terpejam. Seperti sedang menunggu sesuatu yang di panggilnya.
Semua mata tertuju kepada boneka dan Mang Sugi. Semua jantung berdebar-debar. Ada kengerian yang tertahan dalam hati mereka. Terlebih setelah mereka mendengar suara angin yang berhembus mulai kencang. Lolong anjing melengking panjang. Bulu kuduk mereka pun berdiri meremang.
“Ooohh..?” Kata istrinya Om Harman nyaris terpekik saat melihat mata boneka itu berkedip dua kali. Untung istrinya Om Harman segera mendekap mulutnya sendiri, sehingga tidak menimbulkan suara yang lebih mengagetkan yang lain.
Hal yang lebih menegangkan kali adalah bergeraknya kedua tangan boneka itu. Tangan itu bergerak dengan sendirinya, pelan-pelan terangkat ke depan seperti anak yang minta di gendong.
“Bicaralah jika engkau telah hadir, Teman.” Ucap Mang Sugi terkesan ramah.
Lalu, setiap mata orang yang ada di situ saling terbelalak, tegang. Mereka melihat dengan jelas, bibir boneka itu bergerak-gerak, matanya yang biru sesekali berkedip. Mereka mendengar dengan jelas suara yang keluar dari mulut boneka itu, seirama dengan gerakkan mulutnya.
“Aku… Telah.. Datang..” itulah kata-kata yang keluar dari boneka itu.
Semakin merinding sekujur tubuh Istrinya Om Harman dan mamanya Agnes. Pandu mulai bergeser duduknya mendekat kearah kepalanya Agnes. Ia khawatir kalau terjadi apa-apa tak bisa menyelamatkan kepala Agnes. Sedangkan Dhamayanti melangkah mendekati ayahnya yang masih terbengong memandang kearah boneka itu.
Mang Sugi berkata dengan mata tetap terpejam, “Jika benar engkau telah hadir, nyatakanlah kehadiranmu itu, Teman.”
Hening, tak ada suara. Kedua belah tangan boneka itu bergerak keatas. Kemudian terdengarlah bunyi gemuruh yang menggelegar. Guntur diangkasa. Barangkali itulah pertanda kehadiran Roh yang di panggil oleh Mang Sugi itu. Buktinya Mang Sugi segera berkata setelah kedua tangan boneka itu turun lagi.
“Selamat datang kami ucapkan kepadamu, Teman. Semoga pertemuan kita ini tidak sia-sia.”
Mang Sugi diam sebentar. Setelah itu kembali berkata, “ Benarkah kau yang hadir ini adalah peminjam raga Agnes, Anakku?”
“Beee…narr…” jawab boneka itu yang membuat Agnes memejamkan matanya karena ngeri.
“Mengapa hal itu harus terjadi, Teman.?” Tanya Mang Sugi kepada boneka itu.
“Apa pedulimu, Bangs*t..!!!” kata boneka itu dengan suara yang serak dan cempreng seperti hampir mirip dengan sura anak kecil.
Orang-orang semakin tegang, tapi Mang Sugi tetap tenang. Bahkan berkata lagi, “Aku memanggilmu sebagai teman, bukan sebagai musuh.”
“Aku.. tidak butuh.. teman..! Pergi kau..!” suara boneka itu bernada mengusir.
“Aku mau pergi jika kau menyerahkan kembali raga anakku, Agnes.” Balas Mang sugi.
“Pergi kau…!” Bentak boneka itu.
“Serahkan raga anakku itu. Kasihan dia, Teman.” Pinta Mang Sugi.
Tiba-tiba kedua mata boneka itu mengeluarkan sinar berwarna hijau muda yang melesat dengan cepat. Whuuusssh…! Kedua larik sinar itu melesat mengenai wajah Mang Sugi..
“Akkkhhh..” Mang Sugi menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia berpaling kearah lain. Kesempatan itu di gunakan oleh Pandu untuk mengangkat kepala Agnes dan menjauhkannya. Sedangkan yang lainpun segera bergegas berdiri dan mundur menjauhi Mang Sugi. Mata mereka sama-sama terbelalak, demikian pula dengan mulut mereka yang ternganga tegang.
Boneka itu jatuh. Prakk..! sepertinya telah ditinggalkan oleh Roh yang tadi masuk kedalamnya. Mang Sugi masih mengerang dengan napas terengah-engah. Ia menghadap ke dinding dengan kedua tangannya yang masih menekap wajahnya.
“Mang… Mamang tidak apa-apa kan..” Tanya istrinya Om Harman dengan penuh kecemasan.
Ia tidak berani mendekat. Sedangkan Pandu melirik ayahnya yang juga tertegun tegang, di samping ayahnya ia melihat Dhamayanti tersenyum senis.
Tiba-tiba wajah ayahnya Pandu lebih tegang lagi. Wajah yang lain pun terperanjat tegang sewaktu Mang Sugi memalingkan wajahnya ke arah mereka.
“Oohh..” Istrinya Om Harman, mamanya Agnes, dan Agnes sendiri sama-sama terpekik dengan suara tertahan. Mereka melihat wajah Mang Sugi dengan sekujur tubuh gemetaran.
Wajah Mang Sugi ternyata telah menjadi rusak. Kulitnya biru, meleleh seperti habis tersiram air panas. Bahkan bagian pipinya masih tampak ada kulit yang menggelembung. Jelek dan menyeramkan sekali wajah itu. Sedangkan kacamata minusnya yang sejak tadi di pakai itu telah lumer juga, hingga tinggal gagangnya saja yang masih terselip di telinga.
“To…to…..tolooooong….!” suara Mang Sugi menjadi serak. Mengharukan sekali. Anehnya, warna biru matang itu merambat sampai kelehernya. Kini kulit lehernya lumer dan terkelupas. Menjadi seperti bubur.
“Oohh.. Lihat…!” tuding Mamanya Agnes. “Kulit lehernya terkelupas semua.. Iihh..” Mamanya Agnes bergidik ngeri dan segera membuang muka, demikian juga dengan istrinya Om Harman. Sedangkan Agnes hanya memejamkan mata melihat kengerian yang ada di depannya itu.
“Cepat bawa kerumah sakit,” kata ayahnya Pandu sambil mendekati Mang Sugi.
Pada saat itu, Mang sugi mengerang berkepanjangan, nyaris tak mampu berdiri lagi. Karena sekarang, bukan bagian lehernya saja yang terkelupas menjadi bubur, melainkan menjalar sampai kebagian dada. Kulit dada itu terkelupas dan kelihatan dagingnya yang berwarna merah bercampur darah. Menjijikan sekali.
“Kubilang Apa…? Jangan membuat rumah kita menjadi rumah kematian, bego..!” kata Dhamayanti sewaktu Mang Sugi segera di larikan ke rumah sakit.
Pandu tak melayani kata-kata adiknya. Ia hanya tertegun sambil memandangi mobil Om Harman yang hendak membawa Mang Sugi ke rumah sakit. Tangan pandu masih menggendong kepala Agnes yang berkeringat.
Pada waktu sampai di rumah sakit, tubuh Mang Sugi semakin parah. Kulitnya lumer dan matang itu telah menjalar sampai ke seluruh dadanya, bahkan lengan kanan dan kirinya pun menjadi lumer. Kulit-kulit yang terkelupas itu berjatuhan di dalam mobilnya Om Harman.
“Did… dia…. Dia….. mempunyai kekuatan yang… yang… sangat besar…” ucap Mang Sugi sewaktu di bawa masuk kedalam rumah sakit dengan kereta dorong. Istrinya Om Harman dan Mamanya Agnes yang mendengar ucapan Mang Sugi itu. Juga perawat yang mendorong Mang Sugi itu. Tetapi, perawat itu tidak tahu apa yang di maksud Mang Sugi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments