BAB 3

BAB 3

Kembali polisi turun tangan dalam masalah ini. Om Harman menelpon polisi setelah mengetahui ada peristiwa aneh di rumah Pandu. Pihak rumah sakit pun dihubungi, karena keadaan Eyang Gani belum sampai Tewas.

Waktu Eyang Gani dilarikan ke rumah sakit, ayahnya Pandu dan dua orang petugas kepolisian ikut dalam ambulance tersebut.

Pada saat itu, napas Eyang Gani semakin tersendat-sendat. Ia bicara dengan seorang polisi berpangkat kopral.

“Sa…saya gagal.. ra.. raga itu ada..!” Ucap Eyang Gani kepada Polisi

“Ada di mana maksudnya?” desak polisi itu.

“Diii.. Di sana..! di jaga oleh… oleh..” Napas Eyang semakin tersendat.

“Oleh siapa, Eyang?! Oleh siapa?” desak polisi itu kembali.

Napas Eyang Gani terhempas pelan-pelan. Panjang dan sangat Panjang sekali. Sampai akhirnya habis. Tak bernapas lagi. Tak berkutik sedikit pun.

“Sial…! Dia tak tertolong lagi” gumam ayahnya Pandu.

Menurut hasil visum etrepertum, Eyang Gani tewas karena jaringan dalam tubuhnya mengalami banyak kerusakan, terutama pada pembuluh darah dan jantung. Seolah-olah ada suatu benda keras yang merusak jaringan dalam tubuh Eyang Gani dengan kasar dan membabi buta.

Kembali polisi dihadapkan pada kasus kematian yang sukar dilacak siapa pembunuhnya. Pihak kepolisian mengetahui peranan Eyang Gani sebagai Paranormal yang sering membantu polisi melacak jejek pembunuh. Namun sekarang dia sendiri yang terbunuh tanpa jejak pelakunya.

Sementara itu, pihak kepolisian pun masih belum bisa memastikan kemana mereka harus melangkah. Jelas pelaku pembunuh Eyang Gania da hubungannya dengan kasus terpenggalnya kepala Agnes.

Namun, kasus Agnes sendiri masih kurang jelas bagi pihak kepolisian. Kasus Agnes belum bisa dikategorikan sebagai kasus pembunuhan, sebab korbannya masih hidup.

Mungkin hanya bisa dikategorikan sebagai kasus pencurian. Tapi, apakah wajar dalam berkas acara di sebutkan bahwa barang yang dicuri itu adalah sosok tubuh? Janggal sekali kedengarannya.

Paling-paling kasus itu dikategorikan sebagai kasus penganiayaan. Tetapi, memenggal kepala manusia dalam arti memisahkan kepala dengan bagian tubuhnya. Apakah cukup dianggap sebagai tindak penganiayaan ?.

Dhamayanti, yang pada malam kehadiran Eyang Gani menginap di rumah pamannya. Ia sengaja menemui Pandu yang baru pulang kerja.

“Aku ingin bicara dengan mu” Kata Dhamayanti dengan sikapnya yang ketus.

“Aku bosan bicara denganmu.” balas Pandu sambil nyelonong masuk.

Tangan Dhamayanti meraih lengan kakaknya menahannya kuat-kuat sambil berkata, “Ini penting, Pandu !. Ini masalah hantu tanpa raga itu.”

Pandu berpaling memandang wajah adiknya yang berambut Panjang sebatas punggung. Tatapan mata Pandu mengandung kemarahan yang ditahannya kuat-kuat. Ia hanya menggeram waktu berkata, “Agnes bukan hantu ! Sekali lagi kau bicara begitu, ku robek mulutmu Yanti !!”

“Jadi apa aku harus menyebutnya permaisuri??” Balas Dhamayanti dengan menyipkan matanya sinis.

Napas Pandu terhela dan terhempas Panjang-panjang. Tas kerjanya di letakkan di atas meja tamu, kemudian dia menarik lengan adiknya keteras dan berkata, “Oke, sekarang bicaralah. Mau bicara apa kau ? Mau menyudutkan dia lag ikan?”

“Aku tidak punya maksud untuk menyudutkan dia ! Aku hanya ingin mengingatkanmu, bahwa dia bisa menjadi sumber masalah bagi keluarga kita! Dukun yang kemarin malam ke sini itu sudah menjadi bukti, bahwa rumah kita akan menjadi rumah kematian yang mengerikkan.!!!” Jawab Amel kepada Pandu.

“Alasanmu gak masuk sakal.!” Balas Pandu

“Apakah gadismu itu masuk akal ? Apakah hidup tanpa raga dan hanya kepala saja itu bisa di bilang masuk akal ?” Dhamayanti balik bertanya kepada kakaknya.

Pandu terpojok. Ia membisu beberapa saat, matanya tak berkedip menatap Dhamayanti dengan sikap marah yang tertahan.

Dhamayanti berkata lagi, “Agnes adalah sumber malapetaka bagi keluarga kita, Pan. Dia nggak pantas tinggal disini lagi. Lagi pula, dia bukan istri mu ! Tak baik tinggal sekamar dengan perempuan yang bukan saudara dan bukan istri.”

“Kau pikir apa yang bisa kulakukan dengan dia walau satu kamar,?” sahut Pandu. “Pikiranmu terlalu kotor !!”

Kemudian Pandu melangkah meninggalkan adiknya. Saat itu, adiknya sempat berseru, “ Pindahkan dia ! Jangan di sini ! Aku tidak mau tidak di rumah ini kalua masih ada dia.”

“Terserah kau mau tinggal dimana, aku nggak peduli” Belas Pandu dengan penuh kemarahan.

Brrraaakkk…! Dhamayanti mendengus sambil menendang pintu. Pandu tidak melayani. Ua masuk ke kamarnya dan meletakkan tas kerjanya pada tempatnya. Matanya menatap kepala Agnes yang ada dalam lemari kaca tembus pandang, hatinya Bagai diiris dengan pisau cukur yang tajam.. srrrreettt !!!

Agnes tersenyum tipis. Pandu membuka pintu lemari itu. Ia sedikit membungkuk agar wajahnya tepat berada di depan Agnes.

“Sudah makan nes ?” tanya Pandu dengan tersenyum.

“Sudah.” Jawab Agnes pelan. “Ayah yang menyuapi aku”

“Masih lapar ?” sambil Pandu menjentik pelan hidung Agnes yang mancung.

“Kalau masih, apakah kau akan membawaku ke rumah makan?” Balas Agnes.

Pandu tertawa pendek. Iba sekali hatinya melihat kebahagian yang tersisa saat itu. Rambut Agnes disisir dengan jari-jemari tangan Pandu. Agnes memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut yang mengharukan itu.

“Aku terlalu merepotkan keluargamu, terutama kamu.” Kata Agnes pelan.

“Tak apa. Dengan begini aku bisa menunjukkan kasih sayangku padamu sebenarnya.” Balas Pandu.

Kemudian Pandu mengangkat kepala itu pelan-pelan. Mencium pipi Agnes dengan lembut. Agnes memejamkan mata, bagai terbawa oleh kemesraan yang murni itu.

Bantal yang biasa dipakai untuk meletakkan kepala Agnes itu di taruh diatas meja oleh Pandu. Kepala Agnes pun segera di letakkan di atas bantal tersebut. Pandu duduk di kursi kerjanya, menghadap ke Agnes. Ia menantapnya dengan sorot pandangan mata yang lembut, seakan penuh curahan kasih sayang.

Cukup lama mereka saling pandang dengan mulut terbungkam. Akhirnya Agnes tak tahan, dan ia bertanya, “Mengapa kau sering memandangiku sampai lama ? Kau ngeri melihat wujudku ini Pandu?

Kepala Pandu Menggeleng. “Kalau aku memandangmu, benakku selalu bertanya-tanya: Mengapa keadaanmu sampai bisa jadi begini ? Apa dosamu sebenarnya.?

Agnes mendesahkan napas. Ada saja napas yang terhembus lewat mulutnya itu, padahal ia tidak mempunyai paru-paru. Inilah keanehannya yang sering di renungi Pandu setiap malam.

Mata bening yang tidak terlalu bundar itu menatap Pandu tak berkedip. Sambil menatap lembut begitu, Agnes berkata dengan suara pelan. “Nasib yang ku alami ini, barangkali tak pernah dialami orang lain, siapa pun dan di manapun.”

“Memang. Agaknya kau mempunyai spesialisasi penderitaan yang tak pernah terpikirkan oleh siapa pun.” Kata Pandu

“Sebenarnya pada malam sebelum kau kehilangan ragamu, apakah benar kau tidak mimpi apa-apa? Tanya Pandu.

“Sama sekali tidak. Aku tidur begitu nyenyak. Nyeyak sekali. Kalau tidak mendengar denting jam dinding di ruang tengah, aku tidak akan terbangun dan tidak akan mengetahui kalua keadaanku sudah berubah seperti ini. “ jawab Agnes sendu.

“Kau juga tidak merasa di sentuk oleh seseorang, atau mungkin kau merasakan ada sesuatu yang jatuh di lehermu?” tanya Pandu kembali.

Terpopuler

Comments

HEEJIN

HEEJIN

Pokoknya 10 of 10 banget deh, mantap author!

2023-07-17

1

comic_0389996001

comic_0389996001

Seru banget deh!

2023-07-17

1

robleis_XD

robleis_XD

Aku jadi bersyukur punya teman seperti tokoh pendukungnya, tanpa dia aku bisa stress berat.

2023-07-17

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!