BAB 5
“Apa-apaan kau ini, Pan..? kayak banci di salon Tante Wina saja.!” Pandu tersipu.
Mamanya Agnes terharu melihat kesetiaan Pandu terhadap anaknya. Padahal dulu, pertama kali ia pindah ke rumah yang sekarang menjadi tempat tinggal mereka itu, Mamanya Agnes agak kurang suka dengan tingkah laku Pandu yang seperti berandalan dan seperti urakan itu.
Gadis putri tunggalnya itu sering sekali ia marahi dan ia bentak agar segera masuk ke dalam rumah jika Pandu dan teman-temannya itu sedang berada di depan rumah.
Mamanya Agnes sering muak dengan gaya dan tingkah laku teman-temannya Pandu yang suka menggoda Gadis cantik yang mereka lihat dan terutama jika mereka melihat Agnes, mereka selalu menggodanya dengan siulan atau celotehan yang kurang sopan. Bahkan pernah waktu itu, Mamanya Agnes sendiri mendapat godaan dengan kata-kata yang menjengkelkan.
Setelah setahun menempati rumah KPR BTN, Mamanya Agnes merasa mulai terbiasa dengan tingkah laku Pandu dan teman-temannya. Celotehan Pandu dan teman-temannya yang suka mabuk itu tidak pernha ia hiraukan lagi.
Makin hari, ternyata ada perubahan di hati Mamanya Agnes dalam menghadapi Pandu. Karena di lihatnya Pandu sudah jarang mabuk-mabukkan lagi, tidak seperti saat pertama mereka menempati rumah itu. Maka, sapaan Pandu pun di sambut baik oleh Mamanya Agnes. Apalagi setelah Pandu berteman dengan Agnes, sikap Mamanya Agnes semakin hari semakin baik kepada Pandu.
‘Tak ku sangka anak itu bisa menjadi pemuda yang baik dan penuh kesetiaan terhadap anakku.’ Piker Mamanya Agnes ketika ia terbaring di kamar tidurnya sendirian.
‘Untung ada dia, jika tidak mungkin Agnes tidak bisa memiliki kebahagiaan sama sekali. Ahh…. Mudah-mudahan Agnes segera pulih, memiliki raga lagi setelah Papanya mau pulang menengoknya.
‘Tapi apa memang benar bahwa Papanya Agnes yang mencuri raga anaknya sendiri, ya…? Tapi, jika bukan dia yang mencurinya, lantas untuk apa almarhum Eyang Gani waktu pertama melihat keadaan Agnes, ia lansung menanyakan tentang Papanya Agnes.??’
‘Dan… dan… apakah sampai sekarang suratku belum sampai di Kalimantan ? padahal sudah beberapa hari aku kirimkan surat itu seletah kematian almarhum Eyang gani.’
‘Mengapa Papanya Agnes sampai sekarang tidak datang atau membalas suratku…? Apakah istrinya yang sekarang melarang dia menemui anaknya…??! Uuhh..!’
Mamanya Agnes mendengus kesal akibat bayangannya sendiri. Ia sudah mengirimkan pesan melalu Telegram dan surat melalui alamat kantor bekas suaminya itu, tetapi sampai sekarang belum mendapatkan jawaban apa pun.
Setelah sekian lama berpikir, akhirnya Mamanya Agnes bertekad untuk bicara lewat telepon, walau hal itu sebenarnya adalah hal yang paling pantang ia lakukan dari dulu sejak perceraianny dengan Papanya Agnes.
“Berapa nomor teleponnya ya..? apakah dia sudah mengganti nomornya ??”
Tante Mirah, Mamanya Agnes itu bergegas bangun untuk mengambil buku agenda di tas kerjanya. Di buku agenda itu ia pernah mencatat nomor kantor mantan suaminya yang ada di Banjarmasin.
Namun baru saja Mamanya Agnes hendak turun dari ranjang tempat tidurnya, tiba-tiba Mamanya Agnes mendengar suara lolongan anjing dari rumah seberang. Lolongan anjing itu mengalun Panjang dan mendayu-dayu, membuat tengkuk kepala Mamanya Agnes bergidik merinding dan ketakutan.
“Iihh.. mau ada apa, ya? Kok anjing itu melolongnya begitu sih..?” sambil ia mendesis dan mengusap tengkuk kepalanya.
“Iiih.. Bau ap aini..? Wanginya kok aneh..? kayak bauk ayu cendana..”
Mamanya Agnes segera bergegas untuk menyalakan lampu, kamar menjadi terang benderang. Rasa takut yang ia rasakan sedikit berkurang. Tante Mirah nekat turun dari ranjang untuk mengambil buku agenda tadi.
Tetapi baru saja kaki kanannya menapak di lantai, tiba-tiba Mamanya melihat ada kepulan asap yang menelusup masuk lewat bawah pintu kamarnya. Tante Mirah terperanjat dan menjadi tegang serta ketakutan. Matanya tak berkedip menatap gerakan asap yang makin lama semakin banyak itu.. “Kebakaran….! Kebakaran..!” teriak Mamanya Agnes.
Tante Mirah segera turun dari ranjng dan hendak membuka pintu kamarnya. Tetapi, Langkah kakinya terhenti sebab asap yang di lihatnya mengepul dari bawah pintu tadi sudah berhenti. Tak ada asap lagi yang masuk melalui bawah pintu. Hanya saja, asap putih yang sudah terlanjur masuk kemar itu berkumpul menjadi satu dan membuat semacam gumpalan kabut tebal.
Bauk ayu cendana semakin tajam seiring dengan pekatnya asap yang masuk melalui bawah pintu tadi dan sekarang sudah menjadi gumpalan kabut tebal. Asap itu mendekati Mamanya Agnes. Melayang-layang dengan pelan, setiap gerakkannya seperti membentuk gumpalan makin tebal. Semakin tebal semakin berubah-ubah bentuknya.
Tante Mirah bergerak mundur menjauhi kabut asap yang semakin tebal, jantungnya berdatak-detak ketika gumpalan asap itu membentuk seperti ikan. Ketika gumpalan asap yang sudah menjadi kabut itu semakin tebal lagi, bentuknya berubah seperti sebuah gentong.
Tante Mirah naik ke ranjang tempat tidurnya, merapatkan badan dengan dinding. Ia sangat ketakutan, napasnya menjadi sesak, sehingga ia tak mampu berteriak. Sedangkan gumpalan asap itu semakin dekat dengannya. Melayang-layang di atas ranjang, berubah bentuk menjadi Panjang seperti buaya.
“Akkkhhh… aakkhh.. ! Jangan..!”
Lolongan anjing semakin melengkin tinggi, mendayu-dayu menelan sepinya malam, menghadirkan suasan menyeramkan. Membuat Tante Mirah yang dari tadi sudah panik kini bertambah Panik.
Tante Mirah hanya bisa bergerak bergeser menghidar dari gumpalan kabut asap yang semakin tebal dan mendekat. Kini bentuknya berubah lagi seperti telur dadar. Lebar. Benda di belakangnya tak tembus pandang. Tanpa Tante Mirah sadari, ia bergerak ke sudut.
Kembali Ke Pandu.
Malam itu, Pandu sengaja meletakkan kepala Agnes di bantal sampir kirinya. Kepala itu di letakkan dengan posisi menghadap ke arah Pandu berbaring.
Nyenyak sekali Pandu tidur di samping kepala Agnes. Pada mulanya, posisi tidur Pandu miring k kiri, tangannya memegangi kepala Agnes. Seolah-olah Pandu tidur sambil memeluk Agnes. Dalam keadaan demikian, wajah Pandu menghadap ke arah wajah Agnes. Begitu pun sebaliknya, Wajah Agnes menghadap ke arah wajah Pandu. Sehingga mereka saling berhadapan.
Jarak antara mereka cukup dekat, sebab sesekali Pandu mencium Agnes sebelum ia terlelap tidur. Mesra sekali.
Lewat tengah malam, mata Agnes terbuka seperti sedang mengalami kekagetan. Pandu sudah dalam posisi tidur telentang. Mata gadis tanpa raga itu berkedip-kedip, tampak tak bisa tidur lagi. Ia mendengar suara lolongan anjing yang menimbulkan perasaan tidak enak pada dirinya.
Lama-lama ia terpaksa membangunkan Pandu dengan panggilan berbisik, “Pandu…! Pan..! bangun sebentar, Pan..!”
Pandu mendengar yang mendengar suara Agnes pun. Ia menggeliat dengan mendesah kantuk. Matanya belum tebuka. Agnes terpaksa membangunkannya lagi, “Pandu…!”
Cukup satu kali panggil, mata Pandu sudah terbuka walau sedikit menyipit.
“Apaan…?” sambil tangan pandu membelai lembut kepala Agnes.
“Pandu, perasaanku kok jadi nggak enak gini, ya..? kata Agnes
“Maksudnya..?” tanya Pandu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Tình nhạt phai
Aku udah jadi fans setiamu thor, jangan pernah berhenti menulis ya ❤️
2023-07-18
1
✨(。•́︿•̀。)✨
Senang sekali membaca ceritamu, semangat selalu thor!
2023-07-18
1
Alisa channel
Sudah baca ulang berkali-kali, ingin tahu kelanjutannya secepatnya!
2023-07-18
1