BAB 6

BAB 6

“Aku nggak bisa tidur lagi. Gelisah sekali. Akuu.. Aku teringat Mama terus, Pan. Ada Apa ya??” kata Agnes.

Pandu tidak meremehkan perkataan Agnes. Pandu justru membuka matanya lebih lebar, yang menandakan bahwa ia benar-benar sudah melek. Dahinya sedikit berkerut, menandakan ia sedang berpikir sesuatu. Kemudian ia bertanya kepada Agnes dengan suara pelan.

“Apa ada yang ingin kamu bicarakan dengan Mama kamu..?”

“Tidak ada sih.. Tapi… Bayangan Mama selalu muncul dalam ingatanku, Pan..” jawab Agnes

Pandu diam lagi beberapa saat, setelah itu kembali bertanya, “Mau ketemu Mama..? Ku antarkan ke rumah, ya ?”

Agnes agak ragu-ragu. Ditimbang-timbangnya sesaat lalu berkata, “Ahh, Nggak usah deh. Mudah-mudah Mama nggak ada apa-apa.”

Sebenarnya Agnes memang ingin menemui Mamanya. Tetapi ia merasa tak enak sendiri kepada Pandu. Ia juga merasa kasihan kepada Pandu yang sedang nikmat-nikmatnya tidur harus repot-repot membawa kepala nya kerumah sebelah tempat tinggal Mamanya. Jelasnya, Agnes tak tega mengganggu kenyenyakkan tidur Pandu.

Kalau saja saat itu Agnes mau di bawa ke rumah Mamanya oleh Pandu, mereka juga tak akan di bukakan pintu oleh Mamanya. Sebab, pada saat itu Tante Mirah dalam keadaan di cekam oleh suatu keanehan yang mengerikkan.

Asap tebal itu mulai menyelimuti sekujur tubuh Tante Mirah dari ujung kaki sampai kepala. Mula-mula Tante Mirah mencoba untuk menghidari asap tebal itu, tetapi gerakan tubuhnya seperti ada yang menahannya dengan kuat.

Untuk bergeser ke samping pun sulit. Sekalipun Tante Mirah sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk membuat tubuhnya bergerak, ternyata tenaganya masih kurang untuk melawan sesuatu yang mengekangnya.

“Akkhhh…..akhhh…akhhhh…” Tante mirah masih ngotot untuk menarik diri dengan sekuat tenaga. Namun tetap saja tak berhasil.

Justru asap tebal berwarna putih abu-abu itu semakin banyak membungkus sekujur tubuhnya. Asap tebal itu seperti perekat yang tidak bisa di hindari.

“Tollloooong,..!” Teriak Tante Mirah. Ia tidak tahu bahwa sekuat dan sekencang apa pun ia berteriak, suaranya itu tidak akan terdengar oleh orang-orang yang berada di rumahnya. Sebab, ia seperti berteriak di dalam ruangan yang memiliki peredam suara. Ketebalan asap yang membungkus sekujur tubuhnya membuat suaranya tidak mampu menembus dinding kamar.

Seandainya ada orang yang masuk ke dalam kamar Tante Mirah, makai akan kebingungan mencari keberadaan Tante Mirah. Yang ada di dalam ruangan kamar itu hanyalah gumpalan asap tebal. Mungkin tak akan ada yang tau, bahwa yang di dalam gumpalan asap tebal itu, Tante Mirah sedang meronta-ronta dan berteriak sekuat tenaga. “Lepakan… Lepaskan aku ! Setan..! Ibbliiss!!!”

Sekujur tubuh Tante Mirah seperti ada yang menggerayanginya. Kancing-kancing gaunnya terlepas dengan sendirinya, seperti ada yang membuka kancing itu. Padahal kedua mata tante mirah telah terbuka lebar-lebar, tapi ia tidak melihat adanya manusia atau pun makhluk lain di sekelilingnya. Yang ada hanya gumpalan asap tebal berwana putih abu-abu, asap yang bergerak seperti orang menggeliat.

Perasaan takut, heran, marah, panik dan penasaran telah membuat Tante Mirah akhirnya bergenti bergerak. Ia ingin tahu, apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya. Dalam keadaan diamnya itu ternyata memperjelas adanya gerakan yang menelusuri sekujur tubuhnya.

‘Asap itukah yang bergerak-gerak? Ohh. Bukan. Seperti tangan manusia.’ Batin Tante Mirah. Mengusap-usapnya dengan lembut. Bahkan kali ini Tante Mirah merasakan adanya hembusan angin menghangat didada dan lehernya. Hembusan angin yang menghangatkan itu seperti angin yang keluar dari rongga hidung dan mulut manusia, napas yang memburu dan penuh nafsu.

Tetapi sekali lagi Tante Mirah memperjelas penglihatannya, ternyata tetap saja ia tidak melihat wujud manusia atau pun makhluk lain yang meciumi wajahnya.

Tante Mirah mencoba berguling ke kiri untuk menelungkupkan badannya. Namun dengan cepat tubuhnya tersentak kembali terlentang, sepertinya ada yang menarik Pundaknya dan menelentangkannya.

Oh.. Mengerikan sekali keadaan yang sedang di alami oleh Tante Mirah. Sekujur tubuh Tante Mirah merinding, dadanya berdegup kencang kerena jantung yang menghentak-hentak dengan cepat selayaknya orang-orang pada umunya. Mereka akan mengalami detak jantung yang begitu kencang dan tidak berdetak secara normal ketika menghadapi situasi menakutkan.

“Pandduuu…! Panduuu….! Tolooong,,, Tolooong Tante, Pandu..!” Teriak Tante Mirah yang ketakutan.

Rumah mereka memang berdempetan. Kamar Pandu berdekatan dengan kamar Tante Mirah. Tentu saja harapan Tante Mirah, teriakkannya bisa di dengar oleh Pandu. Dan ternyata….

Tidak sama sekali. Tante Mirah menunggu Kedatangan Pandu atau pun Ayahnya Pandu untuk menolongnya.

Penantiannya itu ternyata sia-sia, kerena tidak ada yang bisa mendengar teriakkannya. Mau tak mau Tante Mirah meronta-ronta kembali seperti orang gila yang bergelut dengan kabut asap yang sangat tebal.

Tangan Tante Mirah merusaha untuk menutup dadanya yang telah terbuka. Tetapi, tangan itu bagai ada yang merentankannya dengan paksa. Tenaga yang merentangkan tangan Tante Mirah itu begitu kuat, sampai nyaris membuat sikut Tangan Tante Mirah terkilir.

Kini kedua tangan Tante Mirah seperti ada yang memeganginya supaya tidak bisa menutupi dadanya. Mata Tante Mirah kembali memandang tajam. ‘Ohh.. tidak ada apa-apa kecuali kabut asap yang sangat tebal. Kabut asap bergerak menyentuh dada, berputar-putar bagai pusaran angin putting beliung. Pusaran kabut asap itu tepat berada di bagian dada kiri menimbulkan rasa geli dan berdesir.

“Uhhh!....Ahhh..Akhhh.” Tante Mirah hanya bisa mengeluh. Lama-kelamaan kabut asap tebal itu bergerak ke bagian atas , bawah, kanan, kiri dan semua sekeliling tubuh Tante Mirah tetap dilapisi oleh kabut asap tebal. Pandangan Tante Mirah tidak bisa melihat satu benda pun di sekelilingnya.

“Ohhh.. Ada yang memperk*sa ku..?” Tante Mirah mulai sadar. Ia mencoba menendang ke atas, tapi usahanya sia-sia. Ia di lawan oleh suatu kekuatan yang tak terlihat. Mungkin kekuatan kabut asap tebal berwarna putih abu-abu itu.

“Janggggannn…. Jangaaannn…!!” Teriak Tante Mirah sambil ia mencoba melawan kekuatan itu dengan sekuat tenaga.

Keringat mulai bercucuran, tenaganya terkuras habis. Ia tak mampu mengalahkan kekuatan yang tak terlihat itu. Akhirnya, Tante Mirah terkulai lemas. Gerakan perlawanan ia berikan lemah sekali. Dia hanya bisa menangis terisak-isak sambil memejamkan mata dengan pikiran yang berkecamuk ‘Entah apa yang sedang di alaminya dan bagaimana dengan nasibnya nanti’.

Waktu ia merasakan bahwa segalanya telah berakhir, matanya masih dipejamkan kuat-kuat. Barulah setelah tangisnya reda, dan merasa tidak ada yang menyentuh tubuhnya sedikitpun, kedua mat aitu dibukanya pelan-pelan.

Kabut asap tebal berwarna putih abu-abu itu telah hilang. Tante Mirah bisa melihat benda-benda di sekelilingnya. Kemana perginya Asap itu?? Entah. Yang jelas Tante Mirah merasa seperti telah di perk\*sa oleh gumpalan asap. Ia segera berlari keluar, bermaksud membangunkan keluarga Pandu.

Tetapi, begitu sampai di depan pagar rumah Pandu, Tante Mirah berhenti melangkah. Ia menangis terisak-isak. Pikirnya, ‘belum tentu mereka percaya, bahwa aku habis di perk\*sa oleh gumpalan asap.” Karena kejadian itu memang di luar logika manusia. Bagaimana segumpalan asap bisa memperk\*sa Wanita, sementara ia hanya segumpalan asap.

‘Ohh… Lalu apa yang harus aku katakana pada mereka..??’ batin Tante Mirah sambil meratapi nasibnya yang tragis.

Terpopuler

Comments

Amiichan206

Amiichan206

Mantap thor, terus berkarya ya!

2023-07-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!