BAB 15
Dhamayanti penasaran. Ia ikut masuk k kamar pandu sambil berkata dengan nada di buat ceria, “Ther.. dia kesayangan kakakku loh. Hati-hati memegangnya, jangan sampai pecah.!”
“Beruntung sekali dia..!” kata Theresia, “dia menemukan sekerat hati yang mirip permata dari Colombia, tak lekang oleh panas.”
“Ah,, kau terlalu berlebihan, Ther.” Ucap Agnes sambil berkedip-kedip malu.
“Kita sama-sama mencintai dia. Tetapi, kau lebih beruntung dari pada aku. Karena itu, aku mohon dengan sangat kepadamu, jangan kecewakan dia. Okee?” kata Theresia kepada Agnes.
“Aku nggak Janji, Ther. Keadaanku seperti ini. Mana mungkin aku bisa membahagiakannya.” Ucap Agnes
“Pasti bisa..! Pasti kau akan pulih seperti sediakala.” Sambil Theresia membelai rambut Agnes di bagian belakang.
“Kadang aku ingin dekat dan menjadi pendamping yang setia. Tapi, jika melihat keadaan ku yang bagini, aku ingin mendesak dia untuk menikah dengan mu saja.” Tutur Agnes.
Theresia tertawa kecil. Dhamayanti ikut tersenyum karena di pandang oleh Theresia.
“Nes.. Pandu sudah banyak bercerita tentang kamu di kantor, khususnya kepadaku. Dia sangat mencintai kamu.” Kata Theresia.
“Kau juga mencintainya, bukan ??” tanya Agnes
Theresia mengangguk. “Karena itulah aku ingin menolongnya. Aku ingin menyerahkan dia kepadamu. Sebab, kamu lah yang paling didambakan dalam hidupnya.”
Tak tahan emosi keheranan. Dhamayanti menyela pembicaraan itu, “kau rela kakakku menjadi miliknya, Ther…?”
“Hanya karena aku mencintai kakakmu, maka aku rela melepas dia menjadi milik Agnes.” Jawab Theresia.
“Heyy.. kamu mabuk, ya…? Kamu nggak lihat keadaan Agnes yang seperti ini?” geram Dhamayanti.
“Tanpa raga maksudmu..?” Theresia tersenyum. Kemudian, matanya memandang rambut Agnes yang sedang diusap-usapnya. Tapi mulutnya menghamburkan kata-kata yang tertuju kepada Dhamayanti.
“Ini adalah ujian untuk kakakmu. Kadang kala manusia di uji oleh kamauannya sendiri. Manusia yang akan menentukan apakah dirinya layak mempunyai kemauan itu atau tidak. Kalau Pandu mau, dia bisa saja mengembalikan raga Agnes.”
“Aku mau…!” tiba-tiba Pandu menyahut sambil membawa minuman tiga gelas di atas nampan. Semua jadi memandang ke arah Pandu.
“Apa pun yang harus aku lakukan untuk memulihkan keadaan Agnes, aku bersedia melakukannya.!” Tegas Pandu.
“Aku sudah menduga kau pasti akan berkata seperti itu.” Kata Theresia.
“Tapi di mana aku harus menemukannya, ke mana aku harus melangkah.?” Tanya Pandu.
Theresia mencium kedua tangannya yang tadi di pakai untuk membelai – belai dan merapikan rambut Agnes. Sambil mencium kedua telapak tangannya, Theresia memejamkan matanya. Hening tak ada yang berbicara.
Kira – kira setengah menit keheningan itu tercipta. Kemudian Theresia berkata kepada Pandu, yang membuat Dhamayanti berkerut dahi tajam – tajam.
Theresia berkata, “Orang yang mencuri raga Agnes berada tidak jauh dari kalian.”
Agnes melirik Dhamayanti, sedangkan Dhamayanti semakin heran di buatnya. Bahkan ia bertanya kepada Theresia, “Maksudmu…. Siapa orang itu”
Theresia Menjawab, “Kalian bisa bertanya kepada mamanya Agnes. Yang tercium olehku, dia adalah seoran laki – laki. Punya ambisi besar. Mudah sakit hati. Dia penganut ilmu hitam. Mulanya ilmu itu ia gunakan untuk mengangkat kariernya, tapi akhirnya sering di salah gunakan. Satu dianataranya penyalah gunaan itu adalah keadaan Agnes ini.”
“Apakah orang itu ada di rumahku..” tanya Pandu.
Theresia hanya tersenyum. Matanya melirik Dhamayanti. Semakin tegang wajah Dhamayanti di saat itu. Kemudian, pandangan mata Theresia kembali menatap Pandu dan menjawab dengan suara pelan tapi cukup jelas.
“Dia ada di kota ini ! Cari dia, Pandu. Bunuh dia, maka dia akan berubah menjadi wujud yang sebenarnya. Wujud iblis..!” kata Theresia.
Merinding seketika bulu roma Dhamayanti dan Pandu. Agnes memejamkan matanya, tanya ia ikut merasakan suatu kengerian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments