BAB 2

BAB 2

Waktu Pandu mendesak penuh curiga, Dhamayanti hanya menjawab, “Gara-gara dia aku jadi putus hubungan dengan Erwan !”

Pandu ingat, Dhamayanti pernah pacarana dengan Erwan, teman kuliahnya. Hubungan mereka putus karena Erwan tertarik dengan gadis tetangga Dhamayanti, yaitu Agnes. Tetapi menurut Pandu, itu bukan salah Agnes karena Agnes tidak pernah memberikan respon kepada Erwan.

Dhamayanti sendiri memvonis untuk berpisah dengan Erwan. Begitu lepas dengan Dhamayanti, Erwan memang terus mengejar Agnes, namun Agnes tetap tidak pernah menganggap kehadiran Erwan. Agnes justru sring mengeluh kepada Pandu, dan lewat keluhan demi keluhan itulah akhirnya Pandu sendiri tertarik kepada Agnes.

Timbul beberapa pertanyaan dibenak Pandu. Apakah keadaan Agnes yang menyedihkan itu adalah hasil dari perbuatan Erwan? Apakah Erwan yang memotong kepala Agnes dan mencuri bagian dada sampai kebawah? Dengan apa ia memotongnya? Dan di bawa kemana raga itu?

Misterius sekali. Luar biasa anehnya peristiwa ini.. !

Kasihan sekali si Agnes. Ia di buat mati tidak, tetapi hidup juga tidak. Memang menyedihkan. Kepala Agnes sekarang diletakkan diatas sebuah bantal. Bantal itu berada didalam sebuah lemari kaca tembus pandang.

Bagian atas lemari sengaja di bongkar oleh Pandu supaya ada udara yang masuk. Sebab, sewaktu bagian atas itu belum dibuka, Agnes pernah berkata kepada Pandu, “Napasku sesak. Aku kekurangan Oksigen…!”

Sekalipun dalam hati Pandu merasa heran melihat manusia tanpa paru-paru tapi memerlukan oksigen, permintaan Agnes tetap itu tetap diperhatikan. Itulah sebabnya bagian atas lemari itu dibuka, supaya jika pintu lemari itu ditutup, Agnes tetap bisa mendapat oksigen.

Lemari itu ada di dalam kamar Pandu yang penuh dengan Poster-poster group band metal. Lemari itu mulanya dipakai untuk menyimpan barang pecah belah diruang makan. Sejak ada kasus Agnes, lemari itu dikosongkan dan dipindahkan ke kamar Pandu.

Apabila Agnes sedang memejamkan mata tanda ia sedang tidur, Pandu sering memperhatikan dari luar lemari itu. Ia seperti melihat ikan dalam aquarium. Kadang kala juga sebaliknya, Pandu tidur di ranjangnya, Agnes memperhatikan dari dalam lemari itu.

“Pandu… Aku lapar..” kata Agnes

Dengan penuh kesetiaan, Pandu menyuapinya dengan bubur. Sekalipun hanya makan bubur, tetapi Pandu dan yang lain merasa heran. Karena, dari potongan kepala bagian leher. Bubur itu tidak keluar lagi. Bubur itu Bagai telah di telan kedalam perut tanpa terlihat bekasnya sedikitpun di bagian leher. Demikian juga minuman, Agnes seperti manusia wajar yang bisa menegak habis segelas air putih tanpa ada kebocoran setetespun di bagian lehernya.

“Kemana larinya makanan dan minuman yang ditelannya itu, ya?” gumam ayahnya Pandu ketika melihat Agnes disuapi oleh Pandu.

“Jelas ini ada kekuatan mistik yang telah membuat ia menjadi seperti itu,” ujar Om Harman kepada ayahnya Pandu.

“Kekuatan mistik itu tak bisa diperhitungkan pakai logika. Fantasi sekali, tapi nyata terbukti,” lanjut Om Harman

“Maksud Om Harman, ada orang yang mencuri raga Agnes dengan kekuatan Gaib?” tanya Pandu.

“Ya, begitulah menurut beberapa pendapat para tetangga kita, Pandu.” Jawabnya ketika di tanya Pandu

‘Mistik..?’ Pandu merenung beberapa saat. “Sayang sekali sejak kecil saya tidak percaya dengan kekuatan mistik.”

“Dan sekarang kau telah melihat buktinya sendiri, bukan?” sahut ayahnya Pandu tentang mistik.

Ayah Pandu percaya dengan adanya kekuatan gaib uang berkeliaran di sekeliling mereka, tetapi waktu itu Pandu selalu membantahnya. Dikatakan takhayul, omong kosong, halusinasi, dan sebagainya.

Tapi dengan kenyataan yang ada di depan matanya sendiri, kini Pandu menjadi berpikir. Seperti apa kekuatan mistik yang dimiliki seseorang, sehingga bisa mencuri raga Agnes sedemikian rupa? Siapa yang telah menggunakan kekuatan mistik itu sebenarnya?

Agnes sendiri juga termasuk orang yang tidak percaya dengan adanya kekuatan gaib. Apa yang berhubungan dengan kekuatan gaib ia anggap sebagai sesuatu yang bersifat mustahil dan omong kosong.

Tetapi, ketika ia mengalami Nasib seperti itu, pikirannya mulai berubah. Bahkan ia sempat bertanya kepada mamanya yang datang menjenguk di sore hari, “Apakah mama sudah mencari seorang dukun untukku, Ma?”

Dengan mata yang basah, mamanya Agnes menjawab, “Sudah. Mama sudah menghubungi Eyang Gani. Nanti malam ia akan datang dan menemuimu.”

Eyang Gani adalah panggilan untuk lelaki kurus berusia enam puluh tahun lebih, hamper seusia ayahnya Pandu. Ia tokoh paranormal yang enggan dipanggil dukun. Ia mampu melihat nasib seseorang di masa mendatang.

Ia mampu melihat makhluk aneh yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Bahkan konon ia mempunyai istri peri cantik yang juga tidak pernah bisa di lihat oleh orang awam.

Ketika Eyang Gani melihat keadaan Agnes yang sebenarnya, ia tidak menampakkan rasa kagetnya. Ia hanya sedikit menyipitkan mata dalam menatap Agnes. Sementara itu, Agnes sendiri tak berani menatap Eyang Gani karena rasa sedih dan malunya.

“Di mana ayah anak ini sekarang.?” Tanya Eyang Gani kepada mamanya Agnes.

Waktu itu, yang hadir di sekitar Eyang Gani selain mamanya Agnes, juga ayahnya Pandu dan Pandu sendiri.

Mamanya Agnes menjawab, “Ayahnya berada di Kalimantan. Kami berpisah sejak Agnes berusia lima belas tahun.”

“Sejak itu, apakah Nyonya menikah lagi,” Kembali Eyang Gani bertanya

Mamanya Agnes menggeleng, “Tidak Eyang. Saya lebih mencurahkan segala perhatian dan tenaga untuk Agnes, karena dialah sebenarnya satu-satunya permata hati yang mampu mendorong semangat saya untuk tetap hidup dan bekerja.”

“Apakah ayahnya bisa dipanggil untuk pulang dan dipertemukan dengan Agnes?” Tanya Eyang Gani Lagi.

“Akan saya usahakan, Eyang. Tetapi, apakah ini ada hubunganya dengan Ayahnya?” tanya balik mamanya Agnes.

Eyang Gani mengangguk-angguk dengan kalem. “Hubungan antara anak dengan ayahnya tetap ada. Tapi, bukan berarti kejadian seperti ini adalah perbuatan ayahnya.”

“Maaf Eyang… Jadi menerut Eyang, kemanakah raga Agnes ini?” Tanya Pandu dengan sopan.

Mata Eyang Gani masih memandang Agnes dengan sedikit meyipit, namun ia tetap menjawab pertanyaan Pandu. Suaranya pelan, datar, seperti orang yang malas berbicara.

“Seseorang telah mencurinya dengan maksud sengaja membuat Agnes menderita. Aku merasakan ada getaran orang yang sakit hati di balik kejadian aneh ini.”

“Sakit hati kepada Agnes..?” Tanya Pandu.

Eyang Gani memejamkan matanya sesaat. Tangan kanannya ditumpangkan di atas kepala Agnes. Lalu, setelah diam beberapa saat, ia menjawab, “Belum tentu kepada Agnes. Mungkin dia sakit hati kepada ibunya atau kepada ayahnya.”

Tak tahan Tante Mirah, mamanya Agnes itu membendung air matanya. Air mat aitu meleleh ke pipi, membuat sesak napasnya. Membuat ia terisak dan menundukan kepala.

“Apakah raganya tidak bisa di kembalikan lagi..?” tanya ayahnya Pandu

“Kenapa tidak..?” Kata Eyang Gani. “Yang jadi masalah adalah, dimana raganya sekarang. Kalua saya menemukan raganya, maka saya bisa mengembalikan lagi ke tempat asalnya.”

“Jadi, rupanya sangat sulit untuk mencari di mana raga Agnes disembunyikan oleh seseorang, ya Eyang?” tanya Pandu

Eyang Gani yang rambutnya putih semua itu menggumam. ‘Rupanya ada sedikit keraguan pada dirinya’. Sekali lagi ia menumpangkan tangannya ke atas kepala Agnes. Setelah ia mengangkat kepala Agnes, diletakkan didepannya dalam posisi membelakanginya. Kali ini kedua tangannya ditumpangkan diatas kepala Agnes, saling tindih. Pada waktu itu, ia berkata, “Akan ku coba mencari di alam lain..”

Eyang Gani memejamkan mata pelan-pelan, yang lain saling pandang. Pandu sendiri kurang paham dengan kata-kata ‘mencari di alam lain’. Ayahnya saat itu, membisikkan kata di telinga Pandu/

“Kita bantu berdoa saja, supaya Eyang Gani berhasil menerobos alam gaib dan menemukan raga Agnes” kata ayahnya Pandu.

Pandu baru paham, bahwa yang di maksud ‘alam lain’ itu adalah alam gaib. Alam yang tidak bisa dimasuki setiap manusia. Itulah sebabnya Pandu tidak banyak bicara. Ia membantu menciptakan suasana hening yang tentunya sangat dibutuhkan Eyang Gani.

Malam mulai menghadirkan barisan angin menuju selatan. Hembusannya terasa dingin di tubuh. Agnes sendiri memejamkan mata untuk membantu konsentrasi Eyang Gani. Ia berada di depan Eyang Gani yang duduk bersila di lantai bertikar, di kamar pandu.

Beberapa saat kemudian, Eyang Gani membuka matanya, memindahkan tangannya dari atas kepala Agnes. Yang lain menghela napas, menunggu penjelasan dari Eyang Gani.

Agnes pun membuka matanya, melirik ke bawah. Seakan ingin mengetahui apakah raganya sudah Kembali atau belum. Ternyata ia masih dalam keadaan seperti itu, tanpa raga.

Eyang gani berkata kepada mamanya Agnes, “Saya butuh segenggam garam.”

Pandu menyahut, “Ada, Eyang. Hhmm.. hanya garam saja?”

“Ya. Garam saja, taruh diatas piring ya..” perintah Eyang Gani.

Pandu buru-buru menyiapkan permintaan Eyang Gani. Selama Pandu pergi, tidak terjadi dialog anatara mereka. Tangan Eyang Gani hanya mengusap-usap rambut Agnes dengan sikap ikut merasa terharu melihat nasib gadis cantik yang malang itu.

“Ini garamnya, Eyang.. Cukup?” Tanya Pandu

“Cukup.” Jawab Eyang Gani tetap tenang, menunjukan sifat sabarnya.

Kedua tangan Eyang Gani *******-***** garam tersebut. Seakan ia mencuci tangannya dengan garam di atas piring beling. Entah apa yang diucapkan Eyang Gani pada saat mencuci tangan dengan garam, yang jelas mulutnya tampak komat-kamit.

Setelah beberapa saat, kedua tangan itu saling tepuk membersihkan garam yang melekat di telapak tangan. Memang tak bisa bersih sekali. Tapi itu hanya syarat baginya.

Lalu Eyang gani Kembali menumpangkan tangannya di atas kepala Agnes sambil berkata,

“Maaf ya, nak. Mau numpang lewat sebentar..”

Agnes tidak menjawab, sebab ia sendiri tidak mengerti maksudnya. Agnes hanya memandangi mamanya, dan mamanya memejamkan mata sambil melelehkan air mata. Kemudian Agnes memandangi Pandu, waktu tatapn mata mereka saling bertemu.

Pandu memberi isyarat dengan Gerakan jarinya agar Agnes tetap tenang.

Pada waktu Agnes memandangi ayahnya Pandu, lelaki tua dan sedikit gemuk itu tersenyum tipis. Hanya sekedar membuat hati Agnes agar tidak terlalu merasa tegang.

Eyang Gani kembali memejamkan matanya. Hening tercipta. Hembusan angin terasa semakin kencang. Suara hembusannya sempat terdengar menderu. Malam terasa sepi tanpa suara lain kecuali deru angin dan detik jam dinding.

Kurang lebih lima belas menit merak dalam keheningan tanpa berbau asap kemenyan. Lewat dari lima belas menit, terdengar suara gemuruh angin yang berhembus lebih kencang lagi. Hembusan angin kali ini di sertai dengan gemercik rintik hujang di atas genteng.

Agnes membuka matanya memandangi Pandu, seakan ingin menyatakan rasa takutnya. Pandu tetap tenang, memberi isyarat dengan tangan agar Agnes tetap tenang juga.

Mamanya Agnes memperhatikan anaknya sejak tadi tanpa bergerak-gerak. Sedangkan ayahnya Pandu hanya menundukan kepala, seakan ikut berdoa agar usaha mencari dan mengembalikan Raga Agnes bisa berhasil.

Rintikan gerimis berubah menjadi butiran hujan. Semakin lama semakin bergemuruh kencang. Angin pun berubah menjadi badai. Ada suara gayung di dapur yang jatuh ke lantai karena angin. Ada suara pintu berdentam dari kamar ayahnya Pandu.

Menegangkan sekali detik-detik lewat dari lima belas menit itu. Bahkan kini terdengar suara petir yang mengkilap begai cambuk api yang melecut di angkasa. Dduuuuaarrr…!

Tubuh Eyang Gani tersentak, namun tetao memejamkan mata dan menumpangkan tangannya seperti semula. Hanya saja, kali ini bagian kening Eyang Gani tampak berkerut. Sepertinya ada sesuatu yang perlu dilawannya dengan konsentrasi yang cukup kuat.

Dduuuaar,,,…! Sekali lagi ledakan petir mengguncangkan tubuh Eyang Gani. Juga mendebarkan jantung mamanya Agnes, dan membuat jantung Pandu berdetak-detak. Mulailah keringat dingin keluar dari pori-pori mereka.

Lebih menegangkan lagi setelah mereka sama-sama melihat ke arah piring yang berisi garam. Ternyata garam itu bergerak-gerak dengan sendirinya. Makin lama jumlahnya makin menyusut. Butiran garam itu terisap ke dasar piring.

Mamanya Agnes menelan ludahnya sendiri dengan napas yang mulai berat. Ia melebarkan matanya ketika melihat garam itu jumlahnya semakin sedikit. Mungkin hanya tinggal sejumput. Dan terus berkurang, akhirnya menjadi habis sama sekali. Piring itu menjadi kosong. Bersih.

Praaaaangg…. !

“Haahh..?!!” mamanya Agnes terpekik dalam satu tarikan napas yang menyentak.

Piring itu pecah tanpa ada yang menyentuhnya. Kerutan dahi Eyang Gani Semakin tajam.

Tangan lelaki tua yang mengenakan baju koko tanpa krah itu gemetar. Keringatnya pun mulai membasahi bagian kening, leher, dan sekitar mulutnya. Sepertinya Eyang Gani sedang membutuhkan banyak tenanga.

Hal itu membuat mamanya Agnes bergeser dari duduknya, mundur mendekati ayahnya Pandu. Sedangkan Pandu sendiri tetap di tempat dengan kedua mata mulai melebar.

Ledakan petir terdengar lagi, kali ini membuat tangan Eyang Gani sempat tersentak ke atas. Ddduuuuuaarrrr…..!

Tangan itu kembali keasalnya. Tetapi saling menindih. Melekat ke ubun-ubun Agnes. Wajah Agnes menjadi pucat tanpa keringat, sedangkan wajah Eyang Gani pucat dan Berkeringat.

Agnes membuka matanya, menggigit bibirnya sendiri. Ketara sekali sedang menahan perasaan takut yang amat mencekam.

“Hhhheeeeegggghhh…” Eyang Gani menahan napas sampai mengerang seperti orang kesakitan. Tangannya makin bergetar. Malahan sekujur tubuhnya kini ikut bergetar, seperti orang menggigil. Wajahnya berkerut tajam sekali, pertanda sedang menahan sesuatu yang perlu dilawan dengan tenaga ekstra.

Cahaya kilat melesat….. Ddduuuaarrr…!

Bertepatan dengan itu, tubuh Eyang Gani tersentak kebelakang. Kedua tangannya mengembang ke atas. Kakinya masih dalam keadaan bersila. Sentakkan yang tidak di ketahui dari mana asalnya itu telah membuat punggung Eyang Gani beradu dengan dinding. Keras sekali. Sampai Eyang Gani menyerukan suara, “Huuuughh!” matanya mendelik.

Mereka menjadi sangat tegang. Pandu segera meraih kepala Agnes dan memeluknya ke dada. Mata mereka melebar melihat tubuh Eyang Gani terangkat keatas dengan punggung tetap menempel pada dinding tapi pantatnya sudah tidak menempel pada lantai lagi.

Tubuhnya itu makin lama makin terangkat tinggi. Mulutnya menganga dengan kepala bergerak-gerak kebingungan.

“Uuuuaaaahhh…!” Eyang Gani makin melebarkan mulutnya, dan pada saat itu keluarlah cairan merah dari mulut Eyang Gani. Cairan itu kental dan berwarna merah, menyembur keluar hingga memercik kemana-mana.

“Ohhhh..!” Pekik mamanya Agnes.

Pemandangan mengerikan itu membuat mereka terdiam di tempat, dengan mata terbelalak dan mulut menganga.

Tubuh lelaki kurus itu bergerak terus keatas dengan gerakan pelan-pelan. Ia tak bisa menggerakkan kakinya yang dalam keadaan bersila itu, tapi ia bisa menggerakkan kedua tanggannya yang menggapai-gapai kebingungan mencari tempat untuk berpegang.

“Hoooeekkk…!” Eyang Gani kembali menyemburkan darah kental merah kehitam-hitaman dari mulutnya. Bahkan kini lubang hidungnya pun ikut mengeluarkan darah kental.

“Lakukan sesuatu untuknya, Panduuuuu….!” Pekik Agnes dengan suara tegang.

Pandu bingung. Sama paniknya dengan ayahnya sendiri. Sementara itu, mamanya Agnes hanya bisa bersembunyi di balik punggung Pandu dengan napas terengah-engah dan suara menceracau tak karuan.

“Aaakkkhhhh….!” Eyang Gani menutup telinganya dengan kedua tangan. Karena dari lubang telinganya itu pun sekarang mengeluarkan darah kental yang membasahi dinding.

Tubuh itu terangkat terus keatas. Kepala Eyang Gani sampai menyentu langit-langit kamar. Dan pada saat itulah, Eyang Gani Seperti di jatuhkan dari atas.. Braaakkk !

“Aaakkhhh…!” Pakik Eyang Gani begitu pantatnya menyentuh lantai.

Pandu ingin mendekat dan memberi pertolongan, tetapi ia segera mundur sambil tetap memegan kepala Agnes. Karena pada saat itu, dari kedua mata Eyang Gani mengeluarkan cairan merah. Darah yang keluar dari matanya itu begitu deras, seolah-olah ingin membuat kedua biji mata itu tersentak keluar.

“Aauuu..” Mamanya Agnes menjerit sekuat tenaga melihatan pemandangan yang mengerikan dan menjijikan itu.

Tubuh Eyang Gani menggeliat tak karuan dengan bermandikan darah. Banyaknya darah yang keluar hampir sama dengan banyaknya darah yang ada di dalam tubuh setiap manusia. Lantai pun jadi becek oleh darah. Bau amis menyebar kemana-mana.

Sementara itu, amukan badai terasa semakin hebat. Kilatan cahaya petir saling bersahutan, ledakan yang menggelegar tiada putus satu dengan yang lain, sehingga langit terasa Bagai mau runtuh. Guncangan lantai makin terasa jelas. Berisik sekali.

Tubuh Eyang Gani bergelonjotan dengan darah yang masih menyembur terus dari berbagai lubah pada tubuhnya. Begitu paniknya suasana sampai-sampai Agnes Berteriak keras.

“Hentikan…..! Hentikan….!”

Terpopuler

Comments

Yusuo Yusup

Yusuo Yusup

Tengkiuuu thor, bikin liburanku jadi lebih seru!

2023-07-17

1

Towa_sama

Towa_sama

Ngakak dosa!

2023-07-17

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!