BAB 14

BAB 14

“Heemmm… eh… Pandu kayaknya tadi pergi deh.” Jawab Dhamayanti dengan maksud menutupi keadaan Pandu supaya Theresia tidak terlalu shock.

“Pandu Pergi?.. Pergi kemana sih??” tanya Theresia lagi.

“Nggak Tahu, tadi kayaknya dia pergi waktu aku lagi mandi.” Jawab Dhamayanti/

Theresia menghela napas, Nampak kecewa sekali, ia menggumam, “Gimana sih itu orang? Katanya aku di suruh ke sini jam lima. Sekarang aku ke sini jam lima, dianya malah pergi.. Uuhh.!”

“Memangnya sudah janjian, ya??” tanya Dhamayanti

“Sudah.! Makanya tadi dia pulang kantor lebih awal, soalnya dia punya urusannya sendiri. Dan, dia menyuruhku ke rumah pukul lima sore.” Jawab Theresia.

Dhamayanti kebingungan. Matanya melirik ke arah kamar Pandu yang ada di dekat ruang makan. Kamar itu tertutup rapat. Pandu ada di dalamnya. Tapi, untuk memberi tahukan kedatangan Theresia kepada Pandu, Dhamayanti merasa sedikit ragu.

Pikir punya piker, akhirnya ia berkata, “Coba deh, aku lihat dulu ke dalam kamarnya. Mungkin dia sudah pulang.” Setelah berkata begitu, Dhamayanti berdiri. Tapi, Theresia segera menahan tangan Dhamayanti sambil berkata,

“Kamu seorang adik yang manis sebenarnya. Kamu tahu kelemahan kakakmu dan kamu mencoba menutupinya. Tetapi, hal itu sebenarnya tidak perlu.”

“Eh.. anu.. soalnya.. eh,, coba deh kulihat dulu…!” Dhamayanti tergagap, merasa malu.

Pintu kamar di buka tanpa di ketuk lebih dulu. Dhamayanti kaget sendiri, karena pada waktu pintu di buka, Pandu sedang mencium Agnes yang di letakkan di atas meja. Dhamayanti lalu berlagak batuk-batuk kecil dengan sikap kikuk.

“Ada apa..?” Tanya Pandu.

Dhamayanti melambaikan tangannya. Pandu mendekat. Adiknya berbisik, “Theresia Datang..!”

Pandu tidak memberikan komentar apapun, hanya menghela napas dalam-dalam. Dhamayanti segera keluar dari kamar Pandu tanpa menunggu jawaban dari kakaknya.

Senyum kikuk di pamerkan Dhamayanti di depan Theresia sambil berkata,

“Oh, anu.. Ada kok. Aku nggak tahu kalau dia sudah pulang. Tunggu sebentar, ya..! dia pasti segera menemuimu. Tenang saja, Sabar..!” goda Dhamayanti dalam canda buat menutupi rasa malunya tadi.

Di samping itu, Dhamayanti juga bermaksud agar Theresia tidak menyusul masuk ke kamar Pandu, supaya ia tidak memergoki kepala Agnes diatas meja.

Tak berapa lama kemudian, Pandu keluar dari kamar. Begitu keluar ia lansung memandang ke arah ruang tamu, dan berseru kepada Theresia, “Ther…! Sini..!”

Theresia segera bergegas menuju kamar Pandu. Dhamayanti terbengong melompong. Ia bahkan mengikuti langkan Theresia sambil berpikir, ‘apakah Agnes sudah di simpannya ke dalam lemari?’

Oh, ternyata tidak. Agnes tetap berada diatas meja, beralaskan bantal berwarna biru cerah. Dan yang membuat Dhamayanti merasa heran adalah sikap Theresia. Ternyata gadis berambut lurus seperti benang sutera itu tidak merasa kaget dan curiga melihat kepala Agnes yang berada di atas bantal. Dari depan pintu, Dhamayanti melihat Theresia tersenyum ramah dan menepuk-nemuk lembut pipi Agnes.

“Bagaimana kabarmu, Agnes ?? Baik-baik saja kan?” Tanya Theresia.

“Susah menjawabnya kalau dalam keadaan seperti ini di katakana baik.” Kata Agnes tanpa nada-nada kecemburuan.

‘Aneh. Mereka tidak saling bermusuhan.?’ Gumam Dhamayanti di dalam hati. Ketika Pandu berpaling menatap ke arahnya, Dhamayanti segera berinisiatif untuk berkata, “Ehh.. aku buatkan minum, ya..? kau mau minum apa Ther..?”

“Biar aku saja yang ambil minuman buat mereka berdua.” Sahut Pandu.

Waktu berpapasan di depan pintu, Dhamayanti menahan lengan pandu dan berbisik, “Bagaimana mungkin kau bisa mempertemukan mereka berdua dalam keramahan.?”

“Mereka sudah cukup dewasa. Seharusnya sikapmu mengikuti seperti mereka.” Hanya itu jawaban Pandu, lalu dia pergi ke dapur.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!