BAB 12
Lagi-lagi seorang tamu di rumah Pandu menjadi korban untuk mengembalikan raga milik Agnes. Mang Sugi akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit setelah empat jam lamanya dalam penanganan dokter.
Tubuh Mang Sugi mengelupas semua seperti habis di siram air panas atau air keras, tinggal tampak bagian dagingnya saja yang kelihatan. Empat jam setelah itu, Mang Sugi pun akhirnya meninggal dunia.
Agnes sangat sedih mendengar kabar kematian Mang Sugi. Ia merasa sebagai penyebab kematian Seseorang. Karena itu ia sangat menyesal dan jengkel pada nasibnya.
Sampai-sampai dua hari sejak kematian Mang Sugi, Agnes masih tetap tampak murung. Rasa bersalah menghantuinya sehingga ia tak bisa tenang sama sekali. Keresahan yang ada padanya membuat ia sering murung dan tak bersemangat untuk bicara dengan siapa pun.
Sampai tiba pada suatu siang, ketika Pandu masih berada di kantornya, Dhamayanti masuk ke dalam kamar Pandu dan berdiri di depan lemari kaca. Pintu lemari kaca itu di bukanya. Ia memandang wajah Agnes dengan tatapan mata yang sinis. Agnes mulai was-was ketika melihat kehadiran Dhamayanti yang tak pernah ada ramahnya sedikit pin terhadap dirinya.
“Aku heran sama Pandu” ucap Dhamayanti seperti bicara pada dirinya sendiri. Kemudian ia melanjutkan ucapannya.
“Kenapa ia mati-matian mempertahankan tempurung bekas ini..? padahal di kantornya. Theresia selalu menunjukkan kesetiaan dan cintanya kepada Pandu. Tapi kenapa Pandu justru lebih setia dengan bola basket ini, ya..? Apa sih kehebatannya.??”
Kalau saja pada saat itu, Agnes mempunyai sepasang tangan, pasti sudah di tamparnya mulut Dhamayanti yang sangat lancang itu. Sayang sekali Agnes tak berdaya dan tak mungkin untuk menampar mulut itu akibat kondisinya yang mengenaskan. Terpaksa ia hanya memendam perasaan marahnya, memejamkan mata dan tak mau mendengar segala hinaan yang di ucapkan oleh Dhamayanti.
Dhamayanti masih berdiri tegak di depan Agnes sambil bertolak pinggang. Kemudian berkata, “Nes, lu tau nggak ? lu itu adalah sumber malapetaka di rumah gue ! mestinya lu desak Pandu supaya membawa batok kepala mu ini ke rumahmu sendiri.”
Duhh, menyakitkan sekali ucapan yang di lontarkan oleh Dhamayanti itu, Agnes tak tahan. Ia terpaksa membalas ucapan Dhamayanti tersebut, “Eh,, Bocah cilik..! Gue di sini juga atas permintaan kakak lu sendiri, tahu..?”
Plaaakkk..!
“Aauuhh..” Agnes memekik kesakitan. Tangan Dhamayanti menampar pipinya dengan sangat keras. Merah pipi Agnes. Ada bekas empat jari yang membiru di pipi lembut itu. Kepala itu pun tergeser hampir terguling.
“Sekali lagi lu berani ngomong gitu, gue lemparin kepala lu ini ke anjing ! Ngerti…?” sambil Dhamayanti melotot. “kalau gue bilang lu itu sumber malapetaka di rumah gue itu wajar. Sebab sudah dua orang yang datang kesini mati gara-gara lu..!”
Agnes mengigit bibirnya supaya ia tidak menangis. Ia memejamkan matanya, menahan luapan emosi amarahnya. Tiba-tiba Dhamayanti berkata,
“Nes, kalau lu mau cari tumbal, jangan di rumah gue deh ! Gue jadi ngeri! Ntar ayah gue yang lu jadiin tumbal ! Kalau nggak gue sendiri, atau kakak gue. Uuhhh… bisa habis keluarga gue gara-gara nyimpan kepala setan kayak lu ini…!”
“Aku bukan Setaaann..!” Bentak Agnes, “Aku manusia hidup ! Belum mati. Belum menjadi roh yang gentayangan. Aku akan sehat pada suatu saat. Dan kau akan tahu bahwa aku ini bukan setan!!” geram Agnes dengan mata melotot.
Dhamayanti diam untuk sesaat, lalu berkata, “Seram juga lu kalau lagi melotot kayak gitu.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments