BAB 16

BAB 16

Theresia berkata kepada Pandu lagi, “Kelemahan orang itu ada di sini..!” Theresia menunjuk tengah – tengah keningnya. Ujung jari telunjuknya itu di tempelkan lekat – lekat tepat di antara ke dua alisnya, di atas hidung.

Theresia menambahkan kata lagi, “Jika dia mati dan berubah menjadi wujud aslinya, maka kekuatan mistiknya akan hilang sama sekali, dan gadis cantikmu ini akan kembali seperti keadaan semula.” Sambil Theresia mencubit lembut dagu Agnes.

Pandu manggut – manggut dan berkata, “Aku akan membunuhnya..!”

“Pandu,,,?” Agnes tampak sangat cemas.

Theresia berkata lagi kepada Pandu, “Hati – hati, Pandu. Dia cukup Tangguh dan berbahaya. Dia punya kekuatan yang sukar untuk di kalahkan, jika tak mengetahui letak titik kelemahannya. Di kening sini, Pandu. Jangan lupa itu..!”

“Seberapa pun kekuatannya, aku pasti mampu untuk mengalahkannya.” Geram Pandu sambil tangannya menerawan, tangannya menggenggam. Terbayang kehidupan masa laluny yang keras.

Theresia berdiri, mengambil tas dompetnya. Sepertinya dia berniat untuk pamit pergi. Rupanya dia hanya untuk mencium sebuah kekuatan iblis yang mengcuri raga milik Agnes. Dhamayanti sama sekali tidak menduga hal tersebut.

“Ku sarankan, pelajari dulu dia.! Selidiki dulu keadaan sekelilingnya. Setelah itu, baru kau bisa untuk menyerangnya. Sekali lagi ku ingatkan, hati – hati, Pandu. Dia punya banyak cara untuk melumpuhkan lawannya.!! Yang kau hadapi bukan manusia biasa, bukan penjahat kelas teri, tapi.. Iblis..!” Kata Theresia mengingatkan Pandu.

Setelah mencium pipi kanan Agnes, Theresia segera mohon pamit. Agnes dan Dhamayanti masih termenung di tempat. Waktu Pandu pulang dari mengantar Theresia, adiknya segera berkata,

“Aneh sekali ucapannya. Apakah dia serius..?” tanya Dhamayanti.

“Dia adalah seorang Mendium..!” jawab Pandu.

“ Mendium…? Apa itu??” kembali Dhamayanti bertanya kepada Pandu.

“Pemimpin dalam upacara pemanggilan roh. Biasanya di lakukan di sekeliling meja bundar oleh beberapa orang yang ingin membuktikan adanya roh nenek moyang mereka atau keperluan – keperluan lainnya. Aku juga baru mengetahui bahwa dia punya ilmu kebatinan cukup tinggi, turunan dari kakeknya.” Jawab Pandu

“Kakeknya seorang guru kebatinan..?” tanya Dhamayanti

“Begitulah menurut ceritanya. Kakek Theresia itu dulunya seorang Warok, asal dari Ponorogo. Kakaknya sendiri sebenarnya adalah keturunan keraton, tapi dia termasuk keturunan yang terbuang karena berasal dari selir. Ahh, sudahlah…!! Sebaiknya aku memanggil Mamamu saja untuk membicarakannya, Nes..!” kata Pandu.

Agnes diam sesaat, lalu berkata dengan nada datar, “Apakah laki – laki yang di maksud Theresia itu adalah Papa ku sendiri..?”

“Apakah Papa mu orang yang ambisius dan mudah tersinggung??” tanya Pandu.

“Tentunya… sifat itulah yang membuatnya bercerai dengan Mama ku.” Jawab Agnes.

“Ah, tapi dugaan ku itu belum tentu kan??” kata Agnes lagi.

Agnes diam, tampak sangat gelisah. Beberapa saat kemudian, ia berbicara seperti tertuju pada dirinya sendiri. “Setega itukah Papa kepadaku…?”

****

Pandu melangkah ke depan, memandang rumah Agnes dari dalam pagar rumahnya. Ternyata pintu rumah Agnes masih tertutup. Lampu teras pun belum dinyalakan, walau sudah pukul enam sore. Itu pertanda Mamanya Agnes belum pulang dari tempat kerjanya.

Baru saja Pandu hendak masuk ke dalam rumah, tiba – tiba sebuah taksi berhenti di depan rumah Agnes. ‘Oh…, Mamanya Agnes baru saja pulang. Tapi, sepertinya telah terjadi sesuatu yang membuat matanya masih basah.’ Pandu buru – buru menyambutnya ke pintu Pagar.

“Tante…! Kenapa..?” tanya Pandu.

Tante Mirah tak jadi masuk ke pekarangan rumahnya. Ia bahkan masuk ke halaman rumah Pandu. Kedua matanya memang basah, bahkan tampak sedikit membengkak.

“Mana Agnes..?” Tanya Tante Mirah.

“Masih di kamar saya, Tante.” Jawab Pandu dengan terheran – heran.

Kemudian, ia tidak berani banyak bertanya. Ia hanya mengikuti Langkah Tante Mirah yang segera menuju teras. Sesekali sapu tangannya di pakai untuk menghapus air mata yang makin lama seperti kembali makin membanjir di wajahnya.

“Agnes…!” seru Tante Mirah begitu masuk ke dalam kamar Pandu. Kepala Agnes segera dipeluknya. Diciumnya dengan air mata berlinang.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!