BAB 4
“Tidak, Pandu !. Tidak ada sesuatu apapun yang ku rasakan, kecuali rasa capek akibat banyak pekerjaan di kantor.” Jawab Agnes.
“Aneh sekali…!” Pandu berkata sambil merasa heran
“Memang aneh, dan ku harap kau jangan terlalu serius memikirkannya, karena masalahku ini bisa membuatmu gila kalau terlalu di pikirkan.” Kata Agnes.
Pandu manggut-manggut dalam renungannya.
“Kalau bukan karena kamu, aku lebih baik minta bunuh saja.” Kata Agnes.
“Nes.. nggak baik bicara begitu. Jangan matikan semangatmu. !” balas Pandu menyemangati.
“Aku mengerti..” jawab Agnes. “Justru aku memilih untuk disimpan disini, karena di sini aku masih mempunyai segenggam harapan untuk tetap hidup dan menunggu kembalinya ragaku.”
Agnes berpindah pandangan sesaat, lalu kembali menatap Pandu dan berkata, “Kau tahu, bahwa kau lah segenggam harapan yang ku maksud tadikan.!”
Pandu makin terenyuh. Di kecupnya kening Agnes dengan penuh kelembutan. Kemudian Agnes berkata lagi,
“Aku merasakan betapa besarnya cintamu padauk, Pandu. Karena itu aku tak ingin meninggalkanmu begitu saja. Aku tak ingin mati sebelum kau bosan mencintaiku.”
“Apakah kau yaki bahwa suatu saat aku akan merasa bosan?” Tanya Pandu
Agne berkedip sebagai ganti isyarat mengangguk. “Kau pasti akan bosan mencintai gadis tanpa raga. Lama-lama kau akan menyadari, bahwa kau tidak akan bisa mendapat apa-apa dariku, Pandu.”
Sambil mengusap rambut Agnes, Pandu pun menggeleng pelan. Ia bicara dengan suara sedikit parau. “Aku ingin memiliki mu tanpa mengharapkan apa-apa darimu.”
“Jangan dustai diri sendiri. Kau lelaki yang normal, yang mempunyai tuntutan batin sebagai seorang lelaki. Hal itu pasti ada padamu. Tapi, kau tidak bisa memperolehnya dari ku.” Balas Agnes
Bibir Pandu yang berkumis tipis itu menyunggingkan senyum tipis pula. Sambil jari-jemarinya bermain di rambut Agnes yang ada di tepian kening Agnes. Pandu berkata,
“Aku bekas bajingan, aku bekas playboy. Aku sudah puas bercinta dengan perempuan manapun juga. Sekarang, aku hanya mempunyai cinta yang terakhir kalinya. Aku ingin menyerahkannya padamu, tanpa menuntut imbalan apa-apa darimu Agnes. “
“Usiaku sekarang sudah tiga puluh enam tahun. Yang ku butuhkan sekarang adalah teman hidup, teman berbagi rasa, teman bertimbang rasa. Bukan kepuasan batin secara fisik.” Pandu menghembuskan napan. Duduknya mencoba untun bersandar, tapi matanya masih tertuju pada Agnes.
Sambung pandu lagi, “Masih untung ada perempuan yang mau mencintaiku sekarang ini. Masih untung ada perempuan yang mau aku cintai. Padahal, aku menyadari bahwa dosaku terlalu banyak kepada kaum perempuan. Tak layak dalam akhir perjalanan cintaku ini, aku benyak menuntut pada seorang perempuan.
“Berapa banyak gadis yang kau sakiti??” tanya Agnes
“Terlalu banyak untuk dihitung.” Jawab Pandu dengan polos.
“Barang kali justru sekarang sudah tiba waktunya aku disakiti perempuan.”
“Tidak….!” Jawab Agnes. “Aku tidak ingin menyakiti kamu. Aku justru bangga dengan kejujuranmu itu, Pandu. Mulanya aku ingin merawat kamu, menjadi benteng masa lalumu, agar kau tak kembali ke masa lalu itu. Tetapi, sekarang aku tak tahu. Apakah aku bisa begitu atau tidak.
Kondisi yang begini, sama sekali tidak memenuhi syarat untuk jadi benteng masa lalu mu. Namun begitu, aku tetap berusaha dan terus berusaha sebatas kemampuanku.” Ucap Agnes.
Setelah diam sesaat, Agnes berkata, “Pandu, mendekatlah kemari. Aku ingin mencium pipimu…!”
Lalu, Pandu pun mendekatkan pipinya. Menempelkan ke bibir Agnes, karena Agnes tak bisa bergerak sendiri untuk mendekat. Ciuman Agnes itu terasa hangat dan mesra, menembus ke lubuh hati Pandu. Pada saat itu, Agnes berbisik, “Bagaimana dengan Theresia?”
Yang dapat dilakukan Pandu hanya menghempaskan napas pelan-pelan, menarik kepalanya. Duduk bersandar lagi. Sementara itu, Agnes menatapnya seakan menunggu jawaban dari Pandu.
Pandangan dan sikap menunggu itu membuat Pandu menjadi gelisah, akhirnya ia mengalihkan pembicaraan dengan berkata, “Bagaimana kalau sebaiknya aku mandi dulu?”
Senyum Agnes Mengembang Tipis, ia Mengedipkan mata pelan-pelan tanda ia mengangguk.
“Aku juga belum mandi.” Kata Agnes ketika Pandu berdiri. Gerakan pandu pun terhenti, berpaling menatap Agnes.
“Sudah beberapa hari ini aku tidak mandi dan gosok gigi kan?” Agnes tersenyum malu.
Pandu jadi tertawa geli, namun hatinya terharu sekali. Akhirnya, ia membawa kepala Agnes ke kamar mandi. Ia meletakkan kepala Agnes diatas sebuah bangku yang sudah di beri alas lipatan handuk tebal.
Dengan penuh hati-hati dan kesetiaan, Pandu mencelupkan handuk kecil ke dalam air, di peras sedikit kemudian di usapkan ke wajah Agnes.
Tindakkan Pandu membawa kepala Agnes ke kamar mandi itu hanya diketahui oleh Ayahnya. Namun ayah Pandu tidak banyak komentar. Hanya menggeleng-gelengkan kepala, merasa heran melihat kesetiaan yang ada pada Pandu, yang dulu sama sekali tidak di miliki anak itu.
“Habis mandi Nes..? tegur ayahnya Pandu sewaktu Pandu membawa kepala Agnes kembali ke kamarnya.
“Iya, yah… Rasanya agak tebal sekali kulit wajah saya kalau nggak mandi.” Jawab Agnes.
Dan ayahnya Pandu segera tersenyum, bahkan sempat terkekeh. Tentu saja merasa aneh dan janggal melihat anaknya memandikan gadis tanpa raga. Seperti membersihkan celengan yang terbuat dari keramik raja.
Sapaan ayahnya Pandu itu didengar oleh Dhamayanti dari kamarnya. Dhamayanti segera berkerut dahi. Menggumam bagai bicara pada dirinya sendiri.
“Mandi…?! Pandu memandikan sepotong kepala ?? Iih, mau-maunya dia berbuat begitu? Jangan-jangan dia sudah sinting..?”
Dhamayanti keluar dari kamarnya, segera ke kamar mandi. Sambil ia sendiri mandi, ia memperhatikan bangku dan handuk bekas tempat memandikan Agnes. Ia menyeringai, merasa jijik. Dan berseru kepada ayahnya, meminta agar bangku itu disingkirkan dari kamar mandi.
Pandu di kamarnya sibuk menyisir rambut Agnes. Mula-mula ia pergi kemar Dhamayanti untuk mengambil hairdyer, alat pengering rambut. Juga mengambil bedak dan lipstick
Setelah mengeringkan rambut Agnes memakai hairdyer dan meyisirinya, wajah Agnes pun dibedaki menggunakan spoon bedak.
Pandu mengerjakan sambil tertawa-tawa, karena Agnes pun cekikikan sambil sesekali memejamkan mata, takut kena bedak matanya. Selesai meratakan bedak di wajah Agnes, Pandu mengoleskan lipstick merah tak begitu banyak, dan segera di ratakan dengan bibir Agnes sendiri.
“Kamu sudah seperti pegawai salon kecantikan saja, Pan..” kata Agnes, keduanya makin tertawa geli.
“Nahh, sudah selesai. Sudah tampak lebih cantik lagi.” Ujar pandu memuji Agnes. Agnes pun tersipu dengan senyum tipis mekar disudut bibirnya yang punya daya sensual tersendiri.
“Sekarang gentian, aku yang mandi ya..? kata Pandu.
“Kenapa tidak sekalian saja..?” kata Agnes bercanda.
“Huuuu…!” Pandu mencibir. “kamu bisa dapat tontonan gratis punyaku ya???
Tawa Agnes yang mengikik geli terhenti secara berangsur-angsur, karena pada saat itu terdengar suara Mamanya yang mendekat ke teras Pandu.
“Ness.. ! Ness.. Kau tertawa ya? Teriak mamanya Agnes dari luar rumah Pandu.
Mamanya masuk ke kamar Pandu yang pintunya terbuka lebar-lebar itu. Mata mamanya terbelalak girang, “Ya ampunnn.. anakku sudah bisa dandan ?..
“Ada juru riasnya ma.” Jawab Agnes sambil melirik Pandu.
Mamanya Agnes memperhatikan lipstick dan bedak yang masih dipegangi Pandu. Perempuan bertubuh sedang dan masih kelihatan kencang itu tersenyum kikuk melihat Pandu memegangi Lipstick.
.
.
.
Jangan lupa Like, komen, Favorit, Vote & Rate bintang 5 ya..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Mack Werz
Penulisnya hebat banget, bikin saya ketagihan baca cerita ini.
2023-07-17
1
Kiran Kiran
Cerita yang sangat inspiratif, terima kasih author!
2023-07-17
1