BAB 7

BAB 7

Sampai terdengar suara Kokok Ayam menyongsong pagi, Tante Mirah masih duduk di tepi ruang tamu rumahnya merenungi peristiwa yang baru saja menimpanya. Sungguh Aneh dan sukar dijelaskan secara logika.

Seandainya mau melaporkannya kepada pihak Kepolisian, juga pecuma. Pihak Kepolisian juga pasti tidak akan percaya dengan apa yang ia laporkan. Polisi tak akan bisa melacak kemana perginya segumpalan asap itu. Apalagi menangkapnya. Jelas tak akan mungkin. Sepanjang sejarah, belum pernah ada polisi yang berhasil menangkap segumpalan asap dan menyeretnya kepengadilan.

Lalu, apa yang harus aku lakukan ? Pikir perempuan yang malang itu. Membiarkan peristiwa aneh itu terjadi berulang-ulang ? Bagaimana kalau sampai hamil ? Ohhh.. Apakah mungkin segumpalan kabut asap tebal bisa menghamili seorang perempuan ? Apakah ada peristiwa yang sama di alami oleh perempuan lain.?

Tiba-tiba menjelang matahari terbit, terdengar suara rebut-ribut dari rumah Pandu. Tante Menelengkan kepala untuk menyimak suara rebut-ribut itu.

“Pandu bertengkar dengan adiknya? Atau… eh, tapi itu seperti suara Agnes?!” Gumam Tante Mirah Mamanya Agnes.

Tante Mirah bergegas ke Rumah Pandu setelah ia berganti pakaian menggunakan daster. Pintu pagar rumah Pandu terkunci, Tante Mirah tidak bisa masuk.

“Panduu.. Panduuu..!” Teriak Tante Mirah yang membuat Keluarga Om Harman juga terbangun.

Treeng.. trenngg.. treenngg…! Pintu pagar besi itu di guncang-guncangkan Tante mirah, sambil berseru. “Panduu..! ada apa, Pandu..? Panduu….!”

Yang keluar ayahnya Pandu. Lelaki sudah beruban itu berlari-lari kecil menuju pintu pagar sambil membawa kunci.

“Apa yang terjadi, pak salim ? Tanya Tante Mirah kepada ayahnya Pandu.

“Masuklah….! Lihat sendiri apa yang terjadi kepada Agnes..!” jawab ayahnya Pandu

“Agnes..? Oh, kenapa dia..?!” sambil berkata begitu, Tante Mirah segera berlari menuju kedalam rumahnya Pandu, seakan tidak membutuhkan jawaban apa yang akan dikatakan ayahnya Pandu.

“Dhamayanti..! Apa yang terjadi?” Tanya Mamanya Agnes ketika ia berpapasan dengan adiknya Pandu yang hanya berdiri di depan pintu kamarnya.

“Nggak tahu Tante..! Kebakaran, kali..” jawab Dhamayanti seenaknya dengan wajah sinisnya. Agaknya ia jengkel karena keributan yang bersumber dari dalam kamarnya Pandu itu mengganggu ketenangan tidurnya.

“Agnes…!” Teriak Tante Mirah ketika masuk kamarnya Pandu.

Pada saat itu, kepala Agnes sedang di peluk oleh Pandu. Berada di antara leher dan Pundak Pandu.

“Mama..! lihar leherku, Ma..! ucap Agnes setelah wajahnya di hadapkan Pandu ke Arah Mamanya Agnes.

“Ohh.. Lehermu ?? Lehermu mulai tumbuh..?!” kata Tante Mirah mamanya Agnes.

Memang tak seberapa banyak, namun cukup menggembirakan mereka. Mulanya kepala Agnes nyaris tidak mempunyai leher lagi. Seolah-olah pemenggalan itu dilakukan lewat dari pertengahan leher, hampir merapat pada bagian dagu.

Tetapi, pagi itu leher Agnes tumbuh. Utuh seukuran leher manusia pada umumnya. Hanya saja, bagian bawah leher lainnya masih tetap tidak ada.

Tante Mirah dan anaknya masih menangis sambil mengamati pertumbuhan leher yang mulus tanda adanya bekas jahitan sama sekali. Pandu sengaja meletakkan kepala Agnes di depan sebuah cermin. Tetapi , tetap di beri alas bantal oleh Pandu. Hal itu dilakukan Pandu agar Agnes bisa melihat sendiri bagaimana keadaan pertumbuhan lehernya yang mulus tanpa adanya bekas jahitan itu.

“Berarti masih ada harapan, Tante “ Kata Pandu kepada mamanya Agnes.

“Harapan Bagaimana..?!” tanya mamanya Agnes kepada Pandu.

“Harapan kembalinya seluruh bagian tubuh Agnes yang lainnya.” Jawab Pandu

“Ohh,, Benarkah begitu ?? Tap… tapi, bagaimana caranya ? kapan tubuh anakku bisa kembali seperti semula?? Kata mamanya Agnes.

Pandu tak bisa menjawab. Ia sendiri tidak tahu kapan hal itu bisa terwujud, apa yang menyebabkan leher Agnes bisa tumbuh kembali seperti layaknya leher manusia normal?. Mungkinkah itu adalah sebuah pertanda akan kembalinya sekujur tubuh Agnes secara utuh? Atau, hanya sampai di situ saja pertumbuhan itu terjadi?

Pandu dan Tante Mirah sama-sama menunggu pertumbuhan berikutnya. Bahkan, hari itu Pandu sengaja tidak pergi ke kantor, khusus untuk menunggu pertumbuhan tubuh Agnes yang lainnya.

Namun sampai siang hari, tubuh itu tak kunjung tumbuh. Tak ada perubahan apa-apa lagi pada kepala Agnes.

“Berarti orang yang ‘mencuri’ tubuh Agnes belum mau mengembalikan raga Agnes seluruhnya.” Kata Pandu kepada Tante Mirah.

“Lalu, apa maksudnya ia hanya mengembalikan hanya Sebagian kecil saja, hah..? kata mamanya Agnes sambil menahan kesal.

Pandu diam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Mama Agnes tersebut. Ganti Agnes sekarang yang berbicara.

“Mungkin di hanya ingin mempermainkan kita saja.” Kata Agnes lesu.

“Atau ada sesuatu yang ia kehendaki dari kita,?” sahut Pandu.

Terpopuler

Comments

Clarissa0611

Clarissa0611

tolong di bantu subcribe ya

2023-07-20

0

Clarissa0611

Clarissa0611

makasih ya.. tolong di subcribe ya🥰🙏

2023-07-20

0

Yusuo Yusup

Yusuo Yusup

Terimakasih thor, bikin hari jadi lebih berwarna! 💕

2023-07-20

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!