"Mamah janji Al ini sementara saja, patuhi Mamah dan Papah. Dengan begitu kamu tidak akan kesulitan," kata Anita lagi.
"Sepertinya tidak masalah aku menuruti saja kata Mamah dan Papah. Dari pada aku bersikeras, aku malah rugi karenanya," batin Aliando.
"Sepertinya Aliando memikirkan nasehat ku," ujar Anita dalam hati.
"Tapi izinkan besok aku mengundang teman-teman ku semua ke rumah ini untuk salam perpisahan. Apakah Mamah mau membantu?" Tanya Aliando.
"Tentu saja, kalau perlu Mamah yang pesankan kateringnya. Oya gak pakai minum alkohol okay?!" Anita mengangkat jarinya membentuk huruf O.
"Aaahh.." Aliando tampak kecewa. Tapi lebih tak ingin lagi dia kalau sampai jadi kere lagi.
"Yah sudahlah lebih baik aku mengalah saja dari pada miskin. Sudah cacat miskin kan gak lucu," batin Aliando.
Akhirnya Aliando pun menghubungi teman-temannya agar bisa datang di acara perpisahan.
Aliando mulai membuat undangan di grup AMV Mobil Club. Semua ART di kerahkan untuk membuat persiapan pesta terakhir Aliando dengan teman-temannya itu.
Keesokan harinya semua anggota AMV Mobil Club sudah berkumpul sore itu. Personil lengkap tidak ada yang absen mengingat pertemuan hari ini sangat penting.
"Terimakasih kalian semua bersedia hadir," Aliando memulai sambutannya
"Setelah pertemuan hari ini aku akan absen sampai kaki ku betul-betul pulih. Bisa kembali mengajak pedal Aston Martin Vantage milik Roy, hehehe," ujar Aliando sebab mobilnya sudah rusak dan di buang ke tempat rongsokan kendaraan.
"Aku tidak bisa memperkirakan sampai kapan aku off dari perkumpulan AMV Mobil Club. Pokoknya kalau aku sudah sembuh kita pasti akan seru-seruan lagi," dari jauh Anita mendelik pada Aliando mendengar kalimat tersebut. Aliando segera membuang pandang saat bertatap dengan Anita. Tampak Roy menunduk sedih, situasi hening sesaat.
"Ayolah teman-teman ini belum kiamat, kita masih bisa mengobrol lewat hape," Anita tampak menggoyangkan telunjuknya, memberi kode agar Aliando juga memutus komunikasi dengan teman-temannya itu.
Yang saat ini dipikirkan Roy bagaimana Club tanpa Aliando.pasti akan sangat sepi bisa jadi akan mati. Aliando adalah ketua AMV Mobil Club bagaimana bisa dia meninggalkan gengnya itu?
Namun Aliando harus memisahkan diri dari dunia balapan liarnya.
"Ya mau bagaimana lagi Al, demi kesembuhan kamu, kami dukung apapun keputusan kamu," ucap Roy Andrean.
"Roy, aku serahkan Club dengan mu," bisik Aliando sambil menepuk pundak Roy. Hal itu membuat Roy sedikit kaget.
"Terimakasih atas dukungan kalian semuanya, mendukung keputusan ku ini," Aliando sedikit tercekat. Ya dia dan Roy mendirikan Club ini dari awal yang hanya ada empat personil hingga berkembang jadi puluhan orang. Rupanya banyak anak-anak muda Borjuis yang tergila-gila Aston Martin Vantage. Sampai hari ini ada dua puluh lima orang. Tidak semua pemilik mobil, tetapi ada beberapa juga pemuda yang mengerti mesin di tarik Aliando menjadi anggota. Dengan begitu jika mobil mengalami masalah Idak perlu ke bengkel karena mereka mempunyai teknisi Aston sendiri.
"Ya sudah, tidak perlu bersedih nikmati saja makanan dan minuman yang sudah disiapkan mamah ku," ujar Aliando.
Semua anak muda yang ada di cafe pribadi Aliando menikmati makanan dan minuman. Sementara Mamat dan Yuli tersenyum senang karena uang mereka tidak jadi korban pinjaman Aliando lagi.
***
Berbulan-bulan setelah acara perpisahan itu. AMV Mobil Club mendapat surat terbuka berisi tantangan balap dari MBM Club mobil mecedez. Roy yang menjadi wakil ketua AMV Mobil Club tidak berani mengambil alih begitu saja tanpa keputusan dari anggota. Dia teringat Aliando yang berpesan kalau ini hanya sementara waktu, menunggu keadaan dirinya membaik.
"Bagaimana teman-teman apa kita ambil tantangan ini? Kalau tidak kita ambil kita akan di anggap pengecut. Aku tidak berani mengambil resiko. Lagian kita tidak ada donatur untuk taruhan ini," Roy bingung.
"Aku sih setuju ambil tantangan ini demi nama baik Club kita. Soal dana kita bisa urunan. Bagaimana?" Ujar Justin . Semua saling pandang, soal pendanaan memang berat. Mereka hanya para pemuda yang mengandalkan uang saku dari orang tua mereka yang kaya raya.
"Mereka minta berapa? Jarak berapa?" Tanya Martin.
"Demi gengsi mereka minta seratus, jarak seribu meter," ujar Roy.
"Ini sih gila ya. Apa gak bisa di tawar? Lima ratus kita ambil," ujar Sam.
"Kamu mau merusak strata AMV di mata club-club mobil mewah lain?" Austin tampak tak senang. Austin anak petinggi daerah yang sekaligus pemilik tambang terbesar di kota ini.
"Apa kamu mau menjadi donatur?" Sam tersenyum sedikit sinis.
"Aku sih mau saja nambahin lebih, tapi siapa yang bisa di andalkan maju melawan Club mereka?" Austin merasa tertantang.
"Roy lah, ku rasa pantas," sahut Martin.
"Hhmmm aku gak yakin tanpa Aliando," Roy tampak ragu.
"Ya sudah abaikan saja tantangan mereka kalau kamu ragu Roy!" Ujar Sam.
"Aku rasa sebaiknya begitu," sahut Roy.
"Lalu membiarkan mereka mengejek kita pengecut?" Tanya Austin.
"Mereka kan tau kalau Aliando kecelakaan. Ku rasa gak mungkin mereka akan meremehkan kita. Secara mereka juga tau siapa Aliando kan," ujar Sam.
"Halah Sam bilang saja kamu tidak mau urunan kan? Tuduh Austin.
"Ya iyalah ngapain urunan buat hal gak penting. Aku ikut Club cuma buat image orang tua," gerutu Sam dalam hatinya. Ya Sam sendiri anak pejabat pemerintah setempat yang cukup di segani. Semua mendadak diam.
Sementara itu di rumah sakit Aliando sedang menjalani terapi berjalannya di bantu oleh tim medis untuk mengukur kemampuannya.
"Hari ini cukup baik ya Al, sudah lumayan berdirinya hampir lima menit. Tapi apakah tadi lebih banyak kekuatan tertumpu pada tangan?" Tanya dokter Alan.
"Iya sih Dok," sahut Aliando.
"Sekarang coba latih menekuk lutut ya," lanjut Dokter.
Aliando mengikuti perintah dokter namun hampir terjatuh.
"Oops, hati-hati Al," ujar Dokter sambil memapah Aliando yang hampir jatuh.
Aliando berusaha keras hari ini agar bisa tahan berdiri lebih lama. Lima menit itu bukan sebuah kemajuan bagi Al.
"Kapan semua ini berakhir, rasanya sudah tidak tahan lagi," kata Aliando dalam hati.
"Masih semangat mencoba?" Ujar Dokter Alan menyemangati.
"Tentu saja," sahut Aliando yang terus berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar bisa berdiri sempurna.
"Ya tahan Al, pelan-pelan kuatkan tumpuan kaki kaki kamu ya," dokter Alan masih menyemangati. Kali ini Aliando mengurangi tumpuan pada tangannya. Mulai merasakan pijakannya sendiri. Dia melonggarkan cengkraman pada alat bantu.
"Semakin dirasain ya Al, pelan-pelan bisa kamu lepaskan pegangan kamu itu," Dokter memberikan arahan lagi.
Aliando merasakan tidak kuat, dia kembali menjadikan tangannya tumpuan dia berdiri. Seperti itulah, terkadang Aliando mengencangkan cengkraman terkadang melonggarkannya. Sambil terus berusaha berdiri lama. Mamat yang mengantar Aliando tersenyum senang karena Aliando mau terus berusaha. Latihan hari ini cukup terlihat kemampuan Aliando berdiri semakin maju.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments