"Hai Al," Sheila mantan kekasih Aliando juga hadir dalam acara tersebut cukup mbiat terkejut Aliando.
"K..k.. kamu.. ikut arisan juga?!" Aliando terheran.
"Gak lah, aku di ajak Mamah ku tuh," Sheila memonyongkan bibirnya ke arah seorang wanita setengah baya yang masih terlihat cantik dan perpenampilan elegan. Ya Bu Ambar, Ibu dari Sheila, istri jaksa kenamaan di kota itu. Alindo melihat ke arah Bu Ambar yang sibuk berbincang dengan Anita, Mamahnya.
"Mungkin mereka berdua sedang merencanakan untuk menyambung hubungan kami berdua yang telah putus," batin Aliando.
"Bagaimana keadaan Aliando Nit?" ujar Ambar.
"Ya seperti yang kamu lihat Mbar, dia sudah bisa berjalan bahkan berlari hehehe," sahut Anita sembari menatap pada Aliando dan Sheila yang sedang duduk berhadapan.
"Sheila sepertinya belum bisa melupakan Aliando. Apa mereka berdua sedang ingin balikan lagi? Hehehe," ujar Anita lagi.
"Hehehe mungkin keduanya belum bisa melupakan," sahut Ambar.
"Emmm.. Sheila kamu sudah punya pacar?" Tanya Aliando memulai pembicaraan setelah beberapa detik diam-diaman.
"To the poin sekali pertanyaan Al. Apa dia mau balikan sama.aku?" Batin Sheila.
"Engh.. belum," Sheila menjawab ragu. Mungkin masih berharap juga bisa balikan dengan Aliando.
"Kenapa Al?" Lanjutnya.
"Kamu… mau ngajak balikan?!" Sheila menyambung pertanyaannya tanpa sempat Aliando menjawab pertanyaan sebelumnya yang dia lontarkan tadi.
"Hhhmmm.. apa itu harapan kamu?" Bukannya menjawab pertanyaan Sheila malah Aliando balas bertanya.
Sheila tampak terkejut dengan pertanyaan Aliando itu. Dia terlihat serba salah, melempar pandang ke arah lain.
"Eemm.. eh.. aku ke sana dulu ya Al. Itu ada Namcy, sudah lama aku gak ketemu dan ngobror sama dia," sahut Sheila menghindar.
"Ooh oke," Aliando tidak berusaha menahan Sheila ataupun memaksa Sheila menjawab pertanyaannya itu.
Sheila pun berlalu dari hadapan Aliando, menemui Namcy gadis keturunan Indonesia-Inggris. Anak seorang konglomerat di kota itu juga.
Di lain tempat Anton Wiryawan akan mengadakan pertemuan bisnis dengan koleganya. Dia mengundang makan siang para koleganya di sebuah rumah makan mewah. Anton membuka pintu mobil mewahnya saat berada di tempat parkir.
"Sialan!" Gerutu Anton saat tubuhnya sedikit limbung di tubruk tubuh lain. Namun Anton berhasil menyeimbangkan tubuhnya kembali sehingga dia tidak jatuh ke tanah.
"Aah.. ooh.. eeh.. maaf Om aku tak sengaja," seorang wanita muda berusia sekitar dua puluh tahunan tampak ngos-ngosan, berdiri tepat di depan Anton usai menabrak punggungnya.
"Hhmmm… kenapa kamu lari?" Tanya Anton.
"Sa.. saya.. di kejar suami saya Om. Mau di pukuli," sahut wanita itu, yang tidak lain adalah Tari. Wanita yang sempat bertemu Aliando di rumah sakit.
"Oh sedang merayu Om hidung belang kamu ya!" Ujar seorang lelaki yang langsung menjambak rambut Tari yang berada di depan Anton.
"Hey! Jangan kasar dengan wanita di depan saya ya!" Anton meskipun sudah hampir lima puluh tahun usianya tapi masih cukup kuat untuk adu fisik dengan lelaki yang jauh muda di bawahnya itu.
Anton menarik bagian leher belakang kaos oblong yang di pakai lelaki itu. Lelaki itu sedang sibuk menyeret Tari dengan cara menarik rambutnya.
"Ooh jadi kamu mau icip-icip?! Bayar dong! Enak saja mau gratisan!" Ujar Andika suami Tari.
"Nih!" Anton melemparkan semia uang yang tersimpan dalam dompet yang terselip di kantong pantalonnya.
Andika berjongkok mengumpulkan uang-uang yang berserak di lantai parkir rumah makan mewah itu. Tari segera mengambil kesempatan itu untuk berlindung di balik punggung Anton.
"Eemmm.. kurasa ini cukup, tua Bangka sering-seringlah main sama tari biar aku cepat kaya," ujar Andika sembari mengibas-ngibaskan uang yang di pungutnya tadi di depan wajahnya sendiri.
"Maaf ya Om, saya gak sengaja. Terimakasih sudah menolong saya lepas dari suami saya tadi," ujar Tari.
"Jadi itu suami kamu?!" Tanya Anton.
"Iy.. iy.. iya Om. T..te.. tetapi suami saya jahat Om, dia itu memaksa saya. Mau menjual saya Om," Tari menundukkan kepalanya, malu.
"Ya sudah, pergilah! Aku ada urusan!" Ujar Anton berlalu tanpa memperdulikan Tari.
"Maaf Om, tapi anda telah membayar saya," ujar Tari mebuntuti Anton dari belakang.
"Tidak apa anggap itu sedekah. Saya hanya tidak bisa melihat perempuan dianiyaya di depan mata saya," Anton mengibaskan tangan seolah menyuruh Tari agar jangan membuntutinya.
"Ta.. ta.. tapi Om saya.." Tari tetap mbuntuti Anton dengan setengah berlari karena Anton mempercepat langkahnya menuju pintu rumah makan di depannya,
"Sudah saya bilang tidak apa. Kamu mengganggu kegiatan saya siang ini! Atau kamu lapar juga?! Baik ikutlah!" Segera Anton meminta pelayan rumah makan membungkuskan makanan untuk Tari bawa pulang.
"Baik sekali pria tua ini. Kalau Bapak masih hidup mungkin seumuran dengan beliau," batin Tari menatap penampilan Anton dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Gak usah Om, saya gak lapar!" Ucap tari sambil mendorong bungkusan di tangan Anton.
"Bawa pulang untuk anak-anak mu," kata Anton, terjadi saling dorong mendorong tangan antara Tari dan Anton.
"Ada apa pak Anton?!' tanya Arif, seorang pengusaha kayu yang terbilang cukup sukses di kota ini.
"Ini saya mau sedekah makanan, wanita ini menolak," ujar Anton sekenanya.
Akhirnya Tari langsung merebut bungkusan dari tangan Anton, kemudian berlalu dari hadapan kedua pria itu.
"Tidak mau?! Kok malah merebut?!" Arif terkekeh matanya menatap punggung Tari. Ya pakaian yang di kenakan Tari sedikit kucel rambutnya pun agak acak-acakan akibat di Jambak Andika tadi.
"Ya sudah lah, ayo masuk! Aku lapar nih," ujar Anton. Arif mengikuti Anton dari belakang. Keduanya memang mempunyai hubungan bisnis sudah lama. Pasokan bahan mentah untuk produksi perusahaan Anton memang dari perusahaan Arif. Setelah mendapatkan tempat yang nyaman untuk bersantap mereka berdua duduk sambil membicarakan bisnis.
Sementara di luar rumah makan Tari mencari tempat yang agak sepi untuk menyantap makanan yang di ambilnya dari Anton. Setelah menemukan tempat aman untuk menghabiskan makan siangnya itu, dia mulai membuka dan menyantap isi bungkusan yang di bawanya.
"Hooo enak sekali makan siang dari rumah makan mewah!" Andika ternyata belum betul-betul pergi dari area parkir rumah makan mewah itu.
"Tapi Bang! Itu makanan ku!" Jerit Tari yang belum sempat memasukkan makanan ke mulutnya.
"Oooh makanan kamu?! Kerja dulu baru makan! Kalau tubuh mu sudah tidak laku di jual! Jadi pengemis sana! Setor hasilnya ke aku! Uang dari bandot tadi masih kurang! Tau kamu!" Andika kembali menjambak rambut Tari.
"Heeeh kalian ngapain ribut di depan sini?!" Sekuriti sekaligus tukang parkir rumah makan mewah itu mencoba melerai dengan membawa alat pentung di tangan kanannya.
"Jangan ikut campur! Ini urusan rumah tangga kami!" Teriak Andika.
"Ya urusan-urusan rumah tangga situ kan! Ini rumah makan, bukan rumah tangga anda! Balik sono ke rumah tangga anda! Selesaikan di rumah bukan tempat umum begini!" Sekuriti tak kalah sengit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Park Kyung Na
👍👍
2023-10-13
0