Kemarahan Anton kemarin hanya dianggap angin lalu saja oleh Aliando. Tidak membuat dia jera untuk terus kabur-kaburan tiap malam dengan Roy.
Seperti malam ini, dia tetap mengancam Mamat agar mau membantunya kabur menemui Roy dan teman-temannya.
"Mat ke kamar ku cepat!" Ucap Aliando lewat hapenya pada Mamat.
"Tapi Den Al.. saya takut nanti tuan marah lagi seperti malam-malam sebelumnya. Kasian nyonya juga, kena marah sama tuan," Mamat mencoba mencegah Aliando pergi ke luar malam ini.
"Oohh… baik.. kamu tidak mau nih, bantu aku keluar dari kamar membosankan ini?! Kamu ngerti gak kegiatan ku seharian sangat membosankan! Rumah sakit - rumah, rumah sakit -rumah ituuu sajaa tiap hari. Aku bosan! Ingin juga kaya yang lain, bersenang-senang bahagia menikmati hidup meski dalam keadaan lumpuh begini! Apa orang cacat gak boleh senang-senang Mat?!" Aliando mencoba menyentuh rasa simpati Mamat padanya.
Tampak air muka Mamat menunjukkan kemurungan tanda dia bersimpati dengan perasaan kesepian Aliando di rumah. Meski di rumah itu banyak sekali orang tapi Aliando merasa bukan circle nya para pembantu rumah tangga itu. Dia butuh berkawan dengan pemuda-pemuda seusianya, melakukan kegemaran yang sesuai selera anak muda jaman sekarang dan tentu seleranya orang-orang berduit.
Aliando terus mengusik simpati Mamat hingga akhirnya kembali Mamat mau menuruti perintah Aliando. Dia menggendong Aliando meletakkannya di atas kursi roda. Kemudian mengendap-endap ke luar rumah menemui Roy.
Malam ini rencananya Roy akan melakukan balapan liar lagi. Bukan karena di tantang tapi rivalnya masih tidak terima kalah sudah berkali-kali. Sampai di tempat biasa mereka balapan sudah ada beberapa mobil mewah sudah terparkir di sana.
Ngiiiing
Ngiingg
Bunyi sirene mobil patroli polisi membubarkan sekumpulan anak muda yang sudah bersiap hendak mengadakan kegiatan balap liar. Kegiatan itu tentu saja mengganggu pengguna jalan raya lainnya. Mereka menganggap jalan raya adalah sirkuit tanpa memperdulikan nyawa pengguna jalan raya lainnya.
"Gila si coklat ngamuk!" Tanpa turun dari mobil Roy kembali menginjak gas dan cabut dari sana sebelum mobil patroli mencapai mereka. Akhirnya malam itu tidak ada balapan liar geng mobil. Roy dan Aliando melajukan mobil ke cafe tempat biasa mereka nongkrong.
"Al, apa pulang nanti kamu baik-baik aja?! Papa kamu bukannya marah tiap malam sama kamu sehabis kita kumpul-kumpul?!" Tanya Roy memastikan cerita yang dia dengar.
"Pasti Mamat cerita ya!?" Aliando bertanya balik, Roy tidak menyahut hanya sedikit mengerakkan alisnya ke atas.
"Ya gitu lah, cuma gertak-gertak sambalado aja hehehe," Aliando meremehkan.
"Tapi ku rasa papa kamu baik Al, peduli sama kamu. Mending kamu tunggu sampai betul-betul pulih dulu baru beraktivitas,' ujar Roy.
"Halaaah kamu ini udah kayak emak-emak mau lahiran cerewet!" Kata Aliando membuat Roy mengernyitkan kening.
"Dari mana dia tau emak lahiran cerewet?!" Batin Roy.
Mereka berdua menghabiskan waktu hingga dini hari. Roy mengantar Aliando pulang. Tidak ada Mamat menyambut jadi Roy mendorong kursi Aliando hingga gerbang rumah yang terbuka secara otomatis. Aliando mendorong roda kursinya sendiri hingga depan pintu. Tanpa sempat memasang wajah di sensor pembuka pintu, tampak Anton sudah membuka daun pintu dan berkacak pinggang di baliknya.
"Kamu tidak mengindahkan larangan papa Al?! Papa sudah bilang jangan lagi keluyuran dengan teman-teman berandal mu itu! Apa kaki cacat itu tidak membuat kami jera?" Ujar Anton Wiryawan dengan nada tinggi.
"Yang papa sebut berandal itu semua adalah anak orang kaya! Anak-anak dari kawan-kawan kamu Pah!" Aliando mulai kurang ajar dengan Anton papanya itu.
"Aku tidak punya kawan kelas rendah, cacat, atau miskin. Semua kawan ku kan selera papa mama toh?! Masih syukur mereka mau temenan sama aku yang sudah cacat ini! Papa masih tega menyebut mereka berandal! Papa tidak sadar semua yang terjadi sama aku itu adalah andil papa! Aku hanya tau hidup bersenang-senang dan berfoya-foya dengan harta mu kan!" Ucapan Aliando membuat Anton mengangkat tangan hendak melayangkan sebuah tamparan di wajah Aliando.
"Jangan paah!" Teriakan Anita memecahkan kesunyian dini hari ini. Anton dan Aliando terpaku saling tatap dengan sudut mata mereka masing-masing berair.
"Pah aku mohon hentikan perdebatan kalian yang sama setiap pagi buta begini! Tidak bisakah bicara baik-baik pah dengan Al?" Anita meraih kedua tangan suaminya itu lalu berlutut.
"Kasian sekali, nyonya satu-satunya makhluk lemah yang mampu mendinginkan keadaan ketika dua singa itu saling berdebat," batin Mamat dari balik pintu dapur.
"Biar Mah! Aku mau tau sekarang Papa mau bilang apa? Mau bilang aku berhenti berteman dengan mereka? Sekarang aku harus cari kawan baru? Yang miskin? Yang orang tuanya gak punya usaha, pangkat, dan jabatan? Atau aku harus cari kawan cacat? Apa pah?! Apa?!" Ucapan Aliando membuat Anita terisak keras.
"Anak kurang ajar tak tau di untung!" Bentak Anton sementara tangannya masih dipegangi Anita.
"Sudah Pah! Al! Cukup, hentikan perdebatan ini! Semua ini salah Mama! Bukan kalian!" Ucap Anita keras.
"Mama yang terlalu memanjakan kamu Al, tolong maafkan Mama.." rintih Anita yang membuat kedua lelaki yang menyayanginya kembali terpaku.
"Sudahlah Ma ini bukan salah mu! Tapi salah dia!" Tunjuk Aliando pada Anton.
"Dia melenakan kita dengan uang.. uang.. uang.. tapi dia lupa memberi kita sayang," Aliando meraih pundak Mamanya itu agar Anita berdiri dan berhenti berjongkok di hadapan Anton.
Ya memang Anita dan Aliando selama ini selalu digelimangi Anton dengan kemewahan. Segala kebutuhan materi selalu dipenuhi, kelas sosial pun di atur oleh Anton. Pertemanan Anita dengan para sosialita juga Aliando dengan pemuda sosial media hehehe, ya pokoknya kelas atas lah sosial pertemanan mereka. Yang tentunya teman, rekan, atau kolega bisnis Anton sendiri. Kelas sekali dalam keluarga ini uang berkuasa. Anton merasa semua bisa dia atur dan dia beli dengan uangnya. Itu lah yang membuat Aliando merasa jenuh dan bosan karena saking gak habis-habisnya duit Anton untuk hidup bersenang-senang.
Anita berkeras tidak mau berdiri, dia tetap memohon pada suaminya itu agar membiarkan Aliando dan berhenti memarahinya setiap dini hari begini. Namun Anton dengan keras kali ini memerintahkan Mamat yang dari tadi berada di balik pintu dapur menyaksikan kegaduhan itu agar membawa Aliando ke kamar.
"Mamat! Ngapain kamu di balik pintu itu! Sini! Antar tuan muda masuk ke kamarnya!" Bergegas Mamat keluar dari persembunyiannya sambil setengah berlari mendekat ke arah di mana kursi roda Alindo berada.
"Baik Tuan, permisi.." Mamat mendorong kursi roda Aliando hingga masuk ke dalam kamar. Menggendong Aliando ke tempat tidur.
"Mamat! Keluar! Kunci pintunya! Hanya boleh di buka saat memberi dia makan dan membersihkan diri serta pergi terapi ke rumah sakit," perintah Anton dengan suara keras dan terdengar oleh Aliando.
"Papaaaah!!" Aliando memukul keras guling yang ada di atas tubuhnya.
"Paah.. aku mohon jangan sekeras itu…" Anita kembali berlutut dan meraih tangan suaminya, Anton bergeming.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Young Nappi
hai kak Author, jangan lupa mampir ya sama like juga ya🤗
2023-10-09
2
Park Kyung Na
💪💪
2023-10-06
1