Bab 7 Permohonan Anita Sari

Kemarahan Anton kemarin hanya dianggap angin lalu saja oleh Aliando. Tidak membuat dia jera untuk terus kabur-kaburan tiap malam dengan Roy.

Seperti malam ini, dia tetap mengancam Mamat agar mau membantunya kabur menemui Roy dan teman-temannya.

"Mat ke kamar ku cepat!" Ucap Aliando lewat hapenya pada Mamat.

"Tapi Den Al.. saya takut nanti tuan marah lagi seperti malam-malam sebelumnya. Kasian nyonya juga, kena marah sama tuan," Mamat mencoba mencegah Aliando pergi ke luar malam ini.

"Oohh… baik.. kamu tidak mau nih, bantu aku keluar dari kamar membosankan ini?! Kamu ngerti gak kegiatan ku seharian sangat membosankan! Rumah sakit - rumah, rumah sakit -rumah ituuu sajaa tiap hari. Aku bosan! Ingin juga kaya yang lain, bersenang-senang bahagia menikmati hidup meski dalam keadaan lumpuh begini! Apa orang cacat gak boleh senang-senang Mat?!" Aliando mencoba menyentuh rasa simpati Mamat padanya.

Tampak air muka Mamat menunjukkan kemurungan tanda dia bersimpati dengan perasaan kesepian Aliando di rumah. Meski di rumah itu banyak sekali orang tapi Aliando merasa bukan circle nya para pembantu rumah tangga itu. Dia butuh berkawan dengan pemuda-pemuda seusianya, melakukan kegemaran yang sesuai selera anak muda jaman sekarang dan tentu seleranya orang-orang berduit.

Aliando terus mengusik simpati Mamat hingga akhirnya kembali Mamat mau menuruti perintah Aliando. Dia menggendong Aliando meletakkannya di atas kursi roda. Kemudian mengendap-endap ke luar rumah menemui Roy.

Malam ini rencananya Roy akan melakukan balapan liar lagi. Bukan karena di tantang tapi rivalnya masih tidak terima kalah sudah berkali-kali. Sampai di tempat biasa mereka balapan sudah ada beberapa mobil mewah sudah terparkir di sana. 

Ngiiiing

Ngiingg

Bunyi sirene mobil patroli polisi membubarkan sekumpulan anak muda yang sudah bersiap hendak mengadakan kegiatan balap liar. Kegiatan itu tentu saja mengganggu pengguna jalan raya lainnya. Mereka menganggap jalan raya adalah sirkuit tanpa memperdulikan nyawa pengguna jalan raya lainnya.

"Gila si coklat ngamuk!" Tanpa turun dari mobil Roy kembali menginjak gas dan cabut dari sana sebelum mobil patroli mencapai mereka. Akhirnya malam itu tidak ada balapan liar geng mobil. Roy dan Aliando melajukan mobil ke cafe tempat biasa mereka nongkrong.

"Al, apa pulang nanti kamu baik-baik aja?! Papa kamu bukannya marah tiap malam sama kamu sehabis kita kumpul-kumpul?!" Tanya Roy memastikan cerita yang dia dengar.

"Pasti Mamat cerita ya!?" Aliando bertanya balik, Roy tidak menyahut hanya sedikit mengerakkan alisnya ke atas.

"Ya gitu lah, cuma gertak-gertak sambalado aja hehehe," Aliando meremehkan.

"Tapi ku rasa papa kamu baik Al, peduli sama kamu. Mending kamu tunggu sampai betul-betul pulih dulu baru beraktivitas,' ujar Roy.

"Halaaah kamu ini udah kayak emak-emak mau lahiran cerewet!" Kata Aliando membuat Roy mengernyitkan kening.

"Dari mana dia tau emak lahiran cerewet?!" Batin Roy.

Mereka berdua menghabiskan waktu hingga dini hari. Roy mengantar Aliando pulang. Tidak ada Mamat menyambut jadi Roy mendorong kursi Aliando hingga gerbang rumah yang terbuka secara otomatis. Aliando mendorong roda kursinya sendiri hingga depan pintu. Tanpa sempat memasang wajah di sensor  pembuka pintu, tampak Anton sudah membuka daun pintu dan berkacak pinggang di baliknya.

"Kamu tidak mengindahkan larangan papa Al?! Papa sudah bilang jangan lagi keluyuran dengan teman-teman berandal mu itu! Apa kaki cacat itu tidak membuat kami jera?" Ujar Anton Wiryawan dengan nada tinggi.

"Yang papa sebut berandal itu semua adalah anak orang kaya! Anak-anak dari kawan-kawan kamu Pah!" Aliando mulai kurang ajar dengan Anton papanya itu.

"Aku tidak punya kawan kelas rendah, cacat, atau miskin. Semua kawan ku kan selera papa mama toh?! Masih syukur mereka mau temenan sama aku yang sudah cacat ini! Papa masih tega menyebut mereka berandal! Papa tidak sadar semua yang terjadi sama aku itu adalah andil papa! Aku hanya tau hidup bersenang-senang dan berfoya-foya dengan harta mu kan!" Ucapan Aliando membuat Anton mengangkat tangan hendak melayangkan sebuah tamparan di wajah Aliando.

"Jangan paah!" Teriakan Anita memecahkan kesunyian dini hari ini. Anton dan Aliando terpaku saling tatap dengan sudut mata mereka masing-masing berair.

"Pah aku mohon hentikan perdebatan kalian yang sama setiap pagi buta begini! Tidak bisakah bicara baik-baik pah dengan Al?" Anita meraih kedua tangan suaminya itu lalu berlutut.

"Kasian sekali, nyonya satu-satunya makhluk lemah yang mampu mendinginkan keadaan ketika dua singa itu saling berdebat," batin Mamat dari balik pintu dapur.

"Biar Mah! Aku mau tau sekarang Papa mau bilang apa? Mau bilang aku berhenti berteman dengan mereka? Sekarang aku harus cari kawan baru? Yang miskin? Yang orang tuanya gak punya usaha, pangkat, dan jabatan? Atau aku harus cari kawan cacat? Apa pah?! Apa?!" Ucapan Aliando membuat Anita terisak keras.

"Anak kurang ajar tak tau di untung!" Bentak Anton sementara tangannya masih dipegangi Anita.

"Sudah Pah! Al! Cukup, hentikan perdebatan ini! Semua ini salah Mama! Bukan kalian!" Ucap Anita keras.

"Mama yang terlalu memanjakan kamu Al, tolong maafkan Mama.." rintih Anita yang membuat kedua lelaki yang menyayanginya kembali terpaku.

"Sudahlah Ma ini bukan salah mu! Tapi salah dia!" Tunjuk Aliando pada Anton.

"Dia melenakan kita dengan uang.. uang.. uang.. tapi dia lupa memberi kita sayang," Aliando meraih pundak Mamanya itu agar Anita berdiri dan berhenti berjongkok di hadapan Anton. 

Ya memang Anita dan Aliando selama ini selalu digelimangi Anton dengan kemewahan. Segala kebutuhan materi selalu dipenuhi, kelas sosial pun di atur oleh Anton. Pertemanan Anita dengan para sosialita juga Aliando dengan pemuda sosial media hehehe, ya pokoknya kelas atas lah sosial pertemanan mereka. Yang tentunya teman, rekan, atau kolega bisnis Anton sendiri. Kelas sekali dalam keluarga ini uang berkuasa. Anton merasa semua bisa dia atur dan dia beli dengan uangnya. Itu lah yang membuat Aliando merasa jenuh dan bosan karena saking gak habis-habisnya duit Anton untuk hidup bersenang-senang.

Anita berkeras tidak mau berdiri, dia tetap memohon pada suaminya itu agar membiarkan Aliando dan berhenti memarahinya setiap dini hari begini. Namun Anton dengan keras kali ini memerintahkan Mamat yang dari tadi berada di balik pintu dapur menyaksikan kegaduhan itu agar membawa Aliando ke kamar.

"Mamat! Ngapain kamu di balik pintu itu! Sini! Antar tuan muda masuk ke kamarnya!" Bergegas Mamat keluar dari persembunyiannya sambil setengah berlari mendekat ke arah di mana kursi roda Alindo berada.

"Baik Tuan, permisi.." Mamat mendorong kursi roda Aliando hingga masuk ke dalam kamar. Menggendong Aliando ke tempat tidur.

"Mamat! Keluar! Kunci pintunya! Hanya boleh di buka saat memberi dia makan dan membersihkan diri serta pergi terapi ke rumah sakit," perintah Anton dengan suara keras dan terdengar oleh Aliando.

"Papaaaah!!" Aliando memukul keras guling yang ada di atas tubuhnya.

"Paah.. aku mohon jangan sekeras itu…" Anita kembali berlutut dan meraih tangan suaminya, Anton bergeming.

Terpopuler

Comments

Young Nappi

Young Nappi

hai kak Author, jangan lupa mampir ya sama like juga ya🤗

2023-10-09

2

Park Kyung Na

Park Kyung Na

💪💪

2023-10-06

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Kecelakaan
2 Bab 2 Berita Duka (Pertemuan Pertama)
3 Bab 3 Diagnosa Dokter (Pertemuan Kedua)
4 Bab 4 Pulang
5 Bab 5 Kelakuan Anak Muda
6 Bab 6 Kemarahan Anton Wiryawan
7 Bab 7 Permohonan Anita Sari
8 Bab 8 Fasilitas Ditarik Sang Presdir
9 Bab 9 Bos Tapi Kere
10 Bab 10 Bantuan Anita
11 Bab 11 AMV Mobil Club Tanpa Aliando
12 Kisah Tari Sang PSK
13 Bab 12 Menanggalkan Kursi Roda
14 Bab 13 Suka Cita Anita
15 Bab 14 Tidak Sengaja Om
16 Bab 15 Adu Mulut
17 Bab 16 Mencari Pekerjaan Halal
18 Bab 17 Kembali jadi PSK
19 Bab 18 Lelaki Aneh
20 Bab 19 Lelaki Berkupluk
21 Bab 20 Ganteng -ganteng Letoy
22 Bab 21 Godaan Maut Tari
23 Bab 22 Kumpul Kebo
24 Bab 23 Emang Boleh.. Emang Boleh.. SeBossy Itu?
25 Bab 24 Cerita Mantan
26 Bab 25 Cerita Mantan Kekasih
27 Bab 26 Beraksi Kembali
28 Bab 27 Mimpi Indah
29 Bab 28 Tidak Seperti Mimpi Indah
30 Bab 29 Strategi Tari
31 Bab 30 Usaha Tari Membuahkan Hasil
32 Bab 31 Anita Penasaran
33 Bab 32 Rencana Pernikahan Aliando Dan Tari
34 Bab 33 Persiapan Nikah
35 Bab 34 Penghulu Datang
36 Bab 35 Ijab Qobul
37 Bab 36 Gak Mau Malam Pertama Kalau Gak Perawan
38 Bab 37 Deg adeg An
39 Bab 38 Operasi
40 Bab 39 Puasa
41 Bab 40 Bersabar
42 Bab 41 Bertemu Masa Lalu
43 Bab 42 Buru-buru Balik Takut Perawan Diculik
44 Bab 43 Ketakutan Tari
45 Bab 44 Kok Susah
46 Bab 45 Rencana Ke Bali
47 Bab 46 Jebakan Asmara Setengah Dara 1
48 Bab 47 Jebakan Asmara Setengah Dara 2
49 Bab 48 Gadis Bukan Perawan
50 Bab 49 Permintaan Maaf
51 Bab 50 Liburan Sedih
52 Bab 51 Kenalan Sama Bule
53 Bab 52 Asisten Dan Pelatih Surfing Pasangan Selevel
54 Bab 53 Andreas Si Bule Penggoda 1
55 Bab 54 Andreas Si Bule Penggoda 2
56 Bab 55 Andreas Si Bule Penggoda 3
57 Bab 56 Api-api Cemburu
58 Bab 57 Aliando Ngamuk
59 Bab 58 Aliando Cemburu
60 Bab 59 Pertengkaran Kecil
61 Bab 60 Rasa Tidak Enak
62 Bab 61 Gak Boleh Hamil
63 Bab 62 Bayi Yang Tak Diinginkan
64 Bab 63 Dilema Aliando
Episodes

Updated 64 Episodes

1
Bab 1 Kecelakaan
2
Bab 2 Berita Duka (Pertemuan Pertama)
3
Bab 3 Diagnosa Dokter (Pertemuan Kedua)
4
Bab 4 Pulang
5
Bab 5 Kelakuan Anak Muda
6
Bab 6 Kemarahan Anton Wiryawan
7
Bab 7 Permohonan Anita Sari
8
Bab 8 Fasilitas Ditarik Sang Presdir
9
Bab 9 Bos Tapi Kere
10
Bab 10 Bantuan Anita
11
Bab 11 AMV Mobil Club Tanpa Aliando
12
Kisah Tari Sang PSK
13
Bab 12 Menanggalkan Kursi Roda
14
Bab 13 Suka Cita Anita
15
Bab 14 Tidak Sengaja Om
16
Bab 15 Adu Mulut
17
Bab 16 Mencari Pekerjaan Halal
18
Bab 17 Kembali jadi PSK
19
Bab 18 Lelaki Aneh
20
Bab 19 Lelaki Berkupluk
21
Bab 20 Ganteng -ganteng Letoy
22
Bab 21 Godaan Maut Tari
23
Bab 22 Kumpul Kebo
24
Bab 23 Emang Boleh.. Emang Boleh.. SeBossy Itu?
25
Bab 24 Cerita Mantan
26
Bab 25 Cerita Mantan Kekasih
27
Bab 26 Beraksi Kembali
28
Bab 27 Mimpi Indah
29
Bab 28 Tidak Seperti Mimpi Indah
30
Bab 29 Strategi Tari
31
Bab 30 Usaha Tari Membuahkan Hasil
32
Bab 31 Anita Penasaran
33
Bab 32 Rencana Pernikahan Aliando Dan Tari
34
Bab 33 Persiapan Nikah
35
Bab 34 Penghulu Datang
36
Bab 35 Ijab Qobul
37
Bab 36 Gak Mau Malam Pertama Kalau Gak Perawan
38
Bab 37 Deg adeg An
39
Bab 38 Operasi
40
Bab 39 Puasa
41
Bab 40 Bersabar
42
Bab 41 Bertemu Masa Lalu
43
Bab 42 Buru-buru Balik Takut Perawan Diculik
44
Bab 43 Ketakutan Tari
45
Bab 44 Kok Susah
46
Bab 45 Rencana Ke Bali
47
Bab 46 Jebakan Asmara Setengah Dara 1
48
Bab 47 Jebakan Asmara Setengah Dara 2
49
Bab 48 Gadis Bukan Perawan
50
Bab 49 Permintaan Maaf
51
Bab 50 Liburan Sedih
52
Bab 51 Kenalan Sama Bule
53
Bab 52 Asisten Dan Pelatih Surfing Pasangan Selevel
54
Bab 53 Andreas Si Bule Penggoda 1
55
Bab 54 Andreas Si Bule Penggoda 2
56
Bab 55 Andreas Si Bule Penggoda 3
57
Bab 56 Api-api Cemburu
58
Bab 57 Aliando Ngamuk
59
Bab 58 Aliando Cemburu
60
Bab 59 Pertengkaran Kecil
61
Bab 60 Rasa Tidak Enak
62
Bab 61 Gak Boleh Hamil
63
Bab 62 Bayi Yang Tak Diinginkan
64
Bab 63 Dilema Aliando

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!