Tentu saja adu mulut antara Andika dan sekuriti rumah makan itu menarik perhatian beberapa pengunjung.
"Lihat anda mengundang perhatian orang-orang yang sedang makan! Ini merugikan! Saya bisa dipecat! Cepat kalian berdua menyingkir dari area rumah makan ini!" Ujar Sang Sekuriti dengan nada yang agak tinggi.
"Alaaah saya gak ada urusan sama situ! Jangan ikut campur! Atau kamu mau membayar wanita ini heh! Punya berapa duit kamu?!' Andika malah menawarkan Tari kepada sekuriti rumah makan mewah itu.
"Dasar suami gila istri sendiri di jual obral! Cepat pergi dari sini! Kalau tidak saya akan telepon polisi!" Ancam sekuriti.
"Telepon saja kalau berani!" Tantang Andika tangannya masih menjambak rambut Tari yang tergerai.
"Aaww.. lepaskan mas! Aww.. sakit!" Ujar Tari. Andika menghentak jambakannya pada rambut Tari. Sehingga tari menjerit kesakitan.
"Ya sudah pergi dari sini kalian berdua cepat!" Sekurit tampak tak sabar mengayunkan pentungan yang dia bawa. Namun Andika sempat menghindar. Andika kembali menyeret Tari dengan cara menarik rambutnya dan melangkah cepat. Mau tidak mau Tari pun dengan langkah terseret mengikuti Andika.
Berteman Anton ke luar area rumah makan dengan mobil mewahnya, dia melihat Tari yang di seret Andika menuju motor butut yang terparkir di tepi jalan raya.
"Eeh itu lelaki tadi. Kok dia masih menguasai istrinya?!" Segera Anton menepikan mobilnya lalu turun sebelum sempat Andika menaiki motor bututnya.
"Heh bandot kaya! Kenapa kamu menghalangi jalan kami?! Hahaha belum sempat icipi istri saya ini ya? Salah sendiri kenapa habis bayar dia kamu tinggalin! Kalau mau lagi, bayar lagi dong!" Ujar Andika.
"Bukankah tadi aku sudah membayar padamu?! Kenapa kmu masih menyakiti wanita ini?!" Tunjuk Anton pada Tari.
"Kenapa? Dia istri saya! Jadi saya berhak atas apapun pada dirinya! Kalau anda tertarik bayar saja! Jangan sok jadi Superman!" Sahut Andika sambil menarik rambut Tari dan menghetaknya.
"Aaaaawww.." teriak Tari.
Melihat seorang wanita dikasari membuat Anton berniat menolong Tari. Dia berniat memberi sejumlah uang pada Andika agar melepaskan Tari.
"Bagaimana kalau saya beli istrimu ini! Supaya bisa jadi budak saya!" Ujar Anton.
"Wanita itu masih tampak muda kasian sekali dapat suami seperti dia. Mungkin lelaki itu penjudi dan pemabuk hingga istrinya pun dia abral begitu" batin Anton.
"Boleh.." kalimat Andika belum selesai keburu Anton memotongnya.
"Kita buat surat kesepakan jual beli supaya kamu tidak bisa lagi mengklaim dia istri kamu!" Ujar Anton.
"Aku manusia tapi kenapa diperlakukan seperti sebidang tanah oleh kedua lelaki ini. Apa pria tua ini orang baik?!" Batin Tari sedikit ragu akan nasib dirinya kedepan nanti setelah dibeli Anton.
Sementara Andika berpikir sejenak, melepaskan jambakannya pada rambut Tari.
"Masuk ke dalam rumah makan! Kita buat perjanjian di dalam!" Anton, Tari, dan Andika melangkah menuju rumah makan.
"Ada yang ketinggalan Tuan?!" Tanya pelayan pada Anton.
"Tidak! Saya mau pesankan dua rekan saya ini makanan. Meja yang tadi masih kosongkan?" Tanya Anton.
"Iya Tuan," pelayan rumah makan mempersilahkan Anton, Tari, dan Andika menuju ke meja yang tadi di tinggalkan Anton dengan tamu pertama tadi.
Setelah pelayan berlalu menyiapkan pesanan Andika dan Tari. Anton mulai membuka suara.
"Bagaimana saya bayar lima puluh juta saja dia. Terus kamu tanda tangani surat pernyataan tidak akan menggangu dan mencari istri kamu ini lagi! Serta kasih dia surat cerai!" Ujar Anton.
"Apa?! Cuma lima puluh juta?! Tidak bisa! Seratus juta baru saya lepaskan dia!" Kembali tangan Andika menjambak rambut Tari.
"Aaawww.." teriak Tari sehingga menjadi pusat perhatian mata semua orang dalam rumah makan itu. Saat siang begini rumah makan ini ramai pengunjung.
"Sudah cukup! Ya saya setuju seratus juta!" Ujar Anton.
Tari terhenyak mendengar nilai rupiah yang akan didapatkan oleh suaminya itu. Sementara dirinya akan menjadi budak Anton seumur hidup. Entah budak apa pula yang dimaksud Anton.
"Baik, mana uangnya!" Ujar Andika tidak sabar.
Anton segera menyuruh orang kantornya agar membawakan uang tunai serta surat perjanjian yang dimaksudkan Anto pada Andika tadi. Sementara pelayan rumah makan sudah datang membawakan makanan untuk Andika dan Tari. Pasangan suami istri itu menyantap makan siang mereka dengan lahap.
"Ini Pak Anton," seorang duduk di depan mereka bertiga menyodorkan kertas dan amplop coklat berisi sejumlah uang.
"Kamu akan terima sisa kalau surat cerai kami serahkan pada wanita ini! Saya beri waktu dalam perjanjian itu dua hari!" Ujar Anton.
"Kalau kamu tidak bisa memenuhi itu saya akan penjarakan kamu!" Ancam Anton lagi. Andika menyetujui, dia pun menandatangani sejumlah kertas yang di sodorkan pernah suruhan Anton.
"Isi amplop sepuluh juta?!" Ujar Andika.
"Ya sesuai perjanjian sisanya saya bayar setelah surat cerai!" Ujar Anton.
"Baik kalau begitu dia tidak boleh kamu bawa!" Kilah Andika.
"Dalam perjanjian yang sudah kamu tandatangani tadi wanita murahan ini saya bawa untuk jaminan uang sepuluh juta itu!" Taktik Anton.
Andika tidak bisa berbuat apa-apa lagi, akhirnya dia pergi meninggalkan rumah makan itu. Dia membiarkan Tari bersama Anton dan orang suruhan itu.
"Pak… apa.. maksud membeli saya dan menjadikan saya budak?!" Tanya Tari meberanikan diri.
"Tidak ada, aku hanya tidak tega seorang wanita disakiti di depan mata ku. Ini ada uang uruslah diri mu," ujar Anton agar Tari mengurus penampilannya.
"Ta… tapi.. uang sepuluh juta tadi?!" Ujar Tari terbata.
"Aah tidak apa Tari. Tidak masalah, ya sudah kamu pergilah benahi penampilan mu. Kalau suami kamu tadi menepati janji tentunya dia tidak akan mencari dan berani menganiaya kamu lagi nanti," lanjut Anton.
"Tapi Pak saya merasa tidak enak," sahut Tari sambil menyimpan uang yang di berikan oleh Anton tadi. Kemudian berdiri ingin pergi.
"Saya permisi dulu Pak," ucap tari minta diri.
Anton tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan menampung Tari atau mempekerjakannya. Nanti pasti akan menimbulkan masalah.
Anton hanya membantu Tari terlepas dari suaminya. Dia tidak ingin apapun dari Tari. Dia memberi juga sejumlah uang pada Tari agar bisa memperbaiki penampilannya. Kemudian membiarkan Tari pergi.
Kembali ke suasana pesta arisan yang sedang di selenggarakan di rumah besar milik Anton, tampak Aliando dan Sheila kembali saling berbincang.
"Eh pertanyaan aku tadi belum kamu jawab Sheila," ujar Aliando.
"Enngggh.. yang mana?" Entah Sheila lupa atau berpura-pura lupa.
"Apa kamu berharap balikan sama aku?!" Tanya Aliando.
"Entahlah, untuk saat ini lebih baik kita fokus dengan kuliah dan diri kita masing-masing aja dulu. Kamu pasti juga belum sehat betul kan?!" Ujar Sheila seolah ingin menghindari pertanyaan Aliando tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments