"Ya baiklah, masuk saja Neng. Semoga diterima kerja," Sang Sekuriti mengerlingkan mata dengan genit, Tari membalasnya dengan senyum tipis.
Sesampainya di dalam rumah makan mewah itu Tari celingak celinguk mencari sosok Anton. Berharap sekali dirinya bisa bertemu pria baik tajir melintir itu agar dapat minta pekerjaan.
"Di sana Mbak ada bangku yang masih kosong," tawar seorang pelayan di sana.
"Ah eh oh.. sa..saya mau melamar kerja mas," ujar Tari terbata.
"Ooh kalau itu lewat sini Mbak," pelayan itu mengantarkan Tari ke ruang manajer rumah makan mewah itu.
"Per.. permisi Bu," ujar Tari saat melihat sosok wanita yang duduk di ruangan itu.
"Ya masuk!" Perintah wanita berusia sekitar empat puluh tahunan itu.
"Mana CV mu," ujarnya lagi saat Tari sudah duduk di depannya.
"Eemm saya gak bawa Bu," sahut Tari.
"Mau lamar kerja kok gak bawa CV dan berkas lainnya toh!" Kata Bu manajer.
"Kamu di tolak!" Tegas Bu manajer. Tari menunduk sedih, tapi memang tujuannya masuk ke dalam rumah makan mewah ini hanya berharap bertemu dengan Anton.
Dia pun keluar, kemudian segera pergi dari rumah makan mewah itu.
"Hhhmmffftthh.." Tari menarik nafas panjang dan menghembuskan ya perlahan.
"Ke mana lagi aku harus cari kerja? Uang pemberian Om baik itu semakin menipis. Apa aku harus kembali jadi PSK?! Sepertinya cuma pekerjaan itu yang cepat dapat uang," batinnya.
Tari mematut-matut dirinya di spion sebuah mobil mewah yang terparkir di depan rumah makan mewah itu.
"Heh minggir ini mobil saya!" Ujar seorang pelanggan yang ingin masuk ke mobilnya.
"Emm eeh maaf Bu saya cuma numpang ngaca sebentar," Tari merasa tidak enak dan menjelaskan maksudnya sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Huh alasan kamu pasti berpikir mobil ini milik Om-om girang kan! Dasar wanita murahan!" Ucap wanita yang sudah berumur itu.
Tari terhenyak mendengar umpatan wanita yang berusia sekitar empat puluh lima tahunan itu.
"Memang ternyata penampilan aku sudah melekat sebagai wanita penggoda," batin Tari.
"Eemm iya maaf Bu permisi," Tari berlalu tanpa membela diri.
"Sepertinya untuk mengatasi kesulitan ekonomi ku ini cara yang pas hanya kembali menjadi PSK," batinnya lagi dalam perjalanan pulang.
Sekarang sangat mudah mencari pria hidung belang melalui berbagai aplikasi chat. Tari pun sudah mengunduh beberapa aplikasi chatting untuk mempromosikan dirinya. Bermodal foto sexy dan filter dari aplikasi ya tentu saja banyak pria hidung belang beraksi.
Selain itu dia nongkrong sembari menjajakan diri dengan pergi ke Club-club di mana orang-orang kaya berada. Dengan sisa uang pemberian Anton, dia memoles dirinya agar sedikit berkelas. Jadi bisa mendapatkan bayaran lebih tinggi. Buat Tari bekerja sendiri lebih bisa memilih pelanggan ketimbang bekerja dengan bantuan mucikari.
Triing
Triing
Triing
Hape yang sedang di pegang Tari bergetar dan berdering. Tari menatap layar tertera sebuah nomor yang tidak tersimpan dalam daftar telepon genggam miliknya.
"Hallo siapa ini," ucap Tari saat membuka percakapan di hapenya.
"A.. ak.. aku yang tadi chat kamu di aplikasi Jodoh Kilat," suara pria di seberang sana terdengar berat namun sedikit gugup.
"Ooh Om Hendri ya?" Tanya Tari.
"Iiy.. iy.. iya.. ja..jadi bagaimana apa kamu free? Aku booking bisa?" Hendri masih gugup. Sepertinya pria itu baru pertama kali berhubungan dengan PSK. Ya tampak masih polos lah soal per PSK-an ini.
"Iya tapi perjamnya lima ratus ribu Om dan pas kita ketemu dilarang membatalkan booking. Soalnya saya nanti rugi Om ongkos transportasi. Bagaimana apa Om setuju?" Tanya Tari ingin ketegasan.
"Apa satu jam itu terhitung dari perjalanan kamu ke hotel?" Tanya Hendri.
Tari berpikir sejenak dan tersenyum sedikit licik.
"Oh iya tentu saja Om!" Ujar Tari.
"Kalau begitu dekat tempat tinggal kamu ada hotel gak?" Tanya Hendri lagi.
"Ada," sahut Tari.
"Ya udah kita main di sana aja," putus Hendri. Tari pun menyebut nama hotel dan alamatnya. Hendri meminta Tari agar mengirimkan alamat melalui aplikasi Google map. Tentu saja Tari meminta transfer terlebih dahulu dengan minimal jam booking, satu jam lima ratus ribu rupiah. Percakapan melalui telepon pun di putus oleh Hendri.
Tari bersiap-siap, dia berdandan secentil mungkin agar bisa menarik birahi Hendri. Ya Tari dan Hendri belum pernah bertemu sebelumnya, namun Hendri bukan pelanggan pertama sejak Tari jadi PSK. Tari sudah biasa bertemu banyak pria dengan berbagai karakternya. Tapi Hendri sepertinya agak unik karena selama chat tidak minta foto yang aneh-aneh atau yang vulgar.
Tentu saja Tari lebih dulu datang ke hotel seperti yang telah di janjikan di telepon tadi. Dia tidak berani masuk, dia hanya menunggu Hendri di depan gedung hotel.
Uang yang ditransfer Hendri itu tidak termasuk sewa kamar hotel. Tari pun memilih hotel yang cukup bagus agar kencannya nyaman.
Triing
Triingg
Triing
Hape tari bergetar dan berbunyi lagi kali ini tertera nama Hendri, dia segera membukanya.
"Hallo kamu di mana Tar?" Tanya Hendri saat tahu panggilannya di terima Tari.
"Aku tepat di depan hotel Om, pakai mini dress merah," sahut Tari, seketika itu telepon pun putus.
"Sepertinya dia sudah melihat ku. Apa dia mau membatalkan pesanan apemnya ini," batin Tari.
"Tapi tidak apa yang penting aku sudah terima uangnya," Tari tersenyum simpul.
"Hai Tar," sapaan itu membuat Tari sedikit terkejut. Tampak seorang pria dengan rambut dan jenggot putih. Berdiri di belakangnya.
"Sepertinya usianya tidak setia warna rambut dan jenggotnya yang putih itu," batin Tari.
"Kamu benar-benar cantik seperti di foto profil mu Tar," pria itu mencoba menyisihkan rambut Tari yang tergerai ke belakang kuping.
"Ah Om bisa saja. Apa om mau menikmati kue apemnya sekarang?!" Goda Tari pada Hendri.
"Hmmm," Hendri menatap tari dari ujung rambut hingga ujung kakinya tanpa berkedip. Menelusuri setiap inci kulit putih Tari dengan bola matanya. Kemudian menatap wajah Tati yang proposional, cantik, di tambah polesan make up dengan warna-warna cerah menggoda.
"Kita gak ngamar nih?! Cuma kencan depan hotel nih Om?!" Tanya Tari menggugah kekaguman Hendri akan kecantikan Tari.
"Aah oh eh.. ayo kita masuk!" Ajak Hendri.
Ke duanya lalu melangkah masuk ke dalam hotel. Setelah menjumpai resepsionis Hendri mendapatkan kartu untuk membuka kunci kamar yang dia booking.
Hendri pun menggunakan kartu itu pada pintu, lalu terbukalah pintu kamar itu. Hendri kemudian meletakkan kartu di balik pintu seketika ruang kamar menjadi benderang karena lampu yang tiba-tiba menyala. Dia pergi ke kamar mandi untuk bersuci hehehe apa orang melakukan maksiat perlu bersuci. Entahlah kenapa Hendri pergi ke kamar mandi padahal belum ngapa-ngapain sama Si Tari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments