"Aku tidak mau Mah. Gak usah ngadain pesta apa-apa untuk kesembuhan ku. Apalagi mengundang para konglomerat dan geng sosialita mu itu Mah," sahut Aliando tampak tak suka dengan kelakar Mamahnya itu.
"Tapi kenapa Al? Biasanya kamu suka pesta," Anita merasa heran.
"Iya, aku suka pesta tapi tidak suka sama orang-orang yang sudah tua. Aku bisa rayakan bersama teman-teman ku saja," ujar Aliando. Tampak raut muka Anita sedih, dia ingin menunjukkan kegembiraan di depan teman-temannya juga. Selama ini teman-temannya seperti mengejeknya memiliki anak cacat. Sampai Sheila anak teman sosialitanya yang jadi pacar Aliando memutuskan hubungan. Anita ingin sekali mengundang orang-orang itu.
"Tidak apa Aliando tidak mengizinkan aku membuat pesta untuknya. Aku tetap akan lakukan, aku ingin orang-orang yang sudah meremehkan ku dan Aliando matanya terbelalak sampai keluar. Saat nanti melihat Aliando kembali gagah perkasa seperti semula," batin Anita.
Setiap hari makin terlihat kemajuan Aliando menggerakkan kakinya. Sesekali dia melepaskan tongkat untuk berjalan pendek-pendek. Seperti arahan Dokter Alan, Aliando melakukan tahapan pelan-pelan dan penambahan durasi di setiap latihan.
Hari ini Aliando mulai berjalan tanpa kruknya namun hanya di dalam kamar saja. Dia lakukan beberapa menit lamanya. Begitulah, Aliando selalu melatih kemampuannya.
"Aku sangat yakin akan bisa berjalan sesegera mungkin," Aliando berdiri di depan cermin, dalam bayangan di cermin tampak seorang lelaki muda, tampan, dan gagah. Lalu matanya berpindah ke bagian vitalnya.
"Sabar ya Junior, kalau aku sudah bisa berlari baru kamu aku ajari berdiri oke," gumamnya sendiri, kemudian dia senyam-senyum di depan cermin.
"Yang penting kemampuan berjalan ku maksimal dulu baru aku pikirkan Junior ne hehehe," gumamnya
***
Aliando kini sudah bisa berjalan seperti biasa tanpa menggunakan kruk lagi. Memang masih perlu latihan terus untuk sampai bisa menginjak pedal gas mobil lagi. Kekuatan kakinya masih terbatas sendi-sendi masih terlihat kaku saat digunakan berjalan.
Melihat keadaan Aliando yang semakin pulih memberi semangat sendiri pada Anita. Dia ingin tetap mengadakan acara syukuran meskipun di tentang oleh Aliando.
"Emmm aku kemas saja acara dalam bentuk arisan. Kebetulan juga aku belum dapat. Nanti aku minta di dapetin dulu karena mau syukuran. Aku yakin Bu Andin pasti mau," batin Anita sambil melihat Alindo yang terus mengasah kemampuan kakinya.
"Entah apa ya yang ada di kepala anak itu sekarang?! Apa dia berpikir kalau sdh sembuh mau balapan lagi?! Apa dia tau soal lemah syahwatnya itu?!" Batin Anita bertanya-tanya.
"Aaah.. sudah lah biar nanti saja aku tanyakan dengan Aliando langsung, supaya aku tidak resah lagi," ya Anita sangat khawatir dengan sembuhnya Aliando kembali ke jalanan melupakan lagi kuliahnya.
"Sekarang yang penting aku harus merencanakan acara syukuran untuk dia dulu," Anita tersenyum.
"Kenapa Mamah senyam-senyum begitu?! Mencurigakan!" Celetuk Aliando saat melihat ekspresi Anita.
"Ah enggak, Mamah cuma sangat bahagia kamu kembali pulih Al," sahut Anita. Aliando tersenyum lebar melihat Anita bahagia.
"Oya Al apa rencana kamu setelah ini?" Tanya Anita.
"Maksud Mamah?!" Aliando balik bertanya.
"Kamu pasti meneruskan kuliah sampai lulus kan?! Atau kamu mau cuti lagi?! Plis lah Al lebih perhatikan masa depan kamu. Berhentilah bermain-main dengan teman-teman mu itu," nasehat Anita.
"Mah, cukup! Jangan memenuhi isi otak ku dengan nasehat mu. Apa salahnya menikmati hidup. Masa depan ku sudah sangat jelas kan. Toh Papah sudah pasti akan mewariskan perusahaannya padaku," sahut Aliando.
"Gak sarjana juga tidak apa, di DO pun sama kampus gak masalah," tambahnya lagi.
"Aliando menjalankan perusahaan yang sudah besar itu tidak mudah nak. Papah mu bekerja dari nol tanpa lelah hingga perusahaan sebesar ini. Apa tidak ada terbertik dalam hati kamu untuk kuliah yang baik dan kelak mampu mempertahankan kerajaan bisnis Papah mu yang sudah mendunia ini," ujar Anita.
"Aku masih muda Mah, masih banyak waktu kok untuk belajar bisnis nanti sambil kerja di perusahaan Papah," Aliando tetap berkeras. Anita hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ah sebaiknya langsung ku hubungi Bu Andini saja untuk menyampaikan maksud ku tadi," batinnya. Dia pun berlalu meninggalkan Aliando yang masih asik berjalan melatih kakinya.
Tuut
Tuut
Tuut
Anita melakukan panggilan pada Bu Andini.
"Assalamualaikum Bu Andini," ujar Anita saat panggilannya terdengar di angkat oleh Bu Andini.
"Waalaikumussalam Bu Anita ada apa?" Sahut Andini dari seberang sana.
"Boleh kita bertemu? Aku ke rumah kamu?" Ucap Anita.
"Tampaknya penting sekali, datanglah aku ada aja kok di rumah," sahut andini
Anita segera memanggil Heru untuk menyiapkan mobil dan mengantarnya ke rumah Andini.
Sesampainya di rumah Andini, Anita langsung menyampaikan maksudnya.
"Bu Andini bolehkah aku narik arisan dulu. Soalnya aku mau ngadain syukuran Aliando yang sudah pulih. Dia menentang acara tersebut, jadi aku berencana acara arisan sekaligus acara syukuran gitu," ujar Anita saat sudah duduk dan bercengkrama di dalam rumah Andini.
"Apa benar Aliando sudah pulih? Bisa berjalan tanpa alat bantu lagi?" Andini seakan tidak percaya karena Aliando begitu lama tidak bisa ke mana-mana. Dia tahu dari salah satu anaknya yang juga teman Aliando.
"Iya Bu Andini. Tapi Aliando keras hati tidak mengizinkan aku merayakan kesembuhannya. Jadi ya aku akalim saja denga acara arisan kita," ucap Anita.
"Aku sih menyetujui saja tapi supaya tidak terjadi kesalahpahaman sebaiknya kita bicarakan sama teman-teman sosialita yang lain dulu bagaimana Nit?!" Tanya Andini.
"Iya ya Bu Andin," sahut Anita.
Andini melakukan chat grup menyampaikan maksud Anita. Hasilnya semua anggota setuju. Rata-rata mereka semua penasaran akan kebenaran Aliando bisa berjalan lagi.
"Jadi malam Minggu depan arisan di rumah kamu Nit," putus Andini.
Anita menuliskan di grup undangan untuk anggota dan seluruh keluarga inti mereka. Anita ingin anak-anak teman-temannya yang juga teman Aliando itu hadir semua.
"Terutama si Sheila harus hadir. Gedek banget aku sama anak itu usai memutuskan Aliando," batin Anita. Ya semenjak Alindo putus dengan Sheila tidak pernah sekalipun gadis itu menengok Aliando walau sebagai teman.
***
Hari ini semua orang di rumah Anton sibuk menyiapkan acara arisan yang akan di adakan Nyonya rumah ini nanti malam ini.
Begitu pun Mamat dan Yuli super sibuk sesuai profesional mereka masing-masing. Yuli bagian konsumsi dan Mamat sibuk mengatur ruangan.
"Ada apa nih?!" Tanya Aliando yang baru ke luar kamarnya dan melihat ke hebohan para asisten rumah tangganya.
"Nanti malam Ibu mau ada arisan Den," sahut Mamat.
"Arisan?! Kok kayak mendadak?!" Tanya Aliando.
"Ya mendadak lah, kan arisan itu kudu di kocok nah yang keluar siapa kan gak tau toh. Kebetulan kali nama Ibu yang keluar jadi siap gak siap toh harus di siap-siapin," jelas Mamat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
jumirah slavina
s'Mamat paham bgt soal arisan🤣🤣🤣
2023-08-27
3