Hendri keluar menyembulkan kepala dari pintu kamar mandi, memainkan jari telunjuknya ke depan ke belakang seolah meminta Tari masuk. Tari bergerak pelan menuju kamar mandi. Setelah mereka bersama dalam kamar mandi itu terlihat banyak sekali kelopak bunga mawar yang sengaja di tabur hingga ke dalam bathtub. Membuat ekspresi terkejut pada wajah Tari saat melihatnya. Dalam kamar mandi itu juga sudah on kamera.
"Tari buka pakaian kami satu persatu secara perlahan sebelu masuk bathtub itu," perintah Hendri. Tari seakan paham apa yang di minta Hendri dia berjalan eksotis sambil melepaskan satu persatu kain yang melekat di tubuhnya. Dia tidak mengizinkan tubuhnya polos begitu saja d kamera, bagian inti tubuhnya dia tutup dengan tangan sambil melangkah lembut masuk ke dalam bathtub yang penuh kelopak mawar merah.
Sementara di sudut kamar mandi Hendri dengan kamera lainnya mengambil foto-foto Tari dari masuk kamar mandi hingga sekarang berada dalam bathtub.
"Om, pendokumentasian ini belum ada dalam pembicaraan kita lewat chat tadi sore loh," ucap Tari sembari menyabuni tubuhnya dalam bathtub.
"Kenapa? Apa kamu mau minta bayaran lain?" Tanya Hendri sambil terus mengabadikan gaya seksi Tari di bathtub.
"Ya sih tambahan dikit lah Om. Tau Om Hendri mau bikin film gini kan aku bisa naikin tarif hehehe.. Filmnya tayang di mana nanti Om?" Pertanyaan konyol itu meluncur begitu saja dari bibir Tari yang sengaja di seksi seksi in.
"Hahaha.. ini hanya untuk pribadi kok tidak di tangan di mana-mana Tar," ujar Hendri.
"Yang bener?! Om gak jual dengan tv luar kan?! Biasanya tv luar banyak film-film blue nya," ucap Tari.
"Iya enggak lah, ini untuk kepuasan pribadi saja," kata Hendri.
"Apanya yang puas?! Om belum mencicipi apemnya," goda Tari.
"Tidak perlu itu," sahut Hendri.
"Aneh juga Om ini. Kepuasan apa hanya dengan memideo serta memoto tubuhku saja," batin Tari.
"Oke, tapi nanti tambahin dikit ya Om?! Soalnya tubuh ku Om abadikan dalam kamera. Kalau cuma di pakai kan sekali saja ngerasai nah kalau di abadikan gitu mesti ada royalti hehehe.." ujar Tari lagi.
"Iya nanti aku tambahin lima ratus ribu lagi lah," sahut Hendri.
"Kok cuma lima ratus?! Gimana kalau satu juta hehehe,," Tari mencoba menaikkan harga dirinya.
"Oke! Uang bukan masalah yang penting kamu mau aku suruh-suruh, gimana?" Tanya Hendri.
"Deal, tapi om tranfer dulu," Hendri menghentikan kegiatan memotretnya sebentar untuk mentransfer uang pada Tari.
Tari tersenyum senang ketika uang yang di transfer Hendri masuk ke rekeningnya.
"Keluarlah dari bathtub tapi jangan tutupi inti tubuhmu ya!" Perintah Hendri.
Tari melakukan yang di pinta Hendri.
"Keringkan tubuh mu dan pakai kembali pakaian kamu! Tiduran di atas ranjang itu dengan pose-pose yang menggairahkan," perintah Hendri lagi.
Kembali tari melakukan perintah Hendri dengan profesional. Hendri pun mengambil foto-foto dirinya yang sensasional. Siapa pun pria yang melihat pasti tergoda. Tari tahu betul bagaimana berpose yang bisa menaikkan libido lawan jenisnya.
"Om apa betul tidak mau ampem? Celana Om sudah tambah sesak itu hehehe.." goda Tari mengerlingkan mata sembari mendekati Hendri.
Sebenarnya tari tidak tahan melihat barang Om Hendri dari luar celana pantalonnya begitu. Hendri bergeming saat barang di elus-elus tari dari luar celana. Sementara kamera masih on play. Tari kembali membuka pakaiannya dan menyisakan pakai dalam saja. Mendorong tubuh Om Hendri ke atas tempat tidur hotel. Perlahan duduk tepat di atas barang Hendri yang masih tertutup pantalon. Tari merasakan sebuah benda keras d bagian selangkangannya. Dia sedikit menggoyangkan pinggul, namun Hendri bergeming meski di bawah sana sudah begitu sesaknya.
"Kenapa Om Hendri diam saja?! Padahal barangnya sudah sekeras pentungan pos kamling rasanya," batin Tari.
Dengan sabar Tari terus menggoda Hendri agar jebol pertahanannya sebagai cool man. Terus saja Tari memberikan serangan-serangan nikmat dan sedikit membuat Hendri agak menggelinjang.
Tari membuka kemeja Hendri perlahan dan mengelus-elus dada bidangnya. Kemudian mengelus perut Hendri yang sedikit buncit itu.
Kini Tari mulai membuka ikat pinggang pantalon Hendri perlahan sembari menciumi perutnya. Kemudian menarik perlahan ke bawah pinggang hingga ujung kaki. Terkuak lah barang kebanggaan Hendri. Tari sendiri sudah begitu gatal ingin menikmati barang Hendri segera melepaskan pakaian dalamnya hingga kini tubuhnya polos tan sehelai benang pun. Saat tangan tari membimbing barang Hendri, Hendri segera bangkit. Tubuh tari pun terjengkang hingga terlentang di atas tempat tidur hotel.
"Sudah cukup Tari, diam kamu di situ! Jangan coba menggoda ku dan menodai aku!" Hendri setengah berteriak. Hendri memakai semua pakaian yang tadi di lepas oleh Tari tadi.
"Lah kan memang tugas ku menggoda Om?! Kok gak mau apem?!" Tanya Tari heran, dia pun memunguti pakaiannya yang berserak di lantai kamar hotel. Kemudian memakainya satu per satu.
"Kenapa Om tidak memakai diri ku tapi hanya merekam dan membuat video aktivitas tadi?!" Tanya Tari lagi.
"Sudah ku bilang kepuasan ku terhadap pelacur seperti kamu ya cuma sebatas itu saja. Mengabadikan tubuh-tubuh indah wanita murahan seperti kamu ini!" Tari tertunduk sedih mendengar ucapan Hendri.
"Eeh.. maaf Tar, aku… gak bermaksud merendahkan kamu," ucap Hendri lagi.
"Gak apa kok Om, aku memang pantas di kata-katain begitu," ujar Tari tersenyum pahit.
"Mungkin Om Hendri ini sakit jiwa atau apa, sehingga tidak suka apem ku," batin Tari.
Ya Hendri seorang pelanggan yang aneh bagi Tari. Sebelumnya tari tidak pernah menemui pelanggan yang hanya membutuhkan tubuhnya untuk objek foto dan video saja. Sedikit pun Hendri tidak menyentuh bagian inti tubuhnya. Tapi Tari merasa senang karena tidak perlu bekerja terlalu keras malam ini. Setelah melakukan kegiatan pengambilan video dan foto mereka berdua meninggalkan hotel. Hendri menaiki mobilnya pergi entah ke mana bersama hasil jepretannya itu. Sedangkan Tari kembali mencari mangsa untuk melepaskan libidonya terhadap Hendri tadi yang tertahan. Pelanggannya yang ke dua malam ini adalah lelaki normal yang langsung on melihat tubuh indah miliknya. Dapat lima ratus ribu lagi dia dari lelaki yang menidurinya malam ini.
"Woow dalam semalam aku dapat dua juta. Bisa beli hape baru yang canggih lah seminggu ke depan kalau rezeki lancar gini terus," ujar Tari dalam hati sembari melukis senyum di bibir merahnya.
Begitulah setiap malam tari melayani satu sampai dua orang pelanggan kue apem miliknya.
Dari hasil menjajakan dirinya dalam seminggu, seperti yang dia harapkan, dia sudah mampu membeli hape denga daya tampung lebih besar. Hingga bisa mengunduh banyak aplikasi dating untuk memperlancar bisnisnya seperti yang sudah-sudah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments