"Tidak bisa Mah! Biarkan saja dia rasakan! Di penjara dalam kamar itu!" Anton berbicara keras pada Anita istrinya.
"Tapi dia anak kita satu-satunya, tolong jangan papa renggut kebahagiaan hidupnya. Lihat keadaannya yang berdiri saja sudah susah. Papah ingat kita tidak akan bisa punya keturunan lagi. Dia lah Pah keturunan terakhir Anton Wiryawan," Anita mengingatkan Anton tentang penderitaan putra mereka pasca kecelakaan itu.
"Mah, kamu jangan selalu mengiyakan kan saja kemauan putra kita itu. Apa kamu mau nanti dia malah tambah celaka atau bahkan mati lebih cepat dari kita!? Akibat hobi ugal-ugalan nya itu!?" Tegas Anton.
Sementara dalam kamarnya Aliando sibuk menelepon Roy. Dia tidak bisa tidur.
"Gila Roy," ucar Aliando saat panggilan suaranya diangkat Aliando.
"Lu yang gila! Ini sudah jam berapa!? Gak tidur lu Al?" Roy yang sudah lelah akibat semalaman di luar rumah hingga dini hari baru pulang masih mengantuk.
"Aku di kurung Papah ku di kamar. Tampaknya kali ini sanksi dari dia tidak main-main Roy. Aku bakal gak bisa lagi nongkrong sama kalian. Hiks hiks hiks," terdengar suara Aliando yang sedih sambil terisak.
"Heh apa ini seorang Aliando menangis," batin Roy sedikit terkejut mendengar suara Aliando. Ingin mengejek tapi kasian gak di ejek tapi mulut rasanya gatal.
"Cieee beneran jadi anak perawan yang nunggu di lamar dong lu Al, hahaha," ejek Roy.
"Sialan lu Roy!" Rutuk Aliando.
"Hahaha, terus apa yang harus aku buat agar Papah kamu bisa membebaskan kamu Al? Mau bilang apa juga ke Papah kamu, Papah kamu pasti gak percaya kan?" Ucap Roy yang juga bingung bagaimana caranya bisa menolong Aliando.
Aliando pun bingung harus bagaimana, yang jelas hari-hari ke depan pasti sangat membosankan. Tinggal di rumah dalam kamar yang hiburannya cuma hape dan televisi. Bak pesakitan dalam bui, hanya beraktivitas makan dan mandi. Sungguh sedih sekali.
"Entahlah Roy, ku rasa pasti sangat membosankan sekali nanti. Setiap hari hanya dalam kamar. Paling sesekali pergi ke rumah sakit sesuai jadwal terapi ku nanti," terdengar suara lirih sedih Aliando.
Sementara di kamar tidur Anto dan Anita masih belum tidur juga. Anita masih mencoba membujuk suaminya itu agar melunakkan hati pada Aliando. Agar Anton sedikit melonggarkan hukuman Aliando.
"Anak kita masih sangat muda Pah, kasihan kalau di kurung di kamar seperti itu," ujar Anita
"Terus kita biarkan dia ugal-ugalan lagi sama teman-temannya?!" Tanya Anton.
"Ya enggak Pah, maksud ku jangan kunci di kamar. Tidak kita bebaskan keluar tanpa pengawasan gitu. Kalau dia keluar kota suruh saja Mamat menemani," saran Anita.
"Mamat itu setali tiga uang sama Aliando!" Sahut Anton.
"Kalau enggak kita cari security baru khusus mengawasi apa yang di lakukan Aliando," ujar Anita lagi.
"Tidak! Kita biarkan dia merasakan di kunci dalam kamarnya dua tiga hari ke depan ini!" Kata Anton.
"Hhmm.." Anita hanya mampu menghela nafas saja mendengar keputusan suaminya itu.
"Menyedihkan sekali hidup ku. Sudah lumpuh dan impoten di penjara juga seumur hidup dalam kamar ini. Dasar orang tua kolot!" Aliando berteriak sendiri dalam kamarnya.
Begitulah dalam seminggu ini Aliando bertingkah seperti orang gila dalam kamar sering berteriak dan menghancurkan barang-barang dalam kamarnya sendiri.
"Kalau Papah masih tidak mengeluarkan ku dari penjara kamar ini. Aku pastikan, aku akan gila beneran!" Rutuk Aliando dalam hati sambil melemparkan kursi kecil terbuat dari kayu jati asli ke tembok.
"Sudah berhari-hari di kurung tuan ada saja benda pasti rusak di lempar sama Den Al," ucap Tari pada Mamat.
Malam harinya saat Anton menerima laporan dari Mamat dan Tari tentang keseharian Aliando, akhirnya Anton membebaskan Aliando.
"Baiklah besok tidak usah lagi kunci pintu kamarnya biarkan dia hendak pergi ke mana pun dia suka. Aku sudah dapat sekuriti yang akan mengawasi seluruh kegiatan Aliando," Ujar Anton.
"Cepat panggil anak itu ke mari!" Perintah Anton pada Mamat agar membantu Aliando ke tempat mereka sedang makan sekarang.
"Den, keluarlah tuan dan nyonya menunggu Den Al untuk makan bersama," ujar Mamat membuka pintu kamar dan memberitahukan kalau Anton dan Anita mau bicara dengan Aliando.
"Kamu masih waras kan Al?!" Ujar Anton memastikan putranya itu baik-baik saja.
"Menurut Papah apa aku bisa waras di kurung berhari-hari?!" Balas Aliando.
"Justru itu Papah kurung kmu biar kamu waras!! Bukan kah perbuatan mu selama ini yang gila?! Ugal-ugalan hingga mencelakai diri sendiri begitu!" Bentak Anton.
"Baik aku akan hentikan kurungan kamu! Dengan syarat kuliah yang benar fokus dengan kesembuhan kamu! Bagaimana? Kalau kamu tidak setuju Papah lebih senang punya anak gila!!" Anton sudah tampak kesal dengan Aliando.
"Dari pada aku terkurung seumur hidup lebih baik aku turuti saja syarat dari Papah," batin Aliando.
"Baiklah Pah deal!" Ucap Aliando.
Keesokan harinya Aliando melakukan aktivitas menuruti arahan Anton, yah setidaknya bisa bebas dan tidak tertekan di rumah sendirian. Aliando kuliah dan ke rumah sakit di antar oleh sekuriti yang khusus di sewa untuk menjaga dia agar tidak menyeleweng dari kesepakatan yang sudah di buat Aliando dan Anton.
Setelah berhari-hari melakukan aktivitas yang membosankan bagi Aliando. Dia berniat kabur dari pengawasan sang sekuriti bayaran. Dia menelepon Roy agar membawanya kabur pergi nongkrong dengan gengnya ke Cangkir Cofie.
"Pak Min, aku lupa bawa pulpen nih! Tolong belikan depan kampus sebelah kiri ada market. Nih uangnya!" Ujar Aliando.
Kesempatan ini di gunakan Roy untuk membawa Aliando pergi ke tempat yang sudah di sepakati saat di telepon tadi. Mobil Roy melaju di jalan raya, deru suara mobil bersaing dengan suara tawa mereka yang berhasil mengibuli sang sekuriti.
"Hahaha begitu gampang mengibuli Pak Min! Zaman canggih gini mana ada kuliah pakai pulpen-pulpen lagi. Semua sudah pakai benda canggih," Aliando menggoyangkan telepon pintarnya pada Roy kembali mereka berdua terbahak-bahak.
Sampai di Cangkir Cofie mereka pun mengobrol dan membahas berbagai hal. Tidak lupa merencanakan balapan lagi nanti malam.
"Bagaimana kmu bisa ikut gak Bos?" Ujar seorang dari mereka bertanya pada Aliando.
"Pokoknya pasti bisa," Aliando memastikan.
"Oke yaa sampai nanti malam," Aliando pun bersiap membayar, dia menyerahkan kartu pada pelayan Cangkir Cofie.
"Maaf mas gak bisa di pakai!" Ujar pelayan, Aliando menyerahkan lagi kartu yang lain. Tapi semua kartunya tidak ada yang bisa digunakan.
"Apa semua kartu debit ini rusak?!" Gumam Aliando. Lalu mengambil hape dan mencoba mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening yang di sampaikan pelayan tapi juga tidak bisa.
Rupanya ancaman Anton Wiryawan, CEO Green Palm Company, salah satu perusahaan real estate nomor lima terbesar di dunia, bukan isapan jempol belaka. Dia telah menarik semua fasilitas banking untuk Aliando. Kendaraan pun hanya untuk kuliah dan ke rumah sakit saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments