"Emmm.. gak apa kok kalau kamu sudah punya pacar juga Sheila. Tak perlu sungkan, soal perasaan waktu yang bisa menyembuhkan," Aliando bersikap bijak.
"Yy.. yyaa.. untuk saat ini aku belum ada rencana pacaran sih," sahut Sheila yang hanya di sambut senyum tipis Aliando.
"Aku sih masih menyukaimu Sheila," ucap Aliando.
"Apa kamu masih punya perasaan dengan ku?" Aliando melanjutkan dengan pertanyaan.
"Eenngghh…" Sheila ragu untuk menjawab.
"Tampaknya aku sudah tidak ada di hati Sheila," batin Aliando setelah melihat reaksi Sheila seperti itu.
"Hmm sudah gak ada ya?! Well, gak apa kok Sheil," Aliando menepuk pundak Sheila kemudian berlalu. Sheila menatap punggung Aliando yang melangkah pelan darinya.
"Maafkan aku Al," batin Sheila.
Aliando menemui tamu yang lain. Dalam perjamuan arisan itu juga hadir beberapa teman Aliando dari AMV Mobil Club.
***
Beberapa hari sudah berlalu semenjak peristiwa Tari secara tidak sengaja bertemu Anton. Perjanjian antara Anton dan Andika itu pun rupanya sudah berjalan. Andika tidak mencari dan mengejar Tari lagi karena uang yang diberikan Anton masih banyak. Entah nanti kalau uang itu habis dia pakai minum dan berjudi. Tari sendiri dengan uang pemberian Anton dia menyewa tempat tinggal, ya tentu tidak lama. Dia harus mencoba mencari pekerjaan apa saja asal bisa melanjutkan kehidupannya.
"Besok aku akan coba cari kerja saja. Uang yang di berikan Om Anton tinggal sedikit. Mungkin hanya bisa bertahan satu bulan," batinnya.
Keesokan harinya Tari sudah berpakaian rapi bersiap-siap mencari kerja. Dia memutuskan akan melamar menjadi pelayan di warung-warung.
"Kalau aku keterima jadi pelayan warung setidaknya lumayanlah mendapatkan makan sehari-hari dan tempat tinggal gratis," Tari tersenyum simpul.
Di tangannya masih tersimpan sedikit uang pemberian Anton, dia gunakan untuk naik angkot ke pusat kota. Turun dari angkot Tari mulai menyinggahi beberapa warung, namun sangat sulit mencari pekerjaan, apa lagi dia tidak punya surat-surat diri. Kartu Tanda Penduduk pun kini masih di tangan suaminya. Tari enggan mencari suaminya untuk meminta Kartu Tanda Penduduk miliknya. Menemui Andika sama saja dengan kembali ke mulut harimau.
"Assalamualaikum," ucap Tari menyapa pemilik warung yang terakhir dia datangi hari ini.
"Waalaikumussalam, ada apa Neng? Mak sudah mau tutup nih," seorang Ibu yang sedang sibuk membenahi dagangannya menyahut salam Tari.
"Eemm.. saya mau bantu-bantu Ibu boleh?" Tanya Tari.
"Maksud kamu bantu-bantu apa Neng?" Tanya Ibu pemilik warung itu lagi.
"Saya mau kerja Bu," sahut Tari.
"Wah saya gak sanggup bayar karyawan Neng. Kamu masih muda dan cantik gak pantes juga jadi pelayan warung saya yang buruk ini," tambah Ibu pemilik warung sambil menatap Tari dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tari menunduk, hendak berlalu.
"Tunggu Neng, ambilah ini," Ibu pemilik warung menyodorkan kantong plastik hitam berisi bungkusan nasi dan lauk pauknya.
"Enggak usah Bu," tolak Tari.
"Gak apa-apa, ambilah," akhirnya Tari menerima bungkusan makanan yang di berikan ibu pemilik warung itu.
"Warung sederhana saja tidak mau menerima aku kerja, apalagi rumah makan besar lainnya. Surat-menyurat penting yang aku punya semua diambil Mas Andika," keluh Tari dengan gontai berjalan pulang ke kontrakannya.
"Bener kata orang-orang, susah cari kerja gak punya ijazah," batinnya lagi.
"Mau kerja halal aja susah banget gini," gerutu Tari sesampainya dia di kontrakannya yang kecil.
Dia membuka bungkusan makanan yang tadi diberikan pemilik warung sederhana yang disinggahinya. Dengan lahap Tari memakan yang ada dalam bungkusan itu. Dia tampak lapar karena seharian ini dirinya sibuk mencari pekerjaan. Niat hatinya ingin mencari pekerjaan halal tidak kesampaian. Semua tempat yang didatanginya tidak membutuhkan tenaga dirinya. Bahkan terakhir dia di tolak karena berpenampilan menarik.
"Menyedihkan sekali nasib ku ini. Dandan sudah cantik dengan niat supaya diterima kerja eeh malah penampilan yang rapi begini ditolak jadi karyawan warung sederhana. Ke mana lagi aku harus cari kerja? Mau kerja sendiri kerja apa? Gak punya modal," batinnya.
Tari yang kebingungan akan nasib dirinya ke depan nanti bagaimana. Uang yang di berikan Anton sudah semakin menipis. Harus ke mana dia meminta uang untuk bayar kontrakan, makan sehari-hari.
"Aahh sial aku lupa Om yang baik hati itu alamat atau kantornya di mana? Kalau tidak mungkin aku bisa minta pekerjaan sama dia. Dia sangat baik mungkin saja kan dia mau menolongku dan memberikan pekerjaan di perusahaannya. Om itu tampaknya tajir melintir," batinnya lagi. Ya bukannya Tari materialistis, tapi sekarang dia benar-benar butuh uang untuk melanjutkan hidupnya.
"Hhmmm kayaknya besok aku pergi ke rumah makan mewah itu lagi aja deh. Siapa tau Om itu makan siang di sana lagi. Nasib baik lah kalau aku bisa bertemu dia," gumam Tari sambil membereskan bungkusan makanan yang sudah kosong.
"Tapi bagaimana kalau malah ketemu mas Andika ya? Aah kenapa pula mesti takut toh dia sudah dapat banyak uang dan menandatangani perjanjian dengan Om itu kan. Pasti mas Andika gak berani macam-macam lagi sama aku," kembali Tari bergumam sendiri.
***
Keesokan harinya dengan berpakaian rapi seperti kemarin, Tari pergi ke rumah makan mewah di mana dia dan Anton bertemu untuk pertama kalinya. Besar harapan tari bisa berjumpa kembali dengan pria setengah baya yang sudah berbaik hati menolong ya waktu itu.
Tari mengamati deretan mobil yang ada di parkiran rumah makan mewah itu.
"Aku inget mobilnya tapi lupa platnya berapa. Hmmm bagaimana kalau Om itu tidak menggunakan mobil waktu itu? Duuuh bagaimana caranya agar aku bisa tau dia ada di dalam rumah makan itu atau tidak ya siang ini?!" Tari sedikit gusar dan ragu.
Tari pun memberanikan diri hendak memasuki rumah makan mewah itu.
"Eh Neng! Apa yang kamu cari?! Saya lihat celingak-celinguk aja dari tadi?!" Sekuriti yang sempat beradu mulut waktu itu dengan Andika menegur Tari.
Mungkin dia curiga melihat tingkah laku Tari yang sangat aneh sejak di parkiran tadi.
"Eemm engh anu rumah makan ini membutuhkan pelayan tidak ya Pak?! Saya butuh pekerjaan Pak," Tari sedikit melas dengan harapan sekuriti mengizinkan dirinya masuk ke dalam rumah makan agar bisa melihat pengunjung di sana. Tari sadar diri manalah mungkin dia akan di terima jadi pelayan di rumah makan mewah itu, warung sederhana saja menolak dirinya. Secara dia jug tidak mempunyai surat-surat data dirinya.
"Sepertinya tidak ada lowongan sih Neng," sahut Sekuriti.
"Eemm apa saya boleh masuk dan menanyakan ke dalam Pak?! Saya betul-betul butuh pekerjaan. Kalau tidak bulan depan saya bisa jadi gelandangan Pak!" Ujar Tari.
Sekuriti itu mengamati Tari dari ujung rambut hingga ujung kaki. Penampilan Tari yang sangat menarik menggunakan stelan kemeja putih rok span hitam dan sepatu pantofel bak anak SMK magang membuat dia percaya.
"Kamu memang bener-bener mau cari kerja ya?!" Kata Sekuriti.
"Iya Pak," sahut Tari.
Sepertinya Tari bakalan di izinkan masuk ke dalam rumah makan mewah itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments