"Eeeaaggghh," erang Aliando lirih setelah sekian jam dia tidak sadarkan diri.
"Bang Mamat! Lihat Den Al sepertinya sudah siuman! Abang cepat panggil suster jaga!" Yuli tampak panik, khawatir Aliando banyak gerak malah bisa memperparah kondisinya.
"Iy.. iy.. iyaa.. Yul! Kamu awasi terus Den Al! Sekalian hubungi Bang Heru!" Yuli mengacungkan jempol sebelum Mamat menutup pintu kamar perawatan.
"Suster pasien Aliando sudah siuman. Cepat Sus diliatin," ujar Mamat.
"Iya pak sabar, jangan panik," sahut Suster jaga. Segera dia mempersiapkan alat pengecekkan kondisi badan. Tidak lupa menyuruh rekannya untuk menelepon dokter yang menangani Alindo.
Setelah siap, Mamat mendahului suster menuju kamar Aliando di rawat. Terlihat Yuli sedang menelepon Heru dekat tempat tidur Aliando yang sudah membuka mata namun belum berkata apa-apa cuma mengerang sekali lalu diam.
Suster melakukan pemeriksaan dengan alat yang dia bawa kemudian mencatatnya.
"Semua normal saja, tapi untuk hasil pemeriksaan yang maksimalnya tunggu dokter datang," ujar suster itu pada Yuli dan Mamat. Mereka berdua hanya manggut-manggut. Yuli sambil memegang hape yang menempel di telinganya.
"Bagaimana? Apa itu suara suster yang memeriksa Den Aliando?!" Tanya Heru dari seberang sana.
"Iya Bang Her," sahut Yuli.
"Oke, aku dan Ibu segera ke rumah sakit!" Sahut Heru, lalu menutup telepon secara sepihak.
"Bu ada kabar dari rumah sakit Den Aliando sudah siuman," ujar Heru pada Anita.
"Siapkan mobil kita ke rumah sakit Her!" Desak Anita.
"Baik Bu," Heru meninggalkan Anita untuk menyediakan mobilnya.
Sesampainya di rumah sakit kebetulan dokter sudah datang terlebih dahulu dari Heru dan Anita untuk memeriksa Alindo. Cukup lama mereka menunggu, akhirnya dokter mengajak Anita ke ruangannya.
"Bu Anita, Aliando perlu pemeriksaan lanjutan Bu. Jadi harap bersabar atas hasilnya. Sementara masih rawat inap dulu ya Bu," ujar Dokter.
"Iya Dok, kami percayakan kesembuhan Aliando pada Dokter," ucap Anita pasrah.
***
Setelah hampir dua Minggu melakukan pemeriksaan lanjutan hari ini Anita dan Anton mendapati Dokter yang merawat Aliando.
Dokter menjelaskan secara panjang lebar apa yang dialami Aliando. Namun tidak ada satu pun yang bisa ditangkap dengan baik, kecuali kesimpulan Dokter itu.
"Jadi Aliando dapat di katakan mengalami trauma yang menyebabkan kelumpuhan sementara bagian bawah tubuhnya," perkataan Dokter itu saja yang terngiang di telinga ke dua orang tua Aliando. Dokter pun tidak mampu menjelaskan kelumpuhan sementara itu sampai kapan.
"Sekarang Bapak dan Ibu bisa bicara dengan Alindo untuk lebih memulihkan kesadarannya dahulu," tambah Dokter lagi.
"Apa ingatannya terganggu Dok?* Tanya Anton.
"Tidak ada indikasi kesana. Hanya perlu lebih meningkatkan daya ingatnya dulu sebelum kejadian," jawab Dokter.
"Ooh baik Dok," ujar Anton, sementara Anita tidak bisa berkata apa-apa. Hanya terlihat lemas dan terisak di bahu Anton.
Mereka berdua menemui Aliando, Yuli, dan Mamat di kamar perawatan. Yuli tengah menyuapi Aliando. Terlihat Aliando tampak lahap menyantap makan siangnya.
"Pah, Mah, apa kata Dokter?" Tanya Alindo begitu melihat kedatangan orang tuanya.
"Tidak mengapa, kamu hanya butuh istirahat lebih lama di sini Al. Untuk mengetahui lebih jauh kesehatan kamu," ujar Anton pada Putra semata wayangnya itu.
"Tapi aku tidak bisa menggerakkan kaki ku Pah, betul gak ada masalah?!" Tanya Aliando lagi.
"Iya Nak untuk sementara kamu belum boleh jalan," Anita tidak tahan dan mulai sesunggukan.
"Katakan yang sebenarnya Mah! Aku lumpuhkan!?" Teriak Al.
Anita hanya menunduk. Anton tak berani bicara. Kedua orang tuanya setengah baya itu hanya diam membisu. Tidak sanggup untuk mengatakan bahwa tidak hanya lumpuh kaki, tapi Aliando juga bakal tidak bisa mendapatkan keturunan. Bagi Aliando itu sudah sebuah jawaban yang mengiyakan pertanyaannya.
"Tidak! Aku tidak mau lumpuh!" Aliando berteriak dan memukul nampan yang di pegang Yuli sehingga makanan berantakan di lantai. Beruntung tidak terkena muka Yuli. Mamat dengan sigap membekap tubuh Aliando.
"Tenanglah Den, tenang.. cuma sementara! Besok pasti sembuh!" Teriak Mamat tidak kalah keras dari suara Aliando.
Aliando pun lemas dan menangis. Melihat itu barulah Anita mendekati putranya itu dan merangkul pundaknya. Dia ikut menangis bersama Aliando.
"Papah akan cari rumah sakit dan dokter terbaik, kalau perlu sampai ke luar negeri," ujar Anton. Ya sebagai orang kaya tentu saja bebas mau berobat kemana saja, ada duit. Perkataan Anton masih tidak mampu menghentikan Isak tangis istri dan putranya itu.
Kerena kelelahan dan pengaruh obat yang tadi sempat di minumnya Aliando pun tertidur.
Sudah hampir satu bulan berada di kamar perawatan yang meski pun mewah Aliando merasa bosan juga. Dia ingin berjalan-jalan keluar, ke taman yang ada di belakang rumah sakit itu. Mamat membantunya naik ke atas kursi roda dari tempat tidur. Mamat yang bertubuh besar bak Rambo atau layaknya bodyguard luar negeri tentu saja dengan mudah menggendong tubuh atletis Aliando. Mamat mendorong kursi roda sesuai arahan Aliando. Dengan gesit Mamat menyingkir saat seorang wanita muda setengah berlari di koridor rumah sakit yang tampak lengang.
"Maaf!" Seru wanita itu memasuki toilet wanita. Tampak seorang pria berbadan besar tak kalah dari Mamat, yang sekarang berpapasan dengan mereka. Namun pria itu tidak berlari seperti wanita tadi.
"Maaf apa kalian berdua melihat wanita lewat sini?" Tanya pria kekar itu.
"Tidak ada! Tidak seorang pun lewat sini!" Sahut Aliando cepat. Dia merasa wanita tadi takut dengan pria di depannya ini.
"Hey, menyingkir lah kami mau lewat!" Ujar Aliando lagi. Pria itu menatap ke depan memastikan tidak ada wanita yang dia cari lalu berbalik badan. Meninggalkan Mamat dan Aliando di atas kursi rodanya.
Tidak lama wanita yang tadi masuk ke toilet tergesa-gesa keluar. Dia mendekati Mamat dan Aliando. Mengulurkan tangan bergantian pada Mamat dan Aliando.
"Tari Septianti!" Ujar wanita itu memperkenalkan diri.
"Mamat," sahut Mamat yang langsung merespon cepat di salami wanita cantik.
"Aliando, kenapa kamu lari dari pria besar tadi?" Tanya Aliando penasaran.
"Emmm panjang ceritanya. Tapi terimakasih ya sudah menolong aku dari pria tadi," ucap Tari.
"Apa pria itu developer?" Tanya Mamat sok tau membuat seulas senyum pada Aliando dan Tari yang sama-sama sedih menghadapi kenyataan pahit hidup mereka masing-masing.
"Hus! Kamu ini Mat! Bukan developer. Tapi debt kolektor," ujar Aliando.
"Lah iya itu maksud saya," ujar Mamat.
"Bukan ke duanya, tapi dia suami saya," terang wanita itu.
"Suami," Aliando dan Mamat saling pandang dan bergumam.
"Hehehe.. kalian gak salah kok! Aku yang salah. Dia itu adalah suami yang ingin menjual aku. Aku sudah pernah dia jual ke rumah bordil di Jakarta. Karena tidak tahan kerasnya kehidupan Jakarta bagi dunia prostitusi yang aku jalani, aku pun lari luntang Lantung menjual diri demi bertahan hidup. Terkumpul uang aku kembali ke sini. suami ku mengetahui keberadaan ku. Dia ingin kembali menjual ku ke Taiwan kali ini. Dalam perjalanan ke bandara aku berpura-pura sakit, lalu dia bawa aku ke rumah sakit ini. Terus aku kabur deh kaya yang kalian lihat barusan tadi," jelas Tari lagi.
"Oooh," Aliando merasa iba dengan wanita yang berdiri di samping kursi rodanya itu.
"Eemmm kamu sakit apa?" Tanya Tari.
"Ooh ini saya kecelakaan tunggal," ujar Aliando sembari menatap kakinya.
"Kasian sekali," ucap Tari lirih. Dia lupa kalau dirinya jauh lebih kasian. Tidak tau harus tinggal di mana setelah kabur dari suaminya yang jahat itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Alfan
aku bantu like dan subscribe ya kak karya nya, semoga kakak suka 🤗🤩
jangan lupa untuk saling dukung ya
2023-10-07
3
jumirah slavina
bau.. bau.. jodoh Al neh datang🤭🤔
2023-07-18
2