Aliando terus semangat latihan untuk ke kesembuhan dirinya.
"Aku harus bisa lepas dari kursi roda ini," batin Aliando. Dia sudah sangat tidak betah terkungkung di atas kursi roda. Sepulang dari rumah sakit juga dia berlatih sendiri di rumah. Fokusnya latihan yang di lakukan Aliando tanpa gangguan dari teman-temannya membuat kemampuannya maju cukup pesat. Saat ini dia mulai mencoba turun dari tempat tidur dan memindahkan tubuhnya sendiri ke atas kursi roda.
"Yes! Berhasil!" Teriaknya tertahan.
Kini tampak tubuh Aliando duduk di atas kursi roda tanpa bantuan Mamat. Aliando tampak tersenyum sumringah dengan kemampuannya itu.
"Ku rasa tidak lama lagi aku akan mampu berdiri sendiri dengan kokoh," batinnya.
Aliando memandang bagian tubuhnya yang lain, bagian vital tubuhnya.
"Setelah aku kuat berdiri di atas kaki ku ini sendiri nanti giliran kamu ku latih biar bisa berdiri sendiri juga hehehe," kekehnya.
Ya seperti yang di ketahui sebelumnya, Aliando memang mengalami kelumpuhan bagian bawah tubuh termasuk lemah syahwat akibat kecelakaan dahsyat itu.
Beberapa bulan ini dia sudah berlatih keras agar kemampuan berjalannya bisa pulih kembali seperti semula. Aliando mendorong sendiri kursi rodanya ke arah pintu kamar. Dia membuka pintu kamarnya sendiri tanpa bantuan Mamat. Ya selama ini dia selalu mengandalkan Mamat untuk mobilisasi dirinya. Aliando menuju ruang makan, dia ingin makan malam bersama orang tuanya.
"Den Al?!" Mamat terperangah melihat Aliando sudah berada di samping meja makan.
"Bisa pindah ke kursi roda sendiri?!" Tanya Mamat masih terbengong-bengong.
"Iya Mat," jawab Aliando singkat dengan senyum.memgembang.
"Sebentar lagi aku pasti bisa berlari," kelakar Aliando
"Iya Den ini sudah kemajuan bagus," sahut Mamat.
"Kamu kaya Dokter saja!" Aliando mengibaskan tangan di depan wajahnya sendiri.
"Ada apa tampak ceria sekali Al," sapa Anita pada putra semata wayangnya itu.
"Anu Bu.." ucapan Mamat di potong Aliando.
"Psssttt.." Aliando mengatup bibir dan meletakan telunjuk di depan bibirnya, Mamat segera menutup mulutnya.
"Apa sih rahasia-rahasiaan sama Mamah Al?" Anita semakin penasaran, memandang Aliando dengan memicingkan matanya.
Aliando menggerakkan pelan kakinya, berpegangan pada sisi meja. Dia mulai menaikkan tubuhnya, beberapa detik kemudian dia berdiri tegak di sisi meja. Anita terperangah melihatnya.
"Al… kamu.." Anita terbata.
"Iya Mah, aku sudah bisa berdiri," seperti balita yang baru bisa berdiri dengan tak sabar ingin melangkahkan kaki, namun akhirnya dia terduduk d kursi roda lagi.
Anita berdiri menghampiri Aliando.
"Kamu tidak apa-apa Al?" Pertanyaan Anita di balas Aliando dengan gelengan kepala.
"Hati-hati kesembuhan kamu bertahap Al. Pelan-pelan saja jangan langsung di paksakan jalan," ujar Anita tampak khawatir.
"Iya Mah," Aliando menyahut singkat.
Anton terlihat mendekati meja makan untuk bergabung dengan Anita dan Aliando. Mereka bertiga mulai menyantap makan malam masing-masing.
"Pah, Aliando sudah mulai bisa berdiri. Aku yakin asal dia fokus pasti cepat sembuh," ucap Anita sedikit membuat Anton terkejut.
"Apa betul itu Al?" Tanya Anton.
"Iya Pah,aku sudah tidak perlu di gendong Mamat lagi untuk naik kursi roda. Aku bisa memindahkan tubuh ku sendiri," sahut Aliando.
"Hmmm apa itu berarti anunya bisa berdiri juga?" Batin Anton, Anita seakan tahu apa yang di pikirkan oleh suaminya itu mberi kode dengan matanya. Ya dia takut kalau Anton tiba-tiba menanyakan soal lemah syahwat yang di alami Aliando pasca kecelakaan. Menurut Anita belum saatnya menanyakan hal itu.
"Aku sudah selesai," Aliando mendorong kursi rodanya ke kamar. Mamat ingin membantu namun Aliando mengibaskan tangannya.
"Tidak usah Mat, aku bisa sendiri," sepertinya hari ini cukup membuat lelah dirinya, Aliando ingin cepat tidur saja.
"Papah tadi mau bahas masalah lemah syahwat yang di alami Aliando pasca kecelakaan kan?" Tanya Anita pada Anton sepeninggal Aliando. Mereka hanya berdua di ruang makan.
"Kamu kayak dukun saja tau isi pikiranku hehehe," Anton mencoba berkelakar.
"Huuh," Anita memonyongkan bibirnya kedua orang tua itu tampak akrab seperti pasangan muda saja.
"Aku cuma khawatir kita tidak akan mendapat penerus keturunan kita Mah," ucap Anton.
"Tapi apa Aliando tau kalau dia lemah syahwat?" Tanya Anita.
"Aku rasa pasti tau Mah," ucap Anton.
"Pasti dokter sudah memberikan hasil Diagnosa yang rinci pada Aliando Mah," lanjut Anton lagi.
"Emm.. sekarang bukan waktu yang tepat menanyakan hal itu Pah. Keadaan Aliando baru saja mulai pulih. Kita tunggulah sampai dia betul-betul berjalan kembali," ucap Anita.
"Ya aku rasa seiring dengan pulihnya nanti pasti anunya berfungsi lagi," kata Anton.
"Ish! Papah ini!" Gerutu Anita.
Ya Anita sudah tidak mampu memberikan anak lagi untuk Anton. Ketika mengandung Aliando dulu Anita sempat mengalami permasalahan dengan kandungannya. Saat melahirkan dia mengalami pendarahan itu menyebabkan rahimnya harus di angkat. Anton sendiri tidak ingin mencari wanita kedua. Dia sadar itu hanya akan melukai perasaan Anita. Sesungguhnya dalam hati kecilnya Anton ingin sekali memiliki banyak anak. Keduanya bertahan dalam pernikahan demi cinta dan buah hati mereka Aliando yang sudah tumbuh dewasa.
Latihan berdiri dan berjalan yang di lakukan Aliando setiap hari akhirnya membuahkan hasil.
"Al, jangan terlalu di paksa dulu nanti malah membahayakan. Sebaiknya sesuai arahan saya saja. Perhatikan waktu yaa, jangan terlalu lama kaki kamu beraktivitas. Di tingkatkan saja durasi waktunya dan jumlah langkah secara bertahap ya Al. Nanti lama-lama semua sendi gerak kaki kamu akan lemes dan gak kaku lagi, oke?!" Nasehat Dokter.
"Oke, siap Dok," sahut Aliando. Mamat dan Yuli memperhatikan saja Dokter dan pasien itu berbincang. Ya hari ini Mamat dan Yuli mengantar Aliando ke rumah sakit untuk terapi.
Kegigihan aliando membuat keadaan fisik Aliando mulai membaik, dia pelan-pelan sudah bisa berdiri dan berjalan menggunakan tongkat penyangga. Tentu saja tidak tahan lama-lama, jadi dia masih butuh kursi roda. Dia berusaha banyak menggunakan tongkat penyangga untuk mobilisasi ketimbang menggunakan kursi roda. Untuk terus melatih kekuatan berdiri dan berjalannya agar lebih sempurna kini hanya dia lakukan di rumah saja. Ke rumah sakit sesekali saja untuk cek up dan konsultasi Dokter saja.
Meskipun masih menggunakan tongkat tapi Aliando beraktivitas sudah tidak banyak di bantu Mamat lagi. Tentu saja kemajuan ini membuat Anita sangat senang dan bahagia anak semata wayangnya itu sudah jauh lebih baik.
"Waah ini perlu di rayakan besar-besaran. Kita akan undang semua sanak saudara, rekan, dan kolega Papah kamu juga," ujar Anita saat melihat Aliando berjalan-jalan di pekarangan depan rumah besar mereka.
"Aku malu Mah, pakai tongkat begini sudah kayak orang jompo saja," sahut Aliando.
"Hmm kalau gitu pesta akan kita buat pas kamu betul-betul sudah bisa lari-lari hehehe," kelakar Anita.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Park Kyung Na
👍👍
2023-10-17
0
jumirah slavina
🤣🤣🤣
2023-08-24
3