"Baiklah, terima kasih ya sudah bantu aku terlepas dari kejaran suami aku tadi," ucap Tari menjabat tangan Aliando dan Mamat bergantian, kemudian dia pun pergi entah ke mana.
Mamat segera mendorong kursi roda Aliando mengitari taman di rumah sakit itu. Karena bosan Aliando meminta Mamat mengantarnya kembali ke kamar perawatan. Ada Yuli di sana sudah menyiapkan cemilan untuk Aliando yang pasti capek habis jalan-jalan di taman. Sudah hampir dua bulan berada di rumah sakit perkembangan fisik Aliando memang semakin membaik. Khususnya bagian kesadarannya, ya kecuali pinggang ke bawah. Menurut dokter syarafnya mengalami trauma berat sehingga perlu terapi untuk pemulihan agar Aliando bisa berjalan normal kembali.
"Mat, aku merasa jauh lebih baik. Aku ingin pulang hari ini," ucap Aliando.
"Ya itu terserah Den Al saja," sahut Mamat.
"Situ kan Bosnya, kok malah minta pendapat aku," batin Mamat.
"Sebaiknya tanyakan Dokter yang merawat Den Al saja! Kalau tanya Bang Mamat mana mengerti!" Nasehat Yuli.
"Eemm.. gitu ya. Coba kamu hubungi Dokternya Yul!" Perintah Aliando.
Yuli mengangguk, lalu permisi ke luar kamar untuk menghubungi perawat jaga mencari informasi tentang Dokter yang merawat Aliando.
"Sus, bisa gak hubungi Dokternya pasien Aliando. Soalnya dia minta pulang. Apa bisa?" Tanya Yuli.
"Oh ya sebentar saya coba hubungi dulu," sahut Suster jaga.
Cukup lama Yuli menunggu Suster itu bercakap-cakap dengan Dokter akhirnya Suster menutup teleponnya.
"Jadi begini Mbak Yuli kita menunggu Dokter dulu. Ada beberapa pemeriksaan lagi yang harus dilakukan. Mungkin dalam satu, dua hari ke depan Aliando bisa pulang. Tapi itu pun sepertinya harus sering ke rumah sakit lagi untuk terapi fungsi syaraf bawahnya biar kelumpuhannya bisa sembuh," terang Suster.
"Oh gitu, baik nanti saya sampaikan denga Den Al. Terima kasih Sus," ucap Yuli kemudian meninggalkan ruang jag perawat.
Melihat Alindo tidur, Yuli hanya menyampaikan apa yang di informasikan Suster tadi pada Mamat.
"Ooh.. jadi artinya nanti Den Al tinggal rawat jalan saja? Gitu ya?" Mamat minta ketegasan.
"Iya, seperti itu," sahut Yuli.
"Alhamdulillah toh, kita gak bolak-balik ke sini. Gak enak banget, jadi sakit juga rasanya badan berada di sini. Mana baunya gak enak banget. Den Al saja sudah tampak bosan tinggal di sini. Dia pasti lagi mikir mau ikutan balap liar lagi habis ke luar rumah sakit nanti," ujar Mamat sok tau.
"Masak iya lumpuh gitu mau balapan lagi," kata Yuli.
"Kamu kayak gak tau aja bandelnya Den Al kayak apa!" Sahut Mamat.
Yuli hanya manggut-manggut menanggapi pernyataan Mamat tadi.
Tampak Aliando membuka matanya, sepertinya dia sudah bangun dari tidur.
"Eh giman Yul? Apa boleh pulang hari ini?" Tanya Aliando pada Yuli yang tadi dia suruh untuk menanyakan ke Dokter.
"Tadi Suster jaga sudah menghubungi Dokter. Katanya satu, dia hari lagi Den. Ada beberapa pemeriksaan lagi yang harus Den Al jalani," jelas Yuli membuat wajah Aliando masam mendengarnya.
Keesokkan harinya dokter datang menjenguk Aliando. Dia melakukan pemeriksaan, melihat kaki Aliando, memijat dan mengetuk-ngetuk nya pelan. Kaki itu tak bereaksi apa pun. Dokter mencoba menekuk lutut Aliando pelan.
"Suster nanti akan membantu anda melakukan serangkaian tes pada kaki dan bagian bawah tubuh anda yang lainnya," ujar Dokter pada Aliando.
Dokter kemudian memerintahkan pada perawat agar membawa Aliando ke ruangan khusus untuk melakukan berbagai pemeriksaan.
"Aliando bisa kembali dulu ke ruang perawatan ya. Hasil pemeriksaan akan kami kabari nanti," ujar Dokter.
Usai melakukan serangkaian kegiatan pemeriksaan. Aliando kembali ke ruang perawatan di antar Mamat dan Yuli.
"Berarti aku harus nginap beberapa hari lagi menunggu hasil lab keluar," gerutu Aliando.
"Bukan Den Al saja, lah kami juga kan?!" Ujar Mamat setengah jengkel dengan juragan muda di keluarga majikannya itu.
"Kenapa Mat?!" Aliando melirik tajam ke arah Mamat.
"Aah enggak kok Den, maksud Bang Mamat. Den Al akan rugi beberapa hari gak bisa jelalatan liat cewek bohay kayak semalam hehehe," Mamat mengalihkan pembicaraan.
"Huuh makanya, hidup sudah enak malah main balap liar! Ikut-ikutan gak bener! Merugikan orang lain juga!" Gerutu Mamat dalam hati.
"Iya, makanya aku mau minta cepat pulang! Lama-lama di sini aku bisa cepat mati!" Ujar Aliando.
"Bang Mamat dan Den Al yang sabar! Kalau perkara mau lihat cewek bohay ya bisa aja toh," Yuli melenggak-lenggok ganjen di depan ke dua pria itu. Mamat dan Aliando langsung membuang pandang.
"Huuh gak merasa situ bohay kuadrat, badan segede gajah!" Bisik Mamat pada Aliando, kemudian mereka berdua cekikikan. Merasa sedang dikatain Yuli mendelik sewot, menghempaskan pantatnya dsi sofa.
"Suster-suster di sini juga cantik dan bohay," ujar Yuli.
"Alah.. Yul.. Yul.. kamu emang alasan gak mau pulang biar gak kerjain pekerjaan rumah yang banyak kan? Di sini enak cuma jaga Den Al sambil chatting sama si Bambang gembul satpam komplek toh hahaha," ujar Mamat.
"Iih apaan sih mana ada aku chating sama Bang Bambang?!" Kilah Yuli.
"Sudah-sudah malah debat kusir!" Ujar Aliando.
"Lah emang naik delman pake debat kusir segala Den?" Canda Mamat di tingkahi tawa Yuli.
"Sedang gak minat ketawa aku Mat! Mending kamu bawa aku lagi keliling rumah sakit," ujar Aliando.
"Keliling rumah sakit, mbok yo keliling kota gitu ngajak nya," canda Mamat lagi dan langsung di bayar tunai dengan lemparan bantal oleh Aliando.
"Makanya jangan suka kurang ajar sama majikan kena lemparkan kamu Bang hehehe," kekeh Yuli.
"Huuuh," gerutu Mamat. Dia kemudian membantu Aliando turun dari tempat tidur. Menggendongnya ke atas kursi roda.
Aliando dan Mamat meninggalkan Yuli di kamar VVIP itu sendirian.
"Malam begini mau jalan ke mana sih Den? Ini rumah sakit! Nanti kita malah nyasar ke kamar mayat!" Mamat memegang tengkuknya yang terasa merinding.
"Mayat tu orang mati! Sama orang mati kok takut," ledek Aliando.
"Belum aja lagi Den Aliando liat orang mati hidup lagi," ucap Mamat lirih takut kedengaran mayat betulan dan tiba-tiba tersinggung terus mengejar mereka kali.
Benar saja dari arah berlawanan terlihat seorang wanita dengan rambut tergerai berlari ke arah mereka. Reflek Mamat memutar balik kursi roda tuan mudanya dengan cepat. Secepat kilat berlari ke kamar rawat lagi. Beruntungnya Aliando berpegang erat pada gagang kursi hingga tidak terlompat dari kursi roda.
"Gila lu Mat! Ada apa sih main kabur saja!" Rutuk Aliando kesal setengah mati namun hanya bisa pasrah.
"Den Al gak liat mayatnya hidup ngejar kita!" Mamat meneruskan langkahnya cepat menuju kamar.
Yuli yang berada sendirian terkaget-kaget mendengar pintu di buka kasar oleh Mamat sambil mendorong kursi Aliando.
"Ada apa sih ngagetin aja kalian!?" Yuli memegang dadanya yang masih berdegup kencang.
"Ada hantu," Mamat ngos-ngosan.
"Bener Den Al?!" Yuli minta ketegasan Aliando.
"Aku sih gak liat!" Ucap Aliando.
Saat mereka bertiga secara bersamaan melihat ke pintu. Mereka semua terkejut karena wanita itu dengan rambutnya yang tergerai acak-acakan berdiri di sana.
"Tari?!" Ucap Mamat dan Aliando saling pandang. Sementara Yuli tampak kebingungan.
"Iya hiks hiks hiks," Isak Tari. Dia kemudian bercerita panjang lebar bagaimana dia bisa tertangkap suaminya lagi kemudian kabur lagi hingga ke kamar Aliando. Akhirnya Aliando, Yuli, dan Mamat membiarkan Tari menginap semalaman dalam kamar itu.
***
Keesokan paginya, sebelum Aliando, Yuli, dan Mamat bangun Tari menyelinap ke luar kamar. Dia tidak ingin Aliando,Yuli, dan Mamat akan mendapat masalah nanti dengan suaminya yang kejam itu.
"Bang Mamat bangun! Wanita yang tadi malam udah gak ada!" Yuli membangunkan Mamat karena melihat Tari sudah tidak ada di sebelahnya.
Mamat terbangun, dia duduk dan mengucek-ngucek matanya.
"Mungkin dia sudah pulang," ujar Mamat ketika matanya sudah terang.
"Hmmm.. kasian sekali kalau sampai tertangkap suaminya lagi ya Bang?" Yuli tampak sedih mengingat cerita wanita itu tadi malam.
"Ya urusan rumah tangga orang kita bisa buat apa?!" Sahut Mamat.
Hari ini hasil pemeriksaan medis atas tubuh Aliando akan di sampaikan oleh Dokter. Sebelumnya Aliando menjalani pemeriksaan keseluruhan bagian bawah tubuhnya yang lumpuh itu.
Seperti yang sudah di jadwalkan Aliando ke ruang pemeriksaan menemui Dokter. Dengan di bantu oleh Mamat yang mendorong kursi rodanya dia pun menemui Dokter.
"Bagaimana Aliando hari ini?" Tanya Dokter sembari berjongkok memegang lutut Aliando.
"Ya begini-begini aja Dok belum bisa berdiri juga," sahut Aliando sedikit kesal dengan kondisinya sekarang.
"Sabar Al. Kecelakaan yang kamu alami sangat parah waktu itu. Benturan keras membuat beberapa fungsi syaraf mu terganggu. Kamu mengalami yang namanya Paraplegia hingga terjadi Disfungsi ereksi," jelas Dokter.
"Apa itu maksudnya Dok?" Tanya Aliando sedikit khawatir.
"Jadi Paraplegia itu gangguan syaraf yang mengakibatkan kelumpuhan tubuh bagian bawah mu. Dari hasil pemeriksaan kami juga mendiagnosa kamu mengalami disfungsi ereksi atau bahasa awamnya impotensi," mendengar itu bola mata Aliando hampir melompat ke luar dari kelopaknya. Sedang Mamat ternganga dan reflek menutup mulutnya. Sungguh mereka berdua sangat terkejut.
"Masa depan ku hiks hiks hiks," Aliando menunduk sembari terisak pilu.
"Tenanglah Al. Kita akan lakukan terapi nanti untuk pemulihan. Dari pemeriksaan juga kami dapat simpulkan bahwa bisa sembuh kok. Tetap semangat ya Al," Dokter memotivasi Aliando.
"Ya harus rajin minum obatnya juga mengikuti terapinya jangan malas. Serta harus nurut itu aja kuncinya kalau kamu mau cepat pulih," saran Dokter. Aliando sedikit tenang dengan ucapan terakhir Dokter. Mereka berdua pun kemudian minta diri pada Dokter untuk kembali ke kamarnya.
"Mat! Jangan cerita pada siapa pun soal impoten itu! Paham!" Aliando menarik garis horizontal dengan tangannya di leher, seperti kode menghabisi. Artinya kalau sampai bocor Mamat akan dia pecat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Park Kyung Na
like 😊
2023-10-04
1