Begitu banyak pesanan dating untuk dirinya di berbagai aplikasi yang sudah di downloads Tari untuk bisnisnya lendirnya itu. Ya meskipun sudah lumayan penghasilan dari bisnis ini sepertinya Tari enggan beralih profesi. Suatu malam seorang lelaki memesannya dari aplikasi hijau. Mereka berdua memutuskan berjumpa di sebuah cafe yang cukup nyaman, di tepian sungai. Pelanggan memilih tempat di area terbuka tepat di pinggiran sungai yang lebar. Dingin angin malam cukup menusuk kulit. Tari memicingkan mata mencari-cari keberadaan pria yang sudah memesannya.
"Hmmm gak salah kok, bener ini cafenya sesuai foto," batin Tari. Mata Tari terhenti pada sosok lelaki yang menggunakan kupluk, penutup kepala dan bagian bawah mata saja.
"Hay, Ali ya!?" Sapa Tari menyebut nama pria di depannya. Tari hanya bisa melihat matanya saja, karena bagian wajahnya yang lain tertutup topi topeng yang di kenakan pria itu saat ini.
"Ya bener!" Ucap pria itu.
"Bisa buka topi topengnya gak?! Biar kita bisa ngobrol lebih bebas Al," ujar Tari.
"Kan sudah aku bilang di chat kalau aku gak mau buka penutup muka ku," ujar pria Berkupluk bernama Ali itu.
"Mata itu seperti pernah ku lihat," batin Tari.
"Nah gak buka topi topeng ini saja kamu sudah kagum pada ku segitunya hehehe," Ali tertawa renyah sembari menjentikkan jari tepat di depan wajah Tari. Hal itu membuat terhenyak dari lamunannya.
"Iya juga sih hehehe. Tapi memang mending gak usah di buka, kalau wajah kamu jelek nanti bikin aku ilfil," ujar Tari.
"Hmm kamu bilang aku jelek gak takut aku apa-apain!?" Tanya Ali.
"Yaaa gak takut lah, kita kan memang mau ngapa-ngapain kan ini, hehehe," Tari mengerlingkan matanya genit.
"Huuh dasar wanita penggoda iman!" Pernyataan Ali itu membuat Tari membulatkan matanya.
"Lah kamu cari wanita penggoda atau cari guru agama?!" Ujar Tari dengan wajah sedikit kesal.
"Hehehe.." pria bernama Ali malah tertawa.
"Dari postur tubuh dan nada suara mu kayaknya kita seumuran deh," tebak Tari.
"Usia kamu berapa?" Tanya Ali.
"Lebih dua puluhan lah," sahut Tari.
"Berati tebakan mu tepat," ucap Ali ditingkahi tepuk tangan olehnya.
"Hhmmm selain menggoda iman meramal juga sebuah kehebatan mu yang lainnya hehehehe," kelakar Ali.
"Ayolah, ngapain kita lama-lama di tempat terbuka ini! Nanti aku masuk angin!" Ujar Tari yang ingin cepat pekerjaannya selesai malam ini.
"Masuk angin apa masuk burung?! Hahahaha," celoteh Ali.
"Hahaha batang kali," Tari tak mau kalah mengoceh.
Camesttry mereka baru pertama berjumpa sudah kayak akrab saja.
"Haaa emangnya kita mau main di tempat terbuka dan ramai ini?!" Tanya Tari serius.
"Hmmm apa kamu berani?!" Tanya Ali.
"Kalau kamu berani ya terpaksa aku berani," ujar Tari.
"Aku sih gak berani hehehe, " sahut Ali.
Ya meskipun nanti apa yang mereka lakukan adalah perbuatan tidak pantas rupanya masih menjaga norma kesopanan untuk tidak berbuat mesum di sembarangan tempat.
"Ya sudah ayo kita booking tempat," Ali bangkit dari tempat duduknya di kuti Tari. Ya tentu saja dengan sebelumnya membayar makan dan minum mereka di cafe itu.
"Wooow… ini mobil kamu? Keren sekali?" Tari terperangah melihat mobil mewah di depannya. Tari semakin terperangah dan terbengong-bengong melihat interior di dalam mobil itu.
"Pria ini pasti orang kaya, tapi kenapa mau sama aku penjual apem murahan ini?! Kenapa gak level artis gitu?! Aah mungkin dia emang rezeki ku hehehe," batin Tari gembira.
"Kenapa senyam senyum heh! Semakin meruntuhkan iman saja!" Ujar Ali sedikit kasar.
"Dasar orang aneh! Ngapain sih ajak aku kencan tapi kamu gak ada ramah-tamah gitu sama aku!" Ucap Tari.
"Sudah masuk lah! Aku kan sudah bayar kamu!" Ujar Ali sedikit mendorong tubuh Tari, lalu menutup pintu mobil setelah tari berada aman dalam mobil.
Saat duduk dalam mobil tentu saja dres Tari sedikit terangkat hingga menampakkan pahanya yang putih mulus.
"Sengaja ya naikin rok gitu?!" Tuduh Ali.
Tari terheran-heran mendengar pernyataan Ali padanya itu.
"Al, kamu tahukan kalau aku ini pelacur sejak kita chat?! Aku jualan apem ya iya lah aku tugasnya menggoda iman mu!" Ujar Tari dengan nada naik satu oktaf.
"Aneh banget sih," batinnya. Dia akhirnya diam saja di samping pria bernama Ali itu. Sementara Ali sibuk menyetir.
Sesampainya di hotel yang lumayan mewah, Tari dan Ali langsung menuju kamar yang sudah di booking lewat aplikasi. Ya tentu sebelumnya mereka mampir di resepsionis dulu untuk mengambil kartu.
"Apa langsung mau menikmati apem?!" Tawar Tari sembari melompat ke atas tempat tidur. Tubuh sintalnya terlentang bebas, Ali membuang muka.
"Apa-apaan ini?! Apa pria ini sungguh tidak tertarik pada ku?! Apa dia hanya berniat meremehkan ku dengan kata-kata ketus dan kasarnya itu!" Batin Tari.
"Sekarang lakukan apapun buat aku hingga tergoda padamu!" Ujar Ali.
Tari pun mulai menggoda Ali mulai dengan melenggak-lenggokkan tubuhnya bak ulat lelet, menari hot, striptis, membelai, mencium, mendorong, menindih, hingga melepas pakaian dengan erotis di depan mata Ali. Ali bergeming, hanya menatap diam tidak menyentuhnya. Sampai pada Tari tidak tahan jadi nafsu sendiri, dia melucuti pakaian Ali hingga polos. Melihat batang senang milik Ali berdiri tegak bak tugu Monas Tari tidak tahan untuk tidak memanjakannya. Dia mulai mengurut, meremas, memijat, tapi tetap Ali bergeming tidak menyerangnya. Akhirnya Tari duduk di atas tubuh bagian bawah Ali.
Namun saat Tari memulai berhubungan intim dengan pria bernama Ali itu, menggerakkan selangkangannya di atas tubuh Ali. Ali malah mendorongnya hingga terjengkang, persis seperti kejadian dengan Om Hendri. Lalu Ali pergi dan hanya meninggalkan sejumlah uang tambahan dengan melemparnya ke tubuh Tari yang polos.
"Aaah sial!" Gerutu tari sembari memunguti uang kertas merah di atas tubuhnya.
"Pakailah pakaian kamu! Aku antar pulang! Lain kali aku bisa booking kamu lagi kan?!" Ujar Ali.
Tari memunguti pakaiannya, kemudian mengenakannya kembali.
"Boleh tapi tolong kalau booking lagi sampai tuntas jangan nanggung," ucap tari sedikit kesal.
"Aku gak ada urusan kamu nanggung atau enggak! Di sini aku yang membayar kamu! Jadi suka hati aku lah!" Kata Ali.
"Iya kamu betul aku hanya wanita bayaran jadi tidak selayaknya aku yang terpuaskan. Tapi pantasnya di gunakan!" Ujar Tari sedih.
"Harusnya aku berterimakasih kamu tidak mengapa-apakan aku," ujar Tari lagi.
"Aah tidak perlu basa basi. Ini cuma transaksi, aku bayar kamu dan kami sudah melaksanakan tugas sesuai kemauan aku udah selesai. Untuk apa berterimakasih!?" Kata Ali.
Keduanya keluar dari hotel menuju tempat parkir dan segera meninggalkan tempat itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments