Anton Wiryawan tidak membiarkan Aliando bebas bergaul begitu saja. Anton menutup semua akses pengeluaran Aliando serta fasilitas lainnya. Semua sudah di penuhi di rumah, jadi tidak perlu ke mana-mana. Anton bahkan membuat sebuah tempat di sudut lahan rumahnya yang luas berhektar-hektar itu mirip seperti cafe yang biasa Aliando tomgkrongi bersama teman-temannya. Ya bahkan untuk bertemu teman-temannya pun hanya boleh di rumah. Ini sudah seperti lagu Nafa Urbach hidup bagai di sangkar emas. Begitulah kira-kira nasib Aliando sekarang.
"Bosan sekali mending aku pesan makanan dan minuman online terus ngundang Roy dan yang lain ke mari malam ini," Aliando menggeser-geser tampilan layar hapenya pada aplikasi online food.
"What the f*ck man?!! Semua uang elektronik ku pun nol??!!" Aliando tampak kebingungan.
"Papah memang sudah keterlaluan sampai hape ku sepertinya juga sudah di retas! Entah siapa yang dia suruh melakukan ini!" Batin Aliando geram.
"Mamaaat!!" Teriak Aliando.
"Apa Den? Mau ke mana?" Pikir Mamat Aliando ingin di papah ke atas kursi rodanya.
"Pinjam uang kamu dulu lima ratus ribu!" Ujar Aliando.
"Haah! Buat apa Den?!" Mamat tampak bingung.
"Buat bayar makanan yang nanti datang!" Sahut Aliando.
"Den Al pesan online food?!" Tanya Mamat setengah tak percaya.
"Iya, nanti kamu bayarin!" Ucap Aliando.
"Lah kok saya?! Kan situ yang Bos! Huuh! Bos kok kere," gumam Mamat.
"Kamu bilang apa barusan mat?!" Aliando menegaskan pendengarannya.
"Ah enggak Den, uang ku gak ada lima ratus ribu.." Mamat mencoba ngeles.
"Minta tambahin Yuli! Nanti minta ganti papah atau mamah aku!" Perintah Aliando, Mamat hanya geleng-geleng kepala.
"Iya Den," hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Mamat. Dia kemudian pergi meninggalkan Aliando sendirian di kamarnya sibuk memainkan hapenya.
"Eeh Yuli, kamu ada uang tiga ratus ribu gak? Den Al mau pinjem dulu!" Ucap Mamat saat ada di dapur melihat Yuli yang sedang sibuk mengepel lantai.
"Haah yang bener Bang!? Bukannya yang seharusnya pinjam uang tu kita?!" Yuli tidak mempercayai pendengarannya.
"Iya, bener, aku serius. Tadi aku di panggil Den Al. Dia pesan makanan online tapi gak punya duit hahaha," cerita Mamat terbahak-bahak.
"Kok bisa?!" Tanya Yuli.
"Ya bisa dia kan lagi di hukum tuan besar. Semuanya di blokir termasuk ATM dan uang elektronik. Hapenya juga di retas sama tuan besar. Jadi mau ngapa-ngapain aja Den Al pasti ketahuan," terang Mamat.
"Sampai beli makanan saja gak bisa?! Lagian makan apa toh tiga ratus ribu Bang?" Yuli agak bingung dengan harga makanan yang mahal itu.
"Kayaknya Den Al mau undang beberapa teman ke sini, Yul," sahut Mamat.
"Ooh," sahut Yuli singkat, kemudian meninggalkan Mamat untuk mengambil uang yang di minta Mamat.
Setelah mengumpulkan uang sejumlah lima ratus ribu Mamat menyerahkan pada sekuriti di pos depan rumah besar itu.
"Mang Sapri kalau ada ojek antar pesanan makanan nih bayarin ya! Beri tau aku atau Yuli ya!" Mamat menyerahkan uang pada Sapri.
"Wah ada pesta kecil-kecilan nih! Boleh dong!" Sapri mengira Mamat atau Yuli berulang tahun.
"Iya, pestanya tuan muda. Lu, gue gak di ajak!" Tegas Mamat.
"Pesta apa Den Al lima ratus ribu?!" Sapri tidak percaya.
"Gak tau aku, kayaknya cuma mau undang beberapa teman sebab kesepian gak dibolehin ke mana-mana sama tuan besar kan," jelas Mamat.
"Ooh gitu," Sapri mengangguk-anggukkan kepalanya.
Mamat meninggalkan Sapri yang kelihatannya masih agak bingung bakal ada acara apa. Dia tidak mendapat instruksi apa-apa dari pemilik rumah. Biasanya kalau ada banyak tamu tentu Sapri akan di beritahu supaya bisa mengatur keluar masuk kendaraan nanti.
"Hmmm kok Den Al gak ada telepon atau WA aku ya kalau teman-temannya mau datang? Aah gak apa-apa lah yang penting aku sekarang sudah tau bakal ada tamu," Sapri mengibaskan tangan di depan wajahnya sendiri.
Tiiin.. tiin.. tiiiinn..
Roy mempuka kaca jendela menampakan wajah pada kamera di depan gerbang. Sensor wajah membuka gerbang otomatis rumah besar Aliando. Mobil Roy dan kawan-kawan masuk ke pekarangan rumah Aliando beriringan seperti konvoi mobil mewah saja.
"Lah sudah datang saja makanan sama minuman belum nyampe lagi," Sapri membatin.
"Hallo Al," Roy dan teman-temannya Aliando satu persatu menyalami Aliando. Sebelum Aliando sudah meminta Mamat untuk mengantarnya ke luar rumah di mana bangunan mirip cafe itu berada. Sudah sejak tadi pula Aliando menunggu kedatangan teman-temannya.
"Hay, cepat sekali kalian sampai," ucap Aliando.
"Begitulah urusan makan enak semua jadi pembalap handal," kelakar Roy.
"Hahahaha bisa aja kamu Roy! Makanannya belum datang!" Ujar Aliando.
"Waah kenapa gak di buka umum aja nih cafe Al?" Tanya teman Aliando yang lain.
Teman-teman yang datang ke rumah Aliando saat ini kurang lebih empat buah mobil mewah, jadi sekitar delapan orang saja yang ngumpul di rumah Aliando saat ini.
"Kalau di buka umum takut mengganggu ketentraman raja dan ratu rumah ini hahahaha," ujar Aliando lagi yang menyebut papah dan mamahnya sebagai raja dan ratu.
Tak lama masuk lah Yuli dan juga Mamat membawakan makanan seharga lima ratus ribu rupiah yang di pesan Aliando melalui aplikasi makanan online di hapenya.
"Den jangan lupa di bayarin utangnya, kalau perlu bilang sama teman-teman Den Al kalau makanan ini hasil ngutang sama kami, hehehehe," bisik Mamat di telinga Aliando saat menyajikan makanan di meja dan berdekatan dengan Aliando.
"Kan sudah aku bilang minta ganti sama Anton Wiryawan," balas Aliando berbisik.
Mamat dan Yuli pun berlalu dari cafe pribadi tuan muda mereka itu.
"Jadi beneran papah kamu gak biarin kamu ke luar sama sekali?" Tanya Roy.
"Ya, sepertinya cuma sampai aku benar-benar pulih saja sih," duga Aliando.
"Gak ada balapan dong, soalnya gak seru kalau kamu gak ikut Al," kata Roy, sedangkan yang lain mengangguk-angguk saja.
Tentu saja tidak seru, karena semua pengeluaran setiap malam mereka keluar itu Aliando donaturnya. Sekarang Aliando mendapatkan sanksi yang cukup berat dari Anton otomatis berdampak pada teman-temannya yang sangat tergantung dengan Aliando. Pertemuan mereka pun gak semeriah kalau ada Aliando, banyak teman-teman mereka anggota AMV berkumpul. Jumlah keseluruhan anggota kurang lebih dua puluh lima orang. Sekarang yang ke rumah Aliando cuma delapan orang saja. Perkumpulan anak-anak muda Borjuis macam mereka apa lagi yang di lakukan selain bersenang-senang, ugal-ugalan dan minum-minuman beralkohol. Aliando dan teman-teman sangat anti obat terlarang dan main perempuan. Ya mereka masing-masing sudah punya pasangan. Namun semenjak kecelakaan dan lumpuh Aliando putus dari putri seorang jaksa ternama di kota ini. Meskipun sama-sama memiliki orang tua berpengaruh tentu saja Sheila, nama putri jaksa tersebut, memutuskan hubungannya dengan Aliando yang sudah jelas-jelas lumpuh. Rasa malu yang kuat membuat dia meninggalkan Aliando. Itu juga menyebabkan Aliando begitu patah semangat dan cukup menghambat proses kesembuhannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Park Kyung Na
suka banget sama ceritanya😊
2023-10-07
3