Akhirnya terbongkar rahasia

Saat Intan menutup teleponnya, dalam hatinya ia berniat untuk membongkar siapa sebenarnya orang yang telah membakar rumahnya Intan di Bandung, apakah ada kaitannya dengan orang misterius tadi.

"Tak segan-segan, aku akan membuat Dina mengakui semuanya jika dia terlibat dalam kasus ini!" batinnya Intan mengatakan seperti itu.

Lalu, Intan dengan berjalan menuju kamarnya dan menyimpan handphone milik Dina ke dalam laci lemari. Intan bergegas dari dalam kamar tidur menuju kamar mandi.

Setelah mandi Intan membalutkan tubuhnya dengan handuk dan mulai berjalan menuju kamar tidurnya untuk mengenakan pakaian dan berdandan rapi.

Saat Intan telah beres berdandan, kini ia mulai berjalan dari kamar tidurnya menuju dapur untuk memenuhi asupan gizi dengan meminum susu dan memakan roti sebagai sarapan pagi.

Ketika Intan telah sarapan, ia berjalan menuju kamar tidurnya untuk mengambil handphone milik Dina dari dalam laci lemari. Melihat ke layar ponsel, waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi.

"Aduh menunggu dua jam lagi untuk temui Dina di kantor saat waktu istirahat nanti," ucap Intan dengan menghela nafasnya.

Namun tak di sangka handphone milik Dina berdering ada panggilan masuk dari Bima, rekan kerjanya Dina dan juga Intan di kantor.

"Halo, Bima?" tanya Intan dengan mengangkat telepon.

"Halo, Dina hari ini aku tak masuk kerja karena sakit. Bisakah kamu kirim uang transferkan 2 juta saja, karena aku berhasil melakukan perintahmu dengan baik!" jawab Bima dengan menyangka kalau yang sedang menerima telepon itu ialah Dina.

"Kamu sedang sakit kenapa? Lalu, memang aku sedikit lupa menyuruhmu melakukan apa?" ujar Intan dengan berpura-pura menjadi Dina.

"Masa kamu lupa ... kalau kamu telah menyuruhku untuk menculik Intan pada malam itu!" ungkap Bima.

"Apa ... pasti kamu juga kan yang mendorong Intan sampai jatuh dari tangga?" tanya Intan dengan hatinya merintih karena sedih tak menyangka kalau Bima telah menculiknya.

"Aku tidak tahu soal itu, lantaran kamu hanya memintaku untuk menculik saja!" jawab Bima dengan hatinya merasa ada yang aneh.

"Jadi benar itu," pungkas Intan dengan menutup telepon karena mendengar perkataan yang menyayatkan hatinya hingga tak sanggup berlinang air mata sampai terjatuh membasahi pipi wajahnya.

Intan menangis terisak-isak hingga ia menyangka, kalau Dina memang orang jahat dan mungkin ada hubungannya dengan kasus membakar rumah Intan di Bandung.

Hatinya Intan sangat terpukul dengan ia merasa hidupnya menjadi insecure karena ulah jahat dari Dina yang menginginkan Andrew untuk menikahinya.

Intan yang sedang duduk berhadapan dengan menatap cermin yang ada di depannya itu, ia akan bertekad untuk membuat Dina mengakui semua kesalahannya dan akan membuat Dina untuk masuk penjara.

"Aku harus segera ke kantor sekarang ... aku harus kasih tahu Andrew dan juga mertuaku. Kalau Dina memang orang jahat yang telah membuatnya di culik dan bahkan aku keguguran karena pasti orang suruhannya itu!" ungkap Intan dengan mengepalkan kedua tangan dan berlinang air mata.

Kini Intan mulai bangun dari tempat duduknya yang berhadapan dengan kaca lemari. Intan bergegas berjalan cepat sambil membawa handphone milik Dina, sampai pada akhirnya Intan pergi keluar kamar berjalan menuju pintu depan rumah.

Namun saat Intan mau membuka kunci pintu depan rumah, tiba-tiba ada suara klakson yang berbunyi. Lalu, Intan dengan rasa penasaran ingin melihat siapa yang datang ke rumah.

Saat Intan membukakan pintu rumah, ternyata itu adalah Dina dengan membawa mobil pribadinya. Datang ke rumah Andrew hingga membuat Intan terkejut kalau itu memang benar Dina.

Intan pun, langsung berjalan cepat menuju mobil Dina. Kemudian, Intan meminta Dina untuk turun dari dalam mobilnya. Tapi, Dina malah menolaknya malah justru meminta Intan untuk masuk ke dalam mobilnya wanita itu.

"Sekarang ... ayo masuk ke dalam mobilku!" pinta Dina dengan ekspresi wajahnya marah.

"Baik," pungkas Intan dengan ia segera masuk ke dalam mobil dan ia duduk di depan dengan Dina.

"Dina ... sungguh kau jahat sekali padaku!" ucap Intan dengan menatap wajahnya Dina.

"Apa maksudmu itu?" tanya Dina dengan menyetir mobilnya.

"Intan sudah tahu ... jika Bima yang telah menculikku semalam!" ujar Intan dengan berbicara lugas.

"Bima yang menculikmu, jadi bukan aku!" jawab Dina dengan menjalankan mobilnya cepat.

"Iya tentu benar ... kamu suruh Bima untuk melakukan itu ya!" sahut Intan dengan hatinya jengkel dan tatapan matanya melihat wajah Dina.

"Kalau jika ia benar kenapa?" tanya Dina dengan tersenyum sinis dan menyetir mobilnya cepat.

"Dina sungguh jahat sekali dirimu, biadab kamu!" jawab Intan dengan tangan kanan menampar wajahnya Dina dari samping kiri.

"Berani sekali ... menamparku!" ucap Dina dengan ekspresinya marah.

"Itu belum seberapa Dina ... pasti kamu juga kan yang menyuruh Bima untuk membakar rumahku di Bandung dan mendorongku sampai jatuh dari tangga?" ungkap Intan dengan hatinya kesal dan jengkel.

"Aku yang menyuruh Bima untuk menculikmu tapi soal rumahmu kebakaran, Dina sungguh tidak tahu soal itu!" ucap Intan dengan menatap wajahnya Intan.

"Bohong kamu ... pasti bohong ya!" ujar Intan dengan menampar lagi wajahnya Dina dari samping kiri.

"Intan ... kulakukan seperti itu karena aku tidak mau membuatmu hidup bahagia karena telah mengambil Andrew dariku," pungkas Dina dengan menyetir mobil dengan cepat.

"Kamu tak punya hati," teriak Intan dengan keras.

"Jika kamu bahagia hidup dengan Andrew, maka aku pun harus bahagia. Itulah alasan mengapa aku melakukan seperti itu!" ungkap Dina dengan menatap wajahnya pada Intan.

"Tapi, kelakuanmu itu keterlaluan dan jahat. Aku tak akan berpisah dengan Andrew dan mimpimu untuk hidup bersamanya tidak akan terwujud!" ujar Intan dengan tatapan matanya tajam menatap kedua bola mata Dina.

"Marilah bersiap-siap untuk kita berdua mati bersama karena aku tak akan membuatmu hidup bahagia dengan kekasihku!" sahut Dina dengan menyetir mobilnya sangat cepat.

"Brengsek kamu, hentikan!" teriak Intan dengan ekspresi wajahnya tegang dan takut.

Namun Dina tidak mendengarkan ucapan Intan untuk menghentikan mobilnya malah justru menyetir dengan sangat cepat.

"Aku tidak akan menghentikannya," ucap Dina dengan berlinang air mata dan terus menyetir mobilnya.

"Awas ... jangan kau tabrak itu!" pinta Intan dengan teriak dan ekspresi wajahnya ketakutan.

Dina tetap mengendarai mobilnya dengan cepat, tanpa mempedulikan keselamatan mereka berdua. Malah terus melakukan hal tersebut, sampai tak terduga mobil yang di tumpangi mereka itu, mau menabrak truk besar.

"Awas itu, Dina!" teriak Intan dengan kedua tangannya memegang kedua tangan Dina yang sedang menyetir mobilnya.

Tiba-tiba Intan berhasil membelokkan mobilnya ke arah samping, hingga mobil yang mereka tumpangi tak menabrak truk besar.

Mobilnya Dina menabrak ke dinding tembok yang ada di jalanan, sampai mereka berdua berteriak dan menjerit hingga mereka berdua pingsan karena terkejut.

Terpopuler

Comments

Rapa Rasha

Rapa Rasha

Dina gila

2023-01-02

0

ferdyan

ferdyan

keren banget dan populer. Ceritanya sangat menarik.

2021-03-27

9

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!