Intan menangis kencang melihat rumahnya telah rata menjadi tanah, "Kenapa semuanya menjadi seperti ini?"
Rudi datang dari rumahnya menghampiri Intan yang sedang duduk di tanah sambil merenggek-renggek menangis.
Hatinya Rudi sungguh merasa iba kasihan melihat teman masa kecilnya, mendapatkan musibah rumahnya kebakaran.
"Yang tegar ya, Intan!" ucap Rudi seraya tangan kanannya memegang pundak Intan.
"Rudi, kenapa rumahku bisa kebakaran? Apa penyebabnya, tadi malam bisa terjadi seperti ini?" tanya Intan sambil dirinya berdiri.
"Tadi malam sekitar pukul 11:30 WIB, tercium bau asap api yang menyengat dan kobaran api yang menyala-nyala dengan hebatnya membakar rumahmu, hingga membuat warga setempat kepanikan saat melihatnya!" ungkap Rudi dengan nada bicaranya bersedih.
"Intan sudah tertidur lelap jam setengah dua belas malam dan saat kamu menelepon ke ponselku ya. Saking nyenyaknya Intan tidur sampai aku tidak mendengarnya, lantaran aku habis pulang dari bidan dan sudah dikasih obat vitamin untuk ibu hamil!" ucap Intan dengan menangis.
"Oh ya, Intan sedang hamil berapa bulan?" tanya Rudi dengan hatinya penasaran.
"Intan hamil 3 bulan dan saat tadi pagi aku lupa tidak menelepon Desi adikku. Terus, dimana Desi sekarang berada?" ungkap Intan dengan hatinya bersedih dan penasaran.
"Syukurlah kalau kamu hamil, Intan!" jawab Rudi dengan diam sejenak, karena mendengar ada yang memanggil Intan.
"Intan, kamu tidak apa-apa kan?" ucap Andrew yang datang menghampiri istrinya yang sedang menangis.
"Oh Kak, coba lihatlah rumahku ini telah rata menjadi tanah karena ulah si jago merah!" ungkap Intan dengan menangis tersedu-sedu.
"Iya sayang yang tabah ya, ini adalah musibah dari Tuhan maka kamu harus bersabar!" ucap Andrew dengan mendekati tubuhnya Intan dan memeluknya.
"Tentu Kak, aku harus menerima kenyataan ini dengan hatiku yang berduka!" jawab Intan dengan memeluk erat tubuh suaminya.
Tiba-tiba datanglah mobil ambulans dan keluarlah Pak RT dari mobil ambulans. Intan dan Andrew merasa terkejut mendengar suara mobil ambulans dan mereka berdua melepaskan pelukannya.
"Dewi, sini kamu!" panggil Pak RT dengan nada bicaranya sedih.
"Iya Pak RT, ada apa?" tanya Intan dengan ekspresi wajahnya heran.
"Kamu yang tabah, Bapak harus katakan ini walaupun ini kabarnya duka!" jawab Pak RT dengan kepalanya menunduk.
"Maksud Pak RT, kabar apa?" tanya Andrew dengan hatinya penasaran.
"Iya, katakan ada apa ... ini ada mobil ambulans kesini. Siapa yang meninggal?" tanya Intan dengan hatinya kebingungan.
"Maaf Bapak harus katakan, kalau adikmu Desi telah meninggal dunia saat insiden kebakaran tadi malam. Desi sedang tertidur lelap di kamarnya, hingga ia mungkin tidak tahu kalau rumahnya kebakaran!" ungkap Pak RT dengan matanya menatap wajahnya Intan.
"Bagaimana mungkin Desi bisa meninggal?" tanya Intan dengan menangis terisak-isak.
"Tentu benar," ucap Pak RT dengan meyakinkan Intan.
"Aku masih tidak percaya, kalau adikku benar meninggal. Pasti Pak RT bohong?" tanya Intan dengan badannya mulai lemas.
"Kalau kamu tidak percaya, akan Bapak buka pintu mobil di belakang ini. Coba lihatlah, memang benar itu mayatnya Desi adikmu!" ungkap Pak RT dengan memperlihatkan mayat yang ada di mobil ambulans ke hadapan Intan, Andrew dan juga Rudi.
"Benarkah itu, mayat Desi adikku?" tanya Intan dengan badannya lemas dan akhirnya ia pingsan karena terkejut.
"Ya benar," jawab Pak RT dengan menunjuk jasadnya Desi.
"Intan, jangan pingsan kamu!" ucap Andrew seraya merangkul tubuh istrinya itu.
"Ayo Kak, bawa saja Intan ke rumahku!" ujar Rudi dengan membantu Andrew menggotong tubuhnya Intan.
"Ya sudah, bawa saja dulu Intan ke rumah!" sahut Pak RT yang matanya terkejut melihat Intan pingsan.
"Baik Pak, biar Intan istirahat sejenak dirumah!" pungkas Rudi.
***
Andrew dan Rudi membawa Intan sampai rumahnya Rudi. Pintu rumah Rudi langsung dibuka oleh Ibu kandungnya Rudi.
"Kenapa Intan bisa pingsan seperti ini?" tanya Gina (Ibunya Rudi).
"Karena istriku sedang hamil 3 bulan dan ia terkejut melihat jasadnya, Desi!" ucap Andrew dengan ekspresi wajahnya panik.
"Oh istrimu itu, sedang hamil? Ya sudah, Ibu ambilkan dulu air minum dan minyak kayu putih. Tunggu sebentar ya!" ungkap Ibu Gina dengan ia berjalan ke dapur mengambil air minum dan langsung mengambil kayu putih di meja keluarga.
Dari arah ruang keluarga, Ibu Gina berjalan cepat menuju ruang tamu dengan ia membawa air minum dan minyak kayu putih. Di ruang tamu, tubuhnya Intan dibaringkan di kursi sofa yang empuk.
"Ini minyak kayu putihnya, coba Andrew oleskan ke lehernya istrimu dan hirupkan ke hidungnya supaya ia bisa mencium aroma segar dari minyak kayu putih agar bisa secepatnya sadar!" ungkap Ibu Gina dengan memberikan minyak kayu putih ke tangan Andrew.
"Oke siap," sahut Andrew dengan segera mengambil minyak kayu putih dari tangannya Ibu Gina.
Minyak kayu putih pun, oleh Andrew dioleskan ke lehernya Intan dan hirupkan ke hidungnya hingga tak lama akhirnya Intan bisa kembali sadar dari pingsannya itu.
"Alhamdulillah Intan, sudah sadar kamu!" ucap Rudi dengan tersenyum.
"Ini dimana, Kak Andrew?" tanya Intan dengan pandangan matanya melihat ke wajah Andrew.
"Tadi Intan pingsan dan ini ada di rumahnya, Rudi!" jawab Andrew dengan tersenyum.
"Benarkah lalu, Desi sekarang dimana?" tanya Intan dengan ia membangunkan tubuhnya dari sofa.
"Adikmu ... mungkin sama Pak RT sedang dikuburkan jasadnya, Desi!" ucap Andrew dengan tangan kanannya memegang wajah Intan.
"Ya barang kali itu benar, sedang proses pemakaman adikmu!" ujar Rudi dengan menatap matanya Intan.
Intan pun, langsung berdiri dan segera berjalan keluar pintu rumah Rudi. Kemudian, Andrew dan Rudi merasa panik dengan sikap Intan yang terburu-buru ingin melihat jasad adiknya.
"Sayang, hati-hati kan kamu lagi hamil. Jangan cepat-cepat jalannya!" ucap Andrew dengan berjalan menyusul Intan yang sudah jalan keluar pintu rumah Rudi.
"Tunggu sebentar ya, Rudi telepon dulu Bapakku ada dimana sekarang?" ungkap Rudi dengan tangannya mengambil handphone di saku celananya.
"Baik boleh," pungkas Andrew.
"Kira-kira adikku itu, mau di kuburkannya dimana?" ucap Intan dengan ekspresi wajahnya bingung.
"Halo, Bapak lagi dimana sekarang?" tanya Rudi dengan menelepon Bapaknya.
"Bapakmu ini, sedang berada di pemakaman yang dekat dengan jembatan desa. Pasti kamu tahu, suruh mereka kesini!" jawab Pak RT dengan segera menutup telepon dari anaknya.
"Iya Rudi tahu tempatnya, pasti kami kesana!" ujar Rudi dengan segera menyimpan kembali handphone miliknya ke saku celana.
"Oh, dekat jembatan desa di kuburkannya adikku!" ucap Intan.
Rudi, Andrew dan juga Desi segera berjalan kaki, menuju tempat pemakaman. Hingga akhirnya, mereka bertiga sampai ke pemakaman. Intan melihat jasad adiknya sudah dikuburkan oleh orang-orang yang menguburkan mayatnya Desi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
Nuca Idol 20
Ini Novel Cewe Inspirasi layak di jadikan adaptasi ke buku cetak dan Komik karena bagus ceritanya unik dan sangat menarik dan susah di tebak tiap episodenya, colek tim mangatoon ya
2021-09-01
6
ferdyan
Perlu diadaptasi jadi audiobook ini novel layak.
2021-03-27
9