Dalam perjalanan pulang menuju rumahnya Andrew, tiba-tiba ada telepon berdering di dalam saku celananya Andrew dan segera ia mengangkat teleponnya, "Halo ... maaf ini dengan siapa?"
"Ya ini dengan Rudi, tetangganya Intan di kampung halamannya. Apakah ini dengan suaminya, Intan?" jawab Rudi saat menelepon Andrew.
"Ya ada apa telepon saya? Rudi tahu dari siapa nomor handphone ini?" tanya Andrew dengan hatinya penasaran.
"Rudi tahu nomor telepon ini dari Intan yang memberikan kartu nama Kak Andrew, jika suatu saat handphone Intan susah dihubungi karena suatu hal." jawab Rudi dengan bicara lugas di telepon.
"Oh begitu, terus ada kabar apa?" tanya Andrew yang membuatnya penasaran.
"Ini Kak Andrew, aku mau mengabarkan kalau rumahnya Intan di kampung kebakaran!" ungkap Rudi.
"Apa kebakaran rumahnya, Intan? Benarkah itu lalu, kenapa bisa terjadi seperti itu?" tanya Andrew dengan suaranya panik dan bersedih.
"Iya Kak itu benar, Rudi mohon kalau bisa malam ini juga kesini, ini lagi di tempat rumahnya Intan yang kebakaran dan banyak warga sedang pada melihatnya!" sahut Rudi dengan meminta Andrew datang ke rumahnya Intan dikampung halamannya.
"Aduh bagaimana ya, kayanya tidak mungkin. Karena ini sudah jam 12 malam dan Intan sudah tertidur. Dia juga lagi hamil, mana mungkin aku tega membangunkannya!" jawab Andrew dengan hatinya bersedih dan gelisah.
"Ya sudah, jika Kak Andrew tak bisa kesini malam ini. Rudi mohon kasih tahu Intan besok pagi, jika ia sudah bangun dari tidurnya, kalau kebakaran rumahnya itu!" pinta Rudi dengan hatinya kecewa karena Kak Andrew dan Intan tidak bisa datang ke kampung halaman rumahnya malam ini.
"Baik siap, akan aku sampaikan nanti berita ini pada istriku. Terima kasih Rudi sudah mengabarkan berita penting ini, selamat malam!" ucap Andrew dengan segera menutup teleponnya.
"Iya sama-sama Kak Andrew, selamat malam juga!" pungkas Rudi dengan segera ia menutup teleponnya dan berharap besok pagi Intan bisa datang menemui rumahnya.
Andrew merasa kepanikan, "Aduh bagaimana nih, aku tak bisa kasih tahu Intan malam ini juga, kalau rumahnya kebakaran. Takut dia kaget!"
Akhirnya, Andrew sampai juga ke rumahnya dan segera ia parkirkan mobilnya di garasi rumahnya.
Lalu, ia bergegas masuk pintu rumah berjalan ia menuju kamar tidur dan langsung tidur bersama istrinya.
***
Sedangkan di rumahnya Dina, ia segera menelepon orang suruhannya, "Halo Bima, bagaimana kamu sudah berhasil?"
"Sudah Dina, berhasil Bima laksanakan tugasnya!" jawab Bima ditelepon.
"Bagus, benarkah itu?" tanya Dina dengan hatinya khawatir.
"Tentu benar," sahut Bima dengan meyakinkan Dina.
"Sebagai imbalannya aku transferkan malam ini juga uang buat kamu!" ucap Dina dengan hatinya riang karena tugasnya berhasil dikerjakan.
"Oke ditunggu Bos, terima kasih!" pungkas Bima dengan menutup teleponnya dari Dina.
Dina pun, langsung mentransfer sejumlah uangnya ke rekening Bima melalui transfer online lewat aplikasi m-banking di handphone miliknya.
“Berhasil transfernya!" ucap Dina dengan tersenyum melihat ke kaca layar teleponnya.
Sekarang Dina akan berusaha mencari cara, supaya Intan tidak suka pada suaminya itu.
Dan Dina akan berusaha keras untuk memisahkan Intan dengan Andrew hingga akhirnya Andrew mau menikahi Dina.
"Lihat saja Intan, kamu akan segera membenci sikap asli suamimu itu!" ungkap Dina dengan senyuman yang sinis dan kedua matanya berkaca-kaca.
***
Keesokan harinya, Intan melihat handphone miliknya yang ternyata banyak panggilan masuk dari Rudi.
Lalu, Intan langsung menelepon Rudi karena hatinya penasaran, "Halo Rudi, ada apa semalaman kamu meneleponku hingga beberapa kali?"
"Halo Intan, semalaman aku menelepon kamu karena ada berita penting yang harus kamu tahu!" jawab Rudi di telepon oleh Intan.
"Memang Rudi ada berita penting apakah?" tanya Intan dengan ekspresi wajahnya keheranan.
"Iya masa kamu tak tahu? Memang suamimu belum memberitahu beritanya?" ucap Rudi dengan ia heran kenapa suaminya belum memberitahukannya.
"Tentu belum Rudi, ada berita penting apa sih?" tanya Intan dengan mendesak Rudi supaya mengabarkan berita itu.
"Itu rumahmu tadi malam kebakaran, Intan!" jawab Rudi dengan hatinya bersedih.
"Apa Rudi, yang benar itu? Pasti kamu bohong ya?" ucap Intan dengan ekspresi wajahnya panik dan kedua matanya berkaca-kaca.
"Benar itu Intan, sumpah demi Tuhan!" sahut Rudi ditelepon.
"Benarkah ... terus bagaimana dengan adikku, Desi?" tanya Intan dengan air matanya membasahi pipi wajahnya.
"Kalau adikmu Desi ... maaf Rudi tak bisa katakan. Kamu harus segera kesini sekarang juga!" jawab Rudi dengan segera ia menutup teleponnya dari Intan.
"Baik, Intan akan segera secepatnya kesitu!" pungkas Intan dengan menutup teleponnya.
Dari dalam kamar Intan langsung berjalan cepat menuju dapur dan mencari suaminya ada dimana.
"Kak Andrew, dimana?" ucap Intan dengan memanggil suaminya dan mencarinya.
Intan segera melihat jam dinding ternyata pukul 6 pagi, "Aku harus segera ke kampung halamanku. Tapi aku tak bisa menyetir mobil," ungkap Intan dengan menangis.
Lalu, Andrew keluar dari kamar mandi dengan berjalan dan melihat Intan yang sedang kebingungan, "Kamu sudah bangun?" tanya Andrew.
"Ya Kakak, Rumahku kebakaran tadi malam. Kenapa Kakak tidak bangunkan Intan saat aku tidur?" ucap Intan dengan melihat wajah suaminya.
"Maaf Kakak, tidak membangunkanmu tadi malam. Lantaran kamu sedang hamil, supaya tidak terjadi sesuatu pada rahimmu itu!" jawab Andrew dengan menghampiri istrinya.
"Padahal jika Kakak memberitahukan kabar itu tadi malam, sudah pasti aku akan melihat rumahku yang sedang kebakaran karena ingin memastikan kalau adikku tidak kenapa-kenapa!" ungkap Intan dengan menangis karena hatinya merasa terpukul atas musibah yang sedang dialaminya.
"Semoga tidak terjadi apa-apa adikmu dan ayo kamu mandi dulu sekarang. Pasti Kakak antarkan ke kampung halamanmu!" ucap Andrew dengan memeluk tubuh istrinya dan menghapus air mata yang membanjiri pipi wajahnya Intan.
"Siap Kak," sahut Intan dengan melepaskan tangan suaminya dan segera ia berjalan ke kamar mandi.
Andrew pun, melihat Intan masuk ke kamar mandi dan dengan segera Andrew berjalan ke kamarnya untuk segera berpakaian.
Intan mandi dengan tergesa-gesa karena dalam pikirannya ia hanya memikirkan keadaan adiknya.
Kemudian, Intan keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang tiba-tiba saat berjalan cepat Intan menuju kamarnya, ia terpeleset jatuh hingga pingsan tak sadarkan diri.
Andrew keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi dan melihat istrinya ada dilantai dalam keadaan pingsan.
"Intan, kamu kenapa sayang?" ungkap Andrew dengan berjalan menghampiri istrinya itu.
"Ternyata kamu pingsan," ucap Andrew seraya memegang tangan istrinya yang masih hidup.
Andrew membawa istrinya ke kamar dengan membaringkannya di kasur dan segera ia mengambil minyak kayu putih untuk mengoleskannya di leher istrinya.
Kayu putih tersebut oleh Andrew di dekatkan pada kedua lubang hidung Intan, supaya istrinya bisa menghirup aroma segar dan segera sadar dari pingsannya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
Rapa Rasha
semoga intan gpp dgn kehamilannya dan adiknya inta juga baik2 aja
2022-12-25
0
Andrew Andika
Wajib di adaptasi jadi Komik karena cerita menarik dan unik serta harus di adaptasi ke bu cetak karena dijamin laku karena tiap episodenya susah di tebak bikin pembaca penasaran terus ingin membacanya sampai selesai tamat.
2021-08-31
10
ferdyan
Perlu diadaptasi jadi audiobook ini novel Ceritanya sangat menarik.
2021-03-27
13