Berniat bercerai

Sedangkan di ruang kamar melati, Intan telah sadar dari pingsannya dan melihat di sekelilingnya untuk mencari Andrew dan juga Dina.

Intan berusaha turun dari ranjang dengan membawa infusannya, namun saat berjalan ke arah pintu keluar kamar.

Tiba-tiba datanglah Pak Dokter dan meminta Intan untuk berbaring lagi di ranjang dan memberitahukan kalau suaminya itu sedang keluar dari rumah sakit.

"Pak Dokter, kira-kira suamiku pergi kemana?" tanya Intan dengan ekspresi wajahnya bingung.

"Mungkin suamimu sedang ada urusan yang lain karena kamu tadi pingsan dan membutuhkan istirahat sejenak tak boleh kemana-kemana ya!" jawab Pak Dokter tersenyum.

"Lalu, bagaimana dengan keadaan bayi dalam kandunganku ini?" ucap Intan dengan hatinya penasaran.

"Mohon maaf, Bapak harus katakan ini kalau dirimu mengalami keguguran!" sahut Pak Dokter dengan meyakinkan Intan.

"Apa ... benarkah itu, Pak?" tanya Intan dengan ekspresi wajahnya bersedih.

"Benar itu, jadi kamu harus istirahat dulu sampai besok disini. Barulah pulang besok pagi dan beristirahatlah cuti keguguran selama 1 bulan setengah di rumah ya, Bu!" pungkas Pak Dokter dengan memegang pundaknya Intan dan segeralah ia berjalan keluar pintu kamar.

"Jadi benar aku keguguran, baik Pak Dokter terima kasih!" sahut Intan dengan hatinya merasa terpukul dengan keadaannya sekarang.

Saat Intan sedang menangis seorang diri di ruang kamar melati, datanglah Dina masuk ke kamar tersebut dengan memberitahukan sesuatu.

"Intan bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Dina dengan melihat wajahnya Intan.

"Aku keguguran dan sekarang dimana Andrew berada?" ucap Intan dengan menatap kedua matanya Dina.

"Andrew sekarang sedang ke kantor dengan membawa anak kandungnya dan akan memberitahukan pada Pak Andi kalau Kevin tuh anakku!" jawab Dina dengan tersenyum sinis.

"Aku tidak akan berpisah dari Andrew karena bagaimana pun juga aku dan dia sudah saling mencintai!" ungkap Intan dengan berkata lugas.

"Intan ... naif ya, apa kamu lupa kalau Andrew menikah kontrak denganmu bukan berdasarkan cinta. Jadi buat apa mempertahankan pernikahan kontrakmu itu dan Andrew masih mencintai Dina, apalagi aku sudah punya Kevin anak dari kami berdua!" ucap Dina dengan ekspresi wajahnya marah.

"Aku akan izinkan Andrew menikahimu dan Dina harus mau menjadi istri keduanya!" jawab Intan dengan ekspresi wajahnya bersedih.

"Kamu dengar Intan, kalau aku sampai kapan pun tidak mau menjadi istri kedua. Kamu harusnya mengalah karena Intan telah merebut kebahagiaanku!" ungkap Dina dengan marah dan berjalan pergi keluar kamar melati.

Intan pun, hatinya sangat terpukul dengan keadaan hidupnya saat ini tidak menentu. Jika Intan berpisah dengan Andrew pasti Intan harus pergi dari rumah Andrew dan ia tak tahu harus tinggal dimana karena rumahnya di Bandung telah kebakaran.

***

Sedangkan Andrew dengan membawa Kevin ke kantor Akmelano dan untuk memberitahukan sesuatu pada ayahnya.

Dengan mengendarai mobil, Andrew menyetir mobil dengan hati yang tak karuan lantaran dirinya begitu bersalah pada ayahnya karena tidak memberitahukan kalau ia pernah menjalin hubungan asmara dengan Dina.

Saat sampai di depan kantor Akmelano, Andrew membawa Kevin berjalan masuk ke pintu kantor.

Yang pada saat di depan pintu masuk, Andrew bertemu dengan ayahnya yang berjalan terburu-buru karena mau pulang ke rumah.

"Bapak ... kok jalannya cepat, mau kemana?" tanya Andrew dengan ekspresi wajahnya bingung.

"Ini Bapak mau pergi ke rumah karena ketinggalan berkas-berkas penting untuk rapat hari ini dengan klien. Kamu ini membawa anak siapa?" ungkap Pak Andi dengan merasa heran.

"Oh ... anaknya lucu ya, nanti Andrew ceritakan di dalam mobil!" ucap Andrew dengan tersenyum.

"Ya sudah, jika kamu mau antarkan Bapak pulang ke rumah!" ujar Pak Andi dengan berjalan menuju mobil Andrew dan masuk ke dalam mobil.

Saat di dalam mobil, Andrew merasa gugup untuk menceritakan masa lalunya pada ayahnya, namun Andrew tak bisa membohonginya.

"Bapak ini sebenarnya anak ini ... bernama Kevin!" ucap Andrew dengan melihat wajah ayahnya.

"Ya terus ini, anaknya siapa?" tanya Pak Andi dengan menghela nafas.

"Ini anaknya ... Andrew dengan Dina. Aku telah mempunyai kekasih sebelum aku bertemu dengan Intan dan sebelum menikah kontrak dengannya!" ungkap Andrew dengan bicara gugup.

"Jadi Kevin ini adalah anak kandungmu, lantas dari dulu tidak memberitahu Bapak kalau kamu sudah punya kekasih bernama Dina, teman kerjamu kan?" ucap Pak Andi dengan ekspresi wajahnya marah.

"Maaf Pak, bukannya tidak mau kasih tahu. Betul teman kerjaku tapi, tidak tahu kalau sebenarnya Dina hamil dari anakku ini!" sahut Andrew dengan bicara lugas.

"Lalu, apakah Dina tidak memberitahukan kehamilannya padamu?" tanya Pak Andi dengan ekspresi wajahnya marah.

"Ya benar, Dina menyembunyikan rahasia ini dan dia pernah tidur denganku saat Andrew sedang mabuk dengan Dina di hotel pada waktu 3 tahun yang lalu!" ungkap Andrew dengan ekspresi wajahnya sedih.

"Berarti anak ini benar anak kandungmu, apa Intan telah mengetahui masalah ini?" ujar Pak Andi dengan hatinya merasa kesal.

"Justru Intan telah mengetahuinya karena Dina telah datang menjenguk Intan ke rumah sakit dan mengabarkan kepada kami berdua, kalau Kevin ini benar anakku. Dina pun, sekarang sedang melakukan tes DNA ke rumah sakit!" sahut Andrew.

"Terus, bagaimana dengan kehamilan Intan dan kondisinya saat mengetahui masalah ini?" tanya Pak Andi dengan hatinya penasaran.

"Intan sangat terkejut mengetahuinya sampai ia pingsan dan ia belum tahu kalau Intan telah keguguran!" jawab Andrew dengan ekspresi wajahnya bersedih.

"Intan keguguran hamilnya, benarkah itu?" ujar Pak Andi dengan ekspresi wajahnya terkejut.

"Benar itu, kalau Intan keguguran dan Dina memintaku untuk menikahinya!" ucap Andrew.

"Dina memintamu untuk menikahinya tapi, bagaimana perasaan Intan jika ia telah mengetahuinya?" tanya Pak Andi.

"Aku sudah mengambil keputusan untuk berpisah dengan Intan karena dengan alasan ia telah keguguran dan aku menikah kontrak dengannya bukan berdasarkan cinta!" ungkap Andrew dengan bicara lugas.

"Itu keputusan yang gila Andrew dan kamu tidak memikirkan perasaan Intan yang sekarang sedang berduka karena telah kecelakaan hingga membuatnya keguguran!" ucap Pak Andi dengan ekspresi wajahnya marah.

"Tapi, bukannya tidak memikirkan perasaan Intan saat ini melainkan karena Dina mendesakku untuk meminta pertanggung jawaban atas Kevin anak kandungku ini dan pernikahan kontrak selama 3 tahun dengan Intan memang harus berakhir!" ujar Andrew dengan ekspresi wajahnya gugup.

"Jika kamu memaksakan untuk berpisah dengannya. Terus, Intan pasti akan pergi dari rumah kita!" sahut Pak Andi dengan hatinya jengkel.

"Iya tentu dan di pastikan Intan masih akan tetap bekerja di perusahaan Akmelano!" pungkas Andrew dengan hatinya gelisah.

"Memangnya Intan mau berpisah denganmu, bagaimana jika ia tidak mau?" tanya Pak Andi dengan ekspresi wajah bingung.

"Pasti Intan mau berpisah denganku karena sesuai perjanjian kontrak kalau ia rela berpisah jika tak memberikan seorang anak padaku!" jawab Andrew dengan meyakinkan ayahnya itu.

Perjalanan menuju rumahnya Andrew akhirnya, telah sampai di depan pintu pagar rumah yang berada di perumahan asri Jakarta.

Terpopuler

Comments

Rapa Rasha

Rapa Rasha

endriw endriw kmu ya jdi cowok kok.......

2023-01-02

0

ferdyan

ferdyan

Wajib diadaptasi jadi audiobook ini novel keren banget dan sangat populer ya.

2021-03-27

10

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!