Ternyata benar

Saat sampai di depan rumahnya Andrew, tak terduga Pak Andi dan juga anaknya tersebut di dalam mobil, melihat sosok wanita misterius yang berambut panjang sedang berdiri dengan menghadap ke belakang yang membuat mereka berdua turun dari dalam mobil karena penasaran.

"Andrew buruan cepat kita turun, wanita itu sepertinya istrimu?" ucap Pak Andi dengan kedua matanya melihat ke depan kaca mobil dan mulai turun dari dalam mobil.

"Mana mungkin Intan sudah pulang dari rumah sakit, kan dia masih dalam proses pemulihan!" sahut Andrew dengan turun dari dalam mobil dan hatinya penasaran.

Lalu, Andrew dan juga ayahnya berjalan ke arah pagar rumah yang telah terbuka pagarnya, spontan seketika wanita tersebut membalikkan tubuhnya dan membuat mereka berdua terkejut.

"Hai Andrew calon suamiku dan juga Pak Andi, Selamat siang!" ucap Dina dengan tersenyum dan menundukkan kepalanya.

"Ternyata kamu, dikira siapa?" tanya Andrew dengan menghela nafasnya.

"Selamat siang juga, kenapa Dina tahu kami mau pulang kesini?" tanya Pak Andi dengan tersenyum dan ekspresi wajahnya bingung.

"Awalnya Dina mau menelepon Andrew untuk datang kesini dan ingin mengabarkan kalau Kevin itu benar positif anak kandungnya Dina dan juga Andrew, ini hasil tes DNA dari rumah sakit!" jawab Dina dengan memberikan amplop coklat pada Pak Andi.

Pak Andi pun, langsung menerima dan membuka amplop coklat tersebut dengan hatinya penasaran apa benar yang ucapkan Dina itu.

Ternyata benar hasil tes DNA mengatakan kalau Kevin Julian adalah anak kandungnya Andrew dari Dina.

Hingga membuat Pak Andi terkejut dan berkata, "Andrew, jadi selama ini kamu bohongi Bapak dengan dirimu menjalin hubungan asmara pada Dina yang ternyata sebelum kamu kawin kontrak dengan Intan. Kamu sudah membuat Dina sampai mengandung anakmu!" ungkap Pak Andi dengan memberikan selembar kertas tersebut pada Andrew dan melempar amplop coklat ke lantai.

"Iya itu benar, maafkan Andrew karena aku pun tidak tahu kalau Dina tuh sudah hamil dari anakku. Lantaran waktu itu aku dan Dina sedang mabuk hingga kami berdua tak tahu melakukan hubungan itu!" ucap Andrew dengan ekspresi wajahnya sedih dan menunduk kepalanya karena malu.

"Lalu, apa maumu sekarang kalian berdua?" tanya Pak Andi dengan ekspresi wajahnya marah.

"Kami ingin Bapak memberikan restu pada kami berdua untuk menikah secepatnya demi cucu Bapak juga!" jawab Dina dengan memohon pada Pak Andi.

"Jika kalian berdua menikah, lantas Intan istrimu bagaimana perasaannya?" ucap Pak Andi dengan hatinya jengkel.

"Lantas apa ... Bapak tidak memikirkan perasaan kami berdua yang saling mencintai hingga akhirnya kami memberikan cucu keturunan untuk keluarga Pak Andi ini!" ungkap Dina dengan kedua matanya berkaca-kaca.

"Aku tidak akan memberikan restu pada kalian berdua sebelum Andrew menceraikan Intan. Jika Intan tidak mau berpisah dengan Andrew maka anakmu bernama Kevin biar di asuh oleh, Intan." sahut Pak Andi dengan berjalan ke arah pintu rumah lalu, membuka pintu tersebut dengan kunci rumah serta berjalan masuk ke dalam rumah untuk mengambil berkas-berkas penting.

Andrew dan juga Dina terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya Pak Andi, hingga Dina berusaha membujuk Andrew untuk menikahinya.

"Andrew, mana Kevin anakku?" tanya Dina dengan hatinya bersedih.

"Kevin lagi ada di dalam mobil, dia sedang tidur!" jawab Andrew dengan menatap wajahnya Dina.

Dina pun, berlutut pada Andrew dan memohon hingga menangis agar mimpinya untuk hidup bersama Andrew bisa terwujud.

"Dina mohon sama kamu, supaya ayahmu bisa merestui kita untuk menikah demi masa depan anakmu ini dan aku tidak mau anakku di asuh oleh Intan yang jelas bukan ibu kandungnya!" ucap Dina dengan kedua tangannya memegang kedua tangan Andrew.

"Baiklah ... aku akan putuskan untuk berpisah dengan Intan dan kita akan menikah secepatnya!" sahut Andrew dengan merangkul Dina untuk berdiri dan memeluknya.

"Bagus itu ... kita sama-sama saling mencintai. Jadi untuk apa kamu pertahankan Intan yang jelas sekali itu hanya menikah kontrak. Apalagi Intan telah keguguran sekarang!" ucap Dina dengan memeluk erat tubuh Andrew.

"Tenang saja ... aku pasti akan ceraikan Intan. Namun aku bingung dia mau tinggal dimana kalau aku berpisah dengannya!" ujar Andrew dengan hatinya bingung dan melepaskan pelukannya itu.

"Tak usah khawatir, walaupun dia sudah kehilangan rumahnya di Bandung. Biarkan saja dia tetap bekerja di perusahaan Akmelano dan di pastikan Intan tinggal di kosan!" ungkap Dina dengan meyakinkan Andrew untuk tidak merasa kebingungan.

"Ya sudah jika itu ide yang bagus, maka aku setuju dengan keputusanmu itu!" pungkas Andrew dengan menghela nafas dan sedikit lega perasaannya itu.

Pak Andi dari dalam rumah keluar dengan membawa berkas perusahaan dan berjalan cepat menuju pagar rumah serta menyuruh Andrew untuk membawa Kevin di keluarkan dari dalam mobilnya. Andrew pun menurutinya dan berjalan menuju mobil serta membawa anaknya itu.

"Andrew ... ini Kevin bawa dari mobil ini karena Bapak mau menyetir mobilmu secepatnya, rapat dengan klien tak boleh terlambat dan Andrew harus jenguk Intan ke rumah sakit!" ungkap Pak Andi dengan berjalan masuk ke dalam mobil.

"Baik siap," pungkas Andrew dengan memangku anaknya itu.

"Awas ... kamu harus bawa lagi Intan ke rumah ini karena dia lagi keguguran, jadi butuh perhatian untuk masa pemulihan!" pinta Pak Andi dengan segera ia menghidupkan mobil dan mulai mengendarainya.

"Oke," sahut Andrew dengan menunduk kepalanya dan melihat ayahnya, di tinggal pergi ke kantor.

Dina pun, melihat Andrew sedang memangku Kevin yang sedang tidur dan Dina langsung memanggil Andrew untuk masuk ke dalam rumah serta Dina akan membuat rencana agar Andrew bisa secepatnya menceraikan Intan.

***

Sedangkan di rumah sakit, Intan termenung dalam kamar ruang melati dengan hatinya merasa tak menentu.

Intan berlinang air mata di pipi wajahnya dan melamun memikirkan jalan hidup ke depannya harus seperti apa.

"Aku tak boleh berpisah dengan Andrew, walaupun aku sudah keguguran!" batin Intan mengatakan seperti itu.

Tiba-tiba terdengar bunyi dari arah pintu, ada orang yang mengetuk pintu ruang kamar melati.

"Ya siapa disana, boleh masuk!" ucap Intan dengan hatinya terkejut karena ia sedang melamun.

"Intan ini Widya, selamat pagi!" jawab Widya dengan membuka pintu dan melihat Intan yang sedang duduk di atas ranjang.

"Ya Widya, kenapa tahu kalau Intan ada di rumah sakit?" tanya Intan dengan ekspresi wajahnya penasaran.

Terpopuler

Comments

Rapa Rasha

Rapa Rasha

intan kamu wanita kuat jangan mau di sakiti lagi pergi jauh2 aja kmu biar tu laki nyesel

2023-01-02

0

ferdyan

ferdyan

ini novel keren banget dan ceritanya sangat menarik.

2021-03-27

11

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!