Terjadilah perdebatan antara Andrew dengan ayahnya. Andrew tak menyangka kalau Pak Andi menampar wajahnya di depan Intan hingga membuat hatinya tertunduk malu.
"Oke ... jika Andrew punya salah sama Bapak dan juga Intan, aku minta maaf. Tapi, keputusanku untuk berpisah dengan Intan sudah bulat!" ungkap Andrew dengan kedua matanya berkaca-kaca.
"Jika itu maumu, maka Intan harus mencari tahu dulu siapa orang yang telah mencelakainya hingga membuatnya keguguran seperti ini!" ujar Pak Andi dengan menatap wajah anaknya itu.
"Iya Andrew, beri aku kesempatan untuk membuktikan siapa orang yang berbuat jahat padaku. Dan jika sudah ketemu orangnya, pasti aku mau berpisah denganmu!" sahut Intan dengan berlinang air mata.
"Baiklah, aku akan menunggunya dan jika lama belum ketemu pelakunya maka harus secepatnya kita berpisah!" pungkas Andrew dengan membalikkan tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Lalu, Pak Andi dan juga Intan berjalan menyusul Andrew yang telah masuk lebih dulu ke dalam rumah.
Pak Andi dalam hatinya tak mau berdebat lagi dengan anaknya itu, karena ia merasa letih dengan pekerjaan di kantor.
Sedangkan Andrew tak tahu ia sembunyi entah dimana, karena dalam hatinya merasa malu pada Intan dan juga ayahnya.
Intan berjalan menuju kamarnya dengan hatinya penasaran kemana suaminya berada, namun saat Intan membuka pintu kamar ternyata ada Dina sedang tidur bersama Kevin.
Hingga membuat Intan merasa kesal dalam hatinya itu, berniat untuk membangunkan Dina yang sedang tertidur itu.
"Dina ... bangunlah!" panggil Intan dengan suaranya berserak karena kelelahan.
"Iya sayang," jawab Dina dengan membukakan matanya sedikit.
"Ayo bangun ... ini masih kamarku. Kamu tidak berhak tidur di kamar ini karena aku belum berpisah dengan suamiku!" ungkap Intan dengan ekspresi wajahnya kesal dan jengkel.
"Wah ... ternyata kamu, kenapa bisa ada disini?" tanya Dina dengan melihat jelas matanya menatap wajah Intan.
"Justru seharusnya aku bertanya seperti itu, pergilah dari rumah ini karena mertuaku masih mengizinkan aku tinggal disini bersama suamiku!" ucap Intan dengan tatapan matanya tajam melihat kedua matanya Dina.
"Bukannya kamu besok pulang dari rumah sakit tuh, malah malam ini kamu pulang?" tanya Dina dengan hatinya penasaran.
"Itu tak penting ... karena mertuaku tadi menjemputku untuk pulang ke rumah dan menyuruhku agar tetap tidak boleh berpisah dengan Andrew sebelum mencari tahu, siapa orang yang telah menculikku semalam dan mencelakaiku hingga keguguran begini!" jawab Intan dengan berbicara lugas.
"Oh, seperti itu rupanya!" sahut Dina dengan bangun dari kasur dan membawa Kevin keluar pintu kamar.
Saat Dina keluar kamar dan berjalan di ruang keluarga dengan membawa memangku anaknya yang masih berumur dua tahun, tiba-tiba ada Pak Andi yang menarik tangannya Dina dengan keras.
"Benar tak menyangka kamu ya ... berani sekali sudah tidur di kamarnya Andrew, padahal kamu belum menikah dengannya!" ucap Pak Andi dengan ekspresi wajahnya marah.
"Lepaskan tanganku sakit ... aku tidur di kamarnya Andrew itu tidak berdua sama Andrew tapi, berdua sama Kevin yang jelas cucu kandung, Pak Andi!" ungkap Dina dengan hatinya merasa kesal.
"Sekarang juga, kamu pergi dari rumah ini sebelum Andrew berpisah dengan Intan, kamu tak boleh tinggal di rumah ini. Kecuali kalau kamu sudah menikah dengan anakku!" ujar Pak Andi dengan mengusir Dina untuk segera pergi.
"Siap, nanti Bapak akan menyesal karena telah mengusirku dan cucumu ini!" sahut Dina dengan hatinya kecewa dan berjalan menuju pintu keluar, hingga pergi meninggalkan rumahnya Andrew.
Di dalam kamar, Intan merasa sedikit lega karena tidak jadi menanda tangani surat cerainya yang di berikan Andrew padanya saat di rumah sakit.
Dengan rasa kantuk dan hatinya telah lelah dengan ujian hidup yang di hadapi itu.
Intan pun, tertidur lelap hingga ia tak mencari tahu kalau suaminya entah dimana sekarang tidurnya.
***
Keesokan harinya, Intan terbangun dari tidurnya dengan hatinya masih gelisah karena Andrew tak tidur bareng di kamar.
Intan bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu keluar kamar, hingga berniat mencari Andrew dan juga mertuanya.
Ketika Intan melihat jam dinding waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi, sampai akhirnya ia sadar kalau Andrew dan mertuanya itu sudah berangkat kerja.
Tiba-tiba ada bunyi ponsel seluler yang berdering di bawah meja keluarga, spontan Intan mencari handphone tersebut. Ternyata saat Intan melihatnya, ternyata itu ponsel milik Dina yang ketinggalan semalam.
Lalu, Intan mengangkat panggilan masuk yang berdering pada handphone tersebut, "Halo ini dengan siapa?" tanya Intan.
"Ini masa kamu tak kenal, orang suruhanmu yang memintaku untuk membakar rumahnya dia!" jawab Orang Misterius.
"Maksudmu, rumahnya siapa yang kau bakar itu?" ungkap Intan dengan hatinya penasaran.
"Maaf, ini sepertinya bukan dengan Bos Dina ya?" sahut Orang Misterius.
"Tidak ... ini benar dengan Dina sendiri." ujar Intan dengan berdusta karena dirinya ingin mencari tahu sikap aslinya Dina.
"Jika benar ini dengan Dina, pasti kamu tahu rumah siapa yang engkau suruh untuk membakar?" tanya Orang Misterius.
"Maaf Dina lupa, siapa ya?" ucap Intan dengan berpura-pura mengakui dirinya sebagai Dina.
"Itu rumahnya," panggilan terputus secara spontan dari orang misterius itu.
"Halo ... kok di matikan teleponnya?" ungkap Dewi dengan hatinya penasaran dan melihat ke layar handphone kalau orang tersebut mematikan teleponnya.
Intan pun, mulai mencari nomor yang tak di kenal itu di ponsel miliknya Dina dan akan menelepon lagi orang tersebut untuk memastikan apa maksud dari ucapannya itu.
Namun apa yang terjadi, ternyata orang misterius itu tidak mengaktifkan lagi nomornya sampai membuat Intan menjadi kesal dan kebingungan.
Kemudian, Intan berniat untuk menghubungi Dina dan pada akhirnya ada yang mengangkatnya.
Di kantor Akmelano, Dina sedang melamun di dalam ruang kerjanya karena ke pikiran sesuatu bagaimana kalau Andrew malah tak mau menceraikan Intan karena suatu hal.
Dina dengan ekspresi wajahnya bingung ia mulai melamun menatap kalender. Tiba-tiba ada panggilan masuk, telepon berdering dan Dina mengangkat teleponnya itu.
"Iya halo ... ini dengan siapa?" tanya Dina.
"Ini Intan, ponsel selulermu ketinggalan di rumah Andrew. Aku ingin pada saat jam istirahat kerja nanti jam 12, kita bertemu di kantor ya!" jawab Intan.
"Aku sudah tahu kalau ponselku ketinggalan di rumah Andrew dan tadi calon suamiku sudah mengantarkan tas selempangku!" ucap Dina.
"Rupanya aku sudah mengetahui siapa orang yang mencelakaiku hingga akhirnya keguguran dan mimpimu untuk hidup dengan Andrew tidak akan pernah terwujud karena suamiku adalah mimpiku untuk hidup bersamanya!" ungkap Intan dengan berbicara lugas.
"Eh ... apa maksudmu, wanita naif?" tanya Dina dengan emosinya bergejolak.
"Karena aku telah menemukan pelaku yang sebenarnya dan jika itu terbukti kamu dalangnya, pasti kamu akan masuk penjara!" jawab Intan dengan marah dan menutup teleponnya.
"Jangan asal ngomong kamu, nanti ... bakal menyesal. Halo, sialan malah di matikan teleponnya!" ucap Dina dengan hatinya sungguh jengkel mendengar perkataan seperti itu dari Intan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
Rapa Rasha
ayo intan jangan mau di remehin ya
2023-01-02
0
ferdyan
Harus diadaptasi jadi audiobook ini novel keren banget dan populer. Ceritanya sangat menarik.
2021-03-27
8