Menjenguk dan memberitahu rahasia

Andrew mulai merasa heran kenapa Intan bisa di culik oleh penjahat, apakah orang misterius itu masuk ke dalam rumah Andrew.

"Intan, kan kamu tuh lagi ada di dalam rumah saat Kakak dan Dina masih di luar pintu rumah. Apakah penjahat itu, masuk rumah saat Kakak mengantarkan Dina ke rumahnya?" tanya Andrew dengan hatinya penasaran.

"Sebenarnya Intan semalam mengikuti kalian berdua sampai ke depan rumahnya, Dina!" jawab Intan dengan kepalanya menunduk.

"Kenapa kamu mengikuti kami berdua saat malam? Lalu, bagaimana penjahat tersebut bisa membawamu ke kosan kosong?" ucap Andrew dengan ekspresi wajahnya penasaran.

"Aku mengikuti kalian berdua karena pergi tanpa sepengetahuanku. Supir taksi telah pergi saat aku turun dari mobilnya dan dari arah belakang mulutku di bekam oleh penjahat saat aku melihat mobilmu berhenti di depan rumahnya, Dina!" ungkap Intan dengan menatap matanya Andrew.

"Kemudian, apa yang terjadi padamu?" tanya Andrew.

"Kejadian itu membuat batinku ingin menjerit kencang, namun apalah daya aku tak kuat melawannya karena aku sudah di buat pingsan olehnya!" jawab Dina dengan menangis.

"Maafkan Andrew karena saat itu, aku belum turun dari mobil dan tidak melihat dirimu diperlakukan sepeti itu!" ujar Andrew dengan memegang tangan istrinya dan duduk di atas ranjang.

Tiba-tiba datanglah seorang wanita dengan membawa anak kecil yang berumur 2 tahun.

Wanita tersebut adalah Dina yang datang menjenguk Intan dan masuk ke ruang kamar melati.

"Hai selamat pagi, Gimana kabar kalian hari ini?" tanya Dina dengan berjalan menuju mereka berdua dan membawa anak kecil itu.

"Eh kamu, dikira tuh siapa!" jawab Andrew dengan menghela nafas.

"Dina datang kesini untuk menjenguk Intan dan ingin memberikan kejutan pada kalian berdua!" ucap Dina dengan tersenyum sinis.

"Maksudmu apa?" tanya Intan dengan mengusap air mata yang membanjiri pipi wajahnya dengan kedua tangan.

"Coba kalian berdua perhatikanlah wajah anak laki-laki ini ya!" jawab Dina dengan pandangan matanya menatap ke wajah anak laki-laki tersebut.

"Iya maksudmu apa?" tanya Andrew dengan ekspresi wajahnya heran.

"Wajahnya mirip dengan Andrew ya. Perhatikanlah dengan serius memandang anak laki-laki ini!" ungkap Dina dengan tangannya memegang dagu anak laki-laki tersebut.

"Hampir mirip anak itu denganku, siapa sebenarnya anak laki-laki yang kau bawa kemari?" tanya Andrew dengan hatinya penasaran.

"Anak laki-laki ini adalah anak kandungmu dan jika kalian tidak percaya, maka aku hari ini ke rumah sakit sedang melakukan tes DNA pada anak ini!" jawab Dina dengan menatap wajahnya Andrew.

"Apa itu anak kandungnya Andrew dengan siapa?" tanya Intan dengan ekspresi wajahnya terkejut.

"Yang benar saja kalau anak laki-laki itu adalah anak kandungku?" ucap Andrew dengan menatap matanya pada Dina dan anak laki-laki itu.

"Itu benar Intan, anak ini bernama Kevin. Sebelum Intan menikah kontrak dengan Andrew, sejujurnya aku telah hamil mengandung anakmu ini!" ungkap Dina dengan kedua matanya berkaca-kaca.

"Itu pasti bohong, benar itu Andrew telah menghamili Dina sebelum aku menikah kontrak denganmu?" tanya Intan dengan menatap wajahnya Andrew.

"Setahuku aku tidak pernah tidur dengan Dina. Pasti ini Dina merekayasa kan?" ujar Andrew dengan menatap wajahnya Dina dengan tajam.

"Andrew apa dirimu telah lupa, kalau waktu itu kamu dan aku pernah mabuk berdua di hotel hingga Andrew membawaku masuk ke dalam kamar hotel sampai melakukan hal itu!" ungkap Dina dengan meyakinkan Andrew dan juga Intan.

"Ya memang waktu itu, Andrew pernah mabuk berdua denganmu hingga aku tak sadar bisa tidur denganmu di dalam kamar hotel!" ujar Andrew dengan ekspresi wajahnya malu.

"Ternyata itu benar anak kandungmu Andrew dan kenapa Dina tidak memberitahukan hal tersebut saat aku belum menikah kontrak dengan kekasihmu ini?" tanya Dina dengan matanya menatap wajah Dina dan menunjuk tangannya ke arah anak kandungnya Andrew yang sedang berdiri.

"Karena aku punya alasannya, dikira Intan tidak hamil dari anaknya Andrew. Dan pasti setelah berakhir masa kawin kontrak selama tiga tahun Andrew akan menikahiku, namun ternyata tidak seperti ini kejadiannya!" ungkap Dina dengan berbicara lantang.

"Lalu, apa yang Dina inginkan dari Andrew. Sedangkan aku ini sedang hamil mengandung anak darinya!" ujar Intan dengan hatinya bersedih dan ekspresi wajahnya bingung.

"Yang aku inginkan adalah Andrew harus menceraikan kamu dan menikahiku karena aku sudah punya anak kandung darinya!" ucap Dina dengan ekspresi wajahnya marah.

"Apa?" pungkas Intan dengan terkejut mendengar perkataan itu dan ia langsung pingsan.

"Intan, kamu kenapa?" ungkap Andrew dengan melihat istrinya yang pingsan.

Dina dan anaknya langsung keluar dari ruang melati dan mencari suster untuk mengecek keadaan Intan sekarang.

Suster datang ke ruang kamar tersebut, untuk mengecek kondisi Intan yang pingsan dan meminta Andrew untuk keluar kamar.

Andrew saat keluar ruang kamar melati, langsung Dina memanggil Andrew dan membawanya keluar pintu rumah sakit.

***

"Kevin ini ayahmu," ucap Dina dengan tersenyum pada anaknya.

"Ayah ... kangen Kevin sama ayah!" sahut Kevin dengan berjalan mendekati Andrew.

"Iya Kevin, ayah juga kangen!" ujar Andrew dengan memeluk Kevin dan mencium kening anaknya.

"Ayah ... Kevin lihat itu ada rumah makan didepan seberang rumah sakit!" ungkap Kevin dengan menunjuk ke tempat tersebut.

"Kevin lapar ya ... mari kita makan disana!" pungkas Andrew dengan memangku anaknya dan berjalan membawanya ke tempat yang di tuju.

Mereka makan di tempat tersebut. Dina merasa terharu jika seandainya Andrew menceraikan Intan dan segera menikahi Dina pasti betapa bahagia hidupnya.

Setelah mereka memesan makanan dan menunggu pesanan mereka di antarkan ke tempat meja yang di singgahnya itu.

Dina mulai membujuk Andrew untuk menceraikan istrinya meski Intan menolaknya nanti.

"Sayang, aku ingin kamu pisah dengan Intan. Demi anak kandung kamu ini!" pinta Dina dengan tersenyum dan memegang tangannya Andrew.

"Baik ... jika itu demi kebaikan anak kita, aku akan berpisah dengan Intan. Karena kata Pak Dokter, kalau Intan telah keguguran hamilnya!" ungkap Andrew dengan ekspresi wajahnya bersedih.

"Apa benar kalau Intan tuh keguguran?" tanya Dina dengan ekspresi wajahnya terkejut.

"Tentu benar ... aku kasihan sama dia karena rumahnya di Bandung kebakaran!" jawab Andrew dengan memegang kedua tangannya Dina.

"Berarti tidak bersalah kalau kamu ceraikan Intan karena dia sudah tidak punya anak darimu. Justru Andrew harus lebih kasihan pada Kevin anak kandungmu sendiri karena ia butuh kasih sayang dari seorang ayah dan juga masa depanmu!" ungkap Dina dengan menatap matanya Andrew dan memohon padanya.

"Baik ... aku akan putuskan untuk bilang pada ayah mengenai soal ini. Dipastikan ayah bisa merestui hubungan kita untuk menikah denganmu!" ucap Andrew dengan tersenyum.

"Nah bagus ... itu namanya cowok sejati yang berani tanggung jawab!" ujar Dina dengan tersenyum mendengar perkataan dari Andrew.

Kemudian, datanglah pelayan dengan memberikan hidangan makanan pada mereka yang sedang duduk dan akhirnya Andrew dan Dina makan dengan lahapnya.

Terpopuler

Comments

Rapa Rasha

Rapa Rasha

duh gimana ceritanya kok kok ada ya cowok gk punya hati nurani

2023-01-02

0

ferdyan

ferdyan

Perlu diadaptasi jadi audiobook ini novel keren banget dan alur ceritanya menarik dan simple.

2021-03-27

9

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!