Berduka

Saat Andrew mendekatkan kayu putih ke lubang hidung istrinya, akhirnya Intan sadar dari pingsannya itu dan segera ia bangun, "Kak dimana ini?" tanya Intan dengan membuka kedua matanya.

"Ini kamu sedang ada dikamar, tadi Intan pingsan dan Kakak yang membawamu kesini!" jawab Andrew dengan hati lega kalau istrinya sudah sadar dari pingsannya itu.

"Oh iya, baru ingat aku sekarang. Terima kasih telah membawakanku kesini dan aku harus segera ke kampung halamanku!" ungkap Intan dengan hatinya bersedih.

"Baik akan Kakak antarkan ke kampung halamanmu, asal kamu harus berpakaian dulu dan sarapan ya!" ucap Andrew dengan tangan kanannya memegang pipi wajah istrinya.

"Siap Kak," sahut Intan dengan ia segera bangun dari tempat tidurnya, berdiri berjalan mendekati lemari dan membuka lemari pakaiannya.

"Oke, Kakak tunggu ya di meja makan!" pungkas Andrew seraya ia berdiri dan berjalan keluar menuju pintu kamar.

Dewi segera berpakaian rapi dan menyisir rambutnya didepan cermin, "Semoga kamu tidak kenapa-kenapa Desi adikku!" ungkap Intan.

Lalu, Intan segera berjalan menuju sajadah dan mengerjakan kewajibannya salat subuh.

Setelah selesai salat, Intan berdoa agar adiknya tidak terjadi sesuatu.

Kemudian, setelah berdoa Intan segera keluar kamar dan berjalan menuju meja makan.

"Ayo sarapan dulu sayang!" ungkap Andrew dengan memberikan senyuman pada istrinya.

"Baik Kak," jawab Intan dengan membalas senyuman suaminya.

Mereka berdua pun, serapan pagi dengan mesranya Andrew menghibur istrinya yang sedang bersedih dengan musibah rumahnya kebakaran.

"Kakak bisa saja merayuku agar aku bisa berhenti di tempat kerja milik perusahaan ayahmu itu!" ucap Intan.

"Ya sudah kalau kamu tak mau berhenti kerja, kamu harus bisa menjaga kehamilanmu supaya tidak jatuh pingsan lagi!" ungkap Andrew dengan tangan kanannya memegang tangan kiri istrinya.

"Siap Kak, aku akan berusaha menjaga bayi kita ini. Semoga bisa selamat sampai melahirkan nanti, kita sudah selesai sarapan mari saatnya pergi ke kampung halamanku!" ucap Intan dengan meminta suaminya untuk segera mengantarkan Intan ke kampung halamannya.

"Oke siap, Kakak keluarkan dulu mobilnya dari dalam garasi rumah!" sahut Andrew dengan berjalan menuju pintu rumah dan langsung ke garasi mobil.

Andrew segera mengendarai mobil dari dalam garasi mobil dan menyembunyikan klakson mobil.

Intan pun, langsung mengambil tas selempang dan berjalan ke pintu rumah lalu, ia mengunci pintu tersebut.

Hingga ia membuka pintu mobil suaminya serta segera naik ke mobil tersebut, duduk di samping suaminya dan menutup pintu mobilnya.

"Sudah siap, ayo Kak jalankan mobilnya!" pinta Intan dengan memberikan senyuman pada suaminya.

"Baik," sahut Andrew dengan membalas senyuman pada istrinya itu.

Andrew pun, segera menyetir mobilnya dan pagar rumah terbuka lebar jadi langsung mobilnya melaju dari perumahan asri di Jakarta menuju perjalanan rumahnya Intan yang berada di Bandung.

Saat sedang dalam perjalanan, tiba-tiba di dalam mobil Andrew, telepon berdering dari handphone miliknya.

"Siapa itu Kak yang menelepon, Kok tak diangkat?" tanya Intan dengan pandangannya menatap wajah Andrew.

"Oh ini biasa Dina yang menelepon, mungkin dia menanyakanku mengenai pekerjaan di kantor!" jawab Andrew dengan memegang ponsel miliknya.

"Ya sudah, angkatlah telepon darinya!" pinta Intan dengan tersenyum pada suaminya.

"Halo, iya Dina ada apa?" tanya Andrew mengangkat telepon dari Dina.

"Iya nih, kamu masih dimana? Sekarang kan mau ada rapat penting dengan klien kita di perusahaan, membahas mengenai keuangan perusahaan ayahmu sedang rugi atau enggak!" jawab Dina suaranya yang lembut.

"Tentu, aku sudah tahu itu. Tapi maaf hari ini aku tak bisa kerja ke kantor, mau pergi ke kampung halaman istriku karena rumahnya kebakaran!" ungkap Andrew dengan hatinya bersedih.

"Apa rumahnya Dewi kebakaran, kok bisa seperti itu?" ucap Dina.

"Iya itu benar, Dina kamu atur rapat dengan klien ya. Buatlah mereka puas dengan kinerja kita di perusahaan!" pinta Andrew dengan lugas ia berkata begitu.

"Siap Bos akan dilaksanakan," sahut Dina dengan menutup teleponnya.

"Good job," pungkas Andrew dengan menutup handphone miliknya dan ia simpan di saku celananya.

"Sebentar lagi kita, akan segera melewati jalan tol ya kan?" tanya Andrew dengan melihat arah jalan di depan kaca mobil.

"Betul itu, nanti percepatlah menyetirnya saat keluar dari jalan tol langsung belok ke kiri, ambil jalan pintas ya!" jawab Intan dengan hatinya tak sabar ingin segera sampai ke kampung halaman rumahnya.

"Baiklah," sahut Andrew dengan segera mobilnya melaju cepat di jalan tol.

***

Sedangkan di kantor, Dina langsung mengatur jadwal dengan klien dan ia dengan segera mengatur siasat untuk membuat Andrew jatuh cinta lagi padanya.

"Akhirnya aku sudah mendapatkan ide, untuk membuat acara rapat nanti, agar bisa berjalan lancar walau tanpa, Andrew!" ucap Dina dengan berbicara lugas berkata seperti itu.

Rapat dengan klien pun segera di mulai, semua karyawan bagian staf administrasi datang dan berkumpul di ruang rapat.

Dina membuka acara rapat dengan menjadi moderator di rapat tersebut.

"Acara rapat kali ini, akan segera di mulai dan pada kesempatan ini membahas mengenai keuangan di perusahaan Akmelano, yang mana struktur keuangan tersusun secara sistematis dan sehat secara finansial, untuk itu para klien bisa bergabung di perusahaan real property (tanah)." ungkap Dina dengan berkata lugas pada semua orang yang hadir dalam acara rapat tersebut.

"Kak kemana Direktur dan CEO, kenapa tidak ikut hadir rapat ini?" tanya Klien laki-laki.

"Kalau CEO sedang tugas dinas luar, sedangkan Direktur bernama Pak Andrew sedang ada acara ... itu mengenai keluarganya!" jawab Dina dengan tegasnya ia mengatakan seperti itu.

"Kami tertarik bergabung di perusahaan Akmelano ini, tapi kami mau perjanjian kerja sama langsung dengan Pak Andrew nanti!" ucap Klien Laki-laki.

"Boleh tentu silakan," sahut Dina dengan memberikan senyuman.

Rapat dengan semua klien yang hadir itu, merasa simpati untuk bergabung di perusahaan ayahnya Andrew. Dan acara rapat tersebut, berjalan dengan lancar.

Hati Dina sungguh senang sekali, karena berhasil membuat klien mau ikut bergabung dengan perusahaan Akmelano.

Penutupan rapat tersebut, diakhiri dengan tepuk tangan yang meriah dari semua klien yang ikut rapat.

***

Sedangkan dalam perjalanan menuju Bandung, akhirnya Andrew dan juga Intan sampai di kampung halamannya.

"Ayo Kak Andrew, Intan mau tahu bagaimana keadaan rumahku dan juga, Desi!" ungkap Intan dengan membuka mobil, turun ia dari mobil suaminya dan segera berjalan cepat.

"Tunggu jangan lari, kamu kan lagi hamil!" ucap Andrew dengan segera ia membuka pintu mobil, turun dari mobilnya berjalan dengan menyusul Intan yang telah pergi.

Intan saat melihat ke arah rumahnya, bangunan sampai atap rumahnya hancur hangus oleh si jago merah.

Membuat hatinya bersedih dan sampai ia tak sadar dirinya jongkok dengan menangis terisak-isak.

Terpopuler

Comments

Rapa Rasha

Rapa Rasha

lanjutkan kak

2022-12-25

0

ferdyan

ferdyan

Perlu diadaptasi jadi audiobook ini novel good.

2021-03-27

8

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!