Andrew bertemu dengan ayahnya, saat membukakan pintu rumah, "Ayah ternyata sudah pulang?" tanya Andrew dengan wajahnya tersenyum.
"Iya tentu, ayah sudah beres tugas dinasnya. Ayo masuk ke dalam rumah!" jawab Pak Andi dengan mempersilakan anaknya untuk masuk ke dalam rumah.
"Baik, bagaimana lancar tugas dinas ke luar kota?" ucap Andrew dengan berjalan masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumahnya.
"Alhamdulillah lancar, Andrew istrimu kemana?" ujar Pak Andi dengan ekspresi wajahnya bingung.
"Kan tadi Intan sudah pulang dengan Andrew, karena kami berdua habis pulang dari Bandung." sahut Andrew dengan berjalan bersama ayahnya ke ruang keluarga.
"Kenapa kamu dan istrimu ke Bandung?" tanya Pak Andi dengan berdiri di kursi dan segera ia duduk.
"Ayah tak tahu ya, kalau rumahnya Intan kebakaran!" jawab Andrew dengan ekspresi wajahnya sedih.
"Apa rumahnya Intan kebakaran, apa penyebabnya?" ucap Pak Andi dengan ekspresi wajahnya terkejut.
"Ya kata Rudi tetangganya Intan, rumahnya kebakaran masih belum jelas penyebabnya kenapa, masih belum diketahui!" ungkap Andrew dengan kedua matanya berkaca-kaca.
"Ternyata belum bisa diketahui penyebab rumahnya kebakaran. Lalu, kamu barusan kenapa pulangnya sendiri mana istrimu itu?" tanya Pak Andi dengan hatinya penasaran.
"Barusan Andrew pulang sendiri karena habis antarkan Dina pulang dari rumahnya dia. Masa Bapak belum lihat, Intan?" ucap Andrew dengan ekspresi wajahnya merasa heran.
"Oh barusan kamu habis antarkan Dina pulang ke rumahnya. Ya betul, jadi Bapak belum lihat Intan di rumah?" tanya Andrew dengan hatinya merasa kebingungan.
"Ya benar itu, kemana Intan sekarang?" ucap Pak Andi dengan tatapan matanya melihat wajah Andrew.
"Jadi tadi tuh sebelum Andrew antarkan Dina ke rumahnya, Andrew dan Dewi baru sampai ke depan rumah. Lalu, pas di taman depan rumah ada Dina. Terus, Intan masuk lebih dulu ke dalam rumah. Sedangkan Andrew dan Dina sedang mengobrol di depan rumah. Kemudian, Andrew antarkan Dina pulang ke rumahnya!" ungkap Andrew dengan ia duduk ke kursi di ruang keluarga.
"Lantas, kenapa Intan sekarang tidak ada di rumah? Memang Bapak punya kunci cadangan untuk rumah ini. Jadi Bapak kurang tahu, kalau Intan tadi sudah ada di dalam rumah sebelum Bapak datang kesini. Saat Bapak sampai ke rumah ini, mencari kalian berdua ke sudut ruangan ternyata belum ada di rumah!" ucap Pak Andi dengan ekspresi wajahnya merasa heran.
"Aduh kemana ya Intan sekarang? Dia lagi hamil!" ujar Andrew dengan berdiri dari kursi dan berjalan menuju kamarnya.
Bapak Andi pun, langsung berdiri dari kursi yang ada di ruang keluarga menyusul Andrew ke kamarnya.
Saat ke kamar Andrew dan Pak Andi terkejut yang di kira Intan sudah tertidur di ranjang, ternyata tidak ada dikamar.
Mereka berdua dari kamar berjalan mencari Intan ke sudut ruangan dapur dan kamar mandi dengan seraya memanggil nama Intan.
Namun sayang, Intan betul-betul tak ada di rumahnya Andrew.
Mereka berdua merasa heran dan panik, hingga Andrew mengambil ponsel selulernya dari saku celana dan segera ia menelepon Intan.
Tapi sayang, nomor handphone Dewi tidak aktif.
Suasana hati Andrew sangat panik dan kebingungan hingga ia memutuskan menelepon ke pihak polisi untuk mengabarkan kalau Intan menghilang tanpa kabar.
Tak lama pihak polisi pun, datang ke rumah Andrew. Pak Andi bersama anaknya itu, segera mereka berdua katakan kalau Intan hilang entah kemana.
Dan meminta bantuan Andrew ke pihak polisi untuk mencari istrinya itu pada malam ini juga, yang hilang tanpa kabar entah dimana Intan berada sekarang.
Pihak polisi pun, menerima laporan tersebut kalau Intan memang betul hilang tanpa kabar.
Pihak polisi dengan siap siaga segera melakukan aksinya untuk mencari Intan pada malam hari.
***
Sedangkan di kosan kosong yang tak jauh dari perusahaan Akmelano, Intan di sembunyikan di kosan tersebut dengan kedua tangannya dan juga kedua kaki diikat oleh tali sama orang jahat, namun mulutnya Intan di biarkan tidak di tutup dengan isolatif.
Keadaan Intan pada malam hari sungguh sangat kasihan, seorang wanita yang sedang hamil dibiarkan di kosan seorang diri dan di tinggalkan pula oleh orang misterius yang jahat padanya.
Keesokan harinya, Intan terbangun dari ruang kamar kosan dan saat Intan tersadar ia melihat ke jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi.
Hatinya Intan merasa heran, "Dimana aku ini berada?"
Intan saat mengerakkan kakinya dan kedua tangannya di ikat oleh tali, ia sungguh terkejut dan Intan menyadarinya mengingat kejadian tadi malam, kalau mulutnya di bungkam oleh sapu tangan yang dilakukan oleh penjahat dan dibawanya ke kosan kosong.
Intan saat ini merasa lega, karena mulutnya tidak di bungkam oleh isolatif berwarna hitam.
Namun hatinya di satu sisi merasa takut untuk mengucapkan satu kata pun, karena ia takut di sakiti oleh penjahat.
Di sisi lain hatinya Intan, merasa kesal karena ia ingin melarikan diri dan kabur dari tempat tersebut.
Tapi, Intan dengan berani ia berusaha untuk membuka ikatan tali yang mengikat kedua tangan hingga ia berhasil membukanya.
"Alhamdulillah, kedua tanganku sudah terbebas dari ikatan tali yang mengikat tanganku ini!" ucap Intan dengan hatinya merasa tenang.
Kini saatnya Intan berusaha untuk membuka ikatan tali yang mengikat kedua kakinya itu.
Dengan kedua tangan ia berhasil membukanya tali yang mengikat kakinya.
Sampai ia berdiri dari ranjang dan berjalan pelan menuju pintu kamar kosan.
"Aku harus berhati-hati untuk kabur keluar dari kamar ini, takutnya ketahuan kalau aku sudah sadar!" ucap Intan dalam hatinya dan membuka pintu kamar kosan.
"Wah, ternyata dikunci kamar ini. Aku harus bisa kabur dari tempat ini!" ungkap Intan dengan ia kedua matanya melihat serta mencari ke jendela kamar kosan.
Intan akhirnya, melihat jendela kamar dan ia langsung berjalan cepat ke arah tersebut, "Semoga kaca jendela kamar bisa di buka, aku harus membuka jendelanya!" ujar Intan dengan membuka jendela tersebut dengan pelan.
Intan berusaha kabur dari jendela kamar kosan tersebut, hingga ia berhasil loncat dari jendela dan hatinya sungguh senang bisa keluar kabur dari perangkap orang jahat yang telah menculik dirinya itu.
Intan melirik ke kosan kosong itu, merasa takut hatinya karena mungkin penjahat sedang mengintip di dalam kosan tersebut, Intan akhirnya berjalan cepat dari kosan kosong itu.
Keadaan tempat itu, masih sepi dari keramaian warga setempat karena lingkungan tersebut memang cukup angker.
"Aku harus telepon suamiku!" ucap Intan dengan ia melihat tas selempang yang ia pakai semalam tak ada di dirinya itu.
"Kenapa aku tidak sadar tas selempangku tak ada? Apa jangan-jangan penjahat itu, telah mengambilnya pasti!" ungkap Intan dengan bersedih.
Intan memegang saku celananya, ternyata benar handphone miliknya dan dompetnya ada di dalam tas selempang yang di curi oleh penjahat misterius.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
Rapa Rasha
siapa sih yg nyulik intan
2023-01-02
0
ferdyan
Perlu diadaptasi jadi audiobook ini novel sangat luar biasa.
2021-03-27
8