"Hai…" Dia menyapa dengan gayanya yang cool. Dibukanya topi dan masker yang menutupi wajahnya. Iya, wajah yang super tampan itu berada persis di depan wajahku. Aku terpana. Sudah setahun kami tidak bertemu, dan bertemu dengan cara yang demikian, membuat pertahananku lumpuh. Tidak tau harus bagaimana. Aku sudah tidak sempat memikirkan apakah aku benci atau suka dengan keberadaannya di sana. Pilihan satu-satunya adalah mengikuti kata hatiku.
Aku berusaha menenangkan emosi yang bergejolak. Aku memang tidak baik-baik saja. Tapi melihatnya di sana membuatku merasa lemah. Semua emosi negatif yang mengerubungi hawa-ku luruh. Aku mencoba menahan air mata. Memalingkan wajahku ke arah jendela. Aku terlalu senang. Air mataku menetes. Setelah beberapa saat, ku pastikan wajahku dalam keadaan normal dan menoleh kembali ke arahnya. Dia penasaran dan memeriksa ekspresiku dengan seksama.
"Hai Jade. Ini aku…" Dia mengacungkan ibu jarinya ke wajahnya. Aku tersenyum.
"Aku tahu. Hai…" Aku membalas sapaannya. Aku pasrah dan tidak bisa mengontrol air mukaku. Biar saja dia membaca semaunya, dan dengan bebas menterjemahkan isi hatiku. Mungkin dia bisa melihat betapa senangnya aku ada dia di sana.
"Apakah kau baik-baik saja?" Dia menyadari jejak air mata di wajahku.
"Aku baik-baik saja..." Ku jawab dengan cepat. Aku menoleh lagi ke arah jendela dan mencoba memperbaiki tampilan wajahku.
"Hei, ada apa?"
"Tidak apa-apa."
"Yakin?" Aku mengangguk. Dia berhenti sejenak dan memandangi aku.
"Bagaimana kau bisa ada di sini?" Aku bertanya dengan sopan. Cepat-cepat ingin mengalihkan perhatiannya. Dia tidak perlu tau kenapa aku cengeng. Dan aku ingin memastikan bahwa aku bertindak wajar. Nasibku ada di tangannya, aku tidak berani untuk bertindak gegabah lagi. Aku berharap perjalanan kali itu berjalan dengan damai sampai aku pulang tepat waktu.
"Aku tugas di kantor cabang Seoul minggu ini. Namun akan ada pertemuan dengan orang Gaia Wear di kantor pusat di Singapura. Jadi aku ke sana. Aku beruntung bisa bertemu denganmu di sini. Sama sekali di luar dugaan.'' Dia menjelaskan dengan gamblang, namun kedengarannya mencurigakan. Aku memicingkan mata menatapnya curiga, menyelidiki wajahnya. Dia menarik bibir ke samping, menahan senyum.
"Kenapa? Apa arti tatapan itu?" Apa pun itu. Dia punya alasan apa kek. Aku terlalu senang akhirnya ada seseorang yang membantu mengalihkan suasana hatiku yang sangat terpuruk.
"Tidak apa-apa..." Aku kembali melihat ke depan. Tiba-tiba merasa sangat tenang dan berencana untuk tidur. Mungkin karena merasa aman ada dia di sana, aku dengan cepat tertidur pulas.
...
"Jade..." Dia memanggil. Ku buka mataku.
"Ayo turun. Kita sudah sampai..." Dia sudah siap, memakai topi dan masker wajahnya kembali. Tas travel miliknya dan milikku sudah dikeluarkan dari bagasi kabin. Travel bagku nangkring di atas kopernya. Sesaat aku berpikir, kenapa dia bisa tau bahwa itu adalah milikku?
"Duluan lah. Aku nyusul." Jawabku. Aku tidak ingin menciptakan kekacauan yang tidak penting karena tertangkap berjalan bersama dengan pria paling tampan sejagat raya. Dia memandangku agak bingung, tapi kemudian mengerti maksudku.
"Don't worry. Ini sudah cukup untuk menyamarkan wajahku. Ayo turun bareng. Sudah 5 menit loh. Lihat? Tidak ada orang lagi di sini." Oh, berarti dia tau itu tasku karena sudah tidak ada orang di dalam pesawat.
Aku bangkit dari duduk dan melihat suasana di dalam, memang sudah sunyi. Hanya para awak kabin yang sedang beres-beres dan masih berdiri di pintu menunggu kami keluar. Sisanya, hanya kami berdua. Ku rapikan wajah dan rambutku. Kemudian aku melangkah mengikuti dia dari belakang. Aku mencoba mengejar langkahnya sambil tetap menjaga jarak sekitar beberapa langkah di belakangnya.
"Ini beneran nggak apa-apa?" Aku mencoba meyakinkan.
"Iya, tidak apa-apa. Mobil sudah menunggu tepat di depan pintu keluar. Kita bisa cepat-cepat menghilang dari tempat ini begitu tiba di sana. Ikuti aku." Kami terus berjalan. Itu adalah momen yang mendebarkan. Bagaimana jika ada orang mengenalnya? Ku selipkan rambut di dalam mantel dan menutupi leher hingga setengah dari wajahku dengan syal. Ku pandangi punggungnya dari belakang. Rasanya aneh. Aku tidak menyangka seorang Earnest Lee akan membantuku membawakan tasku. Langkahnya panjang panjang. Tubuhnya tegap. Dia memegang koper kecil miliknya di satu tangan dan travel bag kecil milikku di tangan yang satunya. Sambil senyum-senyum sendiri sambil mengikuti langkahnya.
Begitu kami sampai di pintu keluar, aku melihat sebuah Audi A6 hitam, dengan seorang driver. Dengan sigap dia membukakan pintu dan Earnest memintaku masuk. Kemudian dia masuk dari sisi lain. Akhirnya. Momen mendebarkan itu berlalu. Dengan segera kami meluncur keluar dari Changi Airport.
"Kita sarapan dulu. Mau makan apa?" Dia bertanya. Aku mengerutkan dahi. Kami akan sarapan bersama? Tapi wajar saja. Mungkin maksudnya seperti dulu. Dia meminta asistennya menyiapkan sarapan di kantornya.
"Apa saja." Jawabku singkat. Kemudian diserahkannya sebuah kartu pass yang sama seperti dulu. Ku tatap matanya ragu. Seharusnya kami masuk ke kantor Earnest Corps, bukan ke rumah Earnest Lee. Tapi dia tidak menggubris tatapan heranku.
"Aku akan masuk ke rumah dari kantor. Dan kau bisa langsung ke sana. Mau ku bantu bawakan tasmu?" Dia lanjut ke agenda berikutnya. Aku pun mengurungkan niatku untuk bertanya mengapa kami harus ke rumahnya. Entah kenapa, aku pun suka.
"Tidak, aku akan membawanya sendiri. Tidak begitu berat." Lagipula itu akan membuat orang-orang di kantornya curiga kan? Travel bag yang ku bawa sangat girly. Orang bisa dengan mudah menyangka bahwa tas itu adalah milik seorang wanita, sebuah tote bag ukuran besar dengan corak warna pink dan putih, sebuah tas bermerk yang yang dihibahkan oleh Gaia untukku. Cukup untuk menempatkan semua benda yang ku butuhkan untuk hari itu. Toh aku akan pulang sore hari. Semoga begitu, aku menggumam dalam hati. Berharap dia tidak cari perkara lagi seperti waktu lalu.
"Baiklah." Jawabnya singkat.
Mobil berhenti persis di samping gedung, pintu masuk khusus untuk apartemennya, dan aku turun. Mereka lanjut menuju lobi utama gedung itu. Kantor pusat Earnest Corps. Aku naik lift menuju lantai paling atas dan masuk ke rumahnya menggunakan kartu pass yang dia berikan. Sambil bertanya-tanya, kenapa aku patuh saja? Bukankah harusnya aku ke kantornya untuk urusan bisnis? Mengapa justru ke rumahnya? Mau ngapain di sini? Apa maksudnya?
Namun aku tidak kuasa membunuh debar-debar di hatiku yang membuatku melayang. Kupu-kupu di perutku beterbangan. Aku terlalu menikmatinya, sehingga tidak sanggup membantah. Entah apa maksudnya memintaku untuk masuk ke rumahnya, aku menjadi tidak peduli. Aku memutuskan untuk patuh.
Tapi aku masih mengantuk. Terlalu lelah karena gemuruh emosi yang melanda ku sejak beberapa hari yang lalu. Ku letakkan semua barang bawaanku di atas meja. Dan membaringkan tubuh di sofa, memejamkan mata dan akhirnya tidur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments