Dikediaman megah milik keluarga Alexander yang biasanya terasa kosong dan sepi kini kini mulai terisi karena semua penghuninya sedang berkumpul.
Sejak sarapan pagi tadi, Lavina sudah mendapat tugas dari Amber mertuanya yang memintanya untuk datang ke dapur membantunya sore nanti. Meskipun merasa curiga, tapi akhirnya Lavina mengiyakan permintaan Amber.
Dan sore ini, Lavina pergi ke dapur sesuai janjinya pada Amber. Namun saat sampai di sana, Amber hanya sebentar berada di dapur dan memintanya untuk membantu menyiapkan beberapa makanan dengan memotong sayur-sayuran dan lainnya sebelum wanita paruh baya itu pergi membiarkan Lavina bergelut dengan alat dapur bersama para pelayan.
Hampir satu jam Lavina bertempur di dapur. Sebenarnya, Lavina mahir memasak karena dulu Lavina rajin membantu Ibunya memasak juga sering kali mencoba memasak menu-menu baru dan ia mengikuti kelas memasak, namun saat di rumah keluarga Alexander, Lavina tidak ingin menunjukkan kemampuannya itu.
Alasannya, karena takut masakannya tak sesuai dengan lidah keluarga Alexander juga takut masakan buatannya justru malah menjadi senjata untuk menjebaknya. Lavina tahu di keluarga Alexander terlalu banyak orang yang terlihat baik, namun sebenarnya perlu di waspadai.
Makeup Lavina sepertinya sudah luntur ditambah keringat di keningnya yang mulai turun dan hawa masakan juga sudah menempel di badannya. Jangan tanyakan lagi bagaimana tangannya yang sejak tadi berulang kali memotong bawang dan sayuran hingga beberapa kali ia mencuci tangannya namun bau bawang tersebut masih terasa tercium ditangannya.
“Sudah selesai semuanya?” setelah menghilang meninggalkan Lavina begitu saja, Amber tiba-tiba datang dan bertanya.
“Sudah nyonya,” jawab pelayan.
“Baik, kalau begitu Lavina tolong bantu bawakan semua masakannya ke ruang makan.” Pintanya sambil tersenyum ramah pada menantunya tersebut.
Lavina hanya mengangguk menatap mertuanya yang tampak sangat mencurigakan hari ini. Apalagi ia di pinta untuk membantu memasak di dapur padahal mereka biasanya akan makan malam nanti dan anehnya mengapa pula harus Lavin dipinta membantu memasak.
Saat Amber menyuruhnya tadi pagi untuk datang ke dapur, sebenarnya Cedric juga sudah merasa curiga dan was-was. Pria itu sempat melarang istrinya untuk menuruti permintaan wanita itu, tapi Lavina merasa tak enak jika menolaknya karena Amber adalah mertuanya meskipun ia sendiri juga merasa takut jika Amber akan mengerjainya karena selama ia menikah dengan Cedric, wanita paruh baya itu tampak tak menyukainya meskipun tidak secara terang-terangan.
Lavina membawa nampan dengan beberapa masakannya yang telah di masak tadi dan berjalan hati-hati. Penampilannya sore ini sudah sangat kacau, ikat rambutnya sudah longgar, belum lagi sisa keringat yang menempel di dahi juga lehernya dan ia masih mengenakan apron saat berjalan ke meja makan.
Sayup-sayup terdengar suara ramai dari arah meja makan saat ini. Dan benar saja, saat Lavina datang ia terkejut melihat ada tamu yang sudah duduk bercengkrama di sana bersama Alexander dan Amber.
Pemandangan lain yang tertangkap oleh bola mata Lavina adalah seorang wanita yang duduk di samping pria paruh baya yang umurnya tampak tak berbeda jauh dari Alexander. Wanita itu tidak asing dan sedang berbincang dengan Peter yang duduk di samping kanannya. Bukankah itu wanita yang kemarin ia jumpai di pameran lukisan?
Lama terdiam mematung, tiba-tiba Lavina tersadar saat Amber memanggilnya dan membuat semua pandangan menatap ke arahnya.
Lavina merasa gugup dan bingung saat ini apalagi Cedric tidak ada di sana dan penampilannya juga sangat kacau. Namun karena sudah terlanjur berada di sana, dengan cepat Lavina berjalan menghampiri mereka dan meletakkan makanan tersebut di meja makan.
“Kenalkan ini Lavina, istri Cedric,” ujar Amber pada tamu tersebut.
Lavina menatap ketiga orang tersebut sambil menunduk dan tersenyum ramah namun hanya wanita berambut hitam bergelombang yang duduk di samping Peter saja yang membalas senyumannya dan menatapnya dengan ramah.
“Maaf kami tidak hadir saat pernikahan Cedric, kami tidak tahu juga anak kedua kalian menikah begitu cepat,” ujar pria yang diyakini Lavina sebagai ayah dari wanita yang duduk di samping Peter tersebut.
“Tidak apa-apa, kami tidak mengadakan pesta yang meriah,” balas Alexander.
Lavina sudah selesai manyajikan masakan di meja makan dan saat ini ia sendiri bingung apakah harus kembali ke dapur atau tetap berada di sana dengan keadaannya yang sangat memalukan?
“Ngomong-ngomong menantu kalian ini dari keluarga mana?” tanya wanita yang diyakin ibu dari wanita yang bersama Peter tersebut.
Lavina yang masih berdiri memegang nampan masih diam karena bingung ingin menjawab. Pasalnya keluarganya juga bukan dari kalangan pengusaha besar seperti keluarga Alexander. Meskipun ayahnya memiliki perusahaan sendiri namun keluarganya tidak sekaya itu dibanding yang lain.
“Dia anak kedua Thomas Albert,” jawab Alexander.
“Aku baru tahu tuan Albert memiliki putri lain selain Helena, apalagi mereka berdua tampak tidak begitu mirip,” ujar wanita lagi sempat menatap Lavina sekilas.
“Aku pikir Peter akan menikah dengan Helena, tanpa diduga kalian mengambil adiknya sebagai istri Cedric,” ujar pria itu lagi yang membuat Lavina mati kutu tak bisa berbicara apapun.
Lagi-lagi, mengapa orang-orang hanya mengenal Helena dan mengapa orang-orang tampak lebih suka membicarakan soal Helena? Memang benar, sejak dulu Helena—kakaknya selalu menjadi buah bibir karena parasnya juga keramahannya apalagi ia juga sering mengikuti pekerjaannya ayahnya. Berbeda dengan Lavina yang justru seperti perang dingin bersama ayahnya dan karena itu ia jarang diajak pergi menghadiri acara apapun.
“Helena sangat cantik dan pandai, jika saja kami memiliki seorang putra yang sebaya dengannya sudah pasti kami akan menjodohkannya,” sahut istrinya yang berada disamping pria paruh baya itu.
Lavina merasa begitu direndahkan dan bahkan tampak diacuhkan, padahal wanita yang sejak tadi mereka ceritakan adalah kakak kandungnya sendiri dan sekarang mereka sedang memuji wanita itu di depannya.
Sejak tadi Lavina hanya menunduk memegang nampan ditangannya dan sekarang arah matanya menatap pada Peter di depannya dan pria yang biasanya akan membelanya atau paling tidak menghentikan pembicaraan mereka yang seperti membandingkan dirinya dengan Helena.
Tapi sayangnya, sejak tadi Lavina datang. Pria itu tampak acuhtak mempedulikannya dan bahkan mengabaikannya. Seperti tidak biasanya, Peter bahkan lebih sibuk meladeni pembicaraan dengan wanita yang berada di sampingnya saat ini. Mustahil jika pria itu tidak mendengarkan percakapan dua orang tua tersebut.
“Apa ada lagi yang harus Lavina bantu?” tanya Lavina pada Amber meskipun ia tahu harga dirinya saat ini sudah hancur sebagai menantu dikeluarga Alexander, setidaknya Lavina harus tetap bisa bersikap baik demi mengaja nama Cedric, suaminya.
“Oh iya, Catherine. Tadi kau ingin minta minuman apa?” tanya Amber pada wanita yang duduk di samping Peter sejak tadi.
Wanita bernama Catherine tersebut berpaling menatap Lavina sejenak dan kemudian beralih menatap Amber.
“Tidak perlu tante, ini sudah cukup,” katanya.
“Tidak perlu sungkan, katakanlah kau ingin minuman apa? Biar Lavina yang akan membuatkan khusus untukmu,” Amber tersenyum ramah pada Catherine sebelum akhirnya menatap Lavina seolah minta setuju dengan ucapannya.
“Minuman apa yang kamu mau, biar aku buatkan?” tanya Lavina akhirnya dengan ramah.
“Ahh, aku tidak ingin merepotkanmu,” jawabnya merasa tak enak menatap Lavina.
“Katakan saja, dia sudah menawarkanmu,” ujar Peter pada Catherine yang membuat wanita sempat merasa tak enak tapi akhirnya setuju setelah mendengar ucapan Peter.
“Aku ingin jus strawberry saja kalau begitu, maaf merepotkanmu,” ujarnya tampak begitu merasa bersalah.
Lavina mengangguk seraya tersenyum ramah. Seperti ini cara satu-satu agar dirinya tetap terlihat baik-baik saja setelah merasa dipermalukan dan direndahkan oleh mereka. Lavina tidak mau terlihat payah dihadapan orang-orang yang hanya memiliki kekuasaan namun tidak memiliki perasaan.
Hanya saja Lavina merasa sedikit sakit hati melihat Peter yang berubah dan seolah mengabaikannya. Bahkan pria itu juga tampak menganggapnya seperti seorang pelayan, haruskan Lavina terluka karena pria itu juga sekarang merendahkannya?
...***...
Lavina sudah selesai membuatkan jus strawberry dan berulang kali ia mencobanya karena takut rasanya tak sesuai di lidah wanita bernama Catharine tersebut.
Dan setelah selesai, Lavina bergegas kembali ke kamarnya setelah Alexander memintanya untuk memanggil Cedric dan ikut makan bersama mereka.
“Apa yang terjadi padamu?” tanya Cedric begitu Lavina membuka pintu kamar.
Cedric sejak tadi khawatir dengan keadaan istrinya yang baru kembali setelah satu jam lebih berada di dapur dan keadaannya benar-benar terlihat sangat mengkhawatirkan.
Bukan karena penampilannya yang terlihat berantakan dengan ikat rambut longgar atau beberapa poninya yang tersamping di telinga, meskipun wanita itu terlihat sangat cantik dalam keadaan seperti saat ini namun sorot matanya begitu terlihat menyedihkan. Karena kini Lavina sudah berkaca-kaca dan hidungnya memerah menahan tangisnya.
“Apa mereka melukaimu dan berbuat sesuatu yang buruk padamu?” tanya Cedric lagi.
Lavina duduk di tepi ranjang dengan rasa lelahnya karena lama berdiri di dapur, ia mengusap sisa keringatnya yang masih menempel di keningnya. Melihat Cedric yang begitu mengkhawatirkannya membuat Lavina memilih diam tak menceritakan apa yang baru saja terjadi padanya.
Ia tak mau Cedric membenci keluarganya apalagi Amber—ibunya, karena Lavina bisa melihat sendiri bagaimana sikap Cedric pada Amber yang tampak begitu tak suka. Padahal wanita itu adalah ibu kandungnya sendiri.
“Aku hanya sedikit lelah, aku akan membersihkan diriku dulu. Di bawah ada tamu dan tuan Alexander memintamu ikut bergabung,” ujar Lavina yang kemudian berjalan ke kamar mandi.
Tidak butuh waktu lama, Lavina sudah selesai membersihkan dirinya dan ia juga sudah memoleskan makeupnya dan ia juga mencari gaun yang terlihat lebih bagus dan elegan di tubuhnya.
Ya, Lavina ingin menunjukkan pada tamu tadi jika dirinya juga sangat baik dan layak di keluarga Alexander dan mereka bisa berhenti memuji kakaknya. Lavina bukan iri pada Helena, hanya saja ia tak suka dibanding-bandingkan. Mereka berdua saudara tapi tetaplah berbeda.
Lavina juga memblow rambut panjangnya dan mengenakan kalung pemberian dari Cedric untuk pertama kalinya. Kalung tersebut adalah hadiah dari Cedric beberapa hari lalu, katanya itu adalah kalung buatan perusahaan Albert—ayahnya yang bekerja sama dengan perusahaan Cedric dan kalung tersebut juga di desain khusus untuk Lavina sesuai permintaan Cedric kala kerjasama mereka di resmikan.
“Cedric, bisakah kamu membantuku memakaikan kalung ini?” tanya Lavina yang duduk di meja rias.
Cedric yang juga sudah mengganti pakaiannya kini melajukan kursi rodanya menghampiri Lavina. Wanita itu memegang rambutnya yang terurai agar Cedric lebih mudah mengaitkan kalung tersebut di lehernya.
Keduanya saling diam namun pandangan mereka bertemu di depan cermin rias setelah Cedric selesai memakaikan kalung tersebut di leher Lavina. Dan tentu saja kalung itu sangat cocok untuk istrinya, namun Cedric sedikit bingung mengapa wanita itu ingin memakai kalung itu saat ini?
“Apa kalung ini sangat mahal?” tanya Lavina masih menatap Cedric di cermin.
“Mengapa?”
“Aku hanya ingin tahu apa kalung ini sangat mahal? Apakah ini sangat cocok untukku? Apakah aku boleh memakai barang mewah seperti ini?” ujar Lavina bergumam seraya menatap kalung yang kini sudah di pakai di lehernya.
Untuk pertama kalinya, Cedric melihat Lavina yang tampak seolah sedang tak percaya diri dan dilihat dari penampilannya kali yang terlihat begitu lebih mempesona dari biasanya dengan makeup yang di poleskan ke wajahnya juga gaun yang ia pakai tampak wanita itu seperti ingin menujukkan kecantikannya. Tapi untuk apa dan mengapa? Biasanya Lavina lebih suka tampil natural bahkan saat Cedric mengajaknya pergi keluar sekalipun wanita itu hanya akan mengenakan makeup tipis saja.
Lavina memutar badannya dan kini menghadap Cedric dengan tatapan tampak seperti sedang tak baik-baik saja.
“Apakah penampilanku sudah sempurna? Apa makeupku sudah bagus?” tanya Lavina.
Cedric mengamati wajah cantik Lavina dari bola mata coklat, alisnya yang simestris, bulu matanya yang lentik dan panjang juga hidungnya. Wanita itu memiliki paras yang cantik meski tanpa makeup sekalipun, wajahnya sangat mirip dengan Eliza—ibunya hanya matanya saja yang diturunkan Albert.
“Apa kamu mengganti warna lipstikmu?” tanya Cedric memegang dagu Lavina.
“Tidak. Apakah ini terlalu tebal?” tanyanya.
“Ya, ini sedikit tebal.”
“Ahh, apakah aku memakainya terlalu banyak?” keluhnya.
“Tunggu, biar aku bantu untuk menghapusnya,” Cedric menarik dagu Lavina hingga akhirnya bibirnya menempel di bibir wanita tersebut yang membuat Lavina terbelalak dan terkejut.
Ini bukan ciuman pertama mereka, tapi entah mengapa Lavina masih begitu terkejut dan belum siap menerima ciuman tiba-tiba dari pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.
Cedric seolah menuntut ciuman tersebut agar dibalas oleh Lavina yang sejak tadi masih mengunci mulutnya hingga akhirnya Lavina kalah telak dengan pertahanannya, ia membuka mulutnya dan mengikuti cara Cedric yang mendorong ciuman mereka lebih dalam.
Tangan pria itu memegang kepala belakangnya dan juga lehernya sedangkan Lavina yang merasa ikut terhanyut dalam ciuman mereka mulai mengalungkan tangannya di leher Cedric hingga berulang kali pria itu memutar kepalanya dan kembali menempelkan bibirnya hingga keduanya terhenti dan mengambil pasokan udara yang terasa habis.
Kening keduanya menempel dan posisi tangan mereka belum berubah. Keduanya sama-sama menarik nafas karena ciuman panas tersebut. Lavina merasa malu saat ini dan bahkan tak mampu menatap wajah Cedric setelah kejadian tersebut.
“Sekarang warna lipstiknya sudah pas,” ujar Cedric memegang bibir Lavina dan tersenyum kepadanya.
Wajah Lavina bersemu merah merasa malu dan juga merasa gugup. Apakah seperti ini rasanya berciuman dengan seorang pria, terasa memabukkan apalagi ciuman Cedric begitu lembut dan cukup panas membuat Lavina benar-benar hampir kehilangan akalnya saat ini.
Mungkin saja jika Cedric tidak lumpuh dan duduk dikursi roda sekarang ia akan menurut saja jika pria itu berbuat lebih apalagi kini mereka berada di kamar. Baiklah, otak Lavina tampaknya mulai bermasalah hanya karena ciuman mendarat di bibirnya.
“Waktunya kita turun dan temui mereka,” ajak Cedric.
...***...
Seperti upik abu yang berubah menjadi cinderella, begitulah penampilan Lavina saat ini yang membuat tiga tamu tadi menatapnya dengan lekat berbeda dengan sebelumnya saat Lavina berpenampilan sedikit lusuh.
“Maaf kami terlambat,” ujar Cedric pada tamu.
“Lama tak bertemu Cedric, bagaimana kondisimu sekarang?” tanya pria paruh baya itu.
Lavina menarik kursi dan duduk di samping Cedric, ia melihat meja makan saat ini tidak ada lagi hidangan yang dibuatnya tadi dan sudha berganti menu penutup.
“Cukup baik tuan Aaron, istriku juga pandai mengurus dan membantuku,” ujar Cedric menatap Lavina.
“Benarkah? Istrimu selain harus membantu pekerjaan di rumah ini juga merawatmu?” tanya tuan Aaron lagi.
Penampilan Lavina kini sudah jauh lebih baik untuk bertemu mereka, tapi ternyata tetap saja tuan Aaron tampak menatapnya begitu rendah hanya karena bertemu pertama kali dengannya dengan penampilan lusuh dan menganggapnya seperti seorang pelayan di kediam keluarga Alexander.
“Lavina sangat pandai dalam segala hal dan dia juga istri yang sangat baik,” bukan Cedric yang menjawab kali ini Amber lah yang menjawabnya seolah ingin membelanya.
Lavina menatap Amber yang bersikap seolah sedang peduli padanya, padahal ia masih mengingat bagaimana tadi wanita itu tampak ikut merendahkannya di depan keluarga Aaron. Apakah sekarang ia sedang bersikap baik di depan Cedric?
“Aku belum sempat bertanya, apa pekerjaanmu sebelumnya, Lavina?” tuan Aaron menatap Lavina yang membuat semua pandangan juga menatap ke arahnya.
Tampaknya bukan hanya Aaron yang penasaran dengannya, tapi juga keluarga Alexander termasuk Cedric yang juga menatapnya penasaran. Sepertinya Lavina belum pernah menceritakan tentang dirinya.
“Aku tidak bekerja, setelah lulus kuliah aku hanya menekuni hobbyku memotret,” jawab Lavina dengan percaya dirinya dan menatap Aaron dengan tatapan begitu tenang.
“Aku kira kau juga akan seperti Helena sebagai seorang model dan juga wanita pembisnis.” Aaron kembali menyebut nama kakaknya—Helena.
Hening, setelah Aaron kembali menyebutkan nama Helena membuat Lavina seolah malas menanggapinya. Namun ia berusaha bersikap tetap tenang tak begitu merasa terpancing hanya karena Aaron dan istrinya sejak tadi tampak memuji Helena.
“Ngomong-ngomong kamu sering motret apa?” tanya Cathrine.
“Apapun yang menarik akan aku potret,” jawab Lavina.
“Kalau begitu bisakah, aku memintamu untuk membantu mengambil potret pembukaan bisnis baruku nanti?” tawar Aaron.
Alexander menatap terkejut pada Aaron, pria itu tampak tak menyetujui tawaran pria itu pada menantunya. Begitu juga dengan Amber yang langsung menyambar untuk menjawab tawaran tersebut.
“Bukankah acara pembukaan itu kerjasama dengan perusahaan Jerman. Lavina pasti akan kesulitan mengerti dan berbicara dengan mereka di sana,” ujar Amber.
“Apa hanya orang Jerman saja?” tanya Lavina tampak begitu tenang sedangkan Cedric masih mencoba menangkap maksud ucapan Aaron yang menawarkan pekerjaan pada istrinya.
“Perusahaan tuan Aaron memiliki beberapa cabang di Jerman dan ia sering bekerjasama dengan mereka dan mereka akan menggunakan bahasa Jerman setiap kali pertemuan dan acara,” jelas Alexander agar Lavina menolak tawaran pria tersebut.
“Hanya bahasa Jerman, tentu tidak masalah. Kebetulan aku menguasi lima bahasa dan salah satunya yang termudah bahasa Jerman. Jika tuan Aaron meminta saya untuk membantu memotret kegiatan kalian, tentu itu adalah suatu kehormatan untuk saya dan akan saya terima,” jawab Lavina begitu santai dan membuat Aaron tampak puas dengan jawaban Lavina dan menganggukkan kepalanya.
“Wow, kau hebat sekali. Aku bahkan hanya pandai tiga bahasa saja,” kagum Cathrine.
Sikap Aaron kini mulai berubah sedikit ramah tampak seperti mulai menyukai Lavina meskipun tak bisa dipastikan juga apakah pria itu sebenarnya baik dan bersungguh-sungguh menawarkannya pekerjaan tersebut atau justru ingin mempermalukannya nanti, Lavina masih belum bisa percaya pada siapapun hanya saja ia perlu bersikap tenang.
“Apakah benar kamu menguasai lima bahasa, di mana kamu belajar?” bisik Cedric seolah tak percaya.
“Aku sudah mahir empat bahasa sejak kecil dan saat beranjak dewasa, baru aku mempelajari satu bahasa lagi,” jawab Lavina berbisik ditelinga Cedric.
“Mengapa kamu tidak pernah memberitahuku?” tanyanya masih berbisik-bisik.
“Kamu tidak pernah bertanya.”
“Seharusnya kamu bisa bercerita,” bisik Cedric kembali.
“Tapi sekarang kamu sudah tahu kan, ya sudah,” jawab Lavina sambil tersenyum setelah melihat wajah Cedric yang sedikit cemberut karena merasa tak tahu menahu soal istrinya itu.
Lavina tanpa sadar menaruh jemarinya di bawah dagu Cedric dan menggerakan jemarinya termasuk seolah sedang menggelitiki dagu Cedric, “Maafkan aku, lain kali aku akan ceritakan,” kata Lavina pada Cedric yang membuat pria itu akhirnya tersenyum luluh.
Tanpa merek sadari, sejak tadi mata Peter tak berhenti menatap kedua pasangan suami-istri yang duduk di hadapannya saat ini. Peter sejak tadi memperhatikan saat keduanya berbisik-bisik hingga sikap Lavina yang memegang dagu Cedric dan keduanya saling tersenyum seolah benar-benar sedang kasmaran.
Apakah hubungan keduanya mulai ada kemajuan? Ataukah mereka berdua sedang berpura-pura berakting seolah seperti suami-istri yang harmonis di depan keluarga Aaron saat ini?
“Jangan memegangngya terlalu erat Peter, gelasmu akan pecah,” ujar Cedric tiba-tiba menatap ke arah Peter yang sejak tadi memegang gelas ditangannya sambil menatap ke arahnya dan Lavina.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments