Lavina duduk sendirian di kursi teras rumah menahan kesedihannya dengan sikap Cedric tadi. Bagaimanapun memang salah dirinya yang begitu penasaran dengan tanpa permisi dan bertanya-tanya dulu ingin melihat ruangan-ruangan di rumah tersebut meskipun belum sempat ia melihatnya, Cedric sudah menahannya.
Sebenarnya apa yang disembunyikan pria itu dan apa rahasia yang dimilikinya sampai-sampai tak ada ruang sedikitpun untuk Lavina tempati dalam kehidupannya. Apakah Cedric tak pernah menganggapnya ataukah sebenarnya dia juga belum bisa menerimanya?
Larut dalam kesedihan dan pikiran sendiri, Lavina terkejut melihat Cedric sudah berada di sebelahnya setelah diantar bu Minah sebelum akhirnya wanita paruh baya itu pamit meninggalkan mereka berdua untuk berbicara.
“Aku minta maaf karena sudah lancang ingin membuka pintu di rumah ini,” ujar Lavina meminta maaf tanpa menatap Cedric.
“Tidak, aku yang harusnya minta maaf karena membuatmu tersinggung dengan ucapanku tadi.”
Lavina tidak menanggapinya, dia hanya menatap lurus pada tanaman mawar di depannya yang terlihat tumbuh dengan mekar dan aromanya terhirup disekitar teras rumah tersebut. Jika saja Lavina bisa mememitiknya, ia ingin mengambilnya dan menghirup aromanya lebih dekat lagi.
“Rumah ini, dulu aku tempati berdua dengan Mamah. Dulu, banyak bunga-bunga yang dia rawat di sini sampai teras rumah kami penuh dengan pot dengan segala jenis bunga,” Cedric menatap sekeliling teras rumahnya yang kini sudah kosong dan hanya diisi dengan kursi dan meja saja.
“Tinggal berdua? Ke mana kak Peter dan Elea dan bagaimana dengan tuan Alexander?” tanya Lavina penasaran.
Cedric terdiam sebentar seperti sedang mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari Lavina. Dan wanita itu masih begitu penasaran dengan apa yang diceritakan suaminya itu.
“Pintu yang tadi ingin kamu buka adalah pintu kamarku, dan di sampingnya pintu kamar Mamah. Sudah hampir tujuh tahun ini pintu itu selalu tertutup dan aku melarang siapapun untuk masuk ke sana. Di dalamnya tidak ada rahasia apapun, tapi aku tidak ingin tempat pribadi yang menyimpan banyak kenangan dipijaki orang lain,” jelas Cedric yang membuat Lavina mengerti dengan perkataan dan maksud pria itu. Namun entah mengapa ia merasakan sedikit sedih setelah Cedric mengatakan orang lain dilarang untuk melihatnya. Apakah dirinya termasuk orang lain itu?
“Maaf bukan maksud aku menganggapmu orang lain. Aku hanya butuh waktu untuk bisa menunjukkannya padamu,” lanjut Cedric setelah merasa perkataannya kembali menyinggung Lavina.
Lavina tersenyum menanggapi perkataan suaminya dan menganggukkan kepalanya mengerti, “Aku tahu, kamu tidak perlu merasa bersalah. Setiap orang punya rahasia dan hal pribadi yang ingin dijaga.”
“Tapi, aku ingin kamu penasaran dengan kehidupanku. Apakah kamu tidak ingin mengetahui hal apapun tentangku?” tanya Cedric.
“Hal tentangmu? Bukankah aku sudah tahu kamu adalah putra kedua keluarga Alexander, seorang CEO dan yang baru aku tahu kamu juga pandai melukis, sepertinya aku sudah tahu tentangmu.”
Cedric tersenyum samar mendengar perkataan Lavina. Ternyata memang benar, wanita itu tidak tahu apapun tentangnya dan bahkan sama sekali tampak tidak penasaran dengannya. Lebih baik Cedric tak perlu menceritakannya sebelum wanita itu bertanya lebih dulu.
“Oh ya, aku sedikit penasaran. Kenapa kamu melukis di sini?” tanya Lavina.
“Tidak ada tempat yang lebih nyaman dan tenang selain rumah ini. Imajinasi memerlukan ketenangan.”
“Apa semua lukisanmu di jual?” Tanyanya lagi.
“Lukisanku hanya dipajang di pameran lukisan dan beberapa orang yang tertarik baru aku menjualnya.”
“Pameran lukisan?” Lavina takjub tak percaya.
“Lavina, bisakah aku minta tolong padamu?” tanya Cedric serius yang membuat Lavina mencondongkan badannya ke arah pria itu.
“Minta tolong apa?”
“Tolong jaga beritahu siapapun tentang rumah ini, lukisanku juga tentangku yang melukis. Jangan pernah kamu beritahu siapapun termasuk keluargaku,” Cedric menatap Lavina dengan serius penuh pengharapan pada wanita itu.
Lavina mengerutkan keningnya bingung, mengapa Cedric ingin merahasiakan soal ini? Bukankah pasti keluarga sudah tahu tentang bakat, lukisan dan rumahnya. Tadinya Lavina ingin bertanya kenapa, tapi melihat Cedric yang terlihat begitu berharap padanya membuat Lavina hanya bisa mengiyakannya.
“Baiklah, aku tidak akan membicarakannya pada siapapun. Kamu bisa mempercayaiku.”
...***...
Sudah hampir seminggu ini Lavina tidak pernah lagi berkunjung ke taman barang sebentar. Sejak kesalahpahamannya dengan Cedric sore itu, Lavina tidak lagi ingin pergi ke sana kecuali mengajak suaminya agar tidak terjadi kesalahpahaman kembali.
Meskipun sebenarnya Lavina ingin bisa berbicara lagi dengan Peter, tapi karena takut akan kembali membuat masalah dan bisa-bisa dirinya kembali dituduh yang tidak-tidak. Jadi Lavina benar-benar menghabiskan waktunya di kamar dan terkadang juga diajak Cedric pergi keluar untuk sekedar makan ataupun kembali pergi ke rumah tempat Cedric melukis.
Dan selama itu, Peter berulang kali terus pergi ke taman saat pulang dari kantor. Ia berharap bisa bertemu dan berbicara lagi dengan Lavina. Kadang-kadang ia menunggu sampai larut malam, barangkali wanita itu pergi ke taman diam-diam dan mereka bisa kembali bertemu.
Namun kenyataan, Lavina tak pernah lagi keluar kamar kecuali makan bersama dan setelahnya ia kembali ke kamar bersama Cedric dan kadang juga Peter melihat wanita itu mendorong kursi roda adiknya pergi keluar bersama.
Peter mengakui jika Lavina orang yang menurutnya sangat menyenangkan diajak berbicara di rumah ini. Dan sekarang disaat mereka sudah mulai akrab, kesalahpahaman terjadi dan membuat wanita itu tampaknya akan menghindarinya.
Lama Peter termenung sendirian di taman, dari arah lain Amber sejak tadi diam-diam mengikuti putra pertamanya dan melihat anaknya tampak gelisah dan seperti menunggu kedatangan seseorang. Siapa lagi jika bukan Lavina?
Amber menjadi curiga jika anak pertamanya dengan Lavina menantunya tersebut sudah sangat dekat. Namun ia tak begitu menyukainya apalagi Lavina sudah menjadi istri dari Cedric, bukankah tidak baik jika Peter terlalu dekat dengan adik iparnya tersebut. Apalagi sudah beberapa kali Amber perhatikan jika Peter sering membantu dan membela Lavina ketimbang Cedric.
Sudah saatnya Amber memulai rencana sebelum Peter salah melangkah dan akan terjebak pada perasaan yang tak seharusnya pada Lavina. Amber bisa melihat sikap Peter pada Lavina begitu dalam dan tulus, berbeda dengan sikapnya saat dijodohkan dengan Helena, kakak Lavina sebelumnya.
“Mah,” Amber terkejut saat Eleanor datang.
“Apa kamu sering melihat Peter pergi ke taman?” tanyanya pada putrinya.
“Bukankah kak Peter jarang keluar kamar apalagi pergi ke taman, untuk apa dia berada di sana?” Eleanor ikut mengintip sebelum Amber menarik tangannya dan pergi dari sana karena takut Peter melihat mereka berdua.
“Sepertinya Mamah harus segera bertindak sebelum bencana besar akan kembali datang,” ujar Amber yang membuat Eleanor mengangkat alisnya bingung dengan apa yang dikatakan ibunya tersebut.
...***...
Suasana sarapan pagi ini terlihat tidak begitu tenang karena sejak tadi sikap Amber terlihat berbeda tidak seperti biasanya.
Wanita paruh baya itu bahkan sampai bertanya pada Cedric dan Lavina untuk menambah sarapan mereka dan juga meminta keduanya untuk mencoba menu lainnya yang tidak diambil ke dalam piringnya.
Lavina dengan sopan menjawab untuk menolaknya berbeda dengan Cedric yang justru tampak tak peduli dan mengabaikan wanita itu. Namun tak ada ekspresi kecewa yang Amber tunjukkan setelah diabaikan Cedric seolah sudah terbiasa dengan sikap anak keduanya.
“Jadi gimana apa kalian sudah ada rencana ingin program anak?” tanya Amber tiba-tiba yang membuat Lavina menghentikan suapan dan semua mata memandang ke arah wanita tertua di mansion tersebut.
“Apa maksud Mamah?” Alexander langsung menyahuti perkataan istrinya tersebut.
Amber yang biasanya bersikap sangat tenang kini terlihat begitu antusias dan terus mendekati Cedric dan Lavina. Padahal sejak awal pernikahan keduanya, Amber tak pernah sekalipun bertegur sapa atau bertanya-tanya pada Cedric maupun Lavina.
“Mamah hanya ingin bertanya, siapa tahu mereka berdua sedang mempersiapkan momongan. Bagaimanapun mereka sudah menikah dan Cedric juga pasti ingin punya keturanan dan alih waris, bukan begitu?” tanya Amber menatap Cedric.
Sejak tadi Cedric bersikap tenang dan mencoba mengabaikannya dengan melanjutkan sarapannya tanpa merasa terusik. Namun mendengar perkataan Amber tadi, ia menghentikan sarapannya dan menatap pada ibunya dengan tatapan dingin.
“Aku dan Lavina belum memikirkan soal anak, lagipula Peter belum menikah. Jika aku cepat punya anak itu artinya alih waris akan berpindah tangan lebih awal,” jawab Cedric dengan tenang namun membuat Amber tampak tak menyukainya.
Perlahan raut wajah Amber yang sejak tadi terlihat begitu baik berubah sedikit kesal dan Lavina bisa melihatnya dengan jelas setelah mendengar ucapan dari Cedric. Entah apa yang terjadi pada keduanya sebenarnya, yang Lavina bisa lihat jika ibu dan anak itu tampak bermusuhan.
“Jadi, apa kalian akan menundanya sampai Peter menikah?” tanya Amber lagi.
“Mah, cukup! Jangan ikut campur urusan mereka,” tegur Peter.
“Kenapa? Mamah hanya ingin bertanya sebagai orang tua.”
“Cukup!” Alexander akhirnya membuka suara setelah mendengar percakapan pagi ini yang menurutnya cukup menganggu sarapannya. “Biarkan keduanya yang mengatur urusan keluarga mereka. Lagi pula lebih baik jika mereka menunda memiliki anak sampai Peter menikah, karena alih waris tidak bisa ditukar,” lanjut Alexander yang kemudian pergi meninggalkan meja makan.
Lavina merasa sedih mendengar ucapan dari Alexander tadi yang menurutnya tidak bijak. Bagaimana bisa seorang Ayah mengatakan hal seperti itu? Ahh, Lavina merasa teringat dengan Ayahnya yanv mungkin juga akan mengatakan hal yang sama padanya.
Meskipun memang benar Lavina tidak pernah memikirkan soal anak tapi bukan berarti dia tidak ingin memiliki anak. Walaupun dia berharap jika kelak ia akan memiliki anak bersama orang yang ia cintai.
Amber mengangkat sebelah alisnya seolah merasa senang mendengar perkataan dari suaminya dan dia juga turut beranjak pergi meninggalkan meja makan disusul Eleanor yang tampak tak begitu peduli dengan pembicaraan tadi.
“Jangan diambil hati ucapan Papah dan Mamah tadi. Kalian tak perlu menunda memiliki anak karenaku,” ujar Peter terlihat tampak tak begitu senang sebelum akhirnya meninggalkan meja makan.
Kini hanya tersisa Lavina dan Cedric yang sama-sama terdiam di meja makan. Selera makan mereka telah hilang sejak percakapan amber di mulai, namun keduanya sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
🤩😘wiexelsvan😘🤩
masih jd teka teki dan membuat q penasaran,,sebenarnya apa yg terjadi d dalam keluarga alexander,,,bener" penuh misteri setiap anggota keluarga itu 🤔😁😁
2023-08-09
1